
"Terima kasih," kata Dirga memecah keheningan didalam mobil, setelah sekian lama keduanya saling membisu seperti biasa yang mereka lakukan.
Monaliza menoleh ke arah Dirga yang tengah menyetir dengan pandangan lurus kedepan tanpa melirik sedikitpun padanya, hingga membuat Monaliza ragu untuk merespon perkataan suaminya itu barusan.
"Pak Dirga berbicara dengan saya?" tanya Monaliza memastikan. Walau ragu, ia tetap memutuskan untuk bertanya supaya jangan dianggap tidak perduli.
"Iya,, bukankah disini hanya ada diriku dan dirimu?" sahut Dirga tanpa menoleh, pandangannya masih tetap pokus kedepan, memperhatikan keramaian jalan lalu lintas didepannya.
"Maksud pak Dirga, terima kasih untuk apa ya?" tanya Monaliza dengan gaya formalnya seperti biasa. Ya, demikianlah rumah tangga yang baru mereka bangun, terasa sangat kaku antara satu sama lainnya. Dan hal itu tentu saja tidak mengherankan. Diantara keduanya, hanya saling mengenal sebatas hubungan kerja, antara pimpinan dan bawahan. Dan pernikahan itu terjadi-pun karena rasa tanggung jawab Dirga pada wanita yang telah ia nodai hingga mengandung anaknya.
"Terima kasih karena kau tidak mau menerima pemberian mantan kekasihmu itu," sahut Dirga datar. Monaliza terpaku sejenak, tanpa berkata apapun lagi, ia mengalihkan pandangannya dari suami bergaya CEO-nya itu kembali kedepan, menatap hiruk pikuk keramaian lalu lintas kota dihari libur itu.
"Kemarin, saat pemberkatan nikah kita, aku juga melihat kehadiran mantan kekasihmu itu pada kursi paling belakang," lanjut Dirga lagi. Monaliza serta merta menoleh, menatap wajah Dirga yang terlihat masih datar seperti biasa, memegang kemudi dan tetap pokus pada jalan dihadapannya.
"Dan kemarin juga adalah hari pernikahannya dengan wanita yang bernama Nadya, putri tunggal dari keluarga Wirelles," kata Dirga lagi melanjutkan ucapannya.
"Apakah itu benar?" tanya Monaliza dengan raut kaget. Tentu saja ia baru mendengarkan kabar itu dari Dirga, karena beberapa hari ini dirinya sudah lost contact dengan mantan kekasihnya itu.
"Tentu saja benar," sahut Dirga datar. Ia dapat melihat raut keterkejutan Monaliza dengan ekor matanya, demikian pula saat isterinya itu kembali memalingkan wajahnya dari dirinya dan kembali menatap kedepan, seolah menembus kaca mobil yang ada dihadapannya.
"Sekalipun sebenarnya engkau sudah tahu. Tapi aku, suamimu, tetap menegaskan padamu, jangan pernah berhubungan lagi dengan mantan kekasihmu yang bernama Leon itu," kata Dirga melirik kearah isterinya yang masih mematung menatap lurus kedepan.
"Apakah kau mendengarkanku?" tanya Dirga datar, sebenarnya ia tahu, isterinya itu pasti mendengarkan apa yang dikatakannya, namun ia ingin tahu dan penasaran pada respon wanita yang menjadi isterinya itu.
"Iya, saya mendengarkan Anda pak," sahut Monaliza pelan.
"Bagus," ucap Dirga bersiap melanjutkan perkataannya selanjutnya.
"Bukan apa-apa. Aku hanya tidak ingin keluarga mantan kekasihmu itu menyakitimu lagi seperti dirumah sakit waktu itu," ujar Dirga mengingatkan.
__ADS_1
"Dan bila itu masih terjadi, aku tidak akan tinggal diam, karena kau sudah jadi isteriku. Wanita yang harus kujaga dengan baik." Monaliza melirik dengan ekor matanya pada Dirgà yang tengah berbicara serius dengan wajah datar tanpa emosi apapun. Tidak marah, tidak senang, apalagi sedih. Tidak ada ekspresi apapun terpancar disana.
Baru hari ini Monaliza mendengar Dirga cukup banyak bicara padanya, tidak seperti hari-hari sebelumnya, membuka mulutnya saat diperlukan saja.
Dirga membelokkan kemudinya kekiri, memasuki area rumah asing baginya, begitu pula bagi Monaliza, Ia lalu memarkirkan mobil tepat didepan rumah dengan halamannya yang cukup luas, dihiasi taman yang tertata rapi sehingga terlihat hijau, dan penuh warna-warni bunga menambah keasrian rumah besar itu.
"Ini rumah siapa Pak?" tanya Monaliza sambil memperhatikan rumah mewah yang berdiri megah dihadapannya dari balik kaca mobil Dirga.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Papa-Mama Han mengundang kita untuk makan siang disini, itu saja yang kutahu," kata Dirga seraya membuka sabuk pengaman ditubuhnya.
"Jangan Pak, saya masih bisa melakukannya sendiri," tolak Monaliza, saat tangan Dirga membantunya membuka pengunci sabuk pengaman yang seakan bersembunyi didekat pinggulnya, setelah suaminya itu selesai melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya sendiri.
