
"Mona," terdengar suara panggilan seorang pria yang sangat akrab ditelinganya, Monaliza menoleh, mendapatkan Leon yang tengah berdiri tidak jauh dari gerbang gang sempit dekat area rumahnya.
"Leon? Kenapa kau ada disini pagi-pagi begini?" tanya Monaliza nampak terkejut melihat kehadiran Leon disana, wajah pria itu masih terlihat pucat.
"Aku ingin bertemu denganmu" kata Leon melangkah mendekat. "Aku mohon Mona, menikahlah denganku," ucap Leon dengan wajah penuh harap, saat keberadaan keduanya hanya menyisakan sedikit jarak.
"Maafkan aku Leon, itu tidak mungkin. Beberapa hari lagi aku sudah akan menikah dengan pak Dirga," kata Monaliza menatap Leon.
"Dia tidak mencintaimu Mona, tapi aku. Dan kita berdua sama-sama saling mencintai," tegas Leon, ia meraih tangan Monaliza namun segera ditepis oleh wanita itu.
"Lupakan Leon! Pernikahan itu bukan tentang dirimu dan diriku saja. Tapi juga tentang keluargamu dan keluargaku. Dan keluargaku yang tidak sama status sosialnya dengan keluargamu akan selalu menjadi hinaan ibumu," ucap Monaliza turut menegaskan.
"Aku tidak perduli dengan keluargaku. Aku bisa hidup tanpa mereka, tapi aku tidak bisa hidup tanpamu Mona," kata Leon bersunguh-sungguh
Monaliza menatap datar wajah Leon dihadapannya, ia tidak pernah mendengar Leon berbicara seperti itu selama mengenalnya.
"Kau mungkin bisa hidup tanpa keluargamu Leon, tapi aku tidak bisa. Menikah denganmu pasti akan menyulitkan keluargaku. Aku dan keluargaku tidak bisa hidup dikejar-kejar masalah, kami mau hidup damai dan normal," ungkap Monaliza dengan suara paraunya, mengingat beberapa kejadian buruk yang telah ia alami.
__ADS_1
Leon terhenyak, apa yang dikatakan Monaliza benar, selama berhubungan dengannya, kemalangan kerap menimpa wanita itu akibat ulah ibunya dan Nadya yang tidak suka Monaliza menjalin hubungan dengannya.
"Lagi pula, aku sudah mengandung . Aku mengandung anak pria lain. Bagaimana mungkin kau ingin menikah bersama wanita yang sudah ditiduri pria lain hingga hamil Leon?" Monaliza sengaja mengatakan hal itu supaya mantan kekasihnya itu sadar dan mau merelakannya, sepertinya halnya dirinya yang pelan-pelan merelakan hubungannya bersama Leon kandas begitu saja.
"Aku mau Mona, aku tidak keberatan dengan bayi pria lain yang telah kau kandung itu, karena aku memcintaimu. Aku tidak mau wanita lain selain dirimu," ucap Leon kembali menegaskan niatnya.
"Kau pasti sudah gila Leon," kata Monaliza yang sudah kehabisan kata-kata memberi tahu mantan kekasihnya itu.
"Aku sepenuhnya waras Monaliza, dan aku mau menikah denganmu. Dan anak itu, kau boleh melahirkannya, dan aku akan memberikan namaku dibelakang nama anak yang sedang kau kandung itu," ucap Leon bersikeras.
Sementara mereka berdebat, satu unit mobil berhenti tepat didepan mobil Leon sedang terparkir. Dirga keluar dan langsung menghampiri keduanya.
"Waktu akan berangkat kekantor, perasaanku mendadak tidak enak. Itu sebabnya aku kemari untuk memeriksa keadaanmu." ucap Dirga menatap Monaliza seraya mengulas senyum tipis yang jarang sekali ia perlihatkan selain wajah datarnya.
"Rupanya kita sudah memiliki ikatan batin yang kuat, nyatanya perasaanku itu tidak salah, ada pria lain yang berusaha mendekatimu lagi," ucap Dirga sambil melirik reaksi Leon dengan tatapan datarnya.
Leon yang dilirik menunjukan senyum sinisnya. "Untuk apa Anda kemari pak Dirga?" tanyanya tidak suka.
__ADS_1
"Heuh, apakah Anda tidak dengar apa yang saya katakan sebelumnya? Saya kemari untuk memeriksa Monaliza," sahut Dirga turut bersikap sinis.
"Sekarang Anda sudah tahu bila Monaliza dalam keadaan baik, jadi Anda boleh pergi sekarang," usir Leon.
"Anda menggelikan sekali tuan Leon," ucap Dirga memaksakan diri untuk tertawa.
"Monaliza adalah calon isteri saya. Anda tidak berhak menyuruh saya pergi meninggalkannya bersama Anda disini," kata Dirga masih tertawa sinis.
"Anda telah merampas kekasih saya dengan cara yang curang," ucap Leon dingin, perasaannya mulai tersulut emosi.
"Maaf, kami harus pergi sekarang," kata Dirga tidak ingin melanjutkan perdebatan yang sia-sia itu.
"Ayo kita berangkat bersama ke kantor," ajak Dirga lalu menarik pergelangan tangan Monaliza untuk ikut dengannya. Monaliza hanya menurut, dan masuk kedalam mobil disebelah kemudi.
Setelah menutup rapat pintu mobil disamping Monaliza, Dirga menghentikan sejenak langkahnya dan menatap Leon yang tengah memperhatikan dirinya dan Monaliza.
"Saya sudah berjanji pada ibu Anda tuan Leon, akan menjauhkan Monaliza dari Anda sesuai permintaannya saat Anda sekarat dirumah sakit," setelah mengucapkan kata-katanya, Dirga beranjak menuju pintu disebelah kemudi dan masuk kedalamnya.
__ADS_1
Leon menatap nanar kepergian Monaliza yang tidak menoleh sedikitpun kearahnya. Ia memegang dadanya yang terasa sakit, rasa sakit yang terasa didalam sana, yang tidak tergapai oleh tangannya.
Dengan langkah gontai, Leon masuk kedalam mobilnya, wajah itu terlihat lesu, sudah tidak ada semangat dalam dirinya, setelah Monaliza memutuskan hubungan dengannya. Ia lalu melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.