
Setelah menutup dan mengunci pintu, Dirga berjalan mendekat, kembali menghampiri Monaliza yang masih duduk ditepi ranjang pengantin mereka. "Seorang pegawai hotel mengantarkan kado pernikahan untuk kita," kata Dirga walau Monaliza tidak menanyakannnya.
"Kado pernikahan? Siapa yang memberikannya larut malam begini?" Monaliza mengerutkan keningnya.
"Entahlah, tidak jelas siapa pengirimnya. Aku menyuruh pegawai itu membawanya kembali, terserah dia mau mengambilnya atau membuangnya," kata Dirga lagi, ia naik ke pembaringan dan duduk dibelakang isterinya itu sambil melakukan sesuatu.
Monaliza berfikir sejenak, membayangkan sebuah kotak kado pernikahan tanpa nama pengirimnya, sangat mencurigakan, bisa saja itu isinya tikus, kodok, kecoak, binatang melata yang menjijikkan, atau binatang buas lainnya, batin Monaliza merasa ngeri.
"Apa yang pak Dirga lakukan?" Monaliza dibuat kaget saat tangan Dirga tiba-tiba melepas simpul tali gaun pengantinnya yang bersilangan mulai dari pinggang rampingnya hingga kepunggungnya yang terbuka tanpa meminta ijin terlebih dulu padanya.
"Membantumu melepaskan gaun pengantinmu. Kau pasti tidak bisa melakukannya sendiri, karena simpul talinya berada dipunggungmu dan terikat kuat," jelas Dirga tidak merasa bersalah.
"Seharusnya pak Dirga memberitahuku sebelum melepasnya, supaya aku-, aku-," Monaliza tidak melanjutlkan kalimatnya, ia terlihat sangat gugup sambil menahan gaun bagian depannya, dengan menekannya diatas dadanya supaya tidak melorot bebas kebawah. Degup didadanya semakin terasa, membuat tangannya terasa gemetar.
"Apakah itu masalah besar? Bila seorang suami melakukannya tanpa meminta ijin pada isterinya, apalagi itu sipatnya untuk membantu," kilah Dirga dan memberi penekanan dalam kata-katanya itu. Dan sejujurnya, sepasang matanya terpana menatap bonggolan-bonggolan tulang belakang yang dibungkus kulit halus Monaliza dari bagian pinggang hingga atas tengkuknya.
"Tidak pak, saya hanya belum terbiasa saja. Maafkan saya," sahut Monaliza tidak enak mendengar ucapan suaminya.
"Baiklah aku mengerti, jadi mulai sekarang, kau harus membiasakan dirimu bila suamimu melakukan sesuatu padamu tanpa seijinmu. Apa kau mengerti?" tekan Dirga lagi selayaknya seorang atasan pada bawahannya
"I-iya Pak saya mengerti," sahut Monaliza kikuk, ia merasa ikatan pernikahan yang baru saja ia mulai ini tidak ubahnya seperti hubungan kerja antara bos dan anak buah. Ya, sama seperti dirinya dikantor, suaminya tetap menjadi seorang CEO didalam rumah tangga barunya.
"Bagus, aku suka isteri yang patuh sepertimu, kau tidak boleh membangkang. Ingat itu," kembali Dirga berlagak seperti seorang bos 'dikantor' rumah tangganya, sementara Monaliza hanya mengangguk pelan merespon ucapan suaminya.
"Ayo, sekarang ku bantu kau berdiri, supaya bisa memudahkanmu melepaskan gaunmu itu. Kau harus mandi dulu, baru tidur setelah itu," ujar Dirga seraya bergeser ketepi dan turun dari pembaringan.
Monaliza nampak kesulitan berdiri, karena memang kakinya masih terasa sakit, selain itu kedua tangannya harus memegang gaun pengantinnya yang bisa saja terbelorot bebas kebawah bila tidak hati-hati menahannya.
