
Leon menepikan mobilnya perlahan kepinggir jalan, ketika mereka sudah tiba didepan gang sempit tempat tinggal Monaliza.
"Mona, besok pagi, aku harap kau bersedia melakukan test dengan menggunakan alat ini," ujar Leon. Ia menyodorkan tas plastik kecil pada Monaliza.
Monaliza menatap bungkusan plastik yang masih berada ditangan Leon, kemudian pandangannya beralih menatap Leon yang sedang memperhatikannya, Leon menganggukan kepalanya, mengisyaratkan pada Monaliza untuk mengambil bungkusan plastik dari tangannya.
Walau ragu, Monaliza mengulurkan tangannya, mengambilnya dari tangan Leon, dua benda yang masih bersegel rapi dikeluarkannya dari dalam plastik itu.
"Apakah kau menganggapku hamil Leon?" ungkap Monaliza dengan wajah sendu.
"Maafkan aku Mona. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu, aku hanya ingin memastikannya saja, karena kau muntah-muntah kata kak Keny saat ditelpon." kata Monaliza.
"Iya, aku mengerti. Tapi bagaimana bila aku benar-benar hamil? Aku takut Leon," suara Monaliza terdengar bergetar, sorot matanya yang berkaca-kaca memperlihatkan ketakutannya.
"Mona," Leon meraih kedua tangan Monaliza, lalu menempelkannya didadanya.
"Jangan takut Mona, aku akan selalu ada untukmu," hibur Leon.
"Besok siang, aku mau mengajakmu makan siang bersama, dan ada yang ingin kutunjukkan padamu, apa kau mau?" tanya Leon penuh harap. Monaliza menganggukan kepalanya tanda setuju.
"Terima kasih," Leon mencium lembut punggung tangan Monaliza, lalu melepaskannya.
"Kita turun sekarang, aku akan mengantarkanmu sampai didepan rumahmu," Leon turun terlebih dahulu, lalu membukakan pintu untuk Monaliza.
Keduanya menyusuri gang sempit yang dipagari beton disisi kiri dan kanannya. Suasana malam nampak sangat sepi, semua orang sepertinya sudah terbuai mimpi didalam selimutmya masing-masing.
Monaliza mengetuk daun pintu rumahnya, tidak lama suara langkah kaki dari dalam rumah terdengar mendekat. Wajah Rony muncul didepan pintu.
"Hai Rony, kau belum tidur?" sapa Leon pada adik Monaliza itu.
"Belum kak, ibu memintaku menunggu kak Mona pulang, karena ibu kelelahan mengasuh adik-adik hari ini," kata Rony. Dari air mukanya, terlihat anak remaja itu sangat mengantuk.
__ADS_1
"Baiklah, kak Leon pulang dulu ya," ucap Leon sambil mengusap puncak rambut Rony lembut.
"Iya kak, hati-hati dijalan. Terima kasih sudah mengantarkan kak Mona pulang," ucap Rony sambil tersenyum.
"Sama-sama" sahut Leon kembali tersenyum.
"Mona, jangan lupa pesanku tadi mengenai benda dalam plastik itu. Sampai jumpa besok." Setelah berkata demikian Leon membalikkan tubuhnya dan segera pergi meninggalkan rumah Monaliza.
...***...
Suasana kantor nampak sepi, namun Dirga sudah tiba disana sepagi itu. Para pegawainya pun belum terlihat dimana-mana, hanya para cleaning service yang sedang sibuk dengan tugas mereka masing-masing, mengepel lantai, mengelap kaca, menyapu pekarangan kantor dari daun-daunan kering, menyiapkan teh bagi para pegawai, dan lain sebagainya.
Pandangan Dirga terpatri pada sosok pegawai resepsionisnya yang sudah standby dimejanya. Ya, Monaliza, pegawainya itu sudah sibuk sepagi itu, memeriksa buku tamu lembar demi lembar dimejanya.
Hidung Monaliza bergerak-gerak, mencium aroma wangi parfum pria yang berhembus ke indera penciumannya. Monaliza yang sedang menundukkan kepalanya tidak menyadari kehadiran pimpinannya itu.
"Aduh, kenapa kepalaku tiba-tiba terasa pusing mencium aroma ini," batin Monaliza sambil terus memeriksa lembar demi lembar buku tamu dihadapannya. Bukannya memudar, aroma itu semakin menyengat masuk kehidungnya, menimbulkan rasa mual didalam perutnya.
Monaliza tertegun sejenak, suara itu, tidak asing ditelinganya, ia mendongakkan wajahnya cepat, menatap sang pemilik suara.
