
Ketika Dirga berbalik, setelah mengantar dokter Marlos, ia menutup rapat ruang kerjanya, dilihatnya Monaliza sudah duduk di sofa dan hendak berpamitan dengannya.
"Kau mau kemana Monaliza?" tanya Dirga sambil datang mendekat pada pegawainya itu.
"Kembali berkerja Pak," sahut Monaliza tanpa menatap Dirga yang memandang padanya.
"Tubuhmu masih lemas, beristirahatlah. Bukankah dokter berpesan seperti itu tadi?" kata Dirga masih memandang Monaliza yang masih tidak mau menatap wajahnya.
"Saya, sudah merasa cukup baik Pak, dan pekerjaan saya juga sedang menanti," Monaliza berusaha menemukan alasan supaya dirinya bisa cepat keluar dari ruangan itu.
"Kau tidak perlu memikirkan pekerjaan dulu. Ada Rullina yang akan menghandle semuanya. Pentingkan kesehatanmu Monaliza, apalagi kau sekarang sedang mengandung," kata Dirga, otaknya sedang berkerja keras memikirkan cara berbicara pada Monaliza. Hari ini dirinya harus mengatakan semua kebenarannya pada pegawainya itu.
"Kenapa Pak? Kenapa pak Dirga bersikap seolah-olah Bapak baik kepada saya?" ucap Monaliza, ia masih membuang wajahnya kesembarang tenpat. Ia tidak bisa melupakan saat terakhir CEO-nya itu memperlakukan dirinya tidak baik. Dan sekarang, pria dingin itu berubah seratus delapan puluh derajat, sok perhatian padanya.
"Saya masih sangat ingat, bagaimana pak Dirga merasa jijik pada saya waktu dirumah sakit, ketika Bapak tahu saya adalah salah satu pegawai club malam," kata Monaliza.
Wajah Dirga merona, ia menahan nafasnya, saat perkataan Monaliza kembali mengingatkan perlakuan kasarnya pada gadis itu beberapa waktu yang lalu saat mereka berada dirumah sakit.
Dirga menelan salivanya dengan susah payah, jakunnya nampak naik turun. Ia mengatur nafasnya yang tiba-tiba terasa sesak, menyesali akan apa yang pernah ia lontarkan pada pegawai wanitanya itu.
"Sekarang, pak Dirga sudah tahu, bila saya sedang mengandung, saya wanita malam yang murahan karena telah hamil diluar nikah. Ya, seperti yang pernah pak Dirga katakan dulu. Apakah pak Dirga menahan saya disini supaya dapat mempermalukan saya seperti waktu itu?" Suara Monaliza terdengar bergetar, rasa malu karena dirinya diketahui hamil, dan perkataan Dirga beberapa bulan lalu membuatnya hampir tidak bisa menahan tangisnya.
Monaliza berusaha sekuat tenaga menahan perasaan galaunya pagi itu, ia sangat menyesali kenapa Dirga yang tidak ada hubungannya dan berkepentingan akan masalah pribadinya itu harus tahu gara-gara diperiksa oleh dokter keluarga bos-nya itu.
__ADS_1
Hidung Monalisa bergerak-gerak, mencium aroma parfum Dirga yang samar-samar menerpa indera penciumannya, rasa mual kembali melanda dirinya.
"Maafkan saya Monaliza, atas perkataan yang menyakiti hatimu ketika kita dirumah sakit waktu itu," ucap Dirga lirih.
"Saya salah, dan saya menyesalinya. Tolong maafkan saya," ucap Dirga tulus, ia menatap Monaliza yang masih tidak mau memandang kearahnya.
"Kau bukan wanita murahan, janin yang ada dalam kandunganmu itu adalah anakku, darah dagingku," ungkap Dirga akhirnya.
Monaliza tersentak, ia serta merta berdiri dari duduknya. Kepalanya tiba-tiba terasa pusing kembali mendengar pengakuan Dirga mengenai janin yang ada dalan perutnya.
"Omong kosong!" Monaliza menatap nyalang wajah Dirga yang berdiri disisi sofa yang tidak jauh darinya.
"Ini anak Leon!" bantah Monaliza marah, sambil menunjuk perutnya sendiri dengan jarinya.
