
Hanya ada keheningan diantara Monaliza dan Dirga didalam mobil, keduanya saling berdiam diri hingga tiba dirumah sakit.
Dirga berjalan disisi Monaliza sambil menekan remote control saat meninggalkan mobilnya. Keduanya masih saling diam, walau sebenarnya ada banyak topik pembicaraan yang bisa dijadikan bahan diskusi dua pasangan baru yang akan menikah itu.
Sikap dingin dan datar Dirga membuat Monaliza semakin merasa canggung. Ia sudah berusaha menolak saat Dirga memaksa akan mengantarkan dirinya kerumah sakit, karena ia tahu akan berada dalam situasi seperti ini.
Dari jarak yang sudah tidak terlalu jauh, Monaliza telah melihat Keny yang sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon didepan ruang rawat Leon adiknya.
"Kak Keny," panggil Monaliza, setelah kakak kandung Leon itu telah selesai berbicara ditelepon.
"Mona-," Keny berbalik, menoleh kearah Monaliza, pandangannya sempat terpaku sejenak pada sosok Dirga yang datang bersama kekasih adiknya itu.
"Kau tidak datang sendiri Mona?" tanya Keny penuh arti.
"Iya, aku bersama Pak Dirga, CEO di Perusahaan tempatku berkerja kak," Monaliza nampak canggung memperkenalkan bos-nya itu.
"Iya, aku mengenal bos-mu Mona." ucap Keny menatap datar wajah Dirga, demikian pula sebaliknya dengan pria dingin itu.
"Mona, kau boleh masuk kedalam menengok Leon, ada Nadine disana. Aku mau berbicara dengan bos-mu dulu," kata Keny masih memandang datar wajah Dirga.
"Tapi-," wajah Monaliza terlihat khawatir, ia takut kedua pria itu akan melakukan keributan dirumah sakit ini, ia dapat membaca dari sikap tubuh mereka yang tidak bersahabat. Biar bagaimanapun juga, ia pasti akan merasa bersalah bila kedua pria itu sampai bertengkar karena dirinya.
"Jangan khawatir Mona, aku tidak akan mengajak bos-mu membuat keributan disini, bukankah ini rumah sakit?" kata Keny seolah mengerti apa yang difikirkan Monaliza.
__ADS_1
Setelah Keny selesai berkata demikian padanya, Monaliza mengalihkan pandangannya kearah Dirga, seperti biasanya, pria itu tidak bereaksi apa-apa, datar, dan tetap datar. Huhh, menyebalkan.
"Baiklah, aku masuk dulu," pamit Monaliza. Setelah berkata demikian, tanpa menunggu jawaban dari Keny dan Dirga, ia membalikkan tubuhnya lalu berjalan masuk kedalam ruangan dan menutupnya rapat.
Beberapa detik kemudian, Monaliza yang masih berada dibelakang pintu, perlahan membuka pintu dan mengintip dari celah pintu yang ia buka hanya selebar tiga jari tangannya saja.
Terlihat Dirga melangkah mengikuti Keny dibelakangnya menuju kursi taman rumah sakit yang ada didepan ruang perawatan Leon.
Setelah memperhatikan sejenak kedua pria itu yang kini sudah terlihat mengobrol dengan serius dikursi taman, Monaliza kembali menutup rapat pintu itu tanpa menyisakan celah untuk dirinya bisa mengintip lagi.
"Mona, apa yang kau lakukan?" tanya seorang wanita mengagetkan Monaliza hingga membuatnya langsung berbalik dengan wajah tegang.
"Ahh, kak Nadine membuatku terkejut saja," Monaliza yang tadinya berwajah tegang kini kembali merasa lega karena yang mengejutkannya adalah kakak ipar Leon.
Nadine yang penasaran, lalu membuka pintu sedikit lebar dan melihat Keny suaminya sedang mengobrol serius dengan Dirga dikursi taman yang tidak jauh dari ruangan dimana mereka berada.
Ketika pintu dibuka, suhu dalam ruangan itu terasa lebih dingin dari ruangan sebelumnya. Monaliza yang tidak mengunakan jaket atau semacamnya langsung melipat kedua tangannya didepan dada untuk mengurangi rasa dingin yang tiba-tiba menyerangnya.
