
Dirga menekan tombol bel dekat ranjang pasien untuk memanggil suster datang keruangan Monaliza.
"Aku akan membantu menyuapimu makan," ucap Dirga. Ia menggeser kursi kedekat ranjang Monalisa dan duduk dihadapan gadis itu.
Dirga mulai menyendokan makanan dari kotak makanan yang sedang dipegangnya dan menyuapkannya ke mulut Monaliza yang mengawasi gerak-geriknya dengan mata sayunya.
Monaliza menatap sebentar wajah Dirga, ia terlihat ragu, tapi perutnya yang lapar memaksanya untuk menerima suapan yang diberikan oleh bos-nya itu.
Dirga menatap Monaliza yang melahap habis setiap suapan yang masuk kemulutnya tanpa ragu. Gadis itu memang terlihat sangat lapar.
Tidak menunggu lama, kotak makanan ditangan Dirga akhirnya bersih tanpa sisa.
"Kau masih lapar?" tanya Dirga, saat dilihatnya gadis itu masih melirik kekotak makanan yang sudah kosong ditangannya.
"I-iya pak, saya masih lapar," sahut Monaliza jujur walau merasa sedikit malu, karena perutnya tidak bisa dibohongi, masih menuntut minta untuk diisi lagi.
"Kau ingin makan apa?" tanya Dirga.
"Seperti yang tadi saja pak," sahut Monaliza tanpa berfikir lagi.
"Berapa porsi?" tanya Dirga lagi, dia khawatir memesan satu porsi akan kurang seperti sebelumnya.
"Satu saja pak," sahut Monaliza.
"Kau yakin tidak merasa kurang," tanya Dirga memastikan.
Monaliza menatap wajah Dirga, lalu mengangguk pelan," satu saja cukup pak," sahutnya lirih.
"Baiklah, tunggu sebentar, aku akan memesankan makanan yang tadi lagi untukmu dengan cepat," ucap Dirga, ia meraih ponsel disaku celananya lalu menelpon Firans yang berada diluar ruangan.
"Firans, pesankan satu porsi bubur ayam hati, segera," perintah Dirga lewat telepon.
""Baik," sahut Firans.
Selesai menelpon, Dirga bangkit dari duduknya.
"Pak Dirga mau kemana?" tanya Monaliza dengan mimik cemas.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Dirga heran mendapat pertanyaan Monaliza.
"Jangan tinggalkan saya pak, saya takut," ucap Monaliza masih dengan wajah cemasnya.
Dirga mendesah kasar, "ini sudah tidak benar, tidak mungkin aku menemaninya terus-terusan begini," batin Dirga.
"Tapi tidak mungkin juga aku meninggalkannya begitu saja dalam keadaan seperti ini," Dirga merasa Dilema, antara rasa kemanusiaan dan kesibukan kerjanya yang juga sedang menuntutnya harus berkerja keras demi pegawainya yang hampir dua ribu jiwa ada dalam tanggung jawabnya.
"Saya ke toilet dulu, membersihkan tangan, dan kotak makanan yang telah kau gunakan ini," sahut Dirga datar berusaha sabar.
Monaliza menganggukan kepalanya pelan setelah mendengar jawaban Dirga.
Tok! Tok! Tok!
Dirga buru-buru keluar dari toilet saat mendengar suara ketukan pintu, ia yakin Monaliza pasti ketakutan mendengarnya.
Benar saja, Monaliza meringkuk disudut tempat tidurnya sambil memeluk kedua kakinya yang menekuk didada.
"Ja-jangan dibuka pak," larang Monaliza, saat di lihatnya Dirga berjalan kearah pintu ruang rawat inapnya.
Monaliza tidak menjawab, ia hanya mengawasi dengan penuh kewaspadaan dari sudut tempat tidurnya kearah daun pintu yang sedang dibuka oleh Dirga.
"Selamat siang pak Dirga, saya datang kemari karena dari ruangan ini ada yang menekan bel panggilan darurat," ucap suster yang baru datang itu.
"Saya yang menekan bel-nya tadi sus. Tolong berikan pakaian ganti pasien, tadi sempat terkena tumpahan makanan." ucap Dirga.
"Baiklah pak, saya akan bawakan pakaian gantinya nanti kemari." sahut suster itu. Ia lalu berpamitan untuk melakukan apa yang diminta oleh Dirga padanya.
