CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
93. Pertengkaran Dua Besan


__ADS_3

Nyonya Gamsonrich menatap kearah pintu ketika mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Nampak suaminya masuk, menutup pintu dengan rapat dibelakangnya lalu melangkah mendekatinya.


"Papa sudah pulang?" tanya nyonya Gamsonrich berusaha duduk. Morgan dengan sigap membantu dan menyandarkan isterinya pada sandaran ranjang mereka dengan terlebih dahulu menaruh salah satu bantal sebagai alas punggung isterinya.


"Iya Ma, Papa baru saja tiba dan langsung kemari untuk melihat kedaaan Mama. Apa Mama sudah merasa lebih baik?" sahut Morgan dan ikut duduk disamping isterinya.


"Mama masih sedikit pusing, mungkin karena tidak tidur semalaman Pa," ujarnya sambil memegang kepalanya yang terasa pening.


Morgan mendesah, "kata dokter Aldovier, Mama tidak boleh mengualangi apa yang telah Mama lakukan semalam, pulang pagi, itu akan membahayakan kesehatanmu Ma."


"Iya Pa, Mama mengerti," nyonya Gamsonrich lalu menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami. Suami yang selalu sabar menghadapi dirinya dengan sikap otoriter yang dimilikinya. Bahkan selalu mengalah, hanya karena tidak ingin ada keributan dalam rumah tangga mereka. Apapun yang diinginkan isterinya, Morgan selalu berusaha memenuhi apapun resikonya, termasuk menikahkan Leon putra bungsunya waktu itu.


"Pa, aku menyesal," lirih nyonya Gamsonrich.


"Menyesal? Menyesal tentang apa Ma?" tanya Morgan.


"Memaksa Leon menikahi perempuan ****** itu." ucapnya dengan suara sedikit emosi saat mengingat kejadian semalam, ia sama sekali tidak bisa mentolerir apapun bila menyangkut hal perselingkuhan apalagi sampai tidur bersama seperti yang telah dilakukan oleh Nadya menantunya itu.


Morgan hanya diam, ia tidak bisa berkata apa-apa. Karena waktu itu, ia sudah melarang isterinya melanjutkan niatnya, dan bila membahasnya, tentu saja mereka akan bertengkar, dan hal itu selalu Morgan hindari, apalagi saat ini, ada banyak masalah yang harus dirinya selesaikan, baik itu urusan putranya Leon begitu pula urusan pekerjaan yang lumayan semraut karena Leon yang tidak berkerja semenjak pernikahannya tiga bulan yang lalu.


"Pa, aku tahu Nadya anak manja, karena dia putra tunggal tuan dan nyonya Wirelles Nongka, tapi aku tidak mengangka kalau kelakuannya seperti itu, sangat menjijikan," adunya dengan raut penyesalan.


"Sudahlah Ma, jangan diteruskan lagi. Aku sudah mendengar semuanya dari Keny," ucap Morgan tidak ingin melanjutkan obrolan tentang menantunya itu, dirinya pun merasakan hal yang sama, jijik sudah pasti, menyesal dan malu memiliki menantu seperti Nadya.


"Aku minta maaf Pa, semua ini salahku," ucapnya sendu.


"Mama harusnya meminta maaf pada Leon, bukan kepada Papa. Karena Leon-lah yang merasakan semua akibat dari perjodohan paksa mama itu," ungkap Morgan tanpa bermaksud mengungkit hal itu.


"Iya Pa, Papa benar," ucap nyonya Gamsonrich masih sendu, mengingat nasib malang yang dialami putranya, memiliki isteri yang tidak bisa menjaga kehormatan rumah tangganya.


Ia tiba-tiba terhenyak saat pikirannya melayang teringat putra bungsunya itu, "Pa, Leon belum tahu kan kejadian ini?" tanya nyonya Gamsonrich dengan raut khawatir.


"Entahlah, tadi pagi-pagi sekali, bibi An menelpon, katanya Leon belum bangun dari mabuknya semalam," sahut Morgan, saat mengingat sebelum berangkat berkerja bibi Arla menyampaikan ada telepon dari apartemen Leon.


"Jangan katakan ini pada Leon, Mama tidak mau Leon sedih mendengar ulah bejat isterinya itu," ucapnya menatap wajah suaminya.

__ADS_1


"Cepat atau lambat, Leon pasti tahu." ucap Morgan turut menatap isterinya sambil merapikan rambut isterinya yang sedikit berantakan.


"Sudahlah, tidak perlu difikirkan. Ingat, kesehatan Mama jauh lebih penting. Papa mau mandi dulu." Morgan bangkit setelah mendapat anggukan dari isterinya. ia melangkah masuk kekamar mandi.


Sayup-sayup, terdengar suara gemericik air didalam kamar mandi, pertanda Morgan sedang melakukan ritual mandinya. Setelah dua puluh menit berlalu ia keluar dengan wajah segarnya dan masih menggunakan handuknya mendekati sang isteri di tempat tidur.


"Ayo, sekarang giliran Mama yang mandi, Papa sudah menyiapkan air hangat di bak mandi." katanya dengan senyum tergambar diwajahnya.


Nyonya Gamsonrich balas tersenyum, ia bergeser dari duduknya semula menuju tepi tempat tidur. Dengan sabar, Morgan membantu dan menuntun isterinya kekamar mandi dan meninggalkannya didalam sana sendiri untuk mandi.


Setelah menyelesaikan mandinya dan berpakaian dengan rapi, nyonya Gamsonrich dan suaminya menuju meja makan untuk makan malam bersama.


Walau sedikit lambat, karena sempat membahas kejadian semalam, namun keduanya tetap dapat menikmati acara makan malam berdua seperti biasanya.


"Maaf Tuan dan Nyonya," bibi Arla datang tergopoh-gopoh.


"Ada apa Bi?" tanya nyonya Gamsonrich memandang pada asisten rumah tangganya itu.


"Itu Nyonya, Tuan dan Nyonya Nongka ada didepan, memaksa ingin bertemu sambil marah-marah," ucap bibi terlihat takut. Nyonya Gamsonrich saling perpandangan sesaat dengan suaminya. Keduanya langsung sama-sama berfikir bila kedatangan kedua besan mereka itu ada hubungannya dengan apa yang telah terjadi semalam.


"Bibi, sebentar lagi kami akan kesana," terang Morgan kemudian.


"Bagaimana ini Pa?" raut wajah nyonya Gamsonrich nampak panik.


"Tenaglah Ma, kita akan menghadapinya bersama. Selesaikan dulu makan malam Mama," ucap Morgan menenangkan isterinya yang terlihat panik.


Walau nampak sudah tidak berselera, nyonya Gamsonrich tetap melanjutkan makan malamnya, begitu pula dengan suaminya. Setelah selesai, kedua lalu beranjak menuju ruang tamu depan dimana kedua besan mereka sudah menunggu dengan tidak sabar.


"Selamat malam tuan dan nyonya Nongka," sapa Morgan berusaha ramah pada kedua besannya yang sedang bertamu dirumahnya, walau sebenarnya dirinya sangat dongkol melihat keduanya membuat keributan dengan memarahi para asisten rumah tangganya.


"Akhirnya tuan dan nyonya Gamsonrich muncul juga," ucap tuan Nongka dengan wajah sinis.


"Mari silahkan duduk Tuan dan Nyonya," kembali Morgan berucap dan bersikap sopan, mempersilahkan kedua besannya itu duduk pada sofa.


"Kenapa nyonya tega mengurung putri kami didalam kamar apartemen sejak semalam, dan baru mengeluarkannya sore tadi?" tanya nyonya Nongka tanpa basa-basi dengan nada kasarnya, membuat nyonya Gamsonrich tersulut emosi.