"Janin itu darah dagingku, aku yang tidur denganmu dikanar hotel itu, saat pesta ulang tahun pernikahan kedua orang tuan Leon," jelas Dirga berapi-api.
"Itu benar, saat itu kau dalam pengaruh obat rangsangan," Dirga masih berusaha meyakinkan.
Kepala Monaliza semakin merasakan pusing yang hebat, ia tidak bisa menerima apa yang di dengarnya dari mulut Dirga."Itu tidak mungkin, tidak mungkin terjadi," Monaliza menolak apa yang didengarnya.
Tapi kenapa? Kenapa pria itu bisa tahu kalau dirinya berada dikamar hotel saat pesta ulang tahun pernikahan kedua orang tua Leon? Dan ia mengaku bahwa yang tidur bersamanya adalah dirinya, bukannya Leon. Padahal ia ingat benar, bahwa malam itu yang bersamanya adalah Leon. Lalu bagaimana Leon bisa mengakui bila dirinya juga tidur dengan dirinya? Tidak mungkin bukan, kalau dirinya tidur dengan dua pria diwaktu yang sama? Semua pikiran itu berkecamuk didalam kepalanya, campur baur hingga menciftakan kekusutan yang tidak dapat ia urai.
"Aku-, aku harus cepat pergi dari sini, sepertinya pak Dirga tidak waras, atau mungkin diriku yang sedang tidak waras. Ini semua tidak mungkin," Monaliza melangkah sempoyongan, kepalanya semakin pusing, seluruh ruangan itu serasa berputar-putar, pandangannya mulai berkunang-kunang.
__ADS_1
"Kau tidak boleh kemana-mana dulu Monaliza, kau masih lemah," ucap Dirga yang segera meraih tubuh Monaliza yang hampir terjatuh ke lantai.
"Lepaskan, Bapak bau, aku tidak tahan," keluh Monaliza, ia meronta-ronta, walau dirinya sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk melepaskan diri.
"Baik, aku akan melepaskanmu, asalkan kau kembali berbaring. Bila kau jatuh itu sangat berbahaya bagi dirimu dan janinmu," kata Dirga sambil mendekap tubuh Monaliza dan berusaha membawanya kembali ke sofa.
"Saya tidak mau disini, saya mau keluar," Monaliza masih berusaha melawan walau tenaganya semakin melemah.
"Dasar keras kepala," gerutu Dirga. Ia langsung membopong tubuh Monaliza dalam gendongannya dan membawanya dengan cepat ke sofa yang hanya berjarak beberapa meter saja dari mereka berdiri.
"Lepaskan saya, Bapak bau sekali, saya sudah tidak tahan," Monaliza memukul-mukul wajah Dirga dengan kedua tangannya yang tidak bertenaga, Dirga tidak perduli, ia tetap membawanya menuju sofa hingga akhirnya.
Hoeeekk! Hoeeekk! Hoeeekk!
Muntahan Monaliza terhambur kemana-mana, mengenai wajah, leher dan kemeja Dirga yang sedang membopongnya. Sementara diri Monaliza sendiri tidak luput. Dirga berusaha menahan perutnya yang ikut bergolak tiba-tiba. Bau anyir, amis, pahit, bercampur jadi nano-nano diruangan itu.
"Firans!" teriak Dirga, setelah Monaliza berhasil ia turunkan diatas sofa dengan hati-hati.
"Firans!" teriak Dirga lagi semakin kencang, ketika dirasanya Firans tidak mendengar panggilannya.
Dengan sekejap mata, Firans sudah muncul didepan pintu. Firans langsung menjepit hidungnya rapat menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya.
"Bau apa ini? Seperti TPA saja," ujar Firans yang tidak tahan mencium aroma tidak sedap dari dalam ruangan bos-nya itu.
__ADS_1
"Jangan banyak bicara! Cepat suruh cleaning service kemari untuk membersihkan ruangan ini. Pesan pakaian ganti untukku dan Monaliza!" sentak Dirga, ia merasa tidak tahan dengan muntahan Monaliza yang masih menempel pada tubuhnya. Muntahan Monaliza yang mengenai wajahnya, menyebabkan Dirga ikut muntah-muntah beberapa kali.
"Baik," Firans segera beranjak pergi. Bila berlama-lama dirinya takut akan terkena amukan Dirga yang sudah sangat frustrasi dengan kondisinya yang menjijikan.