
"Kita pulang sekarang," kata Dirga berdiri tepat didepan meja resepsionis.
Monaliza melirik arloji ditangannya sekilas, ia lalu bangkit dan berpamitan dengan Rullina sahabatnya. "Aku duluan ya Ru," ucapnya.
"Baiklah. Aku harap kau tidak lupa kemari lagi besok. Mungkin bila aku menjadi dirimu, aku juga akan lupa datang kekantor karena memiliki suami yang rupawan seperti pak Dirga itu," bisik Rullina dengan senyum kekagumannya mencuri pandang pada Dirga yang melihat kearah lain.
Mendengar ucapan Rullina, Monaliza kembali tersenyum, ia melirik Dirga yang masih menunggunya. Sahabatnya itu tidak tahu saja kenapa dirinya tidak kekantor setelah menikah.
"Aku pulang dulu ya," Monaliza kembali berpamitan sambil melambaikan tangannya pada Rullina yang juga akan bersiap pulang.
Monaliza berjalan disisi Dirga menuju mobil. Pria itu tidak berkata apapun padanya, apalagi tersenyum. Mungkinkah Dirga masih kesal padanya setelah kejadian tadi pagi ia memaksa untuk ikut berkerja?
Dengan ekor matanya, Monaliza sesekali melirik suaminya yang berjalan tegak, dengan wajah datar bagaikan patung hidup yang sedang berjalan.
Walau mereka berdua tidak bisa seromantis pasangan lain, setidaknya Dirga tidak pernah se-acuh hari ini. Biasanya, ketika ia berada dirumah, Dirga akan menelpon atau mengirim pesan, walau sekedar mengucapkan selamat makan siang. Tapi hari ini, itu tidak dilakukannya, Dirga seolah tidak perduli padanya yang kelaparan menunggunya untuk makan siang bersama.
"Pak Dirga ini balon-balon yang Anda pesan tadi pagi," seorang office boy menghampiri Dirga dan Monaliza yang sudah hampir mencapai mobil, lalu menyodorkan enam balon dengan warna yang berbeda satu sama lain.
"Terima kasih," Dirga segera mengambil tiga lembar pecahan uang kertas seratus ribuan dari dalam dompetnya dan memberikannya pada sang office boy lalu mengambil alih tali keenam balon-balon itu.
"Maaf Pak, harganya tidak sampai segini Pak," offiice boy itu nampak ragu menerima uang kertas yang diberikan Dirga padanya.
"Ambil saja lebihnya," sahut Dirga dengan mengulas sedikit senyum yang sangat jarang ia tunjukan apalagi didepan para pegawainya.
"Tapi Pak--," office boy itu masih nampak sungkan.
"Sudahlah, ambil saja. Tidak perlu banyak protes seperti wanita hamil saja," ujar Dirga sedikit melirik kearah Monaliza yang seketika mendelikan matanya ketika ucapan suaminya seolah menyindirnya.
"Kalau begitu, terima kasih banyak Pak," walau merasa sungkan, office boy itu akhirnya tetap menerimanya lalu segera berpamitan dan undur diri dari sana.
Monaliza tertegun menatap Dirga yang masuk lebih dulu dan membawa balon-balon itu kedalam mobil, tanpa membuka pintu untuknya seperti biasanya.
__ADS_1
"Sampai kapan kau berdiri disana?" tanya Dirga dari belakang kemudi.
Dengan wajah lesu, Monaliza membuka pintu mobil untuk dirinya sendiri, lalu duduk perlahan disamping kemudi dan memasang sabuk pengamannya.
Sepanjang perjalanan pulang, kembali ada kebisuan diantara mereka. Monaliza yang sudah hapal benar dengan gaya cool sang suami ikut larut dalam kesenyapan yang tercifta.
"Turun, kita sudah sampai," ucap Dirga datar tanpa menoleh kearah Monaliza disebelahnya.
Monaliza kembali tertegun, Dirga hanya mengingat balon-balonnya dan melupakan dirinya. Dengan langkah gontai, ia meninggalkan mobil dan menyusul Dirga yang masuk kedalam rumah besar lebih dulu.
Hatinya tiba-tiba terasa hampa, seperti ada yang hilang, saat Dirga tidak memberikannya perhatian seperti biasanya.
Setibanya didalam kamar, Monaliza tidak menemukan suaminya itu disana, membuat dirinya semakin lesu dan tidak bersemangat. Ia masuk kekamar mandi lalu merendamkan dirinya didalam bathtub sekian lamanya.
Rasa dinginnya air mengharuskannya segera menyelesaikan mandinya. Monaliza bangkit dan membilas kembali tubuh dan rambutnya dibawah guyuran shower air hangat.
Dengan handuk kimononya ia keluar, dan melihat Dirga sedang menatapnya. "Kau sudah selesai?"
"Kita akan makan malam bersama dikamar saja, bibi Nia sudah membawanya kemari. Berpakaianlah, aku akan segera mandi," ucap Dirga rendah. Ia segera masuk kekamar mandi meninggalkan Monaliza.
Monaliza buru-buru menuju ke lemari pakaian dan memilih pakaian untuk dirinya dan segera mengenakannya sebelum Dirga menyelesaikan mandinya.
Setelah dirinya selesai berpakaian, Monaliza segera memilih pakaian untuk suaminya kenakan nanti dan meletakkannya diatas tepi tempat tidur.
Tidak lama berselang, Dirga keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya dan hanya mengenakan handuk sebatas pinggangnya saja.
Monaliza langsung membalikkan tubuhnya, ketika melihat tubuh atletis milik suaminya, ia beranjak ke balkon dimana Dirga sudah menyiapkan makan malam untuk mereka berdua, dan balon-balon itu juga ada disana, membuat suasana hati Monaliza semakin membaik. Ia mulai membaca satu persatu tulisan tangan Dirga diatas permukaan balon.
"Maafkan aku tidak menemanimu makan siang hari ini," itu kalimat pertama yang dibaca oleh Monaliza pada balon berwarna ungu, membuat senyum Monaliza merekah diwajahnya.
"Maafkan aku sudah mengurungmu dirumah ini," itu kalimat berikutnya dibalon berwarna merah.
__ADS_1
"Maafkan aku telah memecatmu sesuka hatiku," itu bunyi kalimat dibalon berwarna hijau.
"Maafkan aku yang terlalu posesif padamu," bunyi kalimat yang tertera dibalon berwarna kuning.
"Maafkan Daddy sayang, sudah membuat Mommy-mu sedih, kesal, dan marah," Monaliza tertawa kecil membaca tulisan itu, pada balon berwarn biru.
"Cintailah aku, karena hatiku sudah kuberikan sepenuhnya untukmu Monaliza, isteriku." membaca kalimat terakhir dibalon keenam berwarna pink, membuat hati Monaliza langsung menghangat, ia tersenyum sendiri seraya memeluk erat balon itu.
DORRR!!
Monaliza kaget sendiri, saat balon berwarna pink itu tidak sengaja meledak dalam pelukannya, jantungnya hampir saja copot dibuatnya.
"Kau tidak apa-apa?" Dirga buru-buru menghampiri Monaliza yang masih dalam mode kagetnya, ia memeriksa seluruh tubuh isterinya, memastikan isterinya itu masih dalam kondisi aman.
"Aku baik-baik saja, hanya lumayan terkejut. Balon yang pecah itu tidak mungkin melukaiku," ujar Monaliza dengan perasaan hati yang kembali menghangat melihat perhatian Dirga.
"Maafkan aku, sudah memcahkan balon itu," lanjutnya merasa bersalah.
Dirga menatap wajah Monaliza, mengembangkan senyum tipisnya membuat Monaliza terpana karenanya, "Tidak masalah. Kalau kau mau, aku bisa menggantinya lagi." imbuh Dirga masih tersenyum tipis.
"T-tidak perlu. Bagaimana kalau kita makan sekarang, aku sangat lapar." ucap Monaliza kembali gugup mendapat tatapan Dirga padanya.
"Baiklah, aku akan menyuapimu. Anggap ini sebagai permintaan maafku padamu, yang telah mengacuhkanmu sepanjang hari ini," Dirga mengambil piring dan mulai memasukan satu persatu menu makan malam yang terhidang diatas meja.
"J-jangan, aku bisa sendiri. Pak Dirga pasti juga sedang lapar. Bukankah permintaan maaf-nya pak Dirga sudah terwakilkan oleh balon-balon itu?" tolak Monaliza, debaran jantungnya semakin menjadi-jadi saat Dirga tetap ingin menyuapinya.
"Ayo, bukalah mulutmu," Dirga menyodorkan sendok kebibir Monaliza. Akhirnya wanita itu terpaksa membuka mulutnya, menerima suapan dan mulai mengunyahnya dengan pelan.
"Berarti kau sudah membaca semuanya? Apa itu artinya kau sudah memaafkan suamimu ini sepenuhnya?" Lanjut Dirga lagi setelah memberikan suapan pertamanya pada Monaliza.
Monaliza kembali terpana, menatap senyum yang kembali mengembang diwajah suaminya itu. Kemanakah perginya wajah kaku suaminya yang ia lihat selama ini? gumamnya didalam hati.
__ADS_1
Bersambung...👉