CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
13. Pekerjaan Menumpuk


__ADS_3

"Apa yang kau bicarakan Firans!" Sentak Dirga tidak suka.


"Wanita itu bukan siapa-siapaku Firans," ucap Dirga menekankan kalimat terakhirnya.


"Aku fikir diamnya dirimu karena tidak suka pada Leon yang dekat dengan Monaliza, gadis yang mirif dengan mendiang Megan," ucap Firans berusaha memberi alasan atas apa yang telah ia katakan.


"Perlu ku ingatkan padamu Firans. Mungkin ada banyak wanita diluar sana yang mirip dengan Megan termasuk wanita itu, tapi Megan tetaplah Megan, dia tunanganku, dan dia berbeda dengan semua wanita-wanita itu," ucap Dirga dengan berapi-api, dia paling tidak suka mendiang tunangannya disamakan dengan wanita yang tidak jelas bobot, bebet, dan bibitnya. Bagi Dirga, Megan-lah wanita yang terbaik.


Firans terdiam, ia tidak berani bersuara lagi, ia melihat suasana hati Dirga sedang buruk, apalagi pembicaraan yang ada hubungannya tentang Megan, pria itu pasti akan bersikap seperti ini, emosinya sering tidak terkendali.


Hening sejenak.


"Firans," terdengar suara Dirga datar, mungkin hawa panas dalam kepalanya sudah mulai mendingin.


"Iya," sahut Firans. Ia melirik kearah Dirga yang sedang menatapnya.


"Tolong kau hubungi keluarga wanita itu, supaya mereka tidak khawatir, katakan saja dia sekarang berada dirumah sakit karena sakit, jangan bicara lebih." Dirga mengingatkan.


"Biarkan wanita itu sendiri yang menjelaskan duduk perkaranya pada keluarganya, kita tidak perlu masuk dalam ranah yang bukan bagian kita," lanjut Dirga yang sudah lebih tenang.


"Baiklah," sahut Firans. Ia segera keluar dan menghubungi bagian HRD untuk mengetahui data pegawai dari sana.


Sementara Dirga kembali disibukan dengan pekerjaannya, memeriksa bertumpuk-tumpuk berkas diatas mejanya sebelum ia menanda-tanganinya.


Kring! Kring! Kring!


Telepon dimeja kerja Dirga berbunyi. Ia membiarkannya berbunyi berkali-kali, hingga akhirnya ia pun mengangkatnya juga.


"Hallo?" Dengan malas Dirga mengangkat telepon dan menempelkannya pada daun telinganya. Ia terpaksa melakukannya karena hanya dia seorang yang ada didalam ruangannya.


"Hallo pak Dirga, saya Rullina dari bagian resepsionis. Pihak rumah sakit Dirgahayu minta disambungkan langsung pada anda pak Dirga. Apakah pak Dirga bisa menerimanya?" tanya Rullina dari ujung sambungan telepon.


"Baiklah, sambungkan sekarang," sahut Dirga datar.


"Baik pak Dirga, mohon ditunggu sebentar," ucap Rullina, lalu mulai menyambungkan sambungan telepon pihak rumah sakit pada Dirga.


"Hallo, selamat siang pak Dirga" suara seorang wanita terdengar kembali dari ujung telepon.


"Iya, selamat siang," sahut Dirga.


"Kami dari pihak rumah sakit Dirgahayu, ingin menyampaikan, pasien atas nama nona Monaliza Zhue sudah siuman, kami memerlukan kehadiran pihak keluarga pasien untuk hadir dirumah sakit." jelas suara wanita dari seberang sambungan telepon.

__ADS_1


"Baik sus, terima kasih," sahut Dirga.


"Sama-sama pak Dirga,"


Begitu sambungan telepon sudah ditutup Dirga Langsung menghubungi Firans asistennya.


"Firans, segera masuk," panggil Dirga lewat sambungan telepon. Sebelum mendapat jawaban Dirga telah menutupnya kembali secara sepihak seperti biasa yang ia lakukan.


Tok! Tok! Tok!


"Masuklah!" ucap Dirga setengah berteriak dari dalam.


Firans mendorong knop pintu lalu masuk dan menghampiri Dirga dimejanya.


"Kau sudah menghubungi pihak keluarga wanita itu?" tanya Dirga, saat Firans sudah berada didepannya.


"Pihak HRD langsung yang menghubungi pihak keluarga Monaliza," sahut Dirga.


"Lalu, apa kata mereka?" tanya Dirga sambil menyandarkan punggungnya dikursi kerjanya.


