
Monaliza baru saja selesai dimintai keterangan oleh pihak kepolisian berkenaan dengan apa yang telah menimpanya, setelah dirinya beberapa hari dirawat dirumah sakit.
Berkat bimbingan dokter Hilda selama dirumah sakit, Monaliza sudah tidak terlalu takut lagi bila akan bertemu beberapa orang asing, apalagi yang sudah dikenalnya. Suster Norlita sudah menyiapkan barang-barangnya karena hari itu ia akan pulang kerumahnya.
"Mona," panggil Leon, ketika dilihatnya Monaliza baru saja keluar dari kamar mandi. Suster Norlita melirik kearah Leon yang baru tiba diruangan itu, ia membungkuk hormat dan merasa heran bagaimana Monaliza bisa kenal dan dekat dengan pria terpandang itu.
"Leon? Kau ada disini?" tanya Monaliza sambil mengembangkan senyumnya pada Leon yang tidak dilihatnya beberapa hari belakangan selama ia berada dirumah sakit.
"Aku akan mengantarkanmu pulang," ucap Leon sambil berdiri.
"Siapa yang akan menjaga mama-mu, bila kau mengantarkanku pulang Leon?" tanya Monaliza menatap Leon yang sudah menjinjing tas merahnya.
"Mama sudah pulang kemarin, jadi hari ini aku bisa mengantarkanmu pulang kerumah." ucap Leon sambil meraih tangan Monaliza untuk membawanya keluar dari ruangannya.
"Suster Norlita, terima kasih banyak, karena telah menemani saya selama ada dirumah sakit.
"Sama-sama nona Monaliza, saya tidak menyangka nona kenal dengan tuan Leon-," ucap suster Norlita sedikit menundukan kepalanya, ingin sekali ia mengatakan sesuatu yang sangat penting pada Monaliza namun ia tidak bisa mengatakannya dihadapan Leon.
"Iya, Leon adalah teman saya suster," ucap Monaliza masih mengulas senyumnya.
"Kau bukan temanku Mona, tapi KEKASIH-ku, ingat itu," ujar Leon langsung mencium lembut kening Monaliza disampingnya.
"Leon?" Monaliza merasa malu diperlakukan seperti itu dihadapan suster Norlita.
Sementara suster Norlita langsung terperanjat mendengar apa yang dikatakan Leon pada Monaliza, ditambah saat ia melihat Leon mencium Monaliza didepan matanyam
"Sepertinya, inilah alasan nona Nadya marah besar hingga menyerang nona Monaliza beberapa malam lalu," Batin suster Norlita, dalam hatinya ia merasa khawatir pada Monaliza, gadis yang beberapa hari ini dekat dengannya.
"Ayo, kita pulang sekarang," ajak Leon sambil menarik tangan Monaliza yang telah digenggamnya.
"Suster Norlita, kami pamit dulu," ucap Monaliza sebelum pergi meninggalkan ruang rawat inapnya.
__ADS_1
"Iya nona, tuan, hati-hati dijalan." sahut suster Norlita dengan hormat sambil membungkukkan sedikit tubuhnya. Ia menatap kepergian sepasang kekasih yang berbeda kasta itu, ini sungguh mengerikan, batinnya. Ia tidak mampu membayangkan apa yang bisa terjadi pada Monaliza, gadis itu pasti tidak tahu bila keputusannya berada disamping tuan Leon sangatlah membahayakan dirinya, fikirnya lagi.
"Kita ke bagian administrasi dulu," ucap Monaliza pada Leon, saat keduanya berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang panjang itu.
"Heum," angguk Leon. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Monaliza.
"Selamat siang suster," sapa Monaliza pada seorang suster yang bertugas diruang administrasi. Saat dirinya dan Leon sudah tiba disana.
"Selamat siang nona, ada yang bisa saya bantu? sapa suster itu juga dengan senyum ramahnya.
"Selamat siang tuan Leon," suster itu sedikit membungkukkan tubuhnya saat melihat Leon berada disebelah Monaliza. Monaliza yang melihat sikap hormat suster jaga itu pada Leon sedikit merasa heran, namun ia tidak terlalu memikirkannya.
"Saya Monaliza Zhue, pasien dari ruang rawat inap xxx, boleh saya lihat tagihannya?" pinta Monaliza sopan.
"Ditunggu sebentar nona," ucap sang suster. Tangannya mulai menari-nari diatas keyboard komputernya, tidak lama ia sudah menemukan apa yang ia cari.