Ia mendekati tubuh Leon yang terbaring diranjang pasien dengan banyak peralatan medis yang menempel ditubuhnya. Wajah itu terlihat pucat dan banyak goresan halus dibeberapa bagian wajahnya yang sedikit memerah. Pada dahinya nampak perban yang menempel hingga beberapa senti panjangnya, penyangga leher berwarna putih keabuan itu membuat kondisi Leon semakin terlihat memprihatinkan.
Monaliza menyentuh telapak tangan Leon yang juga terlihat pucat dan dingin, dengan lembut ia menggenggang tangan itu yang sering mengusap rambut kepalanya saat dirinya membutuhkan penghiburan dimasa lalu, mengalami kesulitan dan tantangan hidup yang pahit sepeninggal ayahnya, ya Leon selalu ada untuknya saat itu.
"Kak Nadine, suhu ruangan ini terlalu dingin, bolehkah diubah supaya agak hangat? Tangan Leon dingin sekali, mungkin saja ia kedinginan," kata Monaliza pada Nadine yang berdiri didekatnya.
__ADS_1
"Iya, kau benar Mona, aku juga merasakannya," sahut Nadine, ia lalu meraih remote control dan mengubah angka suhu supaya ruangan lebih menghangat.
Bagaimana ceritanya Leon sampai jadi begini kak?" tanya Monaliza lirih menatap wajah Nadine, sementara tangannya terus mengusap telapak tangan Leon yang masih terasa sangat dingin untuk menyalurkan kehangatan lewat apa yang dirinya lakukan.
"Semalam-," Nadine nampak berfikir sebentar sebelum melanjutkan perkataannya. "Keny ditelpon mama sekitar pukul satu dini hari, kalau Leon kecelakaan dan sedang dibawa kerumah sakit," jelas Nadine.
Monaliza berfikir sejenak, ia ingat Leon pulang dari rumahnya sekitar pukul dua puluh satu lewat beberapa menit.
"Itu artinya Leon tidak sempat pulang kerumah kak?" tanya Monaliza memastikan.
"Tidak, Leon tidak pulang-pulang sampai Nadya dan kedua orang tuanya berpamitan pulang karena sudah larut malam," jelas Nadine lagi.
"Mona, bisakah kau jelaskan kenapa siang ini kau datang kemari bersama pria yang sedang berbicara dengan Keny tadi?" tanya Nadine mengalihkan pembicaraan mereka dengan nada menyelidik.
"Pria yang berbicara dengan kak Keny tadi, dia-, dia pak Dirga," sahut Monaliza kikuk, ia merasa canggung bila harus menjelaskan ada hubungan apa dirinya dengan Dirga sekarang, padahal Nadine mengetahui bahwa dirinya dan Leon adik iparnya adalah sepasang kekasih.
"Iya, aku tahu namanya Dirga, dia adalah pemilik Perusahaan Otomotif dimana dirimu berkerja Mona. Bos-mu itu pun sempat hadir dalam acara pesta ulang tahun papa dan mama waktu itu bersama kedua orang tuanya dan asisten pribadinya yang bernama Firans," jelas Nadine yang masih belum menyelesaikan kalimatnya, namun buru-buru telah diputus oleh pertanyaan Monaliza.
"Jadi pak Dirga pada saat itu juga hadir disana?" ingatan Monaliza kembali melayang pada kejadian malam itu, rupanya tidaklah kebetulan kehadiran Dirga disana hingga masuk kekamar hotelnya, karena sedang menghadiri undangan pesta dari tuan dan nyonya Gamsonrich juga.
"Iya Mona, apakah kau tidak tahu?" Nadine balik bertanya. Monaliza hanya menggeleng saat memberi jawab akan pertanyaan Nadine padanya.
"Saat itu, kepalaku pusing kak, setelah meminum minuman yang diberikan pelayan itu, jadi aku tidak sempat mengikuti pestanya," sahut Monaliza kemudian.
__ADS_1
"Iya, kau benar Mona, aku ingat, Leon langsung mengantarmu untuk beristirahat saat itu," kata Nadine menatap Monaliza saat ingatannya pada hal itu kembali melintas dibenaknya.
"Jadi, bisa kah kau jelaskan padaku Mona, kenapa kau datang bersama pria itu kemari? Bukankah kau masih punya hubungan dengan Leon, dia sangat mencintaimu Mona," ucapan Nadine membuat Monaliza terdiam, ia menelan salivanya dengan susah payah. Baik Nadine, Keny suaminya, dan Leon, mereka adalah orang-orang yang selalu bersikap dan berlaku baik padanya selama ini.