
"Monaliza, mengantarkan pemberianmu itu pada kakak," ucap Keny memulai pembicaraannya, ia menatap wajah adiknya yang masih membisu.
"Kakak mengerti, mengapa Monaliza tidak mau menerimanya. Dia berusaha menjaga perasaan pak Dirga yang sudah resmi menjadi suaminya," lanjut Keny.
"Leon, hubunganmu dan Monaliza sudah selesai. Berhentilah memikirkannya. Kalian sudah punya kehidupannya masing-masing, sama-sama memiliki pasangan dihari pernikahan yang sama," ungkap Keny.
"Bawalah barang-barang ini bersamamu. Mungkin saja suatu hari nanti kau memerlukannya. Atau setidaknya, kau bisa memberikannya pada Nadya. Dia pasti senang menerimanya," kata Keny lagi dengan tersenyum tipis memandang adiknya yang berwajah datar sedari tadi.
"Nadya tidak punya hak untuk barang-barang itu," sahut Leon dengan suara paraunya.
"Kenapa? Bukankah Nadya adalah isterimu, tentu saja dia juga punya hak atas apa yang kau miliki. Termasuk hadiah besar yang kau berikan pada Monaliza ini," ucap Keny dengan wajah menunjuk kotak hadiah milik Leon.
"Itu bukan milikku kak, tapi milik Dirga."
"Apa maksudmu?" Keny menegakkan tubuhnya dari sandaran sofa, raut wajah tak mengertinya terlihat tegang penuh tanya.
"Aku pernah memberikan sejumlah uang pada Dirga, sebagai pembayaran hutang budi," ucap Leon pelan.
"Hutang budi apa?" tanya Keny penuh selidik karena tidak mengerti.
"Dirga pernah menyelamatkan Monaliza dari para pria berandalan waktu itu dan membawanya kerumah sakit." jawab Leon.
"Iya, aku ingat. Kejadian itu terjadi setelah Monaliza pulang berkerja dari tempat ini," potong Keny.
"Lalu apa hubungannya dengan hutang budi? Apa pria itu memintanya?" tanya Keny lagi.
"Dirga tidak memintanya, tapi aku tidak ingin Monaliza berhutang budi pada pria itu. Karena, bila pria itu datang terlambat sedikit saja, mungkin para berandalan itu satu persatu akan menggilir Monaliza," ucap Leon mengingat kejadian itu.
__ADS_1
"Dan itu salahku, tidak segera menjemputnya pulang saat itu," ucap Leon dengan penuh penyesalan.
"Jangan salahkan dirimu sendiri Leon. Bukankah kau sedang menemani Mama dirumah sakit kala itu?" kata Keny yang mengingat mengapa Leon terlambat menjemput Monaliza saat itu.
"Andai saja aku tahu, kalau semuanya itu sudah diskenario oleh Nadya dan Mama-," Leon tidak melanjutkan kata-katanya. Hatinya begitu sakit saat mengetahui Nadya dan ibunya-lah yang menjadi dalang dari kejadiaan naas yang menimpa Monaliza yang masih menjadi kekasihnya waktu itu.
"Tapi, bukankah malah pak Dirga yang menodai Monaliza dihotel malam itu sampai mengandung anaknya. Jadi, seharusnya ia mengembalikan uang yang sudah ia terima bukan?"
"Dia sudah mengembalikannya padaku kak, sebelum lewat dua puluh empat jam kejadian dihotel itu."
"Dan setelah aku mengetahui dari penyelidikan orang-orang suruhanku, ternyata itu juga melibatkan Mama dan juga Nadya. Aku kecewa, kenapa Mama sangat ingin menjauhkanku dari Monaliza dengan merusak wanita yang aku cintai dengan cara yang keji." Dari sorot mata adiknya, Keny melihat ada luka disana, juga dendam.
"Kalau saja, kalau saja Nadya dan Mama tidak melakukan hal keji itu, mungkin Monaliza masih bersamaku. Aku mencintainya sejak dia berusia enam belas tahun kak. Aku menjaganya, dan bersabar menunggu sampai usianya cukup, baru aku menyatakan cintaku. Dan Monaliza menerimaku, dan semua harapanku pupus saat pria yang menjadi suaminya menikahinya," Suara Leon kembali terdengar bergetar saat meluapkan semua isi hatinya. Keny yang mendengarnya tetap memberi ruang pada adiknya itu, untuk mengatakan semuanya, supaya beban yang disimpannya sendiri bisa berkurang.
