
"Tante, maafkan aku. Aku memang salah, tapi aku sangat mencintai Leon," Nadya bersimpuh dikaki ibu mertuanya dengan berurai air mata.
"Setelah apa yang telah kau lakukan, kau masih berani muncul dihadapanku? Huh! Pergi! Aku sudah tidak sudi melihat wajahmu, bahkan bayanganmu!" usir nyonya Gamsonrich marah. Amarahnya masih belum reda setelah peristiwa dirinya menangkap basah menantunya yang sedang berselingkuh dengan pria lain.
"Aku mohon tante, jangan perlakukan aku seperti ini, aku menantumu." tangis Nadya semakin menjadi. Nyonya Gamsonrich tidak perduli, ia menyeret paksa pergelangan tangan menantunya lalu mendorongnya paksa keluar dari pintu rumahnya hingga Nadya tersungkur dilantai.
"Pergi perempuan laknat! Aku akan meminta Leon secepatnya menceraikanmu!" ucapnya sambil bertolak pinggang didepan pintu rumahnya.
"Argghh! Sakit sekali," Nadya merintih, memegang pinggulnya yang terasa nyeri membentur lantai teras rumah ibu mertuannya.
Nadya berusaha bangkit dari lantai saat satu tangan tiba-tiba terulur didepan wajahnya. Ia segera mendongakan wajahnya untuk melihat siapa orang yang bermurah hati mau menolongnya itu.
"Leon?" Lirih Nadya, ia buru-buru meraih tangan Leon yang terulur padanya, lalu berdiri dan memeluk suaminya itu dengan sangat erat.
"Aku mencintaimu Leon, sangat mencintaimu. Jangan ceraikan aku, aku bisa mati tanpamu Leon," Nadya kembali terisak, ia mendekap tubuh Leon semakin erat, sementara pria itu hanya berdiri terpaku, tidak menolak, juga tidak membalas pelukan isterinya.
"Kurang ajar! Beraninya kau menyentuh dan memeluk putraku dengan tubuh kotormu itu! Lepaskan! LEPASKAN!" nyonya Gamsonrich menarik tangan Nadya dan berusaha melepaskan pelukan menantunya itu dari tubuh Leon.
"Tidak tante! Tidak! Leon suamiku! Sampai kapanpun Leon tetap suamiku! Milikku!" Nadya semakin mengencangkan pelukannya.
"Dasar perempuan bi*al!" nyonya Gamsonrich bertambah geram. Ia terus menarik dengan paksa tangan menantunya supaya terlepas dari tubuh putranya.
"Cukup! Hentikan!" sergah Leon akhirnya. napasnya serasa sesak. Pelukan Nadya isterinya, dan pekikan kedua wanita yang masih memiliki hubungan ibu mertua dan menantu itu membuatnya gerah.
Keduanya spontan terdiam, dan menghentikan apa yang mereka lakukan. Nadya pun turut melepaskan pelukannya saat Leon memberi isyarat dengan wajahnya untuk melepaskan dirinya.
"Leon, aku mohon, maafkan aku. Jangan ceraikan aku. Aku bisa mati tanpamu," mohon Nadya lagi dengan raut menghiba membuat nyonya Gamsonrich bertambah muak melihatnya.
"Diam! Tutup mulutmu perempuan bi*al! Kau tidak layak bicara pada putraku setelah kelakuan menjijikanmu itu!" Bentak nyonya Gamsonrich dengan raut tidak sukanya.
"Leon, kau harus segera menceraikan perempuan ini, dia sudah tidak boleh menjadi isterimu lagi," nyonya Gamsonrich beralih pada anaknya.
__ADS_1
"Tidak akan ada perceraian antara aku dan Nadya Ma, sampai maut memisahkan kami. Mama pasti hapalkan janji nikah semua pasangan mempelai dialtar pernikahan?" Nyonya Gamsonrich dan Nadya sama-sama terperangah, tidak menyangka Leon akan melontarkan ucapan itu.