"Mereka berterima kasih pada pihak perusahaan yang telah mengabarkan bila Monaliza sekarang dirawat dirumah sakit."


"Dengan terpaksa mereka tidak dapat datang kerumah sakit,"


"Kenapa? Apakah mereka tidak perduli pada anggota keluarga mereka yang sakit?" cecar Dirga.


"Bukan seperti itu Dirga." sahut Firans cepat.


"Monaliza, dia tulang punggung keluarganya, harus menghidupi ibu dan keempat orang adiknya yang masih kecil-kecil."


"Lalu ayahnya?" tanya Dirga.


"Ayahnya sudah tiada," sahut Firans.


"Ibunya tidak bisa datang kerumah sakit, karena harus menjaga keempat adiknya yang masih kecil-kecil itu," Jelas Firans lagi.


Setelah mendengar ucapan Firans, Dirga terdiam sejenak, ia mengelus- elus dagunya yang sudah ditumbuhi jenggot tipisnya.


"Kalau begitu bersiaplah, kita kerumah sakit sekarang," ucap Dirga. Ia berdiri, merapikan berkas- berkas diatas mejanya yang belum selesai ia periksa.


Setelahnya, Dirga langsung melangkah menuju pintu. Firans yang melihatnya mau tidak mau membuntutinya dari belakang.

__ADS_1


"Dirga, kita mampir warung pinggir jalan ya, aku lapar sekali," rengek Firans pada bos-nya itu, saat keduanya melewati deretan pedagang kaki lima yang mangkal disepanjang jalan menuju rumah sakit.


"Terserah kau saja," sahut Dirga tanpa banyak komentar. Sebenarnya ia-pun merasakan rasa lapar, sama seperti yang dirasakan Firans, namun banyaknya pekerjaan dan beban fikiran, membuat Dirga tidak terlalu memperhatikan rasa laparnya itu.


Firans menepikan mobil yang ia kemudikan dan memarkirkannya pada lahan parkir yang telah disediakan.


Ini untuk kedua kalinya bagi Dirga bersantap siang ditempat terbuka seperti ini, dan masih tetap bersama Firans.


Seperti sebelumnya, Dirga-pun hanya mengikuti menu yang dipesankan oleh Firans supaya tidak terlalu lama menunggu. Karena masih banyak hal yang harus mereka lakukan kemudian.


Fikiran Dirga masih tertuju pada pekerjaan kantornya yang menumpuk. Dirinya memang sedang dikejar dateline, setiap harinya selalu ada saja tagihan yang jatuh tempo, untung saja penjualan sudah mulai naik dalam empat hari belakangan.


Tapi itu belum bisa menjamin kegiatan perusahaanya bisa berjalan normal seperti biasanya, karena ia harus memikirkan bagaimana membayar tagihan-tagihan yang sudah overload.


Namun tanggung jawabnya sebagai seorang pimpinan pada pegawainya harus ia tunaikan pula. Apalagi dirinya-lah yang secara langsung membawa Monaliza ke rumah sakit semalam.


Selesai makan siang, tanpa membuang waktu, Dirga dan Firans kembali meluncur menuju rumah sakit.


"Pak Dirga?" sebut dokter wanita yang sedang duduk dibelakang mejanya, saat melihat Dirga memasuki ruangannya setelah mengetuk pintu.


"Iya dokter," sahut Dirga.


"Silahkan duduk," ucap dokter itu lagi mempersilahkan.


"Terima kasih dokter," Dirga dan Firans lalu duduk pada kursi yang telah disediakan.


"Perkenalkan, nama saya dokter Hilda, yang menangani pasien yang bernama nona Monaliza Zhue," Dokter itu berdiri dan mengulurkan tangannya pada Dirga dan Firans.


Keduanya ikut berdiri dan menyambut uluran tangan dokter Hilda secara bergantian, lalu kembali duduk ditempatnya semula.


"Apakah pak Dirga yang mengantarkan nona Monaliza Zhue kerumah sakit semalam?" tanya dokter memastikan.


"Iya benar dokter." Sahut Dirga.


"Apakah pak Dirga keluarga dari nona Monaliza Zhue?" tanya dokter Hilda menatap kearah Dirga.


"Bukan dokter, saya atasan nona Monaliza ditempatnya berkerja," jelas Dirga.


"Tidak adakah keluarganya yang bisa datang kemari untuk mengetahui kondisi nona Monaliza?" tanya dokter menatap Dirga dan Firans bergantian.


Dirga menoleh pada Firans, mengisyaratkan supaya asistennya itu saja yang menjawab pertanyaan sang dokter.

__ADS_1


__ADS_2