
"Nilai yang besar? Apa maksudnya?" tanga Keny tidak mengerti.
Monaliza tidak langsung menjawab, ia membuka penutup kotak hadiah, lalu mengambil amplop berwarna merah menyala dihiasi warna gold pada bingkainya dari dalam kotak itu lalu menyerahkannya pada Keny.
"Apa itu?" tanya Keny lagi, ia ragu menerima amplop yang disodorkan Monaliza padanya.
"Kak Keny dan kak Nadine bisa melihatnya sendiri," Monaliza masih menyodorkan amplop merah menyala itu pada Keny dan isterinya.
Walau masih merasa ragu, Keny akhirnya tetap menyambutnya, ia memang penasaran apa isi amplop itu sampai Monaliza tidak mau menerimanya.
Nadine merapatkan tubuhnya pada suaminya, ikut melihat benda apa yang sedang dikeluarkan Keny dari amplop itu.
"Surat kepemilikan penthouse di Green House," guman Keny dan Nadine bersamaan sambil menelan salivanya masing-masing.
Keduanya berusaha menyembunyikan keterkejutannya, namun Dirga dan Monaliza yang memperhatikan keduanya sedari tadi telah menangkap ekspresi suami-isteri itu.
"Ini-, kulihat sudah atas namamu Mona. Jadi, kurasa kau tidak perlu ragu menerimanya," kata Keny yang baru saja mengatasi keterkejutannya.
"Tidak kak. Aku sudah tidak boleh menerima apapun dari pria lain, karena aku sudah bersuami," tolak Monaliza.
"Tapi penthouse itu, bila dilihat tanggal pembeĺiannya, sebelum kau menikah dengan tuan Dirga bukan? Jadi, aku rasa Leon benar-benar ingin memberikannya untukmu Mona," ucap Keny berusaha meyakinkan.
"Maaf kak, bukannya aku tidak menghargai pemberian atau hadiah dari Leon. Seperti kataku tadi, aku sudah menikah, tidak pantas menerima pemberiannya," sahut Monaliza bersikukuh.
"Kalau begitu, kenapa kau tidak mengembalikannya langsung saja pada Leon?" tanya Keny menatap Monaliza.
"Aku sudah pernah menolak hadiah ini, ketika manager hotel memberikannya saat kami menginap dihotel dihari pernikahan kami. Tapi Leon tetap mengirimkannya lagi kerumah kami," jelas Monaliza.
"Jadi, aku mohon kak Keny, aku mengembalikannya lewat kakak saja. Hubunganku dengan Leon sudah selesai. Aku tidak mau Nyonya salah faham lagi denganku," ucap Monaliza dengan wajah penuh harap.
Keny berfikir sebentar, ia menoleh pada Nadine isterinya, yang hanya mengangkat kedua bahunya, supaya suaminya saja yang memutuskan sendiri apa yang harus ia lakukan.
Pria itu sangat faham, kenapa Monaliza sudah tidak mau berhubungan lagi dengan keluarganya, khusunya pada ibunya yang tidak pernah menyukai gadis itu.
"Baiklah kalau begitu, aku mengerti," Keny menarik kotak kado itu, berniat mengembalikan amplop lebar itu kedalamnya. Namun pandangannya menangkap sesuatu benda yang masih ada didalamnya.
"Apa ini?" Keny mengeluarkan kotak yang sedikit lebih kecil dari dalam kotak kado itu. Ia memperhatikannya dengan teliti, dan sempat melihat tulisan yang ada digantungan gagang kotak kecil itu.
"Apa isi kotak ini?" tanya Keny beralih menatap Monaliza.
"Aku, tidak tahu kak," sahut Monaliza sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Apa kau tidak membukanya?" tanya Keny lagi merasa aneh.
"Tidak," sahut Monaliza sambil menggelengkan kepalànya lagi.
"Kotak ini, hanya kau dan Leon saja yang bisa membukannya." ucap Keny kembali melirik tulisan yang tergantung digagang kotak itu.
"Dan aku tidak mau kau titipkan semua hadiah-hadiah ini, bila aku tidak tahu isinya," ucap Keny beralasan. Jujur saja ia sangat penasaran pada isi kotak itu, mungkinkah itu rahasia antara Leon dan Monaliza. Tapi rahasia apa? fikir Keny bertambah penasaran.
"Tapi kak-," Monaliza menoleh pada Dirga yang sedari tadi hanya duduk diam disebelahnya, ia nampak tidak enak pada suaminya itu.
"Bawa pulang saja kembali semuanya itu. Aku tidak mau menerima titipan yang tidak jelas," kata Keny seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dibelakangnya.
Monaliza kembali menoleh pada Dirga, "Boleh aku membuka kado itu?"tanya Monaliza terdengar kikuk.
"Itu hadiahmu, dan aku tidak melarangmu membukanya," sahut Dirga singkat dan datar.
Monaliza terdiam sejenak, terus terang ia merasa dilema, antara membuka dan tidak. Bila ia membukanya, bagaimana perasaan Dirga suaminya, saat dirinya sebagai seorang isteri masih mengingat dan menghafal hari jadi bersama sang mantan kekasih?
Namun bila tidak, Keny sudah mengancamnya untuk tidak mau menerima semua barang-barang itu dititipkan lewat dirinya.
"Kita pulang saja Pak," kata Monaliza yang tidak bisa memilih kedua-duanya.
