CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
99. Kesempatan Kedua


__ADS_3

Tuan Gamsonrich tetap menerima kedatangan besannya dengan hangat dirumahnya, walau sebelumnya ia memang merasa tidak nyaman akan sikap keduanya itu saat terakhir mereka bertemu.


Leon yang dihubungi ayahnya juga sudah tiba, ia ikut bergabung dengan kedua orang tuannya dan kedua mertuanya diruang keluarga.


Sementara itu, Nadya yang diberi tugas menyiapkan minuman dan beberapa camilan, kini membawa semuanya itu didalam nampan dan menghidangkannya didepan mereka semua.


Nyonya Wirelles Nongka menunjukan wajah cemberutnya saat melihat putri kesayangannya melakukan tugas yang seharus nya dilakukan oleh seorang pelayan.


"Sayang, kau pasti sangat lelah, diperkerjakan seperti seorang pelayan dirumah mertuamu sendiri. Sini, duduk dekat Mommy," ucapnya lembut, sekaligus menyindir.


Mulut nyonya Gamsonrich sudah setengah terbuka, siap melontarkan tangkisan dan serangan yang tengah dikandung hatinya untuk membalas ucapan pedas besannya. Namun suaminya dengan cepat menyentuh lengannya mengisyaratkan supaya isterinya itu tidak perlu mengomentari apapun yang dikatakan besan mereka.


"Leon, Daddy berterima kasih padamu. Kau masih mau memaafkan putri kami yang sudah melakukan kesalahan. Tapi tolong jelaskan pada kami semua, tentang keterangan surat ini. Kau impoten dan mandul. Nadya menemukannya dilaci kamarmu, itulah yang memicu putri kami melakukan perselingkuhannya," ucap tuan Wirelles to the point, lalu menggelar surat pemeriksaan dokter yang dipegangnya ke atas meja.


"Ini pasti palsu! Putraku bukan laki-laki yang impoten dan mandul!" pekik nyonya Gamsonrich tidak terima. wajahnya memerah, sudah tak mampu menahan amarahnya, karena sebelumnya sudah mendengar ucapan tidak mengenakan dari nyonya Wirelles.


"Ma, biarkan Leon yang menjelaskannya." tegur tuan Gamsonrich pada isterinya.


"Iya Nyonya, biarkan putramu yang menjelaskan semuanya. Supaya kalian tidak menyalahkan putri kami!" ujar nyonya Wirelles ikut bersuara dengan nada ikut meninggi.


"Cukup! Sekarang beri kesempatan Leon untuk bicara," tegur tuan Wirelles pada isterinya dan besannya yang sedang beradu mulut. Mendapat teguran spontan, keduanya kompak terdiam dan sama-sama membuang wajah mereka berlawanan arah.

__ADS_1


"Leon, sekarang bicaralah," ucap tuan Wirelles. Suasana nampak sepi sesaat. Semuanya mengarahkan pandangan mereka pada Leon, termasuk Nadya yang duduk disamping ibunya, menanti dengan penasaran apa yang akan dikatakannya.


"Bila itu benar? Apa Nadya masih mau bertahan?" kata Leon menatap pada Nadya yang nampak terhenyak mendengar ucapannya.


"Heuh! Jadi itu benar?" serobot nyonya Gamsonrich dan nyonya Wirelles kompak seraya membekap mulut mereka dengan raut tak percaya.


"Sepertinya aku tidak perlu menjelaskan apapun lagi, dari apa yang telah ditemukan oleh Nadya itu. Semuanya sudah jelas tertulis disana," ucap Leon setenang mungkin.


Nadya dan kedua orang tuanya saling berpandangan. Sementara nyonya Gamsonrich memegang erat lengan suaminya, ia belum bisa percaya dengan apa yang telah ia dengar langsung dari mulut putranya.


"Itu tidak mungkin. Itu tidak mungkin. Leon, kau pasti bercanda kan?" seluruh sendi-sendi nyonya Gamsonrich terasa lemas, ucapan Leon merupakan pukulan yang berat baginya.


"Nadya," Leon mengalihkan pandangannya pada Nadya yang duduk disisi ibunya, wanita itu serta merta menatapnya.


