
"Nadya!!" pekik nyonya Gamsonrich penuh amarah, melihat apa yang tengah dilakukan oleh menantu kesayangannya.
"Bajingan! Laki-laki kotor!" Teriak Keny tidak kalah nyaringnya.
Kedua pasangan mesum itu terlihat gelabakan diatas tempat tidur, dengan kamar yang terbuka lebar, dan pakaian yang berserakan dilantai. Mereka sungguh tidak menduga bila akan tertangkap basah oleh nyonya Gamsonrich, Keny dan beberapa pria lainnya.
Keny yang kalap langsung menarik kasar punggung pria yang sedang menggauli isteri adik kandungnya itu, memberi pukulan beruntun diwajah, dan membanting pria asing itu kelantai dan kembali menghajarnya hingga babak belur.
"Apa perbuatan menjijikan ini yang kau sebut urusan penting Nadya?!" teriak nyonya Gamsonrich menatap nyalang kearah menantunya yang terlihat ketakutan.
Nadya tidak bisa berkutik, lidahnya terasa kelu, ia juga tidak bisa membela dirinya lagi seperti yang biasa ia lakukan sebelumnya. Saat ini, ia hanya bisa menyelimuti tubuh bugilnya dengan sprei kusut hasil dari perbuatannya dan pria asing yang bersamanya.
"Keny! Kumpulkan pakaian Nadya dan pria itu kedalam plastik dan kirim kepada kedua orang tuanya!" perintah nyonya Gamsonrich dalam amarahnya.
"Tante, kumohon tante, jangan lakukan itu," Nadya beringsut dari sudut tempat tidur, merangkak dengan sprei kusut yang masih membalut tubuhnya mendekati ibu mertuanya yang sedang murka.
"Mama sudah mengikuti semua keinginanmu untuk mendapatkan Leon, tapi kenapa kau melakukan semuanya ini! Mama sangat kecewa Nadya!" wajah nyonya Gamsonrih memerah, ia sungguh tidak terima atas apa yang telah dilakukan oleh sang menantu kebanggaannya yang seolah sengaja mencoreng noda pada nama baik keluarga yang selama ini dengan segala daya upaya telah ia jaga, dengan menikahkan putra kesayangannya dengan perempuan yang memiliki status sosial yang sama.
"Ternyata kau perempuan bejat! Perempuan laknat! Tidak seperti status sosial yang kau miliki!" geram nyonya Gamsonrich masih dalam amarahnya.
"Tante, maafkan Nadya, Nadya khilaf," Nadya menangis sejadi-jadinya, ia bersimpuh dan memeluk erat kaki ibu mertuanya, berharap amarah sang mertua mereda dan mau memaafkannya seperti yang sudah-sudah.
"Keny! Segera krim pakaian mereka pada keluarga Wirelles Nongka sekarang juga! Dan urus juga laki-laki bajingan selingkuhannya itu!" perintah nyonya Gamsonrich. Dengan kasar ia menghentakan kedua kakinya hingga pelukan menantunya itu terlepas lalu pergi tanpa memperdulikan teriakan dan tangisan Nadya yang kian menjadi-jadi.
Nadya masih terisak, saat tubuh bugil laki-laki yang sudah terkapar tidak berdaya itu diseret paksa oleh dua orang suruhan Keny keluar dari kamar. Ia hanya pasrah, dan terus menangis dilantai seorang diri. Sementara Keny sudah menguncinya dari luar kamar.
...***...
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Morgan Gamsonrich, ayah Leon, mengerjap-ngerjapkan matanya, suara ketukan pintu sayup-sayup terdengar dipagi buta. Ia melirik tempat tidur yang masih kosong disebelahnya, pria paruh baya itu teringat bila isterinya semalam memang belum pulang sampai larut malam karena telah meminta ijin untuk mengunjungi putra bungsu mereka. Ia bangkit perlahan menuju pintu yang masih terus diketuk dengan pelan sejak tadi.
Ceklek.
"Maaf Tuan, Nyonya pingsan," lapor seorang asisten rumah tangga terbata-bata, tanpa basa-basi sambil menunjuk kearah dua pria yang berdiri di dekatnya.
"Cepat bawa masuk!" perintah Morgan Gamsonrich dengan wajah paniknya, saat melihat isterinya sedang dibopong kedua pelayan prianya.
"Baik Tuan," mereka segera masuk, lalu membaringkan tubuh nyonya Gamsonrich dengan hati-hati diatas tempat tidur.
"Bibi Arla, telepon dokter sekarang!" perintah Morgan Gamsonrich pada asisten rumah tangganya, wajahnya masih terlihat panik melihat kondisi isterinya yang tiba dirumah dalam keadaan pingsan.
