
"Sebaiknya ini dibawa pada nona Monaliza saja," kata Firans memberi ide.
"Monaliza pasti tidak mau. Waktu dihotel dia sudah menolaknya," ucap Dirga beralasan. Walau sebenarnya memang benar seperti itu sepengetahuannya, namun rasa cemburunya lebih mendominasi. Ia tidak mau barang-barang pemberian Leon sampai diterima oleh isterinya itu.
"Itu dihotel, saat kau ada. Mungkin saja kalau kau tidak ada dia mau menerimanya," kata Firans sengaja menggoda bosnya yang masih pengantin baru itu. Ia sempat melihat wajah Dirga yang berubah sebelumnya, saat Rullina mengatakan hari jadi Leon dan Monaliza adalah kode untuk membuka kotak hadiah selanjutnya.
"Nona Monaliza tidak seperti itu pak Firans," bela Rullina. "Waktu mereka masih bersama, acapkali nona Monaliza menolak pemberian tuan Leon padanya," sambung Rullina lagi.
"Yah, itu dulu. Sekarang belum tentu," kata Firans semakin sengaja memanasi hati Dirga. Selama ini Dirga terlalu datar, bahkan lebih tepatnya dingin dalam menanggapi sesuatu, apalagi itu menyangkut masalah hati. Hanya mendiang Megan yang bisa meluluhkan hatinya, Firans sangat tahu hal itu karena mereka bertiga adalah sahabat.
"Sudahlah Firans, tutup mulutmu itu. Kata-katamu tidak berpengaruh apa-apa padaku," ucap Dirga menyembunyikan kemelut yang sedang bergejolak dihatinya.
Rasa cemburu itu, kenapa terlalu besar? Bertahun-tahun lamanya menjalin hubungan dengan mendiang Megan, tapi tidak pernah secemburu ini, batinnya. Dulu, Megan-lah yang selalu berusaha mencari perhatian pada dirinya yang sangat pendiam dan menutup diri, sehingga kurang memiliki banyak teman. Hanya Firans dan Megan saja yang berhasil mendekatinya.
"Rullina benar, Monaliza pasti tidak akan mau menerimanya, dan aku sudah melihatnya sendiri saat kami dihotel waktu itu," ujar Dirga lagi meyakinkan Firans. Sebenarnya, lebih tepatnya, meyakinkan dirinya sendiri.🤔
"Rullina, tolong kau rapikan kembali kotak hadiah itu seperti semula, setelah selesai kau boleh kembali berkerja," kata Dirga menatap Rullina.
"Baik Pak," sahut Rullina patuh.
"Dan kau Firans, mana semua berkas-berkas yang mau kau serahkan padaku?" Dirga beralih pada Firans.
"Ini," Firans menunjuk berkas terakhir yang ia letakan diatas meja Dirga. Ia mulai menjelaskan beberapa hal yang perlu Dirga ketahui mengenai berkas-berkas yang diberikannya itu.
Dirga memperhatikannya dengan teliti, sambil membuka lembaran demi lembaran berkas dihadapannya.
"Ok semuanya sudah beres," kata Firans dengan wajah bahagianya, setelah semua berkas telah ia berikan pada bos-nya itu beserta beberapa penjelasan yang memang diperlukan.
"Kau yakin tidak ada yang terlupakan?" tanya Dirga memastikan asistennya itu.
"Seribu persen yakin," sahut Firans masih dengan wajah bahagianya.
"Baiklah kalau begitu. Selamat berlibur." kata Dirga sambil menepuk-nepuk punggung asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Manager Lionlie sudah menstransfer gaji dan bonusmu bukan?" tanya Dirga lagi.
"Sudah, terima kasih. Aku tinggal menunggu transferan darimu. Kau tahu bukan? Aku sudah mengurus persiapan pernikahanmu begitu sempurna, bahkan sampai membawa semua barang-barangmu dari hotel pulang kerumah barumu itu," ucap Firans yang biasa bercanda.
"Tenang Firans, aku tidak mau berhutang setetes keringat-pun darimu. Aku sudah mentransfernya direkeningmu," sahut Dirga santai. Ia bangkit dari kursinya, melangkah kedepan mejanya dan menyandarkan bokongnya disana sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
"Apa? Kau serius?" Firans nampak kaget, karena dirinya belum mendengar ada pesan pemberitahuan.