Tidak lama setelah suster itu pergi, terdengar lagi ketukan pintu. Monaliza kembali mengawasi pintu dengan penuh kewaspadaan.
"Jangan takut, itu mungkin pesanan makananmu sudah tiba," ucap Dirga sambil berjalan kearah pintu.
"Ini, bubur ayam hati yang kau pesan tadi," ucap Firans dari depan pintu. Ia sebenarnya penasaran ingin melihat kedalam, namun takut diusir Monaliza untuk kedua kalinya bila melihatnya lagi.
"Terima kasih," ucap Dirga. Ia lalu menutup pintu kembali dengan rapat, dan membiarkan Firans menunggunya lagi diluar.
"Benarkan apa kataku, makan siangmu sudah datang," ucap Dirga sambil mendekati Monaliza diranjang pasiennya.
__ADS_1
"Ayo, lanjutkan lagi makan siangmu, ini masih panas, pasti sangat enak," imbuh Dirga, sambil menyendok dan meniupnya supaya tidak terlalu panas.
Monaliza beranjak dari sudut tempat tidurnya menuju tepi ranjang mendekati Dirga yang memegang kotak makanan.
Kembali Monaliza menerima suapan demi suapan yang diberikan Dirga kemulutnya. Tanpa ragu ia menelannya hanya beberapa kali kunyahan saja.
Tok! Tok! Tok!
Kembali terdengar ketukan pintu. Seperti yang sudah-sudah, wajah Monaliza terlihat cemas menatap Dirga yang sedang menyuapinya makan.
"Jangan takut, itu sepertinya suster tadi yang kuminta untuk membawa pakaian gantimu yang kotor itu," ucap Dirga pada Monaliza. Monaliza langsung merasa tenang, karena sudah dua kali perkataan Dirga selalu benar saat ada orang yang mengetuk-ngetuk pintu sebelumnya.
"Tunggu sebentar, aku akan membukakan pintu," Dirga meletakan kotak makanan diatas nakas lalu bergegas menuju pintu untuk membukanya.
"Selamat siang pak Dirga, ini pakaian ganti pasien yang anda minta tadi," ucap suster yang sebelumnya datang menemui Dirga.
"Terima kasih banyak suster," ucap Dirga sambil mengulas senyum tipisnya pada sang suter.
"Sama-sama pak Dirga. Apakah masih ada yang anda perlukan lagi?" tanya sang suster lagi.
"Untuk sementara sudah cukup suster, terima kasih banyak." sahut Dirga.
"Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu pak Dirga," pamit suster itu. Dirga kembali menutup pintu rapat setelah suster itu pergi meninggalkan ruangan itu.
"Benarkan kataku, suster itu yang datang membawakan pakaian ganti untukmu," ucap Dirga membawa paper bag ditangannya mendekati Monaliza yang sedari tadi mengawasi dirinya.
"Ayo, dihabiskan dulu makan siangmu, setelah itu kau boleh mengganti pakaianmu," Monaliza hanya mengangguk, menuruti kata-kata Dirga. Ia kembali membuka mulutnya, menerima suapan demi suapan dari tangan Dirga.
Monaliza merasa percaya pada pria dihadapannya itu, yang menurutnya cukup banyak membantunya. Mulai dari menyelamatkannya dari pria yang hampir saja memperkosanya semalam, hingga menemani dan membantu menyuapi dirinya dengan telaten siang ini. Dan setiap keterangan yang disampaikannya tentang orang yang mengetuk pintu ruang rawat inapnya selalu benar dan tepat.
"Sudah habis, apakah kau sudah kenyang? Atau masih lapar lagi?" tanya Dirga, dalam hati ia merasa was-was, jangan-jangan Monaliza mengatakan dirinya masih lapar lagi.
"Saya sudah kenyang pak," sahut Monaliza, membuat Dirga merasa lega atas jawaban gadis itu.
"Ini pakaian gantimu, kau boleh menggantinya sekarang," Dirga menyodorkan paper bag yang telah diberikan suster padanya tadi kepada Monaliza.
Gadis itu menerima paper bag dari Dirga, bibirnya sedikit terbuka, ingin mengatakan sesuatu, tapi ia segera mengurungkannya karena merasa sudah terlalu banyak merepotkan pria yang berstatus bos-nya itu.
__ADS_1