"Aku memberi kebebasan padamu. Kau boleh bertahan, atau menggugat cerai diriku. Aku tidak akan keberatan. Dan kesalahan yang telah kau lakukan itu, sebenarnya aku tidak bisa mentolerirnya," ungkap Leon datar. Walau tidak mencintai isterinya, namun hatinya kecewa, ternyata wanita itu tidak bisa menjaga nama baik yang menjadi kehormatan keluarga mereka.


Nadya terpaku sesaat, mengatur napasnya yang mendadak sesak saat mendengar ucapan Leon barusan.


Menjadi isteri Leon adalah impiannya selama ini. Itulah sebabnya ia begitu getol mengejar pria itu dengan beragam cara. Tapi, bila pria itu dinyatakan mandul oleh dokter, apalagi impoten, apa yang bisa ia harapkan selain rasa cintanya. Sementara itu, cintanya pada Leon, hanya bertepuk sebelah tangan.


"Sayang, sebaiknya kau ikut Mommy pulang saja kerumah, dari pada tinggal disini, kau dijadikan sama seperti pelayan, Mommy tidak mau kau diperlakukan seperti itu," nyonya Wirelles segera angkat bicara, saat dilihatnya Nadya bimbang mengambil keputusannya.

__ADS_1


"Tidak Mom, Nadya harus tinggal disini, dirunah suaminya," sela tuan Wirelles yang tidak setuju dengan perkataan isterinya.


"Tapi Dad, Leon juga tidak mencintai Nadya. Buat apa dipertahankan?" ungkapnya lagi menatap kesal pada suaminya yang tiba-tiba tidak sejalan dengannya.


"Mulai awal kita sudah tahu, Leon tidak mencintai putri kita Mom. Tapi kita tetap memaksanya, karena Nadya mencintai Leon. Jadi, Daddy tidak akan membiarkan Nadya cerai begitu saja dari Leon. Putri kita harus membuktikan keteguhannya selama ini mengejar suaminya, bukannya malah berselingkuh!" tegas tuan Wirelles dengan pada isterinya, mengingat bila dirinya tahu pasti, bagaimana pernikahan Leon dan putrinya bisa sampai terwujud kala itu.


"Ingat Dad, Leon sudah bilang tidak akan mentolerir kesalahan putri kita yang telah berselingkuh," ucapnya mengingatkan suami yang mungkin saja melupakan ucapan menantunya.


"Leon benar. Siapapun orangnya, tentu saja tidak bisa terima begitu saja atas perselingkuhan yang dilakukan oleh pasangannya." ungkap pria itu lagi.


"Jadi Nadya, kau masih diberi kesempatan oleh Leon suamimu, memperbaiki kesalahan fatalmu itu. Turuti semua yang dikatakan Leon untuk mendidikmu di rumah ibu mertuamu ini," putusnya.


"Ternyata Daddy tidak sayang pada putri kita!" ungkap nyonya Wirelles kecewa pada keputusan suaminya.


"Sudah cukup Mom, Nadya sudah punya rumah tangganya sendiri. Mommy tidak bisa memanjakannya terus menerus. Bagaimana kalau kita tiada? Apa putri kita bisa hidup mengandalkan kemanjaannya itu seorang diri? Dia harus berlatih dari sekarang. Harus bisa menjalani semua ini tanpa pembelaan dari kita lagi," tegurnya pada isterinya.


"Leon, Daddy titip Nadya. Kau suaminya, kau berhak menuntunnya menjadi seorang isteri yang baik. Kau masih mau menerimanya dirumah orang tuamu, itu sangat Daddy hargai. Tapi Daddy lebih menghargai lagi, bila kau mau menerima Nadya tinggal bersamamu dalam satu atap yang sama," ucapnya menatap wajah Leon, berharap menantunya itu bisa membimbing putrinya menjadi pribadi yang lebih baik.


Leon terdiam sesaat, ia dapat melihat suatu harapan dari sòrot mata mertuanya supaya dirinya mengabulkan permohonannya. Leon mengangguk pelan. "Iya Dad, akan aku usahakan, tapi aku tidak bisa menjanjikan apapun. Semuanya tergantung pada Nadya. Semoga saja, ia bisa berubah menjadi lebih baik." ungkap Lèon dengan sikap tenangnya seperti sebelumnya.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2