CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
80. Apartemen Leon


__ADS_3

Monaliza melambaikan tangannya, saat Mobil mertuanya yang mengantarkan ibu dan adik-adiknya bergerak menyusul mobil pak Han dan isterinya yang berjalan lebih dulu meninggalkan rumah baru mereka.


"Huffss!" Dengan satu gerakan gesitnya, Dirga berhasil mengangkat Monaliza kembali masuk dalam gendongannya.


"Pak Dirga, jangan begini, malu dilihat orang," kata Monaliza dengan wajah menerah, melihat kearah mang Rido dan isterinya yang ada didekat mereka. Walau tidak ada orang sekalipun, Monaliza tetap merasa malu, dengan posisi mereka seperti sekarang ini, tentu saja membuat jantungnya terus berdetak tidak karuan. Hah, hobby-mu menggendong mulu ya Dirga.😊


"Aku tidak akan membiarkanmu seeanaknya berjalan lagi sendiri sebelum kakimu itu benar-benar sembuh," kata Dirga.


"Bi Nia, tolong antarkan kami kekamar," pinta Dirga pada bibi Nia.


"Baik Den. Mari, ikuti saya," bibi Nia bergegas melangkah lebih dulu di ikuti oleh Dirga dibelakannya. Sementara mang Ridho melihat majikannya dan tersenyum-senyum sendiri mengingat masa mudanya yang tidak kalah manisnya pada jamannya.


"Anak muda mah emang begitu, masih enerjik, kalo aku yang membopong Nia seperti den Dirga, bisa-bisa encok sebulan," gumannya nyengir sendiri lalu kembali pada kesibukannya merapikan ranting-ranting bunga yang sempat tertunda.


...***...


Leon masuk ke apartemennya dengan langkah gontai. Menghempaskan tubuhnya disofa tamu. Bola matanya terlihat memerah, sejak satu malam sebelum hari pernikahannya, ia sudah tidak dapat tidur sampai siang itu.


Hatinya terlalu hancur saat memikirkan Monaliza sudah menjadi milik pria lain, demikian pula dengan dirinya yang sudah menjadi milik wanita iblis.


Leon kembali bangkit, berjalan menuju lemari pendingin, mengambil beberapa botol minuman beralkohol dari sana.


Ia lalu duduk di bar apartemenya, menuangkan minuman berwarna merah berkilau diterpa cahaya, masuk kedalam gelasnya. Tanpa menunggu lama, ia mulai menenggak gelas demi gelas hingga botol minumannya kosong.


Leon kembali membuka satu botol yang masih bersegel, menuangnya lagi kedalam gelas dan menenggaknya ulang. Demikian ia menghabiskan hingga beberapa botol, perutnya terasa penuh dan ingin memuntahkan semua yang telah ia minum.

__ADS_1


Mata itu, belum juga mau mengantuk, apalagi terpejam. Leon berusaha membuat dirinya sendiri mabuk oleh kandungan alkohol yang ada dalam minumannya. Walau sesaat, ingin sekali ia melupakan kepahitan hidup yang sekarang sedang menimpanya.


Ditengah keheningan dalam apartemenya, Leon mendengar seseorang masuk kedalam unit apartemenya, suara high heels yang menapaki lantai apartemennya terdengar datang mendekat.


"Leon!" terdengar suara wanita yang teramat sangat dikenalinya meneriakan namanya begitu nyaring, membuat kepalanya yang sudah pening bertambah pusing.


Leon sudah menduga, yang datang itu pasti ibunya, sebab hanya wanita tua itu saja yang memiliki akses masuk kedalan unit apartemennya selain dirinya sendiri. Ia tidak menjawab, ia sengaja menulikan telinganya karena perih hatinya yang disebabkan ibunya itu.


"Kemana saja kau mengilang?! Mulai semalam hingga siang ini kau membiarkan isterimu sendirian dikamar hotel kalian!" marahnya kembali menggelegar.


Leon masih terdiam, wajahnya mencium meja bar-nya, suara menggelegar ibunya sudah biasa ia dengar.


