CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
49. Penjaga


__ADS_3

Hueekk! Hueekk! Hueekkkk!


Napas Monaliza terengah-engah, makanan yang masuk ke perutnya kini telah berpindah ke wastafel. Leon berjalan setengah berlari membawa minyak kayu putih yang diambilnya dari kotak obat.


"Aku sudah menelpon dokter supaya datang kemari untuk memeriksamu Mona," kata Leon sambil memijat tengkuk Monalisa dan membalur minyak kayu putih disana.


"Tidak perlu Leon, aku baik-baik saja," tolak Monaliza sambil menyeka wajahnya dengan tissue yang disodorkan Leon padanya. Monaliza membalik tubuhnya, wajahnya terlihat pucat dan lesu membuat iba dihati Leon yang melihatnya.


"Tapi kau terlihat tidak baik-baik saja Mona," ucap Leon khawatir melihat Monaliza yang terus muntah-muntah, ia menelisik wajah Monaliza, menyentuh dahi kekasihnya yang terasa dingin dan lembab oleh keringat dinginnya yang terus mengalir.


"Leon, aku-, aku benar-benar hamil," Tangis Monaliza tiba-tiba meledak.


Leon terperangah, punggung tangannya yang menempel didahi Monaliza terasa lunglai, walau sebenarnya ia tahu bahwa apa yang dikatakan Monaliza itu akan terjadi, namun tetap saja ia terkejut mendengarnya. Ia merangkul tubuh kekasihnya itu, dan membawanya masuk kedalam pelukannya.


Ketakutannya selama ini akhirnya terjadi juga, insiden malam itu membuat Monaliza kekasihnya hamil benih dari pria lain. Leon memejamkan matanya, ia tidak sanggup berkata-kata, merasakan rasa sesak dan sakit didalam dadanya yang teramat sangat. Sekalipun ia berusaha tegar tetap saja titik air diujung matanya memaksa keluar dari sudut kelopak matanya yang tertutup rapat, menggambarkan kesedihan yang teramat sangat dalam jiwanya.


Monaliza masih sesenggukan didalam pelukan Leon, rasa takut menyerangnya akan hari-hari depan yang akan dilaluinya, akan kekecewaan ibunya dan adik-adiknya pada dirinya, akan beban moral pada masyarakat sekitar yang nantinya tahu tentang kehamilannya diluar nikah, akan penilaian dan omongan rekan-rekan kerjanya, dan masih banyak lagi fikiran ini dan itu yang ia takutkan.


Keduanya larut dalam suasana hatinya masing-masing untuk beberapa saat lamanya, hingga Monaliza merasakan Leon melonggarkan pelukannya pada tubuhnya.


"Bagaimana kau bisa tahu bahwa kau sedang hamil Mona? Apakah kau sudah menggunakan alat test pack yang aku berikan padamu?" tanya Leon menatap wajah kekasihnya.

__ADS_1


Pengakuan Dirga tentang darah dagingnya yang ada dalam rahim Monaliza saat diparkiran tadi sore kembali mengusiknya dan ia merasa sangat terganggu karenanya. Mungkinkah pria itu tahu kehamilan Monaliza karena kekasihnya juga muntah-muntah ditempat kerjanya. Tidak menutup kemungkinan pria itu benar-benar akan merebut Monaliza darinya.


"Iya, aku sudah menggunakannya tadi pagi, dan hasilnya positif, dua garis merah cerah di alat itu, aku akan menunjukkannya padamu," Monaliza membuka tas kerjanya yang ada diatas meja wastafel, jarinya mencari-cari benda yang ia maksud, namun beberapa detik kemudian ia menghentikan pencariannya lalu menatap Leon cemas, dengan sisa-sisa air mata yang masih melekat diwajahnya yang masih terlihat pucat.


"Alat itu sepertinya tertinggal dirumahku Leon, bagaimana kalau ibu menemukannya?"


Leon berfikir sejenak, walau hatinya sebenarnya ikut cemas mendengar perkataan Monaliza.


"Tidak apa-apa Mona, tenanglah. Sekarang kau beristirahat saja dulu dikamar. Malam ini kau tidak usah turun berkerja, aku sudah meminta ijin pada kak Keny, karena kondisimu tidak mengijinkanmu untuk berkerja malam ini," Leon berusaha menenangkan. Ia menuntun Monaliza kekamar untuk beristirahat.


Monaliza berbaring dikasur dengan selimut tebal menyelimutinya, sementara Leon tengah menelpon dokter untuk membatalkan janji sesuai permintaan Monaliza padanya.