Monaliza sedikit tergagap, ia merasa bingung harus berkata apa. Kenyataanya, hubungan mereka memang sangat kaku. Ia pun tidak berani mengubah panggilan tanpa seijin suaminya, apalagj didepan umum.
"Isteriku terlalu sopan dan terbiasa bersikap hormat padaku. Ya, seperti kami sedang dikantor. Bukankah begitu sayang?" celetuk Dirga, lalu memeluk pinggang Monaliza sambil tersenyum tipis menatap wajah isterinya.
Monaliza dibuat kaget akan panggilan Dirga padanya, ditambah lagi tangan suaminya itu memeluk pinggangnya hingga mau tidak mau Monaliza harus menempel pada suaminya itu.
"I-iya," sahut Monaliza mendadak merasa gugup.
"Bukalah kotak itu. Supaya tuan Keny dan isterinya bisa melihat isinya. Bukankah kita harus segera pulang? Wanita hamil tidak boleh berada diluar rumah sampai larut malam," sambung Dirga lagi.
"Benar, aku boleh membukanya?" tanya Monaliza masih kurang yakin.
"Iya, bukalah," sahut Dirga menunjukan raut wajahnya yang meyakinkan.
Walau masih ragu, tangan Monaliza akhirnya menggapai kotak yang hanya bisa dibuka oleh dirinya dan Leon saja. Dua ujung jarinya mulai menekan beberapa angka pada tombol yang telah tersedia di sisi kiri kotak itu.
Begitu Monaliza selesai memasukan beberapa angka, penutup kotak itu lalu terbuka secara otomatis dengan perlahan.
Cahaya kilauan kuning-hijau-biru-merah muda -merah berpadu jadi satu memancar keluar dari dalam kotak, menyilaukan mata saat tertimpa cahaya lampu ruang kerja Keny.
__ADS_1
Nadine menggengam tangan Keny dengan erat, saat melihat dua kalung berlian, dua gelang, dua cincin, dan dua pasang anting-anting berlian yang tergeletak rapi didalam kotak perhiasan dengan dasar merah itu. Sementara Monaliza dan Dirga memandangnya dengan pikirannya masing-masing.
"Kak Keny-, aku dan pak Dirga, kami permisi dulu," pamit Monaliza memecah keheningan diantara mereka.
"Apakah kau yakin, mau meninggalkan semuanya ini disini Mona?" Keny menatap wajah Monaliza, berharap wanita itu akan membawa barang-barang itu pergi dari ruangannya.
"Hmm, iya kak," sahut Monaliza yakin.
"Mona, pikirkanlah sekali lagi. Aku yakin, Leon bersungguh-sungguh memberikan semuanya ini untukmu," bujuk Keny.
"Maafkan aku kak Keny, aku tetap tidak bisa," kukuh Monaliza.
"Baiklah, aku akan menyimpannya untukmu Mona, bila kau berubah fikiran datanglah padaku, aku akan memberikannya padamu," ucap Keny yang akhirnya menyerah.
"Baik, kami permisi dulu. Ini sudah cukup malam," kembali Monaliza berpamitan.
Keny beranjak dari duduknya, ia berpindah tempat lalu memeluk Monaliza dengan erat. Dirga yang melihatnya hanya terdiam memperhatikannya.
Monaliza membalas pelukan Keny, pria itu sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri, begitu pula halnya dengan Keny. Pria itu sudah cukup mengenal Monaliza sejak usianya baru enam belas tahun, gadis itu telah berkerja padanya untuk membantu ekonomi keluarganya yang sulit.
Setelah melepaskan pelukannya dari Monaliza, Keny menjabat tangan Dirga, "Aku titip adikku, aku percaya kau mampu menjaganya," ucap Keny dengan matanya yang memerah.
"Tentu," sahut Dirga membalas jabatan tangan Keny.
Setelah Monaliza selesai berpelukan dengan Nadine, ia dan Dirga akhirnya bergegas keluar dari ruang kerja Keny.
Begitu keluar dari lobby, tanpa persetujuan Monaliza, Dirga langsung membopong tubuh isterinya itu masuk kedalam gendongannya.
"Pak Dirga, tolong jangan lakukan ini. Malu, ini didepan umum," protes Monaliza yang benar-benar merasa malu, karena ada banyak pengunjung yang sudah mulai berdatangan.
"Diamlah. Lingkarkanlah kedua tanganmu itu dileherku, dan tataplah mataku dengan tatapan mesra," perintah Dirga setengah berbisik.
"T-tapi," Monaliza berusaha menolak.
"Jangan membantah. Kau fikir aku tidak tahu apa yang telah kau lakukan padaku saat lama ditoilet tadi? Sekarang, giliranmu-lah yang harus berlaku seperti wanita suruhanmu itu," perintah Dirga lagi.
Monaliza terkesiap, ia tidak menyangka Dirga mengetahuinya. Dengan terpaksa, ia menuruti apa yang dikatakan Dirga padanya. Melingkarkan kedua tangannya dileher Dirga, dan menatap wajah suaminya dengan tatapan dibuat mesra.
Dirga tersenyum puas didalam hati, saat Monaliza patuh dan melakukan semua yang ia perintahkan. Ujung bibirnya sedikit tertarik untuk menunjukan senyumannya yang hampir tidak terlihat, memandang Leon yang menatapnya dingin. Dirga berlalu, melewati Leon yang akan memasuki lobby.
...***...
__ADS_1