
"Selamat siang Monaliza," terdengar suara sapaan menggema seorang wanita memasuki dapur.
Monaliza yang tengah sibuk dengan pekerjaannya menyiapkan makan siang, segera membalikkan tubuhnya. Walau sudah bisa menebak siapa pemilik suara itu, tetap saja ia terkejut ketika melihat tamu yang datang menemuinya ditengah hari itu.
"M-mafkan saya Non, saya sudah berusaha mencegahnya, tapi Nyonya ini tetap memaksa untuk masuk," adu bibi Nia merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa Bi, Bibi boleh pergi meninggalkan kami berdua saja," sahut Monaliza.
"Iya, baik Non," mendengar ucapan Monaliza, asisten rumah tangganya itu segera berlalu dengan patuh.
"Nyonya, Anda datang kemari? Ada keperluan apa?" Monaliza yang memang merasa tidak memiliki hubungan baik antara dirinya dengan wanita paruh baya itu melontarkan beberapa pertanyaan tidak bersahabat.
"Sebagai tuan rumah yang baik, tidakkah kau mempersilahkan aku duduk dulu, makan siang bersama, lalu kita bicara?" ungkap nyonya Gamsonrich dengan seulas senyum.
"Seorang tamu yang baik, tidak mungkin langsung masuk kedapur? Bukankah hanya sampai diruang tamu bila ingin bertamu?" sahut Monaliza tidak mau kalah.
"Namun, karena aku adalah seorang yang murah hati dan dermawan, aku tidak berkeberatan menawarkan dan berbagi makan siang dengan anda Nyonya," ungkapnya lagi dengan senyum dibuat ramah.
"Heum, mengejutkan. Ternyata menikah dengan pria kaya seperti tuan Dirga Surya, membuatmu berani menjawabku secara demikian," ungkapnya dengan senyum sinis. Mendengar ucapan tamu tak diundangnya, Monaliza hanya tersenyum hambar.
"Mari, silahkan duduk, tidak baik menolak rejeki didepan mata," Monaliza menarik kursi, mempersilahkan nyonya Gamsonrich dengan sikap sengaja dibuat hormat.
"Setelah menjadi isteri pria kaya, kau masih saja berlaku seperti pelayan, menyiapkan makan siang sendiri, bukan asisten rumah tanggamu," sindir nyonya Gamsonrich. sambil memandang berkeliling dari tempat duduknya.
"Seorang isteri yang baik, harus menyiapkan makanan untuk suaminya dengan tangannya sendiri, sehingga yang mendapat pujian adalah dirinya sendiri, bukan asisten rumah tangganya," Monaliza menyodorkan piring yang sudah ia isi tepat dihadapan tamunya.
Nyonya Gamsonrich tidak berkata apapun, dirinya memang merasa tersindir. Selama menjadi seorang isteri dan seorang ibu, ia memang jarang masuk kedapur untuk memasak bagi keluarganya, semuanya dilakukan oleh asisten rumah tangganya, sehingga ia tidak pernah mendengar suami maupun kedua putranya memuji hasil masakannya.
__ADS_1
"Masakanmu lumayan enak. Suamimu pasti menyukainya dan memuji hasil masakanmu," ucap nyonya Gamsonrich setelah beberapa kali suapan masuk kedalam mulutnya.
"Nyonya benar, suami saya selalu makan apa yang saya masak. Termasuk masakan yang kita makan sekarang, saya sudah mengirimnya lewat supir pribadi suami saya. Bagi saya, memasak adalah salah satu bentuk melayani suami yang menjadi kewajiban seorang isteri, dan mendapat pujiannya adalah bonusnya."
Nyonya Gamsonrich menatap Monaliza, bayangan Leon yang sangat mencintai wanita yang tengah tersenyum bahagia didepannya saat ini membuatnya mendadak sedih.
"Kau terlihat sangat bahagia dengan pernikahanmu," ucapan itu terlontar begitu saja dari mulutnya. Andai saja ia tidak menghalangi cinta putranya pada perempuan yang ia hina dulu, pasti Leon tidak semenderita sekarang ini, batinnya.
Monaliza menghentikan sejenak aktifitas makannya, ia menatap wanita yang selalu bersikap kasar dan menyombongkan diri dihadapannya dimasa lalu, ia merasakan ada sesuatu yang terjadi. Mungkinkah itu ada hubungannya dengan Leon? Apakah mantan kekasihnya itu tidak bahagia dalam pernikahannya? Monaliza segera menepis pikiran-pikirannya itu.
Saat menerima lamaran dan menikah dengan Dirga, ia sudah memutuskan untuk melupakan semuanya tentang Leon, apapun itu. Memang tidak mudah, namun dengan tekad yang kuat, pelan-pelan ia bisa menerima kenyataan bahwa Dirga adalah ayah bayinya yang harus dicintai dengan ketulusan.
Monaliza tidak berkata apapun, ia kembali melanjutkan makannya dengan menambah porsi makanan yang sudah habis dalam piringnya.
"Nyonya boleh tambah lagi," tawarnya lagi pada nyonya Gamsonrich.
"Tidak, terima kasih," satu tangan wanita paruh baya itupun ikut bergerak, mengisyaratkan bahwa dirinya tidak ingin menambah lagi. Ia meminum segelas air putihnya, membersihkan sudut-sudut bibirnya dengan selembar tissue.