"Sudah Tuan, masih dalam perjalanan kemari," sahut bibi Arla mendekati sang majikan, sambil membawa minyak kayu putih yang ia ambil dari kotak obat.
"Bagaimana Nyonya bisa sampai pingsan?" tanya Morgan Gamsonrich lagi.
"Saya juga tidak tahu Tuan, saat Nyonya baru saja masuk ketika saya bukakan pintu, saya langsung merangkul tubuh Nyonya yang hampir terjatuh kelantai Tuan," jelas bibi Arla sambil mengolesi dan mengusap minyak kayu putih pada daerah bawah hidung, pelipis dan tengkuk nyonya Gamsonrich.
"Silahkan masuk Dok," Morgan Gamsonrich bangkit dari tepi tempat tidur dan mempersilahkan sang dokter keluarga mendekati isterinya.
"Kenapa Nyonya bisa pingsan Tuan?" tanya dokter Aldovier sambil mengambil alat pemeriksaan dari dalam box yang ia bawa.
"Menurut bibi Arla, isteri saya langsung limbung saat baru memasuki rumah Dok," sahut Morgan Gamsonrich seadanya yang ia tahu.
"Jadi Nyonya baru pulang?" dokter Aldovier nampak kaget menatap kearah Morgan Gamsonrich lalu segera beralih menatap wajah nyonya Gamsonrich yang terlihat memucat.
"Iya Dok," sahut Morgan Gamsonrich lagi. Wajah dokter Aldovier nampak kesal mendengar pengakuan suami pasiennya, namun ia mengesampingkan apa yang ada didalam hatinya, ia buru-buru memeriksa kondisi nyonya Gamsonrich.
"Bagaimana Dok?" tanya Morgan Gamsonrich, setelah sang dokter selesai melakukan pemeriksaan sekian menit lamanya.
__ADS_1
"Syukurlah Nyonya tidak apa-apa Tuan," sahut sang dokter sambil merapikan alat pemeriksaannya lalu menyimpannya kembali kedalam box yang ia bawa. Morgan Gamsonrich terlihat lega sambil mengelus dadanya.
"Sepertinya Nyonya hanya kelelahan saja," sambung dokter Aldovier lagi menatap nyonya Gamsonrich yang masih tertutup kedua matanya.
"Saya harap, Nyonya tidak boleh pulang pagi lagi Tuan," Dokter Aldovier mengalihkan pandangannya pada Morgan Gamsonrich.
"Penyakit jantung yang diderita oleh Nyonya mengharuskan Nyonya beristirahat yang cukup Tuan."
"Iya, saya mengerti Dok, maafkan saya. Saya akan berusaha menjaga isteri saya lebih baik lagi," kata Morgan Gamsonrich merasa bersalah.
"Dan satu lagi Tuan, Nyonya tidak boleh stress. Sepertinya Nyonya sedang banyak fikiran," kata dokter Aldovier, mengingat saat beberapa hari yang lalu, ketika pasiennya itu sedang memeriksakan kesehatan padanya dirumah sakit.
"Saya tidak memberikan obat lagi, karena obat jantungnya sudah saya berikan saat Nyonya memeriksakan kesehatannya bersama Tuan,"
"Nyonya hanya perlu istirahat yang cukup Tuan,"
"Baik, saya mengerti Dok," sahut Morgan Gamsonrich sambil menganggukan kepalanya tanda mengerti.
"Kalau begitu, saya permisi dulu Tuan, hari sudah pagi, mau bersiap-siap dinas hari ini," ucap dokter Aldovier berpamitan.
"Baik Dok, terima kasih banyak sudah datang kemari," ucap Morgan Gamsonrich seraya berdiri dan mengantarkan dokter keluarga mereka menuju pintu.
"Sama-sama tuan Gamsonrich," setelah berucap demikian, ia membungkuk hormat, lalu meninggalkan tempat itu.
"Kalian boleh pergi," kata Morgan Gamsonrich pada kedua pelayan prianya yang berdiri disisi pintu kamarnya.
"Bibi Arla, bawa sarapan Nyonya nanti kekamar saja ya," ucapnya lagi pada asisten rumah tangganya.
"Baik Tuan," setelah membungkuk hormat, Bibi Arla lalu pergi mengikuti dua pelayan pria yang sudah lebih dulu meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Morgan Gamsonrich menutup rapat pintu kamarnya, lalu menghampiri isterinya, ia menatap wajahnya sejenak lalu menyelimuti isterinya itu dengan selimut tebal. Setelahnya, ia beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk kekantor pagi itu.
Bersambung...👉