
"Akhirnya, ada juga wanita yang boleh duduk didalam mobilmu Dirga," ledek Firans pada Dirga. Ia sengaja mengintip dari jendela ruang kerja Dirga saat melihat bosnya datang dan memarkirkan mobilnya diparkiran perkantoran mereka.
"Jangan meledekku Firans, aku ini bos-mu," sergah Dirga datar sambil mendudukan dirinya pada kursi kerjanya.
"Katakan, apa keperluanmu masuk keruanganku?" tanya Dirga memandang asistennya itu seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dibelakangnya.
"Ini, lihatlah!" Firans memberikan berkas didalam map yang ia bawa pada Dirga.
"Apa ini?" tanya Dirga sambil menerima berkas yang diberikan Firans padanya
"Itu adalah rekapitulasi penjualan selama tiga bulan terakhir, kerjasama antara Perusahaan Surya Otomotif dengan leasing PT.IFF. Dan selama tiga bulan berturut-turut, penjualan Perusahaan Surya Otomotif sudah memenuhi bahkan melebihi target yang diminta oleh leasing PT. IFF." Tunjuk Firans ketika Dirga membuka berkas dihalaman pertama dari dalam Map yang ia berikan. Dirga yang mendengar penjelasan Firans hanya menganguk-anggukan kepalanya menatap tulisan dilembaran kertas dihadapannya lalu membuka lembar yang kedua.
"Nah, itu pencairan dana yang telah ditransfer oleh PT. IFF ke rekening Perusahaan Surya Otomotoif sesuai dengan kerjasama penjualan kita selama tiga bulan terakhir. Bagaimana menurutmu Dirga? Lumayankan?" ucap Firans sambil tersenyum senang.
"Ini bukan lumayan lagi Firans, tapi sangat luar biasa untuk pendapatan Perusahaan Ini. Terima kasih banyak Firans," kata Dirga sambil mengukir senyum diwajahnya menatap total angka yang berjumlah sebelas digit pada laporan keuangan perusahaannya.
"Kau tahu Firans, pendapatan dari hasil penjualan ini bagaikan hujan dimusim kemarau bagi Perusahaan Surya Otomotif. Jadi kita tidak perlu khawatir lagi, semua tagihan-tagihan itu bisa kita lunasi," imbuh Dirga dengan perasaan lega, lalu membuka lembaran berikutnya.
"Iya, kau benar Dirga," sahut Firans ikut tersenyum senang.
"Dan lembaran yang kau buka selanjutnya itu adalah bonus yang diberikan oleh leasing PT. IFF pada para pegawai termasuk dirimu Dirga, seperti yang telah mereka janjikan pada Perusahaan kita, liburan ke Jepang," Jelas Firans lagi, saat melihat lembaran berkas selanjutnya yang dibuka oleh Dirga.
Dirga memperhatikan dengan cermat, nama demi nama yang mendapat bonus liburan ke Jepang selama enam hari. Ia mengerutkan keningnya saat melihat satu nama yang menyita perhatiannya.
"Firans, apakah leasing PT. IFF tidak salah ketik? Dari seratus sepuluh nama yang berhak mendapatkan bonus liburan itu, kenapa ada nama Monaliza Zhue ikut terdaftar disini?" tanya Dirga menatap Firans yang masih berdiri didepannya.
"Tentu saja tidak salah ketik Dirga. Lihat lembaran selanjutnya ini," tangan Firans segera membantu Dirga membuka lembaran berikutnya memperlihatkan daftar nama para pegawai marketing Perusahaannya beserta target yang dicapainya.
"Kau pasti ingatkan, tiga bulan yang lalu aku pernah membawa Monaliza untuk menjadi SPG sehari di showroom bergabung bersama beberapa SPG lainnya?" ujar Firans menatap Dirga lalu kembali beralih pada lembaran berkas diatas meja.
__ADS_1
"Pada daftar penjualan ini, penjualan Monaliza nomor urut dua tertinggi, itu baru sehari dia diperbantukan disana. Sepertinya Monaliza sangat cocok menjadi seorang marketing," puji Firans sambil mengerlingkan matanya menatap wajah Dirga yang tidak menunjukan ekspresi apapun.
Dirga hanya menatap datar pada Firans, tidak berniat memberi respon apapun pada apa yang dikatakan oleh asisten pribadinya itu.
"Firans, Monaliza tidak boleh kemana-mana. Alihkan saja bonus liburan miliknya pada pegawai marketing yang lain saja," ucap Dirga setelah beberapa saat lamanya ia terdiam.