"Pak D-Dirga?!" Monaliza terkesiap. Ia menoleh kesana-kemari berharap ada orang lain selain dirinya dan Dirga disana. Namun tidak ada siapa-siapa selain cleaning service yang tengah sibuk menjalankan tugas mereka dan jarak mereka cukup jauh dari Monaliza dan Dirga berada.
"Apakah kau sakit?" tanya Dirga, ketika dilihat wajah Monaliza memucat dan mengeluarkan keringat disela-sela keningnya.
"S-saya baik-baik saja Pak, tapi saya tidak tahan mencium aroma wangi parfum pak Dirga," sahut Monaliza jujur sambil menangkup hidung dan mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
Dirga mengangkat kedua tangannya bergantian, mengendus-endus wangi parfum yang ia pakai. "Tidak ada masalah," batinnya. Bukankah ia biasa menggunakannya setiap hari.
Belum sempat Dirga mengatakan sesuatu, Monaliza nampak berlari kecil meninggalkan mejanya menuju toilet yang berada disebelah lift.
Dirga menyusulnya dengan langkah cepat, langkahnya terhenti dipintu toilet, saat menyadari toilet yang dimasuki oleh Monaliza adalah toilet wanita.
__ADS_1
Dari luar ia mendengar Monaliza sedang memuntahkan sesuatu, suaranya terdengar begitu berisik didalam. Sedikit ada rasa khawatir dan panik dalam dirinya mendengar suara Monaliza didalam.
Dirga melambaikan tangannya, memanggil cleaning service yang sedang lewat didekatnya.
"Selamat pagi Pak, ada yang bisa saya bantu," kata cleaning sevice itu.
"Ambilkan sebotol air mineral dan cepat bawa kemari," perintah Dirga dengan wajah paniknya.
"Baik Pak, segera akan saya ambilkan," cleaning service itu menaruh alat-alat yang ia bawa dipinggir dekat dinding dan langsung bergegas menuju pantri.
Suara-suara Monaliza yang sedang memuntahkan segala isi perutnya masih terus terdengar, Dirga yang tidak tega mendengarnya akhirnya memaksakan diri untuk masuk. Benar saja, Monaliza terlihat lemas dengan wajah telungkup diatas wastafel, sebagian muntahanya sudah terhambur kemana-mana selain di bak penampungan wastafel. Bau amis, asam, dan tak sedap dari muntahan itu membuat Dirga ingin muntah juga. Namun naluri kemanusiaannya mendorongnya untuk tetap berusaha menolong pegawainya itu.
Dirga segera meraih punggung Monaliza, menyandarkannya didada sebelah kirinya. Monaliza yang mabuk berat dan lemas tidak sanggup menolak. Tangan Dirga segera mengusap dan membersihkan wajah Monaliza yang yang terkena cifratan muntahannya sendiri, begitu juga peluh yang bercucuran diwajahnya yang kusut dan berantakan.
"Pak Dirga, ini botol mineralnya," cleaning service itu akhirnya tiba, dan memberikan botol mineral yang ia bawa.
"Baik terima kasih," Dirga menerima botol mineral dari tangan pegawai cleaning service-nya lalu segera membuka segelnya dan memberikannya pada Monaliza.
"Monaliza, minumlah ini," kata Dirga, sambil membantu meminumkannya kemulut pegawai resepsionisnya itu.
Monaliza minum beberapa teguk saja, lalu mulai memuntahkan lagi apa yang masih tersisa didalam perutnya, hingga mulutnya terasa pahit. Nafasnya terasa begitu sesak hingga terdengar memburu.
"Cepat, bersihkan tempat ini," perintah Dirga lagi pada pegawai cleaning service-nya itu lagi.
"Baik Pak," pegawai cleaning service itu segera keluar dari toilet itu dan mengambil alat-alat yang ia tinggalkan dilobi.
"Ayo, ikutlah keruanganku, aku akan segera memanggilkanmu dokter, sepertinya kau sedang masuk angin," Dirga menarik tangan Monaliza untuk mengikutinya.
"Tapi Pak-," Monaliza menolak dan berusaha melepaskan tangannya yang dipegang erat oleh Dirga.
"Kau itu sakit Mona, lihat saja wajahmu yang pucat dan lemas itu. Ayo, cepat!" paksa Dirga.
__ADS_1
Monaliza terpaksa menurut, ia mengikuti Dirga masuk kedalam lift. Disana ia menyandarkan punggungnya didinding lift yang sudah tertutup rapat karena tidak sanggup lagi berdiri.