CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
82. Isi Kotak Hadiah Pernikahan


__ADS_3

"Pak Dirga, ini ada bingkisan yang diantar oleh kurir," kata Rullina sambil meletakkan satu kotak diatas meja Dirga.


Dirga menatap kotak itu, kemasannya sama persis dengan kotak yang dua kali diberikan padanya dan Monaliza saat dihotel.


"Siapa pengirimnya?" tanya Dirga beralih dari kotak dan memandang pada Rullina.


"Hanya ditulis 'TEMAN LAMA'," ujar Rullina sambil mengeja pada kertas kecil yang menempel pada kotak bagian atas.


Dirga menggerak-gerakkan kepalanya pelan kekiri dan kekanan, supaya ketegangan pada lehernya sedikit berkurang. Dalam hatinya, ia menebak bila kotak itu pastilah Leon yang mengirimkannya.


Dirinya tidak habis fikir, kenapa mantan kekasih isterinya itu begitu getol-nya mengirimkan hadiah pernikahan untuk mereka berdua. Bukan, bukan untuk mereka berdua, tapi untuk Monaliza, wanita yang sekarang sudah sah menjadi isterinya, fikir Dirga didalam hati.


"Firans!" panggil Dirga pada asistennya yang tengah sibuk mengambil beberapa berkas penting dari dalam lemari besi yang berada disudut ruangan.


"Ya, sebentar! Aku akan kesana," sahut Firans. Ia menutup pintu lemari lalu menguncinya kembali. Beberapa berkas yang telah ia keluarkan segera dibawanya ke meja kerja Dirga.


"Ada apa?" tanya Firans, ia meletakkan berkas-berkas itu pada sisi kosong meja Dirga yang sudah penuh dengan berkas-berkas lainnya selama tiga hari CEO-nya itu cuti menikah.


"Buka kotak itu," perintah Dirga, menunjuk pada kotak diatas mejanya. Firans melirik Dirga, lalu pada Rullina yang masih ada disana.


"Bukankah ini untuk nona Monaliza?" tanya Firans memastikan pada Rullina. Saat gadis itu masuk, ia sempat melihat kotak yang dibawa Rullina dan mendengar dari mulutnya bila kotak itu diantar oleh seorang kurir untuk isteri bosnya itu.


"Benar pak Firans," sahut Rullina menatap pada Firans.


"Kenapa tidak nona Monaliza saja yang membuka hadiahnya. Kesannya tidak sopan kalau aku yang membukanya," tolak Firans halus, biar bagaimanapun ia tidak berani sembrono, mungkin saja Dirga sengaja ingin menguji dirinya.


"Monaliza tidak mau menerimanya," sahut Dirga masih menatap kotak hadiah dihadapannya. Terus terang, dirinya pun penasaran, apa isi kotak itu, walaupun tidak ada niatan dalam hatinya menerima pemberian hadiah Leon untuk isterinya.


"Bagaimana kau bisa tahu?" Firans mengerutkan keningnya menatap sahabatnya itu, demikian pula halnya dengan Rullina.


"Kotak ini sudah dua kali dikirim pada Monaliza saat kami berdua menginap dihotel, dan dia menolaknya," ujar Dirga masih menatap kotak itu seolah menerawang isi didalamnya.


"Menurutmu, siapa yang mengirimkannya?" tanya Firans ikut penasaran, ia menatap Dirga dengan raut penuh tanya.

__ADS_1


"Kemungkinan besar itu Leon. Sebab kotak itu sama persis dengan kotak hadiah yang diberikan oleh manager hotel itu," terang Dirga.


"Apa hubungan manager hotel itu dengan Leon?" ucap Firans dengan raut makin penasaran.


"Leon pemilik hotel itu," sahut Dirga.


"Tidak mungkin. Aku sudah memeriksanya dengan sangat teliti sebelum mem-booking hotel itu untuk resepsi pernikahan sekalian penginapan kalian," sahut Firans kaget tak percaya.


"Aku sudah mencari tahu nama pemiliknya, tuan Wilyon. Bila keluarga Gamsonrich, aku pasti tidak akan mem-booking untuk kalian," imbuh Firans yang masih ingat benar nama sang pemilik, karena ia sendiri yang mengurus semuanya supaya jangan sampai salah. Dirinya tahu benar, bahwa kedua orang tua Leon adalah pengusaha perhotelan terkenal dikota itu.


"Kenyataannya seperti itu, manager itu sendiri yang mengatakannya. Tapi aku tidak menyalahkanmu Firans, sepertinya Leon sengaja menyembunyikannya, entah apa maksudnya," ujar Dirga.


"Sekarang buka saja," perintah Dirga lagi.


