
"Kau mau kemana Monaliza?" tahan Dirga, ketika dilihatnya pegawai resepsionisnya itu mau keluar dari ruang kerjanya setelah selesai mengganti pakaian kotornya yang terkena muntahan.
Monaliza memundurkan tubuhnya tiga langkah kebelakang, ketika Dirga tiba-tiba muncul didepan pintu, ia berusaha menghindar, karena aroma parfum Dirga membuat perutnya kembali bergejolak ingin muntah.
Ia tidak ingin itu terjadi lagi, muntah sepanjang pagi itu saja sudah membuat tubuhnya begitu lemas dan hampir tidak bisa melakukan aktifitas apapun.
"Saya harus segera keluar dari sini Pak," kata Monaliza menatap sekilas wajah bos-nya itu lalu segera mengalihkan pandangannya dari tatapan Dirga.
"Kau harus makan dulu, aku sudah memesan sup untukmu, mengganti asupan makanan yang sudah kau muntahkan sepanjang pagi ini," kata Dirga seraya mendekati Monaliza yang berdiri beberapa meter darinya. Wanita itu refleks menjauh.
"Aku tidak akan mengganggu, apalagi menyakitimu," Kata Dirga, saat melihat Monaliza berusaha menjauh dan menghindarinya.
"Aku hanya ingin kau makan sup ini saja," ungkap Dirga menunjuk sup diatas meja sofa yang sudah.bersih dari muntahan Monaliza.
"Ayo, kemarilah," panggil Dirga pada Monaliza yang masih berdiri ditempatnya.
"Tidak perlu Pak, terima kasih. Saya permisi dulu," Monaliza bergegas menuju pintu, Dirga tidak tinggal diam, dengan cepat ia mengejar Monaliza dan berhasil meraih pergelangan tangan pegawainya itu yang sudah memegang kenop pintu.
"Lepaskan tangan saya Pak," kata Monaliza sambil menarik tangannya yang dipegang kuat oleh Dirga. Ia memang pernah mengagumi kewibawaan dan wajah dingin pria tampan itu.
Semenjak sikap dan kata kasar yang pernah dilontarkan Dirga padanya saat dirumah sakit, ditambah lagi pengakuan pria itu bahwa dirinya adalah ayah bayi yang sedang dikandungnya, membuat Monaliza benar-benar merasa ilfil dan sangat membencinya.
"Saya tidak berniat jahat padamu Monaliza. Saya hanya tidak ingin kau sakit demikian juga bayi yang sedang kau kandung," kata Dirga berusaha memberi penjelasan.
"Tapi saya sedang tidak ingin makan, dan saya merasa mual berada didekat pak Dirga," kata Monaliza jujur mengungkapkan apa yang sedang ia rasakan seraya menangkup hidung dan mulutnya dengan satu tangannya yang lain.
"Apakah menurutmu saya bau?" tanya Dirga merasa tak nyaman, ia segera melepaskan pegangan tangannya dari pergelangan tangan Monaliza, dan dengan wajah serius ia mengangkat kedua lengannya secara bergantian dan membaui dirinya sendiri.
"Tidak bau," kata Dirga yang hanya merasakan aroma wangi parfumnya.
Sementara Monaliza segera berlari ketoilet yang ada didalam ruangan kerja Dirga dan kembali memuntahkan apa yang bisa ia muntahkan, karena saat ini isi perutnya sudah kosong karena sepanjang pagi ini ia sudah mengeluarkan semua sarapan paginya. Hanya cairan berwarna kuning dan terasa pahit dalam mulutnya yang tersisa.
__ADS_1
Dirga mendekat, membawa tissue dan minyak kayu putih untuk meredakan Monaliza dari rasa muntahnya itu dan juga segelas air hangat.
Monaliza tidak menghiraukan pijatan yang dilakukan Dirga pada tengkuknya, bos-nya itu nampak serius membantunya untuk bebas dari rasa mualnya. Ia terus memuntahkan cairan kuning hingga mengeluarkan lendir dari mulut dan hidungnya. Monaliza memegangi dadanya yang terasa sakit dan sesak.
"Monaliza, minumlah air hangat ini dulu, supaya kau merasa lega," kata Dirga dengan gelas air hangat ditangannnya, wajahnya terlihat khawatir ketika melihat Monaliza yang nampak menderita.
Monaliza meraih gelas lalu meminumnya beberapa teguk, lalu mengembalikannya lagi pada Dirga. "Terima kasih Pak," ucap Monaliza sambil mengatur nafasnya yang masih terasa sesak
"Bagaimana, apakah kau merasa lebih baik?" tanya Dirga menatap wajah Monaliza yang kembali terlihat kusut, pandangannya tidak sengaja melihat dada berisi Monaliza yang naik turun karena gadis itu sedang mengatur nafasnya yang masih tidak beraturan.
