
"Bagaimana pak Dirga? Bukankah calon isteri Anda terlihat sangat cantik mengenakan gaun malam ini?" kata nyonya Viranita, setelah membawa Monaliza keluar dari ruang ganti.
Dirga menatap datar pada Monaliza yang berdiri kaku dihadapannya ditemani nyonya Viranita, sang pemilik butik yang berdiri disampingnya.
"Cantik dan anggun," sahut Dirga masih datar, setelah dirinya menelisik penampilan calon isterinya itu dari ujung kepala hingga ujung kakinya, lalu kembali lagi keatas, menatap wajah rupawan yang akhir-akhir ini membuat dirinya sulit berpaling. Gaun yang telah ia pesan dua hari yang lalu memang terlihat sangat cocok dikenakan oleh calon isterinya itu.
"Terima kasih nyonya Viranita. Kami harus pergi sekarang," ucap Dirga tersenyum tipis pada sang pemilik butik.
"Sama-sama Pak Dirga, semoga hari Anda berdua selalu menyenangkan," sahut nyonya Viranita tersenyum senang. Ia merasa puas, gaun rancangannya terlihat sangat indah dikenakan oleh Monaliza.
"Pak Dirga," panggil nyonya Viranita lagi, sebelum keduanya melangkah keluar dari butik miliknya.
"Iya nyonya Viranita," sahut Dirga sambil menghentikan langkahnya diikuti oleh Monaliza disebelahnya.
"Bolehkah saya meminta calon isteri pak Dirga untuk menjadi salah satu model fashion dibutik saya in?" tanya nyonya Viranita dengan nada meminta dan penuh harap.
Dirga terdiam sejenak, ia melirik sekilas pada Monaliza yang berdiri disebelahnya lalu kembali memandang kearah nyonya Viranita yang masih menanti jawabannya dengan harap-harap cemas.
"Tergantung pada Monaliza, saya tidak berkeberatan bila ia mau," sahut Dirga. Bukan tanpa alasan dirinya memberi lampu hijau pada nyonya Viranita untuk merekrut calon isterinya itu. Sudah sejak lama keluarganya berlangganan dibutik itu, jadi ia sangat tahu kualitas bahan, dan rancangan dari nyonya Viranita yang sudah tidak diragukan lagi eksistensinya dinegeri ini.
"Bagaimana Nona Monaliza?" tanya nyonya Viranita. Monaliza hanya mengangguk pelan, sambil melirik kaku pada Dirga disampingnya.
"Dan satu hal yang perlu nyonya Viranita ketahui, satu minggu lagi kami akan menikah, dan setelah menikah dia akan mengandung anak kami. Tentu saja saya tidak mengijinkan calon isteri saya ini terlalu lelah untuk berkerja," ujar Dirga masih dengan mode datarnya seperti biasa. Monaliza yang mendengar perkataan Dirga secara spontan mengusap perutnya yang masih rata.
"Iya saya ingat itu pak Dirga, bukankah Anda telah memesan beberapa gaun pengantin dan kebaya modern untuk nona Monaliza disini. Kapan saja nona Monaliza siap, Nona boleh datang ke butik ini menemui saya," kata nyonya Viranita senang mendapat ijin dari Dirga.
"Baiklah Nyonya, kalau begitu kami pamit dulu," kata Dirga kembali berpamitan.
__ADS_1
"Baik Pak Dirga dan nona Monaliza, semoga semua berjalan lancar hingga hari 'H'-nya," kata nyonya Viranita menyelipkan doanya pada pelanggannya yang tinggal menunggu hari akan menikah.
"Terima kasih Nyonya," sahut Dirga. Setelah berkata demikian, keduanya lalu pergi meninggalkan butik nyonya Viranita.
Sepanjang perjalanan, baik Monaliza maupun Dirga, keduanya sama-sama tidak membuka obrolan seperti biasanya. Sesekali Monaliza melirik Dirga yang hanya berpokus pada kemudi dan lalu lintas jalan dihadapannya, sedangkan dirinya yang duduk disebelah kemudi seolah tidak terlihat oleh Dirga, fikir Monaliza didalam hati.
Ia hanya tahu, Dirga meminta ijin pada pada ibunya untuk mengajak dirinya keluar makan malam untuk bertemu dengan kenalannya.
Berbeda bila dirinya berpergian bersama Leon, mantan kekasihnya itu akan mengajaknya mengobrol kesana-kemari sepanjang perjalanan, hingga tidak terasa waktu berputar.
Sesekali Monaliza melirik arloji yang melingkar pada pergelangan tangannya. Ia tidak menyadari bila Dirga sebenarnya juga selalu memperhatikan dirinya secara diam-diam lewat ekor matanya.