"Heum. Coba kau cek rekeningmu sekarang," kata Dirga dengan senyum tipisnya.
Sementara Firans langsung meraih ponsel dari dalam sakunya, mengutak-atiknya, dan tidak lama kemudian, rautnya nampak terperanjat menatap saldo akhir dalam rekeningnya.
__ADS_1
"Banyak sekali ini Dirga," ucap Firans menatap wajah Dirga hampir tak percaya. "Padahal tadi aku hanya bercanda," katanya masih menatap sahabatnya itu.
"Itu bonus spesial, kau sudah menyiapkan yang terbaik untuk pesta pernikahanku," ujar Dirga.
"Sudahlah, pulanglah sekarang. Kau perlu bersiap-siap bukan untuk keberangkatanmu malam ini?" kata Dirga menyudahi obrolan mereka.
"Baiklah, aku pulang sekarang. Dan terima kasih untuk bonus spesialmu," ucap Firans terkekeh dengan wajah senangnya.
"Sama-sama. Selamat bersenang-senang." ucap Dirga turut senang melihat sahabatnya yang terlihat sangat antusias dengan liburannya.
"Ingat, jangan mengganggu liburanku. Aku tidak akan melayani komplein apapun," kelakar Firans sambil beranjak mengambil tas kerjanya.
"Baiklah, sesuai keinginanmu," sahut Dirga masih dengan senyum tipisnya.
"Rullina, apakah kau masih mau disini? Berdua dengan pria yang baru menikah. Awas, dia bisa menerkammu," ujar Firans asal pada sahabat Monaliza itu.
"Tidak pak Firans, saya baru saja selesai," kata Rullina dengan wajah memerah sambil meletakkan kotak kado yang sudah terbungkus rapi seperti semula. Entah apa yang tengah difikirkannya setelah mendengar ucapan asal dari mulut Firans itu.
"Firans! Jangan buat ulah mentang-mentang ingin berlibur," ucap Dirga datar. Seperti biasa, ia terlalu kaku dan tidak suka bercanda apalagi bila hal itu menyangkut hal bersifat pribadi.
"Sorry-sorry, aku hanya bercanda. Okey, aku pergi dulu," ucap Firans kembali terkekeh, ia mengulurkan tangannya pada Dirga dan disambut oleh pria itu, keduanya lalu berpelukan hangat. Seolah ingin berpisah jauh. Ya, memang akan berpisah jauh. Firans akan berangkat liburan ke Jepang bersama beberapa pegawai marketing dan beberapa pegawai PT.IFF atas bonus pencapaian target penjualan mereka.
Perkataan Firans ternyata mengganggu pikiran Dirga, sehingga ia memutuskan membawa kotak kado pemberian Leon pulang kerumah sore itu. Ia ingin memastikan, apakah yang diucapkan Firans itu terbukti benar atau tidak. Dan kado itu telah ia titipkan pada bibi Nia beserta pesan rahasianya pada asisten rumah tangganya itu.
Tok! Tok! Tok!
Ibu Bianka buru-buru keluar dari dapurnya, ia terkesiap ketika membuka pintu depan rumahnya saat melihat siapa yang muncul didepan pintu.
"Nak-, Nak Leon," ucap ibu Bianka terbata-bata.
"Selamat sore Bu. Apa kabar?" sapa Leon tersenyum hangat pada mantan calon ibu mertuanya.
"B-baik nak Leon. Monaliza tidak ada dirumah, dia-,"
"Monaliza ikut suaminya kan Bu," sambung Leon sambil tersenyum.
"Aku tidak mencarinya Bu, aku kemari ingin bertemu adik-adik. Aku merindukan mereka," kata Leon lagi.
"Mereka-, mereka ada didalam. Ayo, mari silahkan masuk." ucap ibu Bianka mempersilahkan.
"Iya Bu," Leon tersenyum, ia melepas alas kakinya. Masih bisa diterima dengan baik oleh ibu Bianka dirumahnya, itu sudah membuatnya senang, hatinya sudah cukup terhibur, setidaknya kepahitan hidupnya yang ia rasakan saat ini bisa ia lupakan sejenak.