"Tunggu disini sebentar," Dirga buru-buru menuju lemari pakaian, dari sana ia mengambil handuk kimono. "Ini, pakailah ini," ia menyodorkan handuk kimono pada Monaliza, wanita itu langsung menerimanya.
"Maaf Pak, bolehkah Anda berbalik dulu sebentar?" pinta Monaliza, sesopan dirinya saat sedang berada dimeja resepsionisnya
"Baiklah," Dirga langsung berbalik. Ia menanti beberapa saat lamanya, "Apa sudah selesai?" tanyanya.
__ADS_1
"Sudah Pak," sahut Monaliza.
Dirga berbalik, menatap sejenak Monaliza yang hendak memungut gaun pengantinnya," Biarkan saja, aku yang akan membereskannya nanti. Ayo, aku akan menggendongmu kekamar mandi."
"Tapi Pak, gaun pengantin itu-""
"Tidak ada bantahan. Apakah kau lupa, kalau kau baru saja berjanji jadi isteri yang patuh. Lagi pula kakimu masih sakit, bagaimana kalau sampai kau tersandung lagi seperti tadi," kata Dirga seraya membopong sang isteri menuju kamar mandi.
Monaliza hanya bisa pasrah, membiarkan Dirga menggendongnya. Walau ini bukan kali pertama, tetap saja Monaliza merasakan debaran didadanya setiap kali bersentuhan langsung dengan pria yang sudah menjadi suaminya itu.
Diam-diam Monaliza mencuri pandang menatap wajah Dirga yang sedang membawanya menuju kamar mandi, wajah itu sudah terlihat lebih tampan dari biasanya. Monaliza yang baru menyadarinya memandang kagum. Wajah itu sudah bersih dari berewokan yang setia menempel diwajahnya selama hampir empat bulan terakhir. Rambut gondrongnya juga sudah dipangkas lebih rapi.
"Apa yang sedang kau perhatikan?" tanya Dirga secara riba-tiba, membuat Monaliza salah tingkah.
"Mm-, tidak ada Pak," sahut Monaliza menahan malu karena tertangkap basah oleh suaminya itu.
"Tidak ada?" tanya Dirga memastikan sambil memandang wajah Monaliza dalam gendongannya.
Tok! Tok! Tok!
Monaliza dan Dirga sama-sama terdiam, dan saling berpandangan, saat mendengar pintu kamar mereka diketuk lagi.
"Turunlah." Dirga menurunkan Monaliza dengan sangat hati-hati. "Gunakan air hangat supaya kau tidak kedinginan dan masuk angin. Panggil aku bila kau sudah selesai. Aku akan membukakan pintu itu,"
"Aku sudah mengingatkan pada mereka untuk tidak mengganggu kita lagi. Aku akan melakukan komplain pada manager hotel ini bila begini pelayanan mereka," sungut Dirga sambil berlalu dan menututup rapat kamar mandi.
"Bukankah sudah saya peringatkan, jangan mengganggu malam pengantin-," Dirga langsung menghentikan ucapannya saat melihat wajah Firans yang memamerkan deretan gigi putihnya.
"Ternyata kau Firans! untuk apa kau kemari, heuhh?!" geram Dirga saat melihat asisten pribadinya itu muncul dihadapannya setelah ia membula pintu.
"Malam pengantin? Wow, luar biasa. Aku jadi penasaran!" tanpa permisi Firans menerobos masuk dan menghalau tubuh Dirga hingga menyingkir kesamping pintu, tanpa memperdulikan pertanyaan Dirga padanya.
"Tunggu! Asisten sialan! Siapa yang mengijinkanmu masuk!" kejar Dirga.
__ADS_1
"Ohhh, tidak kusangka secepat ini," Firans seolah tidak percaya akan apa yang dilihatnya, gaun pengantin Monaliza beserta atribut pakaian dalamnya sudah terdampar dilantai bawah tempat tidur. "Monaliza pasti sedang membersihkan diri dikamar mandi kan setelah pergulatan panas kalian?" kata Firans menjadi-jadi.
