
"Bagaimana dengan kabar pegawaimu yang bernama Monaliza itu?" tanya ibu Surya pada Dirga. Saat ia, suaminya dan putranya itu sedang menikmati makan malam keluarga.
"Kurang baik ma," sahut Dirga sambil mengambil air putih dan meneguknya beberapa kali hingga sisa separuh.
"Kurang baik bagaimana?" tanya ibu Surya menatap wajah Dirga dengan mimik serius, ia menghentikan kegiatan makannya sejenak.
"Gadis itu, mengalami trauma setelah kejadian yang menimpanya semalam. Selain para tenaga kesehatan, ia terlihat takut bertemu beberapa orang, kecuali orang-orang terdekatnya, dan orang-orang yang sempat membantunya saat kejadian itu." jelas Dirga. Ia kembali melanjutkan menyuapi makanan yang masih ada didalam piring dihadapannya kemulutnya.
"Jadi siapa yang menemani gadis itu dirumah sakit dalam kondisinya yang seperti itu?" tanya ibu Surya yang masih menatap Dirga. Sementara pak Surya suaminya, hanya ikut mendengarkan perbincangan antara isteri dan anaknya itu.
"Tidak ada," sahut Dirga singkat.
"Keluarganya? Apakah mereka tidak datang untuk menemaninya?" tanya ibu Surya merasa heran.
"Ia hanya hidup bersama ibu dan keempat adiknya yang masih kecil ma, ayahnya sudah tiada," sahut Dirga, ingatannya kembali melayang pada keluarga Monaliza yang sempat ia jambangi siang tadi bersama Firans asistennya.
"Sangat sulit bagi ibunya meninggalkan tiga orang adik Monaliza yang berusia balita." imbuh Dirga.
"Kasihan sekali gadis itu," ucap ibu surya merasa prihatin.
"Pa, bagaimana kalau malam ini kita mebesuk gadis itu dirumah sakit?" ibu surya menatap kearah suaminya yang sedang menikmati makan malamnya.
"Terserah mama saja, papa ikut saja," sahut pak Surya menatap sekilas kearah isterinya sambil menghabiskan makanan yang masih tinggal sesendok saja.
"Kau ikut Dirga?" tanya ibu Surya menatap kearah Dirga yang baru saja menyelesaikan makan malamnya, ia meneguk jusnya sebelum menjawab pertanyaan ibunya.
"Tidak ma, aku masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan malam ini diruang kerjaku, mama dan papa saja yang kesana," sahut Dirga, ia meletakan gelas jusnya diatas meja.
__ADS_1
"Kalau ingin membesuk, sekarang sudah waktunya," ucap Dirga pada ibunya, sambil melirik arloji tangannya.
"Den Dirga mau minum apa, nanti saya buatkan," tanya bibi Mila, asisten rumah tangga, saat mendengar majikannya itu akan lanjut berkerja dirumah.
"Buatkan saya kopi pahit saja Bi, dan antarkan ke ruang kerja saya," sahut Dirga, ia segera beranjak meninggalkan meja makan.
"Baik Den," sahut bi Mila.
Ibu Surya dan pak Surya saling berpandangan. Putranya itu sangat jarang memesan dibuatkan kopi, kecuali bila ada pekerjaan yang memerlukan waktu untuk bergadang hingga larut malam.
...***...
Malam itu, Monaliza masih terlihat gelisah, matanya terus mengawasi pintu kamar inapnya yang tidak terkunci, karena suster yang menemaninya meminta ijin untuk keluar mengurus sesuatu.
Tok! Tok! Tok!
Matanya menyorot tajam pada pintu yang terbuka perlahan. Suster Norlita yang menemaninya itu mucul didepan pintu sambil mengulas senyum hangatnya pada Monaliza.
"Nona Monaliza, saya sudah kembali bersama pak Surya dan ibu Surya, pemilik perusahaan tempat nona berkerja." ucap suster Norlita dari depan pintu.
Mereka masuk, dan turut mengulas senyum menatap Monaliza yang sedang duduk meringkuk memeluk bantalnya dipinggir ranjang pasiennya dan menempel pada dinding sambil menatap penuh kewaspadaan kearah mereka.
Ibu surya merasa prihatin saat melihat gadis itu terlihat takut menyambut kedatangan mereka. Wajah cantik gadis itu dinodai oleh luka-luka memar dan luka gores yang memerah diwajahnya.