"Rony! Ada kak Leon. Ayo, ajak adik-adikmu keluar dari kamar," panggil ibu Bianka pada anak laki-lakinya itu.
"Iya Bu, sebentar!" sahut Rony dari dalam kamarnya.
__ADS_1
Grudak! Graduk! Dokk! Dokk! Braakk!
Terdengar suara rusuh didalam kamar, Leon hanya tersenyum mendengarnya, suara serupa itu memang akrab ditelinganya, ketika ia sering mengunjungi Monaliza dirumah itu.
"Kakak Leon!" teriak tiga balita perempuan itu dengan lidah cadel mereka. Ketiganya langsung berhambur masuk kedalam pelukan Leon yang sudah merentangkan kedua tangannya lebar-lebar menyambut mereka. Sementara Rony yang berjalan dibelakang tiga balita itu hanya tersenyum kecil melihatnya.
Ya, suara riuh yang didengar itu karena pergerakan ketiga balita itu yang berebut keluar dari kamar saat mendengar nama Leon disebut dari mulut Rony.
"Kak Leon kemana aja sih, lama gak kesini?" tanya Mimaya yang usianya belum genap lima tahun itu.
"Kak Leon sibuk," sahut Leon sambil mencium pipi gembul mereka satu persatu.
"Cibuk apa?" tanya Alina yang berusia tiga tahun setengah, ejaannya sering belum terlalu jelas saat berbicara.
"Sibuk kerja," sahut Leon berbohong, sudah beberapa hari ini ia tidak kekantor karena fikiran kusutnya.
"Sebagai gantinya, kak Leon traktirin ice cream, mau?" tanyanya pada ketiga balita itu.
"Mauu!?" teriak mereka bersamaan dengan penuh semangat.
"Bu, boleh Leon mengajak mereka ke taman sebelah bersama Rony juga?" Leon mengalihkan pandangannya pada ibu Bianka.
"Apa mereka tidak merepotkan nak Leon?" tanya ibu Bianka balik.
"Tidak Bu, aku sudah lama tidak mengajak mereka ke taman sebelah setelah-," Leon menggantung ucapannya. Hatinya tiba-tiba kembali tertusuk sakit saat mengingat Monaliza.
"Iya, baiklah nak Leon," ibu Bianka buru-buru menyambung perkataan Leon, ia tidak mau mereka mengingat masa lalu.
Selama ini, dirinya sudah mengenal baik pria muda itu, jadi tidak ada alasan dirinya untuk tidak percaya padanya, walaupun sempat ada kerenggangan saat Monaliza terpaksa harus memutuskan menikah dengan Dirga kala itu.
"Ibu titip anak-anak ya. Kebetulan Ibu sedang sibuk membuat kue dibelakang," kata ibu Bianka lagi.
"Iya Bu. Terima kasih telah mengijinkanku mengajak mereka," ucap Leon.
"Mimaya, Alina, dan Rachelia, jangan nakal ya, jangan menyulitkan kak Leon disana. Dan kau Rony, bantu kak Leon menjaga adik-adikmu dengan baik," pesan ibu Bianka pada keempat anaknya itu.
Mereka lalu mencium punggung tanggan ibu Bianka sebelum pergi, begitu pula dengan Leon.
Ibu Bianka tersenyum, menatap kepergian mereka yang penuh tawa meninggalkan rumah. Alina dan Rachelia tersenyum senang dalam gendongan Leon, sementara Rony menggandeng adiknya Mimaya dan berjalan lebih dulu didepan Leon.
Ibu Bianka mendesah pelan. Baginya, Leon adalah pria muda yang baik, hanya saja, dirinya tidak bisa merestui Monaliza menikah dengannya saat mengetahui dari cerita putrinya bila ibu Leon sangat tidak menyetujui hubungan mereka, ditambah lagi Monaliza sudah mengandung darah daging Dirga akibat suatu insiden, jadi ia rasa memang Monaliza dan Leon tidak berjodoh.
Ia hanya bisa mendoakan dengan tulus, semoga Leon mendapatkan semua hal yang baik dalam hidupnya.
Bersambung....👉
__ADS_1