"T-tapi Leon! Pengkhianatan Nadya tidak bisa dimaafkan. Dia sudah berani tidur dengan pria lain, Mama sendiri yang memergokinya bersama kakakmu Keny!" nyonya Gamsonrich sudah tidak bisa mengontrol emosinya, ia kembali menjambak rambut panjang Nadya dan menariknya hingga wajah menantunya itu mendongak keatas sambil meringis kesakitan.
"Sudah cukup! Lepaskan Ma! Jangan sakiti menantu Mama, lagi" sentak Leon menghentikan tindakan kasar ibunya pada Nadya. Nyonya Gamsonrich kembali terperangah.
Nadya tersenyum didalam hati, sikap Leon melegakan hatinya. Berbeda dengan nyonya Gamsonrich, ia merasa bingung, tidak habis fikir, bagaimana bisa putranya bisa membela Nadya, bukankah selama ini putranya itu tidak pernah menyukai isterinya.
"Leon, kau mungkin belum dengar, dan Mama memang belum menceritakannya padamu, kalau perempuan ini sudah berselingkuh dibelakangmu. Dalam keluarga kita hal itu sangat memalukan dan menjatuhkan kehornatan keluarga. Jadi, Mama minta padamu, ceraikan Nadya dan usir dia dari kehidupan keluarga kita," titah nyonya Gamsonrich lagi.
"Sekali lagi Leon tegaskan Ma. Tidak akan ada perceraian diantara Leon dan Nadya. Mulai hari ini, Nadya harus tinggal dirumah ini dan menempati kamar Leon." lagi-lagi, putusan Leon membuat nyonya Gamsonrich terperangah, ia tidak menduga Leon menvambil sikap seperti itu.
"Tidak! Tidak bisa seperti itu Leon. Mama tidak mau tinggal satu rumah dengannya." tolak nyonya Gamsonrich menatap Nadya lalu kembali beralih memandang Leon.
"Kenapa? Bukankah selama ini Mama dan Nadya sangat kompak?" sindir Leon dengan raut datarnya.
"Iya, itu dulu. Sekarang tidak. Mama malahan jijik memiliki menantu sepertinya," ucapnya tak berperasaan. Nadya hanya bisa meneguk salivanya, menahan rasa sakit didadanya, mendengar ucapan sang mertua yang sangat membencinya.
"Ma, tidak boleh habis manis sepah dibuang." ujar Leon menatap ibunya.
"Leon sudah memilih menantu yang baik buat Mama. Tapi Mama menolaknya, dan memilih Nadya. Sekarang, terimalah Nadya apa adanya sebagai menantu Mama, jangan pernah membuangnya, dia bukan barang Ma," Perih didada Leon kembali terasa, saat mengingat Monaliza. Ia kembali membuang rasa itu jauh-jauh, lalu memandang Nadya yang masih berdiri didekatnya.
"Mama harus mendidik dan mengajar Nadya dengan baik, untuk menjadi menantu yang baik dirumah ini sesuai harapan Mama," lanjut Leon kembali menatap kearah ibunya.
"Kok Mama?! Dia kan isterimu Leon? Dan kau yang menyuruhnya bertahan dirumah ini. Jadi itu tugasmu, Mama tidak mau!" gerutu nyonya Gamsonrich tidak terima.
"Bukankah Mama yang bersikeras waktu itu untuk menjadikan Nadya menantu Mama? Jadi, Leon hanya mengabulkannya saja. Leon tidak mau tahu, Mama-lah yang harus bertanggung-jawab mengurus, mendidik, mengajar sampai Nadya menjadi menantu yang baik dirumah ini," tegas Leon lagi.
"Tapi perempuan itu penjahat! Dia--"
"Cukup Ma! Penjahat tidak boleh teriak penjahat!" Kali ini Leon meninggikan suaranya. Ia menatap lekat wajah ibunya yang tersentak diam begitu juga dengan Nadya ketika Leon mengatakan keduanya sama-sama penjahat.