__ADS_1


"Apa Nadya tidak memberi tahu kenapa saya, ibu mertuanya sampai tega mengurungnya dikamar apartemen itu?" balas nyonya Gamsonrich kasar. Tidak ada lagi perkataan lemah lembut dan penghormatan yang sering kedua wanita paruh baya itu pertunjukan saat keduanya sedang bersama mengobrol dan kompak berangkat arisan sosialita bersama.


Tuan dan Nyonya Wongka saling berpandangan sesaat, wajah mereka semakin terlihat geram mendengar pengakuan besan mereka itu.


"Jadi benar, Nyonya sengaja mengurung putri kesayangan kami dikamar apartemen itu?!" sahut tuan Nongka naik pitam seraya berdiri dari duduknya dan menatap nyalang pada nyonya Gamsonrich.


Melihat situasi yang semakin memanas, Morgan turut berdiri, berusaha mendinginkan suasana, "Mohon sabar tuan Nongka, kita harus bicarakan masalah ini dengan kepala dingin. Ayo, Mari silahkan duduk kembali Tuan," ucap Morgan sambil memegang tangan besannya.


"Saya tidak terima kalau putri saya diperlakukan seperti itu," ucap tuan Nongka sambil mendudukan dirinya kembali di sofa, mengikuti apa yang diminta oleh Morgan besannya.


"Nyonya adalah ibu mertua yang jahat!" imbuh tuan Nongka lagi dengan nada masih emosi sambil menunjuk wajah besan perempuannya itu.


"Saya juga tidak terima kalau putri anda Nadya berselingkuh dengan pria lain! Dia sudah mencurangi putra kami Leon! Nadya sudah menghianati pernikahannya!" ucap nyonya Gamsonrich setengah berteriak, meluapkan kekesalannya sejak semalan belum juga mereda pada sang menantu.


"Bohong!!" teriak tuan dan nyonya Nongka bersamaan dengan wajah memerah menahan marah yang sudah sampai diubun-ubun, mendengar tuduhan tidak bermoral pada putri kesayangannya.


"Saya tidak bohong! Saya sendiri yang menangkap basah Nadya sedang berlaku khianat bersama laki-laki itu. Saya sudah mengirim pakaian mereka langsung kekediaman Tuan dan Nyonya.


"Kami tidak percaya, karena Nadya mengatakan itu pakaian sahabatnya," sahut nyonya Nongka membantah.


"Kasihan sekali, orang hebat dan terhormat seperti tuan dan nyonya Nongka ternyata bisa dikelabui oleh sikap putri kesayangannya," sarkas nyonya Gamsonrich.


"Saya bisa menunjukan beberapa bukti lain jika apa yang saya katakan ini benar," imbuh nyonya Gamsonrich masih dalam mode kesalnya.


"Nyonya, anda tidak perlu mencari-cari kesalahan putri kami Nadya sedangkan Leon, putra Anda adalah suami yang tidak bertanggung jawab, sering meninggalkan isterinya seorang diri." ucap nyonya Nongka masih tidak percaya atas semua ucapan nyonya Gamsonrich tentang putrinya.


"Ayo Pa, kita pulang sekarang!" ucapnya sambil berdiri dan menarik tangan suaminya.


"Dan satu lagi, bila kekurangan putramu kau timpakan pada putri kami, tentu saja kami tidak terima," ucap nyonya Nongka lagi, menghentikan langkahnya diujung sofa.


"Apa maksud Nyonya dengan kekurangan putra saya Leon?" tanya nyinya Gamsonrich.


"Leon mandul, dan kalian sengaja menyembunyikan ini dari kami. Itu sebabnya, Nadya tidak hamil-hamil sampai sekarang!" ketus nyonya Nongka.


Nyonya Gamsonrich terhenyak, begitu pula dengan suaminya, raut wajah mereka nampak tidak percaya mendengar perkataan besan mereka itu.

__ADS_1


"Pura-pura kaget?! Tidak usah bersandiwara! Ayo Pa, kita pergi!" sinis nyonya Nongka menarik paksa lengan suaminya tanpa berpamitan pada tuan rumah.


Bersambung...👉


__ADS_2