
Moanaliza dan Leon saling berpandangan ketika melihat tiga pasang sepatu diteras rumah Monaliza yang tersusun rapi, ditambah terdengar suara percakapan orang-orang yang berada diruang tamu yang terang benderang.
Tok! Tok! Tok!
Suara percakapan didalam rumah mendadak terhenti, saat terdengar suara ketukan pintu. Suara langkah kaki yang bergesekan dengan lantai papan terdengar mendekati pintu.
"Mona, Nak Leon kalian sudah kembali?" kata ibu Bianka ketika membuka pintu.
"Iya bu," sahut Monaliza seraya meraih punggung tangan ibu Bianka dan menciumnya, demikian pula dengan Leon.
"Siapa tamu yang datang Bu?" tanya Monaliza sambil berusaha melongokkan wajahnya melihat dari balik pundak ibunya kedalam rumah, namun terhalang oleh pintu yang tidak terbuka lebar.
"Masuklah, kalian berdua pasti mengenal tamu Ibu," Ibu Bianka masuk lebih dulu lalu diikuti oleh Monaliza dan Leon yang baru melepas alas kaki mereka.
"Pak Dirga?!" Ucap Monaliza cukup terkejut, demikian pula dengan Leon yang melangkah dibelakangnya.
Dirga yang disebut namanya hanya mengangguk datar, sementara kedua orang tuanya mengulas senyum tipis dibibir mereka menatap kedatangan Monaliza dan Leon.
"Duduklah," ibu Bianka mempersilahkan Monaliza dan Leon duduk dikursi plastik yang ia sediakan diruang tamu sederhana dan cukup sempit itu.
"Monaliza, kau pasti sudah mengenal dengan Bapak dan Ibu Surya, orang tua dari nak Dirga bukan?" ucap ibu Bianka, sesaat ketika Leon dan Monaliza telah duduk bergabung bersama dirinya dan para tamunya.
Leon yang mendengar panggilan ibu Bianka pada Dirga sama dengan panggilan terhadap dirinya hanya menelan salivanya dengan susah payah hingga menimbulkan jakunnya naik turun.
"Iya Bu," sahut Monaliza seraya memberi senyum kepada kedua orang tua bos-nya itu sebagai bentuk sapaan.
"Kedatangan mereka kemari untuk melamarmu buat putra mereka Dirga?" sambung ibu Bianka lagi menyampaikan maksud kedatangan ketiga tamunya yang sudah mereka utarakan sebelumnya.
"M-melamar?" Kata Monaliza. Ia tersentak demikian juga Leon, keduanya saling berpandangan tidak percaya.
"Iya itu benar," kata ibu Bianka lagi.
"Tapi Bu-," Leon berusaha melayangkan protes pada ibu Bianka.
__ADS_1
"Tidak nak Leon," Ibu Bianka segera memotong perkataan Leon, sehingga membuat pemuda itu tidak meneruskan kata-katanya.
"Kau tidak perlu bertanggung jawab atas apa yang tidak pernah kau lakukan nak Leon," ungkap ibu Bianka, ia ingat akan pembicaraan dirinya, Monaliza dan Leon satu malam sebelumnya.
"Maksud Ibu apa?" Kata Leon tidak mengerti sambil menatap wajah ibu Bianka dengan penuh tanya.
"Nak Dirga sudah menjelaskan semuanya pada Ibu nak Leon. Bahwa anak yang dikandung Monaliza sebenarnya adalah anaknya," kata ibu Bianka menatap Leon datar.
"Tapi, Monaliza kekasih Leon Bu dan Leon mencintainya," ucap Leon tidak terima dengan nada menyedihkan.
"Maafkan Ibu nak Leon, Ibu tidak bisa berbuat apa-apa. Monaliza hanya boleh menikah dengan Nak Dirga, ayah dari bayi yang sedang dikandungnya." tegas ibu Bianka.
Leon menelan Salivanya, pernyataan ibu Bianka barusan membuat sakit didadanya semakin menjadi, pupus sudah harapannya mendapatkan Monaliza yang selama ini menjadi semangat dalam hidupnya. Sekujur tubuh Leon mendadak lemas, kekuatannya serasa hilang dari dirinya.
"Saya, saya permisi pulang dulu Bu," ucap Leon lemah, ia merasa tidak sanggup lebih lama lagi bertahan disana.
"Iya nak Leon, hati-hati dijalan," sahut ibu Bianka merasa kasihan, ia tahu pemuda itu terluka, tapi dirinya pun tidak bisa berbuat apa-apa dengan kenyataan yang ada.
Leon berdiri, mendadak ia ingin jatuh membuat Dirga secara refleks menangkap tubuhnya.