Monaliza memindai wajah ibu Surya dalam ingatannya, lalu beralih pada pak Surya yang berdiri didepan pintu bersama suster Norlita. Setelah beberapa detik kemudian, ia sudah bisa mengenali wajah kedua tamu yang datang mengunjunginya itu. Wajah tegangnya berubah lega. Ia selalu merasa was-was bila ada yang datang, rasa takutnya masih menghantui atas kejadian yang masih lekat dalam ingatannya.
"Selamat malam nona Monaliza," sapa ibu Surya seraya mendekati Monaliza diranjang pasiennya. Sementara pak Surya mengambil tempat duduk disofa yang berada disamping pintu ruang rawat inap gadis itu.
__ADS_1
"Selamat malam, Bu-," Monaliza balik menyapa. Ia berusaha mengulas senyum tipisnya, memandang wajah ibu Surya yang dikenalnya, karena sempat beberapa kali ia melihat isteri pemilik perusahaan tempat dirinya berkerja itu datang berkunjung kekantor.
Monaliza meletakan bantal yang dipeluknya erat dikepala tempat tidur. Perlahan ia menggeser duduknya ke tepi tempat tidur supaya bisa lebih dekat dengan sang isteri dari majikannya itu.
"Bagaimana keadaanmu nona Mona?" tanya ibu Surya yang bersuara lembut itu. Ia memandangi wajah Monaliza yang terlihat pucat tanpa cahaya. Beberapa luka gores dan lebam masih terlihat membengkak berwarna merah kehitaman dibeberapa bagian wajah, leher dan tangannya yang terbuka.
"Saya-, sudah lumayan baik Bu, hanya luka-luka ini saja yang masih terasa berdenyut" sahut Monaliza terbata-bata. Rasa gugupnya sangat terlihat karena dikunjungi oleh orang yang ia segani diperusahaannya tempatnya berkerja mengais rejeki.
"Bagamana kejadiannya, sampai bisa seperti ini nona Mona?" tanya ibu Surya, ia menatap Monaliza dengan rasa prihatin.
Monaliza nampak ragu untuk mengisahkan kejadian yang menimpa dirinya pada ibu Surya, namun akhirnya ia memutuskan untuk menceritakannya walau hal itu memalukan menurutnya.
Ibu Surya memperhatikan setiap penuturan yang disampaikan oleh gadis dihadapannya itu, sesekali ia harus menahan nafas, mendengar detail kisah yang membuatnya ngeri saat membayangkan bila itu terjadi pada anggota keluarganya.
"Sudah berapa lama kau berkerja di club malam itu nona?" tanya ibu Surya, saat Monaliza telah menyelesaikan keseluruhan ceritanya.
"Sudah berjalan lima tahun ini Bu, semenjak saya berusia enam belas tahun." sahut Monaliza.
"Kenapa kau bisa berkerja ditempat seperti itu diusiamu yang masih sangat muda nona? Apakah orang tuamu tidak melarangmu? Atau merasa khawatir pada anak gadisnya?" cecar ibu Surya, ia tidak habis fikir bila ada orang tua yang membiarkan begitu saja anak gadisnya yang seharusnya dimalam hari harua berada didalam rumah, namun berkeliaran diluar rurmah karena harus berkerja membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.
"Saat itu ayah saya sering sakit-sakitan," sahut Monaliza dengan mata berkaca-kaca, mengenang mendiang ayahnya.
"Jadi saya mendatangi seorang teman sekelas SMU saya, namanya Leon, dia punya seorang kakak, pemilik club malam tempat saya berkerja hingga sekarang," jelas Monaliza.
"Awalnya, kak Keny menolak, karena saya masih dibawah umur, namun karena mendengar alasan saya yang sangat membutuhkan pekerjaan untuk membiayai hidup keluarga, akhirnya ia menerima saya sebagai cleaning service saja, datang berkerja hanya disore hari saja hingga menyelesaikan pekerjaan di saat club malam itu belum dibuka."
"Berjalannya waktu, baru setahun ini, kak Keny memindahkanku berkerja menjadi seorang barista, itu sebabnya saya sering pulang larut malam." ucap Monaliza.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya saat mendengar penjelasan gadis itu. Apa yang dikatakan Monaliza dapat difahami oleh ibu Surya, karena sebelumnya dirinya sudah mendengar dari Dirga, putranya.