
"Sepertinya itu Leon," guman Firans, saat dirinya menyusuri lorong panjang rumah sakit, dilihatnya seorang pria muda yang baru dikenalnya beberapa hari ini. Ia melangkah memasuki taman rumah sakit untuk bertemu Leon yang sedang menemani seseorang yang duduk dikursi roda.
"Hai Leon?" sapa Firans, saat jaraknya tinggal beberapa meter lagi dari Leon.
Leon menoleh, demikian juga seorang wanita setengah baya yang duduk dikursi roda itu.
"Pak Firans, anda ada disini?" ucap Leon yang mengenali Firans sambil mengulas senyumnya.
"Iya Loen, aku baru saja tiba, dan saat lewat aku melihatmu disini, jadi aku langsung menghampirimu," sahut Firans sambil balas tersenyum tipis.
"Apa yang kau lakukan disini Leon, aku fikir kau bersama-, ucapan Firans menggantung, karena Leon buru-buru memotong perkataannya dengan mimik gugup, membuat Firans merasa sedikit heran, namun dirinya tidak terlalu memikirkan hal itu.
"Oh, perkenalkan, ini ibuku," ucap Leon memperkenalkan seorang wanita setengah baya yang duduk diatas kursi roda disebelahnya.
"Saya Firans nyonya," ucap Firans hangat sambil mengulas senyumnya pada wanita yang duduk dikursi roda itu, ia mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan.
Wanita itu turut tersenyum tipis menatap Firans dan menyambut uluran tangan Firans padanya.
"Nyonya Gamsonrich, ibu Leon," ucap wanita itu menyebut nama suaminya menjadi panggilan untuk dirinya.
"Nyonya dirawat dirumah sakit ini juga?" tanya Firans pada wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya yang tidak terbilang muda lagi.
"Iya, putra saya Leon yang menemani saya disini," sahut ibu Leon masih mengulas senyum tipisnya.
"Semoga nyonya cepat sembuh dan kembali pulih seperti sediakala," ucap Firans mendoakan dengan tulus.
"Terima kasih," sahut nyonya Gamsonrich dengan senyumnya.
"Kebetulan aku bertemu denganmu disini Leon, aku mau menitipkan ini untuk Monalizha," ucap Firans kemudian. Ia lalu menunjukan tas jinjing berwarna merah yang dibawanya.
Wajah Leon kembali terlihat gugup. Firans kembali terheran melihat perubahan Leon yang tiba-tiba saat ia menyinggung nama Monaliza, namun dirinya tidak terlalu memperdulikannya dan terus melanjutkan apa yang ada didalam kepalanya kepada Leon.
"Ibunya menitipkan beberapa potong pakaian ganti untuk Monaliza selama ia dirawat dirumah sakit ini," ulas Firans lagi.
__ADS_1
"Monaliza? Monaliza siapa yang kalian sedang bicarakan?" tanya nyonya Gamsonrich yang sedari tadi diam. Nama yang disebut Firans begitu familiar ditelinganya.
Leon terpaku, sementara Firans yang kembali melihat perubahan wajah Leon semakin merasa ada keganjilan dari sikap yang ditunjukan pria muda itu.
"Monaliza, kekasih Leon nyonya," sahut Firans gamblang tanpa beban, sambil menatