
"Leon, apakah kau yakin membawaku kemari?" Monaliza berdiri disamping mobil Leon yang diparkir dilantai enam, menatap ballroom hotel dihadapannya, tempat digelarnya perhelatan pesta ulang tahun pernikahan orang tua Leon yang mewah itu.
"Berhentilah merasa tidak pantas Mona, kau kekasihku, dan aku mencintaimu, kau pantas dimanapun kau berada," ucap Leon lembut. Ia meraih tangan Monaliza, meletakannya dilengannya.
"Gandenglah lenganku Mona, kita akan masuk sekarang," Monaliza mengangguk pelan. Ia mengeratkan pegangan tangannya dilengan Leon, jantungnya mulai berdetak tidak beraturan, bukan karena Leon, tapi lebih mengarah pada pesta yang akan ia hadiri, ia merasa tidak siap masuk kekalangan yang bukan status sosialnya.
"Bersikaplah biasa saja Mona, jangan perlihatkan wajah tegangmu itu." Bisik Leon yang menghentikan langkahnya didepan pintu ballroom, namun matanya tetap menatap kedepan.
"Kalau perlu, terbarkanlah senyummu, karena dirimu sebentar lagi akan menjadi pusat perhatian dipesta ini," imbuh Leon, ia langsung mengembangkan senyum tipisnya, saat beberapa tamu yang baru datang menatap kearahnya dan langsung mendekatinya.
"Tuan muda Leon, senang bertemu dengan anda," sapa seorang yang seusia ayah dan ibunya, ia terlihat datang bersama isterinya.
"Selamat malam juga tuan dan nyonya Moou," Leon balas menyapa sambil mempertahankan senyum tipisnya tetap mengembang. Sementara Monaliza yang berdiri disisinya, dan masih menggandeng erat lengannya ikut mengembangkan senyumnya kepada sepasang suami isteri itu.
"Tuan muda, apakah ini kekasih anda?" tanya nyonya Moou menatap Monaliza yang sedang menggandeng erat lengan tangan Leon dengan senyum manisnya.
"Anda benar nyonya, Monaliza namanya," ujar Leon memperkenalkan kekasihnya dengan percaya diri.
"Nama yang sangat manis, dan sangat cantik seperti pemiliknya. Senang bertemu dengan anda, nona MONALIZA," eja nyonya Moou sambil mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan dengan Monaliza. Tuan Moou juga tidak ketinggalan.
"Terima kasih, senang juga bertemu dengan anda, tuan dan nyonya," sahut Monaliza dengan senyum yang tetap mengembang.
"Tuan muda Leon dan nona Monaliza sangat serasi, bukankah demikian sayang," puji tuan Moou dengan meminta persetujuan sang isteri.
"Iya sayang, kau benar," sahut nyonya Moou menyetujui dengan senyum terukir diwajahnya.
__ADS_1
"Terima kasih tuan dan nyonya, ucapan anda berdua membuat saya ingin cepat-cepat saja meresmikan hubungan kami," kelakar Leon, membuat wajah Monaliza bersemu merah mendengar perkataan Leon. Sementara tuan dan nyonya Moou ikut tertawa menyambut kelakar dari sang tuan rumah.
"Silahkan tuan dan nyonya, silahkan masuk, papa dan mama sudah menunggu didalam," ucap Leon kemudian, mempersilahkan tamunya sebagai tuan rumah yang baik.
"Terima kasih tuan muda Leon dan nona Monaliza," ucap tuan Moou, ia dan isterinya meninggalkan Leon dan Monaliza dipintu masuk ballroom dan memasuki ruangan pesta.
"Mona, persiapkan dirimu, kita masuk sekarang," ucap Leon menatap wajah Monaliza yang tidak pernah membuatnya bosan mengaguminya.
Monaliza mengangguk, ia mengambil nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya lalu mengeluarkannya kembali dengan perlahan lewat mulutnya yang setengah terbuka, membuat Leon merasa gemas melihat kekasihnya itu.
Saat Leon merasakan Monaliza mengeratkan kembali tangannya dilengannya, Leon mulai melangkahkan kakinya memasuki ballroom dengan langkah bersahaja bersama Monaliza disisinya.
"Megan?" Dirga menatap Monaliza yang berjalan menggandeng lengan Leon disisinya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya pada apa yang dilihatnya.
"Itu Monaliza Dirga, bukan mendiang Megan. Yang ada seisi ruangan pesta ini akan lari tunggang langgang kalau itu mendiang tunanganmu," ucap Firans menyadarkan sahabat sekaligus CEO-nya itu.