Sementara Nadine menghentikan makannya, ia berbaring, dan menghadapkan wajahnya kearah sofa, supaya suaminya dan adik iparnya itu tidak melihat bila ia sedang menangis. Ia dan suaminya menjadi saksi bagaimana Leon benar-benar menjaga Monaliza, dan cintanya adik iparnya itu bertambah hari bertambah besar pada Monaliza yang berawal dari rasa kasihan saat melihat kemalangan dan kesulitan hidup yang dialami gadis miskin dan masih sangat belia waktu itu.
"Tapi Mama, saat aku membawa Monaliza untuk bertemu keluarga kita malam itu, mati-matian menolaknya dengan alasan status," Leon berhenti sejenak, mengatur napasnya yang terasa sesak.
"Akhirnya, saat aku mengantarnya pulang, ia langsung menerima lamaran Dirga dan orang tuanya yang kebetulan ada disana."
Keny masih memperhatikan Leon, membiarkan adiknya itu menyelesaikan semua keluh kesahnya. Ia tidak pernah melihat Leon sesedih itu, dan seputus asa itu. Leon dikenal sebagai anak yang patuh sejak kecil, tidak seperti dirinya yang sering membangkang, itu sebabnya, segala urusan perusahaan diserahkan pada Leon walaupun ia adalah anak kedua, adik dari Keny.
"Karena aku merasa apa yang menimpa Monaliza bukan sepenuhnya salah Dirga, tapi dalangnya adalah Mama dan Nadya, aku membelikan Monaliza satu unit penthouse dan paket perhiasan berlian itu dari uang pengembaliam Dirga padaku waktu itu, beberapa minggu sebelum Monaliza memutuskan hubungan kami."
"Monaliza, dia adalah BERLIAN-ku kak," kata Leon dengan suara semakin serak.
"Dan aku sempat membawa Monaliza ke penthouse itu. Ketika aku mengaku bila bukan aku yang tidur bersamanya melainkan Dirga, ia lalu mendadak ingin pulang dan meninggalkan surat kepemilikan penthouse itu diatas meja," ucap Leon panjang lebar dan sangat terperinci.
__ADS_1
Keny hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya, kini dirinya bisa mengerti mengapa Leon begitu bersikeras memberikan hadiah itu pada Monaliza walau wanita itu sudah menikah, dan tidak mungkin juga Leon menjelaskan semuanya itu sedetail mungkin pada Monaliza maupun Dirga, yang telah ia sampaikan pada dirinya.
Keny mendesah berat, ia lalu bangkit dan memeluk adiknya yang duduk dihadapannya.
"Leon, hidupmu masih panjang. Banyak hal yang baik yang ada didepan sana," ucap Keny sambil menepuk-nepuk lembut punggung adiknya.
"Aku tidak bisa memberimu nasihat seperti orang-orang tua yang bijaksana, juga orang-orang suci yang hidupnya bisa menjadi teladan. Kau sangat mengenal kakakmu ini, orang yang bandel dan pembangkang dalam keluarga, begitu juga jenis usaha yang ku rintis ini, banyak orang yang memandang dengan sebelah mata karena dianggap sebagai sarang maksiat. Tapi kenyataannya, kau bisa menemukan BERLIAN-mu disini waktu itu bukan?"
"Aku kakakmu, ingin melihatmu hidup dengan baik, menata hidupmu. Aku tahu ini tidak-lah mudah Leon. Bila kau benar-benar mencintai Monaliza, biarkan dia hidup bahagia bersama keluarga barunya. Aku yakin pak Dirga adalah orang yang baik untuknya."
"Mungkin, untuk menenangkan dirimu, kau bisa pergi kepulau lain dinegeri ini. Aku tahu, kau sudah merintis beberapa usaha perhotelan dan pariwisata tanpa diketahui oleh Papa dan Mama bukan?"
Leon menatap serius wajah kakaknya.
"Dari mana kak Keny tahu?" tanya Leon heran, sepengetahuannya, ia sudah menutup rapat semuanya sampai harus menggunakan identitas samaran, menggunakan nama orang-orangnya yang benar-bemar bisa dipercaya.
"Bisnisku ini memiliki telinga-telinga khusus dimana saja, dan kau tidak perlu heran bila kakak mengetahui hal itu," ujar Keny sambil kembali menepuk punggung adiknya itu.
"Baiklah, aku pulang dulu kak," kata Leon setelah Keny melepaskan pelukan dari tubuhnya.
"Tidak usah berpamitan dengan kakak iparmu, dia sepertinya sudah tidur," ujar Keny, saat dilihatnya Leon memandang kearah Nadine yang sedang berbaring disofa membelakangi mereka.
"Titip salam buat kak Nadine," kata Leon sambil berlalu.
"Baiklah, akan kusampaikan nanti kalau dia bangun," sahut Keny mendekati isterinya.
Bersambung...👉
__ADS_1