Dirga tidak berkomentar, ia hanya menatap kepergian Monaliza yang mengantar Leon pulang melewati pintu depan ruang tamu.
"Mona, apakah kau menerima lamaran bos-mu itu?" tanya Leon ketika dirinya dan Monaliza sudah berada diteras rumah.
"Aku rasa itu jalan yang terbaik Leon," sahut Monaliza tanpa ekspresi menatap kegelapan malam tanpa bintang.
"Mona, jangan lakukan itu. Aku sangat mencintaimu, aku tidak sanggup melihat kau jadi milik pria lain," gumam Leon pelan, ia meraih tangan Monaliza dan menggenggamnya erat.
Monaliza menatap Leon dihadapannya, pemuda yang sudah setia mendampingi dan mengisi hari-harinya sejak ia duduk dibangku SMU, dan belum lama ini telah resmi menjadi kekasihnya. Monaliza selalu merasa nyaman berada disisi pemuda itu, bahkan cinta Leon padanya tidak berkurang sekalipun ia tahu mahkota dirinya sudah terenggut oleh pria lain hingga membuatnya mengandung.
"Leon, maafkan aku. Mungkin hubungan kita cukup sampai disini saja," lirih Monaliza, kata-kata itu hampir saja tidak keluar dari mulutnya karena ia sadar pasti akan menyakiti Leon.
"Tidak boleh Mona, aku tidak mau," sahut Leon cepat, ia semakin mengeratkan genggaman tangannya pada jari-jemari kekasihnya itu.
__ADS_1
"Ibumu, beliau sangat tidak menyukaiku Leon. Lagi pula kau sudah dijodohkan oleh kedua orang tuamu. Jadi kita sudahi saja kisah kita," Monaliza berusaha tegar, walau hatinya pun tidak rela melepas Leon yang begitu baik padanya selama ini.
Ingatan Monaliza pada ibu Leon membuatnya membulatkan tekadnya untuk mengakhiri hubungan cintanya yang tidak direstui itu.
"Aku hanya mencintaimu Mona, aku hanya ingin dirimu, bukan wanita lain," sela Leon.
"Pulanglah Leon. Aku sangat lelah hari ini, aku ingin menenangkan diri dan beristirahat, dan aku sedang mengandung anak pria lain."
Leon menatap lesu wajah Monaliza yang memintanya pulang. Kalimat terakhir kekasihnya itu membuat hatinya semakin hancur. Tatapan matanya menurun memandang perut Monaliza yang masih rata.
"Apakah kau sudah tidak mencinatiku Mona?" tanya Leon putus asa.
"Leon, status kita berbeda, dan ibumu sangat tidak menyukainya. Kita bahkan sudah lama berteman, hingga akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih, dan kau tahu perasaanku, tapi ibumu masih tetap tidak menyukaiku."
"Sekarang pulanglah Leon, kita sama-sama harus menenangkan diri masing-masing ," kata Monaliza menutup pembicaraannya.
"Baiklah, kalau itu maumu, aku akan pulang sekarang," Leon menatap sejenak wajah Monaliza. Perlahan ia mengangkat tangan Monaliza yang digenggamnya keudara lalu mengecup punggung tangan itu dengan bibirnya dan kembali menatap wajah Monaliza yang tidak bereaksi apa-apa dengan wajah datarnya.
"Berjanjilah padaku untuk tidak menerima lamaran bos-mu itu Mona," pinta Leon penuh harap.
Mona menatap pupil mata Leon dalam, berusaha mendapat kekuatan untuk menyanggupi permintaan kekasihnya itu.
"Aku tidak bisa berjanji Leon, maafkan aku." sahut Monaliza akhirnya.
"Apakah itu artinya kau akan menerima pria itu?" tanya Leon dengan perasaan yang semakin kacau.
"Aku rasa perkataan Ibu benar. Pria yang telah menghamiliku, biarlah dia yang menikahiku untuk bertanggung jawab pada apa yang telah ia lakukan," sahut Monaliza yang merasa getir pada ucapannya sendiri.
"Mona, kenapa ini sangat menyakitkan kurasa," gumam Leon hampir tidak terdengar.
"Maafkan aku Leon, mungkin ini sudah takdirku. Aku terpaksa harus menerima pak Dirga menjadi suamiku,"
Tidak terasa, genggaman tangan Leon langsung terlepas dari jari-jemari Monaliza, ucapan Monaliza membuat semua sendi-sendi ditubuhnya terasa lunglai. Ia merosot kebawah dan terduduk dilantai tanpa daya.
__ADS_1
...***...