Walau kondisi Leon terlihat menyedihkan, nyonya Gàmsonrich tidak terlalu memikirkannya. Hilangnya Leon sejak semalam saja, sudah membuatnya naik darah karena mendengar rengekan-rengekan menantunya dan omelan kedua besannya yang tidak berhenti bagai radio rusak.


"Ini! Apa ini! untuk apa kau minum sampai sebanyak ini Leon!" nyonya Gamsonrich semakin marah saat pandangannya melihat botol-botol kosong berantakan diatas meja bar putranya.


"Tidak masalah mati sia-sia, dari pada hidup sia-sia, memperpanjang umurku, hanya membuatku tambah menderita. Kenapa aku tidak mati saja saat kecelaakaan waktu itu," ucap Leon putus asa.


"Kenapa Ma? Kenapa Mama membuatku menderita? Aku merasa seperti bukan anak Mama saja," Leon menatap ibunya, sorot matanya menggambarkan kehancuràn hatinya yang teramat sangat.


Nyonya Gansonrich menatap putranya. Putra bungsunya yang selalu patuh pada apa yang ia katakan selama ini, tidak pernah satu kalipun membantahnya, kecuali hubungannya dengan Monaliza, gadis cantik bak model yang sangat dibenci olehnya karena kemiskinannya itu.


"Leon, kenapa kau berucap seperti itu pada Mama? Kau itu anak kandung Mama, anak kesayangan Mama," ucap wanita berpakaian elegan itu merasakan sedih tiba-tiba mendera dilubuk hatinya saat mendengar perkataan putranya.


"Tapi sikap Mama tidak menunjukkan kalau aku adalah anak kesayangan Mama. Ucapan Mama berbanding terbalik dengan apa yang Mama lakukan padaku," keluh Leon. Ia turun dari kursi tingginya yang hampir mencapai seratus tiga puluh senti meter.

__ADS_1


Ia berjalan terhuyung-huyung menuju kamarnya dan melepas bajunya tanpa membuka kancing-kancingnya, hingga semua kancing kemejanya rontok bertaburan dilantai. Leon membuang kemejanya itu kewajah ibunya yang ia lewati.


Nyonya Gamsonrich tetap berdiri ditempatnya saat menerima perlakuan kurang ajar putranya. Ia tahu Leon berlaku seperti itu karena sedang kehilangan setengah kewarasannya oleh bisa alkohol yang membuatnya mabuk.


Brakkk!


Terdangar suara pintu kamar Leon dibanting dengan keras.


Nyonya Gamsonrich meraih kemeja Leon yang menempel diwajahnya. Ia segera menutup hidungnya dengan kedua jarinya, saat aroma tidak sedap tercium dari kemeja yang sudah dirusak Leon itu.


"Anak itu, tidak pernah dia se-bau ini," omel nyonya Gamsonrich.


Leon memang sudah tidak ingat mandi beberapa hari ini, rasa sakit kehilangan Monaliza yang ia cintai beberapa tahun lamanya membuat ia melupakan dirinya sendiri yang perlu dirawat.


Nyonya Gamsonrich meraih ponselnya yang sedang berbunyi. Ia segera menggeser tombol hijau saat melihat menantunya yang sedang menelpon.


"Hallo sayang," sapa nyonya Gamsonrich seramah dan selembut mungkin.


"Gimana tante, Leon udah ketemu?" tanya Nadya tidak sabar dengan suara cemasnya.


"Sudah sayang, jangan cemas. Kau kemari sekarang, Leon ada diapartemenya," sahut nyonya Gamsonrich lagi.


"Baik tante. Jaga Leon untukku, jangan biarkan dia melarikan diri seperti semalam," kata Nadya dengan nada memerintah. Sopan santun? Tentu saja gadis kaya itu minim akhlak baik, karena terlalu dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Bagi keluarganya, materilah yang utama.


Setelah sambungan telepon ditutup oleh menantunya, nyonya Gamsonrich segera menelpon pengelola apartemen, minta dikirimkan seorang petugas kebersihan, untuk membersihkan kekacauan dalam apartemen putranya itu.

__ADS_1


...***...


Bersambung....👉


__ADS_2