
Tuan Gamsonrich menatap Leon yang menaiki satu demi satu anak-anak tangga menuju lantai atas dengan langkah gontainya. Ia dapat merasakan bila putra bungsunya itu terpaksa menerima pernikahan itu. Itu dapat dilihat dari roman wajah putranya yang tidak menunjukan antusiasnya dalam pembicaraan penting mereka.
Sikap Leon yang lesu menunjukan bila putranya itu sudah tidak perduli lagi pada dirinya , hal ini tentu saja sangat mengganggu perasaannya sebagai seorang ayah. Biar bagaimanapun, dirinya tidak mau putranya menderita dalam menjalani pernikahannya nanti.
Perlahan tuan Gamsonrich mengambil napas dalam dan menghembuskannya kembali dengan beban yang terasa mengganjal didadanya. Ia memandang isterinya dan kedua calon besannya yang begitu bersemangat membahas pernikahan Leon putranya, demikian pula Nadya calon menantunya.
Tuan Gamsonrich kembali mendesah, ia bahkan tidak melihat kepekaan keempat orang itu pada sikap tidak perduli putranya.
"Ma, apa tidak sebaiknya Leon dan Nadya bertunangan saja dulu sebelum menikah? Ya, seperti putra kita Keny dulu Ma. Supaya tidak terkesan mendadak," kata tuan Gamsonrich memecah kosentrasi keempat kepala yang tengah menyusun rencara acara pernikahan yang meriah menurut standar kelas sosial mereka.
Bukan tanpa alasan ia berkata demikian, ia berharap bisa mengulur waktu pernikahan sambil mencari cara membatalkan pernikahan putranya itu. Ia yakin, putranya tidak akan bahagia dengan pernikahannya bersama Nadya yang jelas-jelas memiliki sikap tidak terpuji seperti yang pernah dipaparkan Leon saat mereka masih dirumah sakit.
Dirinya pun heran, kenapa isterinya begitu getol memaksa agar putranya bisa tetap menikah dengan Nadya yang jelas-jelas memiliki karakter yang tidak baik, sepertinya karena mereka serupa, batinya.
"Mama rasa tidak perlu Pa. Mama sengaja memilih tanggal yang sama dengan pernikahan perempuan murahan itu, supaya Leon tidak datang ke pesta mereka dan memikirkan perempuan itu terus," ujarnya memberi alasan.
"Tuan Wirelles, maafkan saya bila harus berkata jujur. Sebenarnya Leon tidak mencintai Nadya, bisa jadi pernikahan mereka jauh dari bahagia," kata tuan Gamsonrich dengan terpaksa. Pasalnya, isterinya sudah tidak bisa diajak bicara dari hati ke hati, dan ia berharap dengan ucapannya itu ayah Nadya memiliki kepekaan yang sama seperti dirinya, dan berusaha mencari jalan terbaik untuk anak-anak mereka.
__ADS_1
Tuan Wirelles yang diajak bicara tidak langsung menjawab, dirinya terlihat berfikir sejenak sebelum memberi respon pada perkataan calon besannya itu.
"Apa yang Papa bicarakan, merusak suasana saja," sela nyonya Gamsonrich tidak senang, ketika dirasanya suasana berubah tegang, dan keheningan terjadi diantara mereka setelah suaminya mengatakan hal itu.
"Semuanya perlu kita ungkapkan sejak awal Ma, supaya tidak terjadi penyesalan dikemudian hari. Kita tidak boleh menganggap perasaan cinta adalah hal yang sepele, itu sangat penting dalam pernikahan," kata tuan Gamsonrich berspekulasi.
"Saya tidak keberatan." sahut tuan Wirelles Nongka tiba-tiba.
"Dan saya tadi sudah bertanya pada putra Anda Leon secara langsung, dan dia menjawab siap menikahi putri saya Nadya, saya rasa itu sudah cukup," imbuhnya lagi.
"Cinta akan datang seiring berjalannya waktu. Dan yang terpenting, putri kami menikah dengan pria yang sepadan dengannya, dia adalah putri tunggal kami, jadi kami mau pria yang menikahinya adalah pria yang sederajat status sosialnya. Jadi saya rasa, tuan Gamsonrich tidak perlu mengkhawatirkan hal itu," katanya lagi.
...***...
"Dirga, kenapa kau memangkas semua pesta pernikahanmu? Jangan bilang kau ingin berhemat," celetuk Firans yang dipaksa oleh bos-nya itu untuk mengurangi beberapa item yang telah ia persiapkan selama hampir satu minggu ini.
"Monaliza dari keluarga yang sederhana, dia dan ibunya sudah meminta pernikahan ini dilakukan secara sederhana saja," sahut Dirga tanpa melepaskan pandangannya dari layar laptop dihadapannya, sementara jari-jarinya sesekali menekan keyborad laptopnya dengan lincah.
__ADS_1
"Untuk tempat pesta apakah ada perubahan?" tanya Firans menatap Dirga yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Tidak. Undangan saja yang kau kurangi. Aku hanya ingin orang-orang terdekat saja yang hadir, para sahabat, dan beberapa pemilik perusahaan yang sedang berkerjasama dengan perusahaan kita saja," ucap Dirga kembali membuat Firans menggerutu, pasalnya dirinya sudah memerintahkan beberapa orang suruhannya mengantar undangan yang telah ia cetak.
Ia segera meraih ponselnya dengan wajah kesal.
"Kalian ada dimana?" tanya Firans dari sambungan telepon.
" ...."
"Stop! Hentikan dulu dan cepat kembali. Yang sudah terlanjur diantar biarkan saja," ucap Firans mengakhiri sambungan teleponnya. Ia lalu menghubungi suruhannya yang lain lagi, dan mengatakan hal yang sama.
Kau dengar Dirga, permintaanmu yang menyebalkan itu sangat menyulitkan pekerjaanku," gerutu Firans dengan wajah memberangut.
"Itulah tugasmu sebagai asisten pribadiku, dan pekerjaanmu sangat membuatku puas, itu sebabnya aku tidak pernah memperkerjakan seorang asisten lain selain dirimu" sahut Dirga.
"Dan satu lagi, undang semua tetangga Monaliza, mulai berusia bayi hingga yang berusia renta. Fikirkan juga bagaimana cara mereka bisa sampai ketempat acara sesuai waktu yang sudah ditentukan," tambah Dirga lagi.
__ADS_1
Firans lalu mengacak-acak rambutnya sendiri, dua hari lagi pernikahan bos-nya itu akan berlangsung, sementara itu masih banyak tambal sulam yang harus ia kerjakan, selain pekerjaan kantornya yang semakin menumpuk karena kesibukannya seminggu ini mempersiapkan pernikahan super kilat bos-nya itu.
Bersambung...👉