CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
38. Perhatian Dirga


__ADS_3

Hari baru menunjukan pukul tujuh pagi, aktifitas kantor baru akan dimulai satu jam lagi, namun Dirga sudah tiba dikantornya dengan setelan jasnya yang rapi.


"Selamat pagi pak Dirga," sapa Rullina dengan senyum ramahnya menyambut kedatangan CEO-nya itu dari belakang mejanya.


Dirga menghentikan langkahnya, ketika disadarinya Rullina tidak berdiri seorang diri dibelakang meja resepsionis, seseorang yang dua hari ini dicarinya dalam diam ternyata sudah kembali turun berkerja.


"Selamat pagi juga Rullina," sahut Dirga. Dirinya yang terbiasa bersikap datar pada para pegawainya tiba-tiba sedikit melembut. Ujung bibirnya sedikit tertarik keatas membentuk senyuman dan nyaris tidak terlihat.


Degg.


Rullina terkesiap, mencubit tangannya sendiri sambil mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, ia tidak menduga CEO datar-nya itu membalas sapaannya untuk kedua kalinya sambil tersenyum tipis setelah yang pertama kali pada dua hari yang lalu selama tiga tahun dirinya berkerja sebagai resepsionis disana.


Dirga mengalihkan pandangannya dari Rullina dan memandang kearah Monaliza yang ikut berdiri tapi tidak turut menyapa, karena sudah diwakilkan oleh sahabatnya Rullina.


"Apakah kau sudah sehat Monaliza?" tanya Dirga lembut. Setelah Megan tiada, baru kali ini ia menyapa dengan suara lembut pada seorang wanita selain dari ibunya.


Mendengar perkataan Dirga, bukan tentang pertanyaannya, melainkan gaya bicaranya yang tidak biasa, yang terdengar lembut, membuat Rullina dan Monaliza saling berpandangan beberapa detik, kemudian keduanya kembali menatap Dirga yang masih melihat kearah Monaliza.


"I-iya Pak, saya sudah sehat," sahut Monaliza dengan senyum canggung.


"Saya senang mendengarnya. kalau kau merasa kurang sehat, atau tidak enak badan katakan saja padaku," kata Dirga lagi, masih dengan senyum yang nyaris tidak terlihat.


Monaliza dan Rullina kembali berpandangan satu sama lain, mimik wajah keduanya memperlihatkan keheranan pada ucapan aneh Dirga yang tidak biasanya. Karena di Perusahaan itu sudah disiapkan para medis yang siap-siaga untuk melayani semua pegawai yang sedang berkerja bila tiba-tiba jatuh sakit, bukannya langsung memberitahukan pada sang CEO.


"T-tapi Pak, bukankah ada para medis yang menangani para pegawai seperti saya," sahut Monaliza melihat kearah Dirga masih dengan mimik keheranan.

__ADS_1


"Itu benar, tapi bila kau dirawat para medis itu, suruh mereka melapor padaku," kata Dirga lagi.


"B-baiklah Pak," sahut Monaliza, walau sebenarnya ia masih belum faham dan masih merasa aneh akan maksud dari CEO-nya itu, ia langsung saja menyetujuinya, supaya bos-nya itu segera berlalu meninggalkan mereka, khusunya dirinya.


Setelah mendengar jawaban Monaliza, benar saja, tanpa berbicara apapun lagi, Dirga-pun meninggalkan meja resepsionis dengan langkah ringannya menuju lift. Wajah datarnya sudah kembali lagi.


"Mona," panggil Rullina pada teman satu kerja sekaligus sahabatnya itu.


"Hm, ada apa Ru," sahut Monaliza tanpa menoleh, ia sedang memeriksa pekerjaannya pada layar monitor komputer yang ada dihadapannya. Setiap pagi ia dan Rullina harus terlebih dahulu memeriksa daftar tamu, dan pesan-pesan supaya dapat disampaikan pada seluruh manajeman yang ada dikantor dimana mereka berkerja.


"Pak Dirga, beliau nampak berbeda beberapa hari belakangan ini," ungkap Rullina. Ia menatap Monaliza yang masih fokus pada pekerjaanya.


"Berbeda bagaimana maksudmu Ru?" tanya Monaliza, namun ia masih tidak melepaskan pandangannya dari layar monitor komputer dihadapannya.


"Iya, itu benar, lalu?" sahut Monaliza membenarkan perkataan sahabatnya itu.


