
Dirga membiarkan Monaliza pergi dari ruangannya ketika wanita itu sudah menghabiskan supnya. Suara ponsel bernada asing berdering terus menerus. Dirga mendekati sumber suara, ternyata dari dalam tas kerja Monaliza yang diletakan Rullina tadi pagi diatas meja kerjanya.
Walau merasa risih, namun rasa penasarannya memaksa Dirga untuk mengambil ponsel Monaliza dari dalam tas berwarna peach itu.
Leon memanggil, demikian tertera nama rivalnya itu di layar ponsel milik Monaliza. Setelah menggeser layar pada tulisan menerima, Dirga lalu menempelkan ponsel itu pada daun telinganya.
"Mona, sebentar lagi aku akan menjemputmu untuk makan siang sesuai janji kita semalam," terdengar suara Leon lembut dari ujung sambungan telepon.
Dirga terdiam sesaat, mendadak rasa cemburu tidak jelas menyerangnya ketika mendengar perkataan Leon itu. Ia hendak mengubah suaranya seperti Monaliza, tentu saja itu hal yang sangat mustahil baginya.
"Mona, kau disana kan? Kau mendengarkanku bukan?" tanya Leon yang tidak mendengar jawaban wanita yang dicintainya itu. Suaranya masih terdengar lembut ditelinga Dirga.
"Monaliza, dia tidak bisa keluar makan siang bersamamu? Dia harus beristirahat dikantor siang ini karena sakit." ucap Dirga.
"Kau? Bagaimana ponsel Monaliza bisa ada ditanganmu?" tanya Leon heran.
"Monaliza sakit dan beristirahat diruanganku," sahut Dirga, padahal wanita yang sedang menjadi topik pembicaraan mereka sudah pergi beberapa menit yang lalu dari ruangannya. Dirga saja yang berharap Monaliza masih berada disana.
"Sakit? Sakit apa? Aku akan kesana sekarang juga untuk melihatnya," ucap Dirga terdengar panik.
"Tidak perlu kemari, kau bahkan akan mengganggunya beristirahat, ia masuk angin dan muntah-muntah tadi pagi, dan aku sudah memanggilkan dokter untuknya, dan aku sudah memberikannya makan sup menjelang makan siangnya tadi," jelas Dirga.
"Baiklah," suara Leon terdengar kecewa lalu menutup teleponnya.
Dirga tersenyum tipis, siang ini ia sudah berhasil membuat Leon tidak bertemu Monaliza. Ia harus mencari cara bagaimana bisa menikahi Monaliza secepatnya dengan alasan anaknya yang sudah ada didalam rahim wanita itu.
...***...
"Rullina, apakah kau melihat tas kerjaku tadi pagi disini?" tanya Monaliza sambil terus mencari dilaci atas dan laci bawah mejanya.
__ADS_1
"Tadi pagi aku mengantarkannya keruangan pak Dirga, saat kau berada disana Mona," sahut Rullina menoleh kearah Monaliza yang tengah sibuk meraba-raba dalam lacinya.
"Apakah pak Dirga tidak memberikannya padamu?" kata Rullina balik bertanya.
Monaliza menggeleng lemah, ia berfikir sejenak, namun segera mengurungkan niatnya yang hendak mengambil tas kerjanya diruang bos-nya itu, tidak mungkin ia kembali kesana lagi, mengingat pengakuan laki-laki itu yang tidak masuk akal.
"Sebenarnya siang ini aku ada janji dengan Leon untuk makan siang, mungkin saja ia menelponku Ru, tapi ponselku ada didalam tas kerjaku itu," kata Monaliza cemas.
"Sebenarnya aku mau membantumu Mona, tapi si bos kulkas itu sudah memasang wajah angkernya padaku, sepertinya dia tidak suka kalau aku berlama-lama diruangannya," kata Rullina mengingat sikap Dirga yang dingin padanya.
"Ehem!"
Rullina dan Monaliza sama-sama menoleh kesumber suara. Wajah Rullina memucat ketika melihat Dirga sudah berdiri didepan meja resepsionis mereka. Kedua wanita itu saling berpandangan, merasa heran kenapa Dirga tiba-tiba muncul disana tanpa mereka lihat kedatangannya.
"M-maafkan saya Pak, s-saya-," Rullina nampak gugup memandang kearah Dirga lalu menundukkan kepalanya.
"Apakah kau sudah biasa mengata-ngatai bos-mu, hmm?" ucap Dirga pada Rullina.