Leon melirik tangan Monaliza yang melingkar diperutnya, kekasihnya itu tiba-tiba saja memeluknya dari belakang setelah ia selesai menelpon. Leon terpaku, ketika bibir Monalza mendarat pada pipi kirinya, hatinya langsung berdebar- debar, saat bibir Monaliza merambat menuju bibirnya yang terasa kaku.


Sesapan demi sesapan tetap dilakukan Monaliza, walau tidak dirasakannya Leon bereaksi atas apa yang tengah dilakukannya. Bukan tanpa àlasan Monaliza melakukannya, ia ingin mendapatkan jawaban atas pertanyaannya yang mengganjal dihatinya atas apa yang telah tejadi padanya.


Bibir itu terlalu dingin, tidak ada kehangatan disana. Tidak sama dengan tindakan agresif yang dirasanya saat ia bergelut panas dikamar hotel malam itu, hingga Monaliza akhirnya menghentikan kegiatannya.


"Apakah kau tidak menginginkanku Leon?" lirih Monaliza menatap wajah Leon yang turut sendu melihatnya.


"Aku menginginkanmu Mona, bahkan lebih dari apa yang kau tahu," sahut Leon dengan suara bergetar, menahan rasa perih yang tengah dirasanya.

__ADS_1


"Tapi aku tidak merasakan itu Leon, kau bahkan tidak membalasku," ungkap Monaliza menatap mata Leon yang bening dengan air mata yang menggenang disana.


Ini kali pertama Monaliza melihat Leon serapuh itu. Selama ia bergaul dengannya, laki-laki itu tidak pernah menunjukan sisi lemahnya, ia selalu menampilkan senyumnya dihadapan Monaliza, dan selalu menghiburnya saat dirinya menghadapai masalah dalam keluarga, sekolah, dan pekerjaan. Juga menunjukan dirinya sebagai pelindung dari orang-orang yang berusaha mengganggunya, laki-laki itu bertindak seolah seperti ayahnya saja yang telah tiada.


"Aku penjagamu Monaliza, aku bersumpah pada diriku sendiri, akan menyentuhmu bila kau sudah menjadi isteriku," suara Leon masih terdengar bergetar, rasa getir yang dirasanya mempengaruhi pita suaranya.


"Itu artinya-, benih yang ada dalam rahimku ini bukan anakmu Leon," Monaliza menggigit bibir bawahnya, menahan isaknya yang serasa siap meledak, ia sudah mendapat sedikit jawaban dari pertanyaannya sendiri.


Tatapan sendu Leon berubah sedikit tajam. "Apa maksudmu Mona? Kenapa kau berkata seperti itu?" ia menelisik mata kekasihnya, berusaha mencari jawaban atas ucapan yang dilontarkan wanita yang sangat dicintainya itu.


"Bila kau penjagaku, dan bertekad tidak akan menyentuhku sampai kita menjadi sepasang suami isteri, tapi kenapa kau tidur denganku malam itu Leon, hingga aku mengandung sekarang?" wajah Leon mendadak menegang mendengar perkataan Monaliza yang mematahkan ucapannya.


Leon nampak bingung harus berkata apa, sementara punggung Monaliza mulai berguncang, masih berusaha menahan tangisnya.


Leon berusaha merengkuh tubuh Monaliza yang masih duduk dipangkuannya, namun kekasihnya itu menolaknya dengan isyarat gerakan tubuhnya.


"Aku dapat merasakan hal yang berbeda Leon-, malam itu kau terlalu agresif-, dan banyak menuntut-, tapi malam ini-, kau sangat berbeda-, bahkan tidak merespon apa yang aku lakukan padamu Leon," ungkap Monaliza, suaranya terbata-bata dan bergetar karena masih berusaha keras menahan tangis yang membuncah didadanya.


Selama mereka saling mengenal dalam empat tahun belakangan, hingga keduanya memutuskan untuk menjalin hubungan percintaan, Leon tidak pernah bertindak diluar batas, hanya sebatas berpegangan tangan, mengecup kening hingga memeluk untuk memberi rasa aman saja.


Leon masih terdiam dan berusaha bersikap tenang, namun didalam hatinya bila ibarat suatu ruangan, keadaannya sudah kacau dan porak poranda, tidak berbentuk lagi.

__ADS_1


"Katakan padaku Leon, bagaimana mungkin bisa ada pria lain yang tidur denganku malam itu? Bukankah kau penjagaku?" ungkap Monaliza membuat Leon terperangah, bagaimana Monaliza bisa tahu hal itu, fikirnya dengan wajah kembali menegang.


__ADS_2