""Rullina saja," sahut Firans cepat sambil menunjuk Rullina yang berdiri disebelahnya.


"Jangan, kita kan belum tahu apa isinya. Mungkin saja binatang melata atau binatang buas lainnya," kata Dirga menduga-duga, ia sengaja menakut-nakuti Firans. Ia yakin kalau Leon tidak mungkin tega memberikan sesuatu yang membahayakan Monaliza, ia dapat melihat bahwa sampai kini pria itu masih sangat mencintai isterinya. Buktinya, pria itu sampai datang ke pemberkatan nikah dirinya dan Monaliza, walau ia tahu pria itu pasti menahan sakit yang luar biasa.


"Bukan begitu, kau kan asistenku," kata Dirga beralasan.


"Maaf pak Dirga, pak Firans. Saya rasa kalau tuan Leon yang memberikannya, tidak mungkin itu adalah sesuatu yang membahayakan nona Monaliza," kata Rullina, ia kenal benar pada pria baik yang menjadi kekasih Monaliza itu selama dirinya bergaul dengan keduanya saat mereka masih bersama.


"Kalau kau seyakin itu, bagaimana kalau kau saja yang membukanya. Itu pun kalau kau mengijinkannya Dirga," kata Firans pada bosnya itu.


"Aku rasa Rullina benar," kata Dirga setuju pada pendapat resepsionisnya itu. "Bukalah," suruh Dirga.


"Maaf pak Dirga, saya tidak enak," kata Rullina sungkan.


"Tidak perlu merasa tak enak. Aku yang memerintahkanmu," kata Dirga pada Rullina lagi.


"Baiklah," Rullina menatap sejenak kotak diatas meja. Ia mendekat lalu meraih kotak itu, lalu membuka perekatnya satu-persatu dengan hati-hati dihadapan Dirga dan Firans yang turut memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh tangan Rullina.


Wajah Firans menegang saat semua perekat-perekat itu sudah berhasil terlepas. Ia memundurkan dirinya hingga dua langkah kebelakang.

__ADS_1


"Jangan takut Firans, bila isinya binatang buas atau sejenisnya, dalam waktu tiga atau empat hari didalam kotak tanpa makan dan minum, dia pasti lemas tidak bertenaga walau tidak sampai mati," ucap Dirga memandang kearah Firans.


"Apa salahnya aku berhati-hati bukan? Aku belum menikah seperti dirimu Dirga," sahut Firans masih dengan raut tegangnya.


Sementara itu, Rullina membuka penutup kotak, ia meraih satu amplop berwarna merah menyala, dan pada tepinya berbingkai warna gold.


"Apa itu?" tanya Dirga menatap Rullina.


Rullina segera membuka kaitan benang amplop dan mengambil satu buku lebar dari dalamnya.


"Ini-, surat kepemilikan Pak," kata Rullina menunjuk tulisan pada sampul depan buku tipis berukuran lebar itu.


"Surat kepemilikan?" Dirga menatap wajah Rullina, ia segera meraih buku ditangan Rullina untuk memeriksanya.


"Ini surat kepemilikan atas satu unit penthouse puncak apartemen green house." gumam Dirga setengah berbisik, sambil memolak-balik lembar demi lembar dimana ada nama Monaliza Zhue didalamnya. Ia langsung teringat, beberpa bulan yang lalu pernah membuntuti Leon yang membawa Monaliza ke apartemen green house, dirinya hanya tahu bila Leon memiliki satu unit apartemen disana. Ternyata pria itu juga membeli satu unit penthouse untuk Monaliza juga, batinnya.


"Gila! Penthouse itu harganya selangit!" pekik Firans tak sadar, ia lalu mendekat, ingin melihatnya juga untuk memastikan.


Dirga mendelikan matanya menatap Firans yang mengagetkannya, begitu pula dengan Rullina.


"Ini ada satu kotak lagi Pak Dirga," kata Rullina lagi, ia mengangkat satu kotak berukuran lebih kecil dari kotak luarnya.


Dirga dan Firans sama-sama memandang kotak yang tengah dipegang oleh Rullina.


"Apa saya yang harus membukanya juga?" tanya Rullina.


"Bukalah," perintah Dirga singkat.


"Tidak bisa Pak. Kotak ini hanya bisa dibuka dengan kode rahasia hari jadi tuan Leon dan nona Monaliza," Rullina membaca petujuk pada kertas yang menggantung di gagang kotak berwarna merah menyala dan bingkainya yang berwarna gold, sama persis seperti warna amplop sebelumnya.


Wajah Dirga berubah, terbesit rasa cemburu dilubuk hatinya yang paling dalam mendengar ucapan Rullina itu.


Bersambung....👉

__ADS_1


__ADS_2