Dirga cepat-cepat mengusir fikiran kotornya yang tidak diundang itu, dengan membuang napas kasar.
Ia mengulurkan tangannya mengusap wajah Monaliza menggunakan tissue. Monaliza terdiam sejenak, ketika tangan bos-nya itu membersihkan lendir dan air mata dari wajahnya akibat aktifitas mabuknya.
"Saya sudah lebih baik Pak, tolong jaga jarak dari saya, saya tidak sanggup mencium aroma parfum pak Dirga," Monaliza kembali menutup hidung dan mulutnya dengan kedua tangannya.
"Baiklah, saya mengerti, maafkan saya," ucap Dirga segera menjauh, setelah dirinya selesai membersihkan wajah Monaliza.
Monaliza tidak menjawab, ia hanya berdiri didepan wastafel, memandangi wajah pucat dan kusutnya pada pantulan cermin dihadapannya.
"Setelah kau memakan sup-mu, aku baru bisa mengijinkanmu keluar dari ruanganku," tanpa menunggu jawaban Monaliza, Dirga beranjak dari toilet menuju pintu keluar.
Ceklek!
Monaliza mendengar suara pintu terkunci, ia segera beranjak dari toilet menuju pintu keluar. Ternyata pintu itu memang benar terkunci, ia menggerak-gerakan kenop kunci, berusaha memutarnya supaya bisa terbuka, namun masih tetap tidak bisa terbuka karena sudah terkunci.
"Pria itu, kenapa dia harus mengunciku disini," guman Monaliza putus asa. Ia akhirnya melangkah menuju meja, menatap mangkuk sup yang tertutup rapat.
Setelah mendudukkan dirinya disofa, Monaliza mulai membuka tutup mangkuk sup yang transparan itu, hingga aromanya tercium oleh hidungnya.
Walau tidak berselera, Monaliza memaksakan dirinya untuk makan, karena perutnya terasa melilit untuk minta segera diisi.
__ADS_1
...***...
"Kenapa kau mengunci gadis itu didalam?" tanya Firans ketika dilihatnya CEO-nya itu menyimpan anak kunci kedalam sakunya.
"Supaya wanita itu tidak pergi sebelum ia menghabiskan sup-nya," sahut Dirga. Ia duduk disofa tamu, berhadapan dengan Firans yang sedang duduk dimeja kerjanya.
"Kau sangat perhatian padanya?" pancing Firans, ia menatap wajah Dirga ingin tahu bagaimana reaksi pria itu.
"Dia, mengandung anakku," ucap Dirga menatap kosong kedepan.
"Monaliza hamil?!" Firans nampak shock mendengar perkataan Dirga, bos-nya itu.
Dirga menatap kesekeliling dengan refleks, khawatir ada orang atau pegawainya yang mendengar suara keras asistennya itu. Setelah yakin tidak ada siapa-siapa disana, Dirga berdiri dan mendekati Firans lalu meraih kerah baju asisten pribadinya itu hingga membuat kepala Firans mendongak keatas.
"Tidak bisakah kau memelankan suara cemprengmu itu? Bagaimana kalau sampai ada yang mendengarnya?" ucap Dirga geram dengan tatapan mata tajamnya memandang Firans.
"Sorry, sorry, aku tidak sengaja, aku kaget saja. Hanya sekali celup kau mampu menghamili gadis itu," ucap Firans sambil mengangkat kedua tangannya keudara memohon pengampunan dengan raut cengengesan.
Dirga lalu melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju Firans, asistennya itu segera merapikan bajunya yang sempat tertarik akibat ulah Dirga.
"Kau fikir teh celup," Dirga menatap tajam wajah Firans yang asal bicara.
"Sorry, sorry boss, aku salah bicara lagi," Firans kembali mengangkat kedua tangannya dengan wajah masih cengengesan supaya bos-nya itu tidak menyerangnya lagi.
"Apakah kau sudah mengatakan padanya kalau kau adalah ayah bayi yang sedang dikandungnya?" tanya Firans penasaran dengan suara dibuat pelan, wajah keponya sungguh tidak dapat ia sembunyikan.
"Sudah," sahut Dirga datar.
"Sunggguh?! Apa reaksinya?!" kata Firans dengan suara yang cukup kencang dengan wajah tak percaya.
Dirga kembali menatap tajam pada Firans. Firans yang menyadari perbuatannya langsung membekap mulutnya sendiri dengan mata mendelik, takut Dirga akan kembali memarahinya.
__ADS_1
...***...