"Kenapa?" tanya Firans penasaran.
"Aku tidak mau apa yang pernah terjadi pada mendiang Megan akan terjadi pada Monaliza," sahut Dirga memberi alasan, wajahnya terlihat sedikit muram, sepertinya trauma masa lalu itu kembali membayangi ingatannya.
Selama ini dirinya sudah berusaha keras melupakan kejadian tragis yang menimpa mendiang tunangannya yang saat itu juga akan pergi ke Jepang menjelang ajalnya.
"Dirga, itu belum tentu terjadi, nasib manusia kan berbeda-beda," kata Firans berusaha memberi pemahaman pada sahabatnya itu.
"Perkataanmu memang benar Firans, tapi aku tidak berani mengambil resiko. Aku tidak mau kehilangan untuk kedua kalinya," ungkap Dirga mewakili rasa yang pernah ia alami selama ini.
"Takut kehilangan kedua kali? Apa itu artinya Monaliza sudah dapat menggantikan posisi mendiang Megan dihatimu?" jiwa kepo Firans berusaha mendapatkan jawaban dari pertanyaannya itu.
"Firans, bonus liburan ke Jepang untukku aku alihkan untukmu saja. Anggap saja sebagai hadiah kerja kerasmu sebagai asisten pribadiku," ucap Dirga membuyarkan lamunan Firans.
"Terima kasih Dirga, kau baik sekali. Tahu saja kalau diriku butuh liburan," ucap Firans senang bukan kepalang sambil tersenyum lebar memandang wajah Dirga.
"Sama-sama, tapi ada syaratnya," sahut Dirga memandang Firans dengan senyum disudut bibirnya.
"Syarat? Aku sudah menduganya, kau tidak mungkin memberinya gratis kan?" senyum diwajah Firans segera memudar, was-was bila syaratnya terlampau berat baginya.
"Jangan khawatir, aku tidak akan memberikan syarat yang berat untukmu Firans," ucap Dirga seakan mengerti apa yang sedang difikirkan Firans ketika melihat roman wajah asistennya itu berubah.
"Persiapkan pernikahanku satu minggu lagi," sambung Dirga mengejutkan Firans.
__ADS_1
"Apa? Pernikahan? Satu minggu lagi?" tanya Firans terpana menatap Dirga, roman ketidak percayaan terpancar dari wajahnya.
"Iya. Aku tidak perlu mengulang perkataanku lagi, segera persiapkan pernikahanku. Setelah itu kau boleh berlibur," putus Dirga, ia tahu ada banyak yang ingin ditanyakan asistennya itu.
Kring! Kring! Kring!
Dirga dan Firans saling berpandangan, lalu kembali menatap pesawat telepon yang tengah berdering diatas meja kerja Dirga.
"Ayo, angkat Firans. Tidak mungkin kan bila kau menyuruhku yang mengangkatnya," ucap Dirga sembari menatap Firans yang masih berdiam diri.
"Hallo, saya Firans, asisten pribadi Pak Dirga. Ada yang bisa dibantu?" tanya Firans begitu gagang telepon menempel pada daun telinganya.
".......," Firans mendengar suara kegugupan Rullina dari seberang sambungan telepon.
"Tidak mungkin!" wajah Firans nampak sangat terkejut.
"......." kembali terdengar suara Rullina berbicara dengan terburu-buru.
"Baiklah. Terima kasih," Firans menutup telepon dan meletakannya kembali ditempatnya dengan tangan gemetar.
"Apa yang yang terjadi? Apa yang dikatakan Rullina padamu Firans?" tanya Dirga penasaran, ketika dilihatnya ketegangan diwajah Firans hingga membuat tangan asistennya itu gemetar.
"Monaliza, dia buru-buru kerumah sakit. Rullina sudah melarangnya, tapi dia tetap memaksa untuk pergi. Leon meninggal," ucap Firans masih dengan wajah tegangnya.
"Apa?! Leon meninggal?!" Dirga yang kaget segera berdiri, meraih kunci mobilnya dari dalam laci meja kerjanya, dan bergegas menuju pintu.
"Kau mau kemana Dirga?" tanya Firans melongo, ia masih dalam mode keterkejutannya, berita yang ia dengar dari Rullina masih belum dapat ia percaya.
"Menyusul Monaliza. Dia tidak boleh sendiri disana, sangat berbahaya baginya," sahut Dirga lalu menghilang dibalik Pintu.
__ADS_1
...***...