"Dirga bukankah itu Monaliza, pegawai resepsionismu?" tanya ibu Surya pada putranya untuk memastikan penglihatannya. Sementara pak Surya yang berdiri disisi isterinya ikut memperhatikan kearah Monaliza sambil meneguk minumannya.
"Iya ma, gadis itu Monaliza, pegawai kita," sahut Dirga, dengan matanya terus memandang kearah Monaliza yang terus melangkah bersama Leon disela-sela para tamu yang memberi jalan pada mereka. Gaun Monaliza yang memperlihat bentuk tubuhnya dengan belahan samping hingga hampir mencapai pinggulnya menjadi perhatian Dirga yang membuatnya tidak sadar menghabiskan minuman dalam gelasnya hanya dua kali teguk.
"Monaliza, dia memang terlihat sangat mirip dengan mendiang Megan," gumam nyonya Surya masih melihat kearah Monaliza yang sedang berbicara dengan Keny, kakak Leon.
"Iya ma kau benar. Aku tidak tahu apa reaksi pak Han dan isterinya saat melihat ada gadis yang sangat mirip dengan putri mereka," ucap Hardi Surya, ayah Dirga ikut berkomentar.
Dirga tidak ikut berkomentar apa-apa mendengarkan obrolan ayah dan ibunya yang berada didekatnya, tangannya kembali meraih minuman yang disajikan oleh pelayan pesta yang datang kedekat mereka, dan matanya tidak berhenti mengawasi Monaliza dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
"Dirga, ingat Dirga, kau sudah menghabiskan tiga gelas minumanmu. Jangan sampai kau mabuk sebelum pesta ini usai," Firans menatap Dirga, ia merasa sahabatnya itu bersikap seperti tidak biasanya malam ini.
"Dirga, yang kau tatap itu bukan mendiang Megan. Dia Monaliza kekasih tuan muda Leon, putra dari tuan dan nyonya Gamsonrich yang mengelar acara pesta malam ini," ucap Firans, ia merasa khawatir melihat gelagat yang kurang beres dari Dirga.
"Firans, aku bukan pemabuk dan tidak mudah mabuk hanya karena minuman beberapa gelas," Ucap Dirga, sambil menunjukan gelas ke-empatnya pada Firans yang turut melihat kegelasnya.
"Perkataanmu-lah yang membuat kepalaku pusing mendengarnya. Jadi kau lebih baik diam," suruh Dirga dengan nada datarnya tanpa melihat kearah Firans, karena pandangannya kembali mengarah pada Monaliza, dimana gadis itu berada.
"Hai Leon, aku merindukanmu," Seorang gadis dengan gaun tidak kalah seksinya dari Monaliza datang menghampiri lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Leon untuk menciumnya.
Monaliza, Keny dan Nadine isterinya yang sedang mengobrol sebelumnya, menatap wajah Nadya yang tanpa basa-basi bersikap seolah-olah begitu akrab dan dekat dengan Leon.
Dengan sigap Leon segera menahan wajah gadis itu dengan satu tangannya agar tidak menyentuh wajahnya.
"Nadya, bersikaplah sopan, apakah kau tidak melihat kekasihku ada disisiku dan sedang memeluk lenganku," ucap Leon dengan tatapan datar pada Nadya.
"Kekasih? Kita lihat saja nanti, siapa yang akan dipilih paman dan bibi berada disampingmu dan yang berhak memeluk lenganmu itu Leon," Nadya tersenyum jahat dengan muka badak, sedikitpun ia tidak merasa tersinggung apalagi malu ketika Leon berkata demikian terhadapnya.
Ketika mendengar perkataan Nadya, Monaliza menatap lekat wajah wanita itu. Suara itu sangat diingatnya, pasti wanita itu yang menyerangnya beberapa malam yang lalu saat dirinya masih dirawat dirumah sakit, batin Monaliza. Walaupun pada saat itu, ia tidak melihat secara jelas wajah wanita itu, karena mengenakan kacamata berwarna gelap.
"Keny! Leon! Kemarilah," panggil nyonya Gamsonrich pada kedua putranya. Untuk memperkenalkan kedua putranya itu pada para koleganya yang datang ke pesta itu.
"Mona, tunggulah disini sebentar, aku akan segera kembali." ucap Leon setengah berbisik pada Monaliza. Monaliza mengangguk lalu melepaskan tangannya dari lengan Leon.
"Kak Nadine, titip Monaliza sebentar ya," ucap Leon pada kakak iparnya itu.
__ADS_1
"Baik Leon," sahut Nadine.