__ADS_1
"Apa Mama fikir, Leon tidak tahu semua yang Mama telah lakukan bersama Nadya selama ini?"
"Dan kau Nadya, aku tidak akan membiarkanmu keluar-masuk dari rumah ini dengan bebas tanpa seijinku. Sudah cukup, apa yang telah kau lakukan. Memberi aib dalam keluarga besar kita atas perbuatan memalukanmu itu."
"Leon, k-kau tahu? A-aku, a-aku--" Nadya yang sedari tadi merasa mendapat pembelaan Leon, kini merasa gugup menerima tatapan tajam suaminya itu. Ia segera menundukan wajahnya, tidak berani melihat ataupun membalas tatapan Leon. Ia merasa Leon hari ini berbeda, lebih banyak bicara dari biasanya.
"Cukup! Aku sudah tidak mau membahas hal yang sudah lalu, apalagi itu tentang perselingkuhanmu dibelakangku. Sebenarnya aku tidak perduli padamu mulai dari awal. Aku hanya perduli dengan nama baik keluargaku Jadi, mulai sekarang, jangan pernah berfikir mengulang semua tabiat burukmu itu." Nadya masih menunduk, ia meremas tangannya sendiri. Leon yang melihatnya hanya menatapnya datar, tidak perduli apapun yang difikirkan oleh wanita yang berstatus isterinya itu.
"Ma, " Leon beralih pada ibunya.
"Iya Leon," sahut nyonya Gamsonrich cepat.
"Aku datang kemari, hanya untuk mengingatkan Mama. Jangan pernah mengganggu Monaliza lagi. Mengancamnya, apalagi meminta bayinya," ucap Leon datar.
"B-bagaimana kau bisa tahu Leon?" nyonya Gamsonrich terperangah. "Apa Monaliza mengadu padamu? Apa itu artinya kau masih berhubungan dengannya?" cecarnya lagi. Ia merasa senang, menurutnya ada harapan Leon dan Monaliza bisa bersama lagi.
"Bukan Monaliza. Tapi tuan Dirga suaminya. Bila Mama bersikeras dengan niat Mama yang tidak masuk akal itu, dia pun mengancam akan menyeret Mama ke pengadilan. Dan aku tidak bisa menolong Mama," ucap Leon masih bernada datar. Setelah berkata demikian ia berbalik, lalu melangkah pergi menuju mobilnya yang terparkir jauh dekat pos security rumah orang tuanya.
Perasaan senang nyonya Gamsonrich yang sempat timbul dihatinya langsung sirna seketika, ternyata dugaannya salah, putranya sudah tidak berhubungan lagi dengan mantan kekasihnya itu.
"Tunggu Leon! Kau mau kemana?" panggil nyonya Gamsonrich seraya menyusul saat melihat putranya melangkah meninggalkan rumah.
"Pulang Ma?"
"Pulang kemana?" Nyonya Gamsonrich mengernyitkan wajahnyya menatap putranya yang berbalik menghadapnya.
"Ke apartemen? Memang kemana lagi? Leon kan tinggal disana," sahut Leon.
"Lalu Nadya bagaimana?" nyonya Gamsonrich masih mengernyitkan keningnya.
"Tinggal disini. Dia menantu Mama, menantu dirumah ini, ya harus tinggal disini. Ingat ya Ma, jangan ada KDRT pada Nadya. Leon pulang dulu," Leon kembali berbalik, meninggalkan ibunya yang menatap nanar kepergiannya.
__ADS_1
"Maafkan Leon Ma. Leon hanya ingin Mama bisa belajar menyadari, apapun yang Mama lakukan, Mama harus siap menerima semua konsekuensinya, baik ataupun buruk," ucap Leon didalam hati. Ia menjalankan mobilnya, meninggalkan rumah orang tuanya, sambil melirik ibunya dan Nadya lewat spion kaca mobilnya.
Bersambung...👉