Dirga tidak berkata apapun, ia tetap melakukan yang dilarang oleh isterinya, membuka pengunci sabuk pengaman yang ada didekat kemudinya. Monaliza tidak berkata-kata apa lagi, percuma saja, suaminya itu pasti tidak akan mendengarkannya fikirnya, walaupun sebenarnya ia merasa tidak nyaman, dirinya pun tidak mau dikatakan sebagai isteri yang manja, apa-apa dilakukan oleh suami.
Monaliza menahan napas saat kepala Dirga tidak sengaja menyentuh dadanya ketika pria itu menunduk, tengah membuka pengunci disebelah pinggulnya yang satunya lagi, apa dia sengaja fikir Monaliza yang tidak berani bergerak, khawatir disangka menggoda suaminya. Ah, tidak mungkin, pria tanpa ekspresi itu tidak mungkin melakukannya dengan sengaja," batin Monaliza lagi
"Ayo turun," Dirga yang lebih dulu keluar dari dalam mobilnya segera membuka pintu disamping Monaliza dan mempersilahkan isterinya keluar.
"A-apa yang Anda lakukan Pak?" Monaliza kembali tersentak saat tubuhnya sudah masuk dalam gendongan Dirga.
"Menggendongmu," kata Dirga seraya berjalan masuk kedalam rumah, sambil membawa tubuh Monaliza dalam gendongannya.
"T-tolong lepaskan saya Pak, saya bisa jalan sendiri," Monaliza memohon sambil meronta, agar Dirga mau menurunkannya, ia tak habis fikir, pria itu selalu saja melakukan sesuatu tanpa seijinnya terlebih dahulu. Ya, itu sesuai perkataannya semalam saat keduanya menginap dihotel.
"Diamlah, jangan berani berontak. Ingat, kau isteriku," kata Dirga setengah mengancam.
"T-tapi Pak, malu dilihat orang nantinya," sela Monaliza masih berusaha meronta.
"Tidak perlu malu Monaliza, kalian berdua kan juga sudah sah jadi suami isteri," terdengar suara seorang wanita yang tidak asing ditelinganya, membuat Monaliza langsung menoleh kearah datangnya suara.
__ADS_1
Kontan saja, wajah Monaliza langsung bersemu merah, diruang tamu yang baru dimasuki dirinya dan Dirga yang menggendongnya sudah berkumpul Papa-Mama Han, Ibu Bianka, juga Papa-Mama dari Dirga. Mereka saling berpandangan dan tersenyum satu sama lain.
"Pak, tolong turunkan saya," pinta Monaliza lagi dengan suara setengah berbisik.
"Kalau begini, saya jadi ingat waktu masih muda dulu," lanjut ibu Han sambil tersenyum menggoda, semua orang tua yang hadir disana pun kembali tersenyum menyaksikan apa yang tengah mereka lihat.
"Itu-, ah maksud saya, Monaliza-, kakinya sakit, jadi saya menggendongnya," kata Dirga terbata-bata karena perasaan gugupnya, setelah berhasil menurunkan tubuh isterinya dari dalam gendongannya sambil menunjuk pergelangan kaki Monaliza yang masih membengkak.
"Kakimu kenapa nak," ibu Bianka segera bangkit dari duduknya, lalu berjongkok memeriksa kaki putrinya.
"Tidak apa-apa Bu. Mona hanya terkikir saja, tersandung keset saat dihotel. Tapi pak Dirga sudah memijat dan membalurnya dengan obat, jadi sakitnya sudah berkurang.
"Dirga, kau ceroboh sekali menjaga isterimu, masa baru malam pertama kaki isterimu sudah cedera," omel ibu Surya turut menghampiri dan memeriksa kaki menantunya, demikian pula dengan ibu Han.
"Tidak apa-apa Nyonya, bukan salah Pak Dirga, ini salah saya, tidak hati-hati berjalan," kata Monaliza yang tidak berniat membela Dirga.
Kriuuukk!
Kembali para orang tua itu saling berpandangan, suara itu sangat jelas terdengar dari perut Monaliza, spontan saja wanita muda itu memegang perutnya dengan wajah kembali bersemu merah menahan rasa malu.
"Dirga, apakah kau tidak memberi makan isterimu?" ayah Dirga, pak Surya ikut bersuara, ia merasa kasihan pada menantunya yang malang itu, sudah terkilir kakinya, lalu kelaparan.
"Belum," sahut Dirga singkat tanpa ekspresi seperti biasa, dan tanpa merasa malu ataupun bersalah.
"Kau ini," ibu Dirga langsung menyambar paha putranya dengan cubitan super jitunya membuat Dirga sedikit memekik menahan rasa sakit dari cubitan sang ibu.
"Ma, bukan salah Dirga, kami memang sengaja tidak makan siang karena diundang makan siang kemari oleh mama Han," protes Dirga tidak terima dirinya dipersalahkan.
"Dirga benar Bapak dan Ibu Surya. Kalau begitu, kita langsung saja kemeja makan, kasihan Monaliza, kita semua juga pasti sudah lapar," kata pak Surya menengahi.
__ADS_1
Bersambung...👉