Setelah selesai makan siang, Monaliza mengajak nyonya Gamsonrich berpindah keruang tamu.
Nyonya Gamsonrich sempat memandang berkeliling, memperhatikan sejenak situasi rumah kediamana Monaliza. Didalan hati ia mengagumi keasrian dan arstistik penataan ruangannya, ternyata tidak kalah dengan rumah kediamannya.
"Nyonya, apa maksud kedatangan Anda bertamu kerumah kami?" tanya Monaliza, ia melihat ibu Leon sedang memperhatikan sekelilingnya.
"Monaliza, aku meminta maaf padamu, akan apa yang pernah terjadi diantara kita," ungkapnya memulai pembicaraan, ia mengambil tempat duduk tepat berhadapan dengan sang tuan rumah.
Monaliza tertegun sesaat, ia tidak pernah menduga bila wanita kaya dan sombong itu akan mampu mengatakan kata maaf pada dirinya seperti sekarang ini, mengingat dimasa lalu, hanya ada hinaan, cacian, dan sikap merendahkan dari mulut wanita paruh baya itu pada dirinya yang miskin.
__ADS_1
"Aku lihat kau sudah bahagia bersama tuan Dirga, dan aku turut senang melihatnya langsung," ucapnya menatap lekat wajah Monaliza yang juga menatapnya dengan tatapan waspada, tatapan wanita itu akhirnya menurun pada perut besar Monaliza yang membuncit.
Monaliza memang sudah merasakan firasat yang kurang baik mulai awal wanita itu masuk kedalam rumahnya dengan paksa, namun ia tetap memberi kesempatan, mungkin saja firasatnya terlalu berlebihan karena pengaruh hubungan masa lalu dirinya dengan ibu Leon yang tidak pernah baik.
"Bisakah kau membagikan kebahagiaanmu dengan Leon, sehingga kamipun bisa turut merasakan kebahagian yang sedang kau rasakan saat ini," ucapnya mengambang. Ia sengaja melakukannya untuk mengetahui reaksi awal Monaliza pada apa yang akan ia sampaikan selanjutnya.
"Maksudnya Nyonya apa? Saya tidak mengerti," tanya Monaliza bingung seraya mengernyitkan kedua alisnya.
"Aku tidak mungkin memintamu menceraikan tuan Dirga dan kembali pada Leon putraku, itu terlalu kejam. Aku hanya ingin bayi yang kau lahirkan nanti, diserahkan pada Leon," ungkapnya tanpa basa-basi, Monaliza langsung terhenyak mendengarnya. Wanita tua itu, ternyata dia tidak berubah, malah bertambah jahat batinnya dengan wajah masih terpana mendengar permintaan tidak terduga dari wanita dihadapannya itu.
"Memisahkan seorang anak dari kedua orang tuanya, itu adalah tindakan yang paling kejam Nyonya," Monaliza masih memandang wanita dihadapannya dengan tatapan tidak percaya, semudah itu dirinya melontarkan perkataan ingin meminta bayinya.
"Hanya itu milik Leon yang ada padamu, jadi kau harus mengembalikannya setelah bayi itu lahir," ucapnya lagi lebih mempertegas.
Monaliza kembali terpana, ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, masih tidak percaya bila wanita itu mampu berbicara serupa itu.
"Nyonya dengar sendiri dari mulut suami saya saat kita sama-sama dirumah sakit ketika Leon sedang koma, bahwa bayi dalam kandungan saya ini adalah darah dagingnya. Dan Leon juga sudah mengakui, bila ini bukan darah dagingnya," ucap Monaliza seraya menunjuk perut besarnya.
"Itu hanya pengakuan mereka, kau juga sebenarnya tidak tahu kan siapa ayah bayimu? Leon atau Dirga," ucap nyonya Gamsonrich tetap bersikeras, berharap ucapannya bisa mempengaruhi lawan bicaranya.
"Cukup! Saya percaya suami saya dan juga Leon, mereka tidak berbohong. Silahkan Nyonya pergi dari rumah ini! Mungkin Nyonya lupa, kalau Nyonya pernah menolak bayi yang ada dalam kandungan saya ini." usir Monaliza, ia sudah tidak sabar lagi menghadapi wanita itu.
"Kau berani mengusirku?"
"Orang yang tidak baik memang layak diusir. Saya fikir Nyonya sudah berubah, ternyata tidak. Saya sudah memenuhi permintaan Nyonya menjauhi Leon. jadi, jangan ganggu kehidupan saya lagi." Monaliza berdiri dari duduknya, ia beranjak menuju pintu, dengan satu tangan kirinya, mempersilahkan tamunya untuk segera keluar.
Nyonya Gansonrich berdiri, ia mendekati Monaliza yang berdiri disisi pintu, "Aku harap kau tidak akan menyesal akan perlakuanmu padaku hari ini. Kau pasti tahu, aku bisa melakukan apapun. Apapun! Ingat itu," ancamnya dengan nada marah seperti biasanya, lalu keluar.
__ADS_1
Monaliza menghela napas, ia menutup pintu dengan rapat lalu menguncinya.
Bersambung...👉