Setelah sekian lama berada dalam keramaian lalu lintas, Dirga akhirnya membelokkan kemudi mobilnya memasuki area parkiran restoran yang cukup luas. Ia memarkirkan mobilnya pada sudut kiri yang tidak terlalu jauh dari lobby. Setelah berhasil membuka sabuk pengamannya, Dirga buru-buru keluar terlebih dahulu dan membantu membukakan pintu mobil disamping Monaliza.
Sekalipun Dirga selalu melakukan hal itu, Monaliza masih saja sering terpukau melihatnya mengulurkan tangan kearahnya untuk membantu dirinya keluar dari dalam mobil.
"D-disini?" tanya Monaliza gugup.
"Iya, disini," sahut Dirga masih mengulurkan tangannya.
Monaliza menyambut uluran tangan Dirga. Tidak dipungkiri, hatinya memang selalu berdebar saat kulitnya bersentuhan dengan Dirga. Pria dingin dan datar itu memang tidak seperti yang Monaliza kira, walau tidak bersikap romantis seperti halnya Leon, tapi perhatian Dirga membuat Monaliza benar-benar merasa terlindungi setiap bersamanya.
Dirga memperhatikan penampilan Monaliza dari atas ke bawah dan berbalik ke atas lagi. Monaliza hanya menurut saat Dirga memintanya juga untuk berputar kekiri dan kekanan, sesekali tangan pria itu merapikan gaun malam Monaliza yang terlipat supaya tidak kusut.
"Sudah rapi," gumam Dirga hampir tidak terdengar.
"Ayo, berjalanlah disisiku tanpa ragu, ikuti saja kemana aku akan membawamu," ucap Dirga menatap Monaliza yang masih nampak kikuk saat beradu pandang dengannya.
__ADS_1
"Baik," sahut Monaliza patuh. Ia lalu berjalan disisi Dirga memasuki salah satu restoran ternama di kota itu.
Dua orang pelayan berseragam putih-biru laut menyambut keduanya dengan senyum ramah.
"Selamat malam pak Dirga dan No-na," kedua pelayan itu terperangah melihat kehadiran Monaliza, mereka saling berpandangan satu sama lain, lalu kembali menatap dengan pandangan menelisik pada wanita yang datang bersama Dirga yang sangat mereka kenal.
"Apakah Bapak dan Ibu Han sudah ada direstoran ini?" tanya Dirga, sebelum kedua pelayan itu sempat membuka mulut mereka untuk melontarkan pertanyaannya.
"Sudah pak Dirga, mereka telah menunggu diruangan yang Anda pesan," sahut kedua pelayan itu bersamaan.
"Baik, terima kasih," Dirga lalu berlalu dengan wajah datarnya di ikuti oleh Monaliza yang tetap berjalan disisinya sesuai pesan pria itu padanya saat akan memasuki restoran itu.
Dirga sengaja mengabaikan kedua pelayan itu yang terlihat penasaran pada kehadiran Monaliza bersamanya. Sementara Monaliza yang merasa menjadi pusat perhatian para pelayan mulai dari depan hingga didalam restoran itu hanya bisa mengulas senyum tipisnya menatap mereka. Para pelayan itu terlihat saling berbisik-bisik satu sama lain setelah Monaliza dan Dirga berlalu dari hadapan mereka.
Setelah keluar dari lift dilantai atas, keduanya menuju ruang VIP yang telah dipesan oleh Dirga. Monaliza menghentikan langkahnya tepat didepan pintu, ia tidak langsung ikut masuk bersama Dirga.
Tentu orang yang akan dirinya dan Dirga temui didalam sana pastilah orang yang istimewa, fikir Monaliza. Ia mempersiapkan dirinya sejenak, berharap siapapun yang ada didalam sana bisa menerimanya dengan baik, demikian pula sebaliknya dengan dirinya.
Kenangan terakhirnya bersama Leon saat menemui kedua orang tua mantan kekasihnya itu, masih membekas dihatinya, meninggalkan rasa sakit dan malu yang sangat sulit ia lupakan.
"Kenapa berhenti disana?" tanya Dirga menoleh kearah Monaliza.
"Entahlah, aku merasa tegang saja," sahut Monaliza jujur.
Dirga memundurkan tubuhnya hinggà beberapa langkah mendekati Monaliza," Tidak perlu khawatir, mereka yang akan kita temui didalam sana adalah orang yang baik," kata Dirga dengan sedikit menyunggingkan senyum disudut bibirnya yang hampir tidak terlihat.
Bersambung..... 👉
__ADS_1