"Dua hari yang lalu, saat kau sakit, pak Dirga menanyaiku tentangmu. Ia terlihat khawatir saat aku mengatakan bila kau masih sakit. Lalu hari ini, pak Dirga mengatakan bila kau sakit lagi, kau harus melaporkan padanya," ungkap Rullina.


Monaliza menghentikan kegiatannya sejenak, ia menghadapkan wajahnya pada Rullina yang duduk disebelahnya dan memandang lekat wajah sahabatnya itu. Didalam hati ia memang merasakan ada sesuatu yang aneh dari sikap CEO-nya itu


"Apa mungkin-, pak Dirga menyukaimu? Gelagatnya seperti itu Mona. Kau lihatkan bagaimana ia berkata lembut padamu tadi?" Rullina berusaha menyampaikan dugaan-dugaan yang ada dalam fikirannya.


"Tidak mungkin," sahut Monaliza cepat. Ia sangat ingat, bagaimana sikap Dirga yang datar dan juga kasar saat terakhir kali CEO-nya itu menemaninya dirumah sakit. Ditambah lagi sekarang dirinya yang sudah tidak perawan karena telah ditiduri oleh Leon kekasihnya.


"Mungkin saja Mona, dari sikapnya aku merasa pak Dirga menyukaimu. Apalagi ibu Megan kan sudah tiada, jadi pak Dirga adalah pria yang bebas," ucap Rullina bersemangat.

__ADS_1


"Ru, itu tidak mungkin, apalagi aku juga sudah punya Leon. Aku-, tidak mungkin berpaling darinya," sahut Monaliza dengan tatapan kosong kedepan. Tatapannya menerawang jauh, mengingat kejadian beberapa malam lalu, bagaimana kalau dia hamil, haruskah ia menikah, sedangkan dirinya belum tahu apakah kedua orang tua Leon merestui hubungan mereka.


Kring! Kring! Kring!


Rullina dan Monaliza sama-sama tersentak saat mendengar suara telepon kantor diatas meja kerja mereka berbunyi. Rullina dengan sigap meraih gagang telepon dan menerima panggilan telepon. Sedangkan Monaliza kembali pada layar monitor yang ada dihadapannya.


...***...


"Leon, apakah kau tidak sarapan lagi pagi ini?" tanya nyonya Gamsonrich pada putra keduanya itu, ketika dilihat-nya Leon sama sekali tidak menyentuh sarapannya.


"Tidak Ma, Leon tidak lapar," sahut Leon tanpa semangat.


"Leon, sarapan pagi itu bukan karena kita merasa lapar, tapi itu suatu keharusan bagi tubuh, supaya kita siap menjalani hari. Kesehatan tubuh kita terjaga, .menambah energi, nutrisi bagi otak, menjaga konsentrasi, dan lainnya. Tanpa Mama mengatakannya kau juga pasti sudah itu," ujar ibu Leon sambil melirik wajah anaknya.


"Kau kenapa Leon? Beberapa hari ini Mama melihatmu lesu, seperti ada sesuatu yang berat sedang kau fikirkan." tatap nyonya Gamsonrich, sebagai seorang ibu ia dapat merasakan ada sesuatu yang sedang difikirkan putranya itu.


Leon menatap wajah kedua orang tuanya yang sedang menikmati sarapan mereka. Ia merasa ragu bila harus mengatakan apa yang ada didalam hatinya, sampai saat ini dirinya belum menemukan waktu yang baik untuk bicara lebih serius apa yang dikandung hatinya.


"Sekarang sarapan-lah," ucap nyonya Gamsonrich menunjuk sepiring roti dan jus buah didepan Leon. Walau dengan rasa malas Leon tetap menyantap sarapan paginya.


Disela-sela sarapannya, terdengar satu notifikasi masuk ke ponselnya. Leon meraih ponselnya, berharap notifikasi yang ia dengar itu adalah pesan dari Monaliza yang beberapa hari ini tidak pernah mengabarinya setelah mereka kembali dari hotel.


Leon terpaku, ketika sepasang matanya melihat nilai yang pernah ia transfer ke rekening Dirga untuk membayar hutang budi Monaliza kini sudah dikembalikan secara utuh ke rekeningnya, tanpa ada keterangan atau apapun dari Dirga.


"Leon, apa kata pesan itu?" tanya nyonya Gamsonrich penasaran, ketika dilihatnya wajah Leon seketika berubah saat menatap ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2