
Monaliza masuk bersama Dirga, sekilas ia memperhatikan ruangan VIP yang mewah itu. Seorang pria dan seorang wanita sedang duduk membelakangi pintu masuk sambil menatap layar tablet yang sedang menayangkan sesuatu diatas meja. Nampaknya mereka adalah sepasang suami isteri, batin Monaliza.
"Selamat malam Papa, Mama," sapa Dirga sambil berpelukan dan mencium pipi kiri dan kanan kedua orang tua yang berusia paruh baya dan terlihat masih enerjik itu.
Monaliza yang berjalan dibelakang Dirga menghentikan langkahnya kembali didekat pintu, dan hanya memperhatikan keakraban yang ditampilkan Dirga bersama kedua orang tua itu selayaknya orang tuanya sendiri.
Dilihat dari penampilan kedua orang tua itu, cara mereka berpakaian, cara mereka berkomunikasi dengan Dirga, Monaliza dapat menilai bahwa mereka bukanlah orang biasa yang berstatus sosial rendah seperti dirinya.
Rasa was-was kembali menyelimuti hatinya, ia merasa khawatir dirinya tidak diterima oleh kedua orang tua tersebut, apalagi Dirga terlihat sangat akrab dan memanggil mereka sama seperti pada kedua orang tuanya sendiri, mungkin saja mereka keluarga terdekat Dirga atau paman dan bibinya, fikir Monaliza, ia merasa trauma bertemu orang-orang kelas atas seperti mereka.
Kehadirannya malam ini disana kembali mengingatkan Monaliza pada peristiwa dimana dirinya mendapat hinaan dari ibu Leon beberapa waktu lalu, ingatan itu akhirnya membuatnya merasa tidak tenang.
"Kau sendiri Dirga? Mana wanita yang ingin kau kenalkan pada kami itu?" tanya sang wanita paruh baya menoleh ke kiri dan kanan.
"Monaliza, kemarilah!" panggil Dirga pada Monaliza yang berdiri tidak jauh dari pintu masuk. Ia tidak tahu bila Monaliza sebenarnya sangat gugup.
Pria dan wanita paruh baya itu serta merta menoleh, pandangan mereka yang bertubrukan pada sosok Monaliza membuat kedua orang tua itu tanpa sadar membalikkan tubuh mereka dan keluar dari area kursi.
"Ini tidak mungkin, " gumam sang wanita paruh baya dengan suara gemetar, ia memandang pria paruh baya disampingnya dengan bibir bergetar. "Mungkinkah didunia ini ada manusia yang begitu mirip dilahirkan dari rahim yang berbeda?" gumamnya lagi. Pria paruh baya itu hanya membalas tatapan isterinya dengan sorot sama tak percayanya, namun tidak satu patah katapun keluar dari bibirnya untuk menjawab perkataan isterinya.
"Salam Tuan dan Nyonya, saya Monaliza," sapa Monaliza dengan gesture sopannya sambil menangkupkan kedua tangan didepan dadanya, sambil terus menenangkan dirinya sendiri supaya tidak terlihat gugup. Ia pun tidak tahu harus menyapa seperti apa, karena Dirga tidak mengatakan apapun padanya tentang siapa yang akan mereka temui.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu perlahan-lahan melangkahkan kakinya mendekati Monaliza yang sedang mengulas senyum tipisnya, menelisik setiap bagian pada wajah wanita muda didepannya, lalu turun hingga kekakinya dan kembali lagi kewajahnya dengan tatapan tak percaya. Monaliza yang mendapat perlakuan demikian semakin merasa gugup.
"Siapa namamu Nak?" tanya wanita paruh baya itu lagi, seakan lupa bila Monaliza telah memperkenalkan dirinya sebelumnya. Suaranya terdengar lembut dan teduh bagai telaga, membuat Monaliza terperangah didalam hati mendengarnya, rasa gugupnya langsung menguap begitu saja.
Dirga dan pria paruh baya yang berdiri berdampingan saling melirik satu sama lain lalu kembali memperhatikan Monaliza dan wanita paruh baya yang sedang berinteraksi satu sama lain.
"Saya Monaliza Nyonya," sahut Monaliza masih dengan sikap gesture tubuhnya yang masih sopan dan tetap tersenyum. Didalam hatinya, ia merasa wanita paruh baya itu bersikap sama dengan para pelayan yang ia temui dibawah sana saat melihat dirinya, namun ia masih belum tahu apa yang menyebabkan mereka bersikap demikian.