"Baiklah, kali ini saya maafkan dan mengampuni kesalahanmu yang sudah berani mengatai saya dengan sebutan jelek itu. Jangan ulangi lagi," kata Dirga datar.
"I-iya Pak," sahut Rullina sambil menganggukkan kepalanya.
"Ini tas-mu Monaliza." Dirga meletakan tas berwarna peach milik Monaliza diatas meja resepsionis yang tinggi sedada orang dewasa.
"Terima kasih Pak," ucap Monaliza menatap sebentar pada Dirga lalu beralih pada tas miliknya, ia buru-buru mengambil tasnya dari atas meja dan meletakkannya didalam laci mejanya.
"Tadi si Leon-Leon itu, pacarmu, dia menelponmu untuk mengajakmu makan siang," kata Dirga dengan mimik wajah sedikit berfikir.
"Tapi aku sudah membatalkan janji makan siang kalian yang buang-buang waktu itu, karena aku katakan kau sedang sakit, perlu istirahat, dan sudah makan sup yang aku berikan,"
__ADS_1
Monaliza ternganga mendengar ucapan CEO-nya itu yang seenak jidat-nya membatalkan janji makan siang antara Leon dan dirinya.
"Ini, aku sudah membawakanmu tambahan makan siang yang bergizi dan buah-buahan segar yang sudah dibersihkan supaya kau tidak mabuk lagi," Dirga kembali meletakan beberapa kotak makanan keatas meja resepsionis.
"Ayo, dibuka sekarang," perintah Dirga datar.
"Tapi Pak, saya tidak bisa makan disini, bukankah peraturannya begitu? Tidak diperbolehkan makan saat jam kerja," kata Monaliza berusaha memberi alasan.
Dirga menaikan tangannya keatas meja resepsionis, "Lihat ini, arloji tanganku sudah menunjukan jam makan siang," tunjuk Dirga memperlihatkan arlojinya pada Monaliza.
"Rullina, kau sekarang boleh pergi untuk istirahat makan siang," ucap Dirga menatap Rullina yang sedari tadi hanya diam mendengar dan nampak heran melihat perhatian Dirga yang tidak biasa pada Monaliza.
"Ayo, tunggu apalagi? Cepat kau pergi dari sini," usir Dirga masih dengan tatapan datarnya melihat kearah Rullina yang belum mau beranjak dari belakang meja resepaionis.
"B-baik Pak," Rullina buru-buru meraih tas-nya dari laci kerjanya. Sedetikpun ia tidak mau menunda waktu lagi, wajah bos-nya itu terlihat semakin angker pada pemandangannya.
"Tapi Ru, kau jangan pergi dari sini," pinta Monaliza memegang lengan Rullina.
"Aku pergi sebentar Mona, perutku sudah sangat lapar," kata Rullina lalu bergegas meninggalkan tempat itu. Sekilas, dari ekor matanya ia dapat melihat Dirga segera menggantikan dirinya duduk dikursinya.
"Maafkan saya Pak, saya tidak bisa dekat dengan Anda," ucap Monaliza ingin ikut beranjak pergi, melihat Dirga tanpa sungkan duduk dikursi Rullina.
"Kau tidak boleh kemana-mana, aku ada disini untuk memastikan kalau dirimu benar-benar menghabiskan makan siangmu ini," kata Dirga sambil mengeluarkan kotak-kotak makanan dari dalam tas plastik dengan sikap tenangnya yang menyebalkan.
"Tapi Bapak-," Monaliza tidak meneruskan ucapannya, ia hanya memberi isyarat dengan menutup hidungnya dengan tangannya.
Dirga mengangkat kedua tangannya lalu membaui dirinya sendiri, "saya sudah tidak bau parfum lagi, saya sengaja mengganti kemeja saya dengan yang baru dan tidak menyemprotkan parfum pada kemeja saya ini, supaya kejadian tadi pagi tidak terulang lagi," ucap Dirga.
Monaliza menyingkirkan tangannya dari hidungnya, dan ia mulai mengendus-enduskan hidungnya. Memang benar, parfum yang memabukan milik Dirga tidak tercium, malahan aroma makanan dari kotak-kotak makanan yang dibuka Dirga menyeruak masuk kehidungnya, membuat perutnya terasa lapar dan berbunyi halus namun bisa terdengar oleh Dirga.
__ADS_1
"Ayo, duduklah. Aku tidak mau anakku yang ada dalam kandunganmu itu kelaparan karena ibunya," ucap Dirga menunjuk kursi dibelakang Monaliza.