"Pergi sekarang! Aku tidak mengijinkanmu masuk dan melihat semuanya ini!" usir Dirga, ia menarik Firans dengan paksa keluar dari kamar hotel dirinya dan Monaliza.
"Tunggu! Jangan tutup pintunya Dirga! Aduh!" Firans menahan kakinya pada ambang pintu hingga kakinya terjepit saat Dirga menutupnya paksa.
"Kau niat sekali mengganggu kami!" kata Dirga dongkol seraya menendang kaki Firans yang menjulur masuk untuk menahan pintu.
"Dirga, sakit sekali." keluh Firans merasakan sakit pada mata kakinya,"aku hanya mau mengantarkan ini sesuai pesananmu, apakah kau lupa?" gerutu Firans merasa kesal.
"Apa itu?" tanya Dirga menatap paper bag yang tengah disodorkan Firans padanya.
"Susu dan vitamin ibu hamil," sahut Firans masih dengan wajah kesalnya sambil menggerak-gerakan pergelangan kakinya supaya rasa sakitnya bisa berkurang.
"Lama sekali baru kau mengantarnya," ucap Dirga seraya meraih paper bag yang disodorkan Firans padanya. Ia lalu memeriksa isi didalamnya.
"Tentu saja lama, kau tidak memberi tahuku apa nama susu hamil isterimu juga nama vitaminnya. Jadinya terpaksa aku harus kerumah ibu mertuamu dan mengambilnya dari sana sekalian mengantarkan undangan tetanggamu yang sekompkek itu," ujar Dirga masih bersungut.
"Maafkan aku, aku terlalu sibuk hari ini Firans, jadi lupa memberitahu namanya," ucap Dirga yang baru menyadarinya.
"Apanya yang sibuk? Kau hanya duduk manis sambil tersenyum kiri-kanan pada para tamu undanganmu, sedangkan aku super-super-super sibuk mengatur undangan para tetangga isterimu itu," ucap Firans menimpali.
"Kau fikir itu mudah Firans? Memberi senyuman pada semua undangan yang datang itu bukan perkara gampang bagiku yang sulit tersenyum ini. Rahangku sampai terasa pegal dan kaku," kata Dirga menunjuk rahang kiri dan kanannya.
"Selain itu, aku terlalu sibuk bahagia, karena bisa menikahi ibu calon bayiku," kata Dirga tersenyum lebar tidak seperti biasanya.
Firans ternganga, baru kali ini dirinya melihat Dirga tersenyum selebar itu, "aku percaya kau bahagia, apalagi melihat onggokan gaun pengantin beserta atribut penutup gunung kembar dan segi tiganya dibawah ranjang pengantin kalian," goda Firans seraya terkekeh mendengar ucapannya sendiri.
"Sudah, pergi sana! Nanti isteriku melihatmu, dia pasti sudah menyelesaikan ritual membersihkan tubuhnya dikamar mandi," ujar Dirga seraya menutup pintu tanpa pernisi.
"Dasar! Teman macam apa itu." umpat Firans kaget. "Ini-nih, kalau sudah bahagia lupa berterima kasih, udah bela-bela'in nganterin susu dan vitamin jauh-jauh kemari," omel Firans lagi. Namun ia kembali terkekah seorang diri. Biar bagaimanapun, sebagai seorang sahabat, ia turut bahagia saat sahabat, sekaligus bos-nya itu kembali ceria seperti dulu.
Pintu kamar nomor xx7 terbuka pelan, saat Firans sudah beranjak pergi meninggalkan kamar Dirga-Monaliza di nomor xx8. Leon mengeraskan kedua rahangnya dengan wajah murung, obrolan antara Dirga dan Firans yang tertangkap pendengarnya membuat mood-nya semakin buruk malam itu.
__ADS_1