"Monaliza? Apakah kau punya nama lain? Misalnya Megan? Dan siapa orang tuamu? Dimana mereka tinggal? Apakah kau anak tunggal?" cecar wanita paruh baya itu dengan pertanyaan beruntunnya membuat Monaliza terdiam sesaat karena masih bingung dengan sikap wanita paruh baya itu.
Memori Monaliza langsung mengingat sesuatu, Dirga bos-nya itu memiliki seorang tunangan bernama Megan, sama seperti nama yang disebutkan oleh wanita paruh baya itu.
Mungkin kedua orang tua paruh baya itu adalah orang tua Megan, fikirnya didalam hati. Karena dari wajah wanita paruh baya itu, Monaliza melihat ada kemiripan dengan wajah mendiang tunangan Dirga yang kerap kali datang berkunjung ke Perusahaan mereka untuk menemui Dirga kala itu.
"Maafkan saya," ucap sang wanita paruh baya pada Monaliza setelah mendengar perkataan sang pria paruh baya.
"Tidak masalah Nyonya," sahut Monaliza kembali tersenyum. "Dirumah, saya dipanggil Mona. Ayah saya sudah tiada, jadi saya hidup bersama ibu dan keempat adik saya yang masih kecil," kata Monaliza menjawab semua pertanyaan wanita paruh baya itu dengan satu kalimat singkatnya sambil tersenyum.
"Oh, maafkan saya, kami turut berbelasungkawa atas meninggalnya ayahmu Nak," ucap wanita paruh baya itu merasa tidak enak.
"Terima kasih. Tidak apa-apa Nyonya," kata Monaliza sembari mengulas senyum tipis diujung bibirnya.
__ADS_1
"Saya ibu Han dan ini suami saya, pak Han," ucap wanita paruh baya itu memperkenal dirinya sambil menyentuh lengan suaminya yang berdiri disebelahnya.
"Kami berdua adalah kedua orang tua dari mendiang Megan, tunangan nak Dirga." sambung ibu Han memberikan senyum hangatnya.
"Oh, senang sekali bisa bertemu dengan Tuan dan Nyonya disini. Pantas saja wajah Nyonya sangat mirip dengan mendiang Nona Megan, saya memang sempat beberapa kali melihat beliau saat berkunjung ke Perusahaan Surya Otomotif," ucap Monaliza menatap raut ramah ibu Han.
"Tidak perlu terlalu formal, panggil saja saya Mama, dan suami saya Papa, bukankah kalian sebentar lagi akan menikah?" ungkap ibu Han membuat Monaliza menatap kearah Dirga. Dirga yang ditatap hanya menunjukan ekspresi wajah datarnya saja.
"Walau nak Dirga tidak bersama mendiang putri kami lagi, tapi kami sudah menganggapnya putra kami sendiri," imbuh ibu Han lagi.
"Bolehkah saya memelukmu Nak Mona?" tanya ibu Han meminta izin dengan sorot kerinduan terpancar dari matanya.
"Iya Nyonya." Kedua tangan ibu Han langsung mengembang dan memeluk tubuh Monaliza yang berdiri dihadapannya, "Bukan Nyonya, tapi panggil Mama," lirih ibu Han sambil memejamlan matanya seakan menemukan putrinya yang sudah lama pergi.
Monàliza turut memberikan pelukan hangatnya ketika dirasanya ibu Han semakin erat mendekapnya. Saat ini hatinya merasa sangat lega, ternyata apa yang ia khawatirkan tidak terjadi. Dirga benar, ternyata mereka memang orang-orang yang baik, batinya.
Monaliza segera mengalihkan pandangannya, ketika matanya tidak sengaja bersitatap dengan sepasang mata Dirga yang melihatnya dengan cara yang berbeda dari biasanya.
Setelah merasa cukup puas berpelukan, ibu Han akhirnya melonggarkan dekapannya sambil memandangi wajah Monaliza.
"Sepertinya malam ini Mama ingin kita memakan hasil tangan Mama sendiri, bagaimana Dirga, Papa? Apakah kalian tidak keberatan?" tanya ibu Han menoleh pada kedua pria beda generasi yang tengah menatap dirinya ketika nama mereka disebut.
__ADS_1
"Tentu saja tidak keberatan Ma," sahut Dirga dan pak Han hampir bersamaan.