"Nona, tagihan rumah sakit anda telah lunas dibayar," jelas sang suster. Monaliza dan Leon saling berpandangan sejenak.
"Siapa yang melunasinya suster?" tanya Leon menatap kearah suster tugas itu.
"Boleh saya minta nilai tagihan yang sudah terbayar itu?" pinta Leon pada sang suster jaga.
"Iya tuan, mohon ditunggh sebentar," tangan suster jaga itu kembali menari-nari dengan lincahnya diatas keyboard komputernya, tidak menunggu lama terdengar mesin print berbunyi.
"Ini tuan," suster jaga menyerahkan kertas print ketangan Leon, pria muda itu segera menerimanya, dan dengan seksama ia memeriksa nilai angka yang tertera disudut kanan paling bawah.
Wajah Monaliza langsung memucat, saat ikut melirik angka yang tertera disudut bawah kanan kertas frint itu, walau ia sudah menduganya, semua fasilitas dan pelayanan yang ia dapatkan dirumah sakit itu pasti akan sangat mahal, namun ia tidak menyangka bila nilainya sefantastis itu.
"Terima kasih suster, kami permisi," ucap Leon setelah sempat membaca sejenak nilai tagihan yang ada ditangannya, lalu memasukkanya kedalam saku celana jeans-nya.
"Sama-sama tuan Leon." sahut suster itu ramah, ia kembali membungkukkan sedikit tubuhnya saat Leon dan Monaliza pergi meninggalkan ruang administrasi. Ia menatap kepergian keduanya dengan pandangan yang sulit diartikan, sambil mendesah perlahan.
__ADS_1
...***...
"Kakak!" Seru Rony dan ketiga adik balita-nya girang menyambut kedatangan Monaliza yang sangat mereka rindukan. Mereka langsung menghambur memeluk Monaliza.
"Apa kabar adik-adik kakak semua?" ucap Monaliza sambil memeluk keempat adiknya dengan penuh rindu.
"Kami baik dan sehat kak,' sahut Mimaya, anak perempuan yang sebentar lagi genap berusia lima tahun.
"Kakak Leon, terima kasih ya, sudah membawa kak Mona pulang, kami merindukan kak Mona selama ia tidak ada dirumah." ucap gadis kecil itu lagi sambil memandang keatas, kearah Leon yang menjulang tinggi.
"Sama-sama Mimaya, kau semakin cantik dan imut saja," Leon segera berjongkok dan memposisikan tubuhnya supaya sama tinggi dengan gadis kecil itu. Ia mencium Mimaya, dan kedua adik kecilnya lagi satu persatu dengan gemas.
"Nak Leon, kau mau minum apa?" tanya Bianka, ibu Monaliza menawarkan, yang sedari tadi ikut tersenyum bahagia menyaksikan kedekatan Leon dengan anak-anaknya.
"Tidak usah repot-repot tante, terima kasih banyak, saya juga sebentar saja, ada hal yang harus segera saya selesaikan.
"Oya tante, bolehkah saya meminta ijin membawa Monaliza untuk menemui kedua orang tua saya nanti malam?" ucap Leon sambil menggendong ketiga balita itu dalam pelukannya.
"Apakah kau yakin nak Leon, memperkenalkan Monaliza pada kedua orang tuamu?" tanya ibu Bianka.
"Iya tante, Leon yakin," sahut Leon mantap.
"Kalau tante-, terserah pada Monaliza saja nak Leon," ucap ibu Bianka kemudian.
"Ikutlah denganku malam ini untuk bertemu dengan papa dan mama Mona," ucap Leon menatap Monaliza penuh harap.
"Tapi aku merasa malu dan juga takut Leon," ucap Monaliza jujur.
"Kau tidak perlu takut Mona, ada aku. Aku tidak mau menyembunyikan hubungan kita dari orang tuaku, aku mau mereka tahu dan merestui kita," ucap Leon bersungguh-sungguh.
"Apakah semudah itu mereka mau menerimaku Leon?" sahut Monaliza dengan nada berat.
__ADS_1
"Aku akan meyakinkan mereka Mona. Kau bersiaplah saja, jam lima sore aku akan datang menjemputmu." putus Leon.
Leon kembali mencium tiga balita itu dengan gemas, setelah merasa puas ia baru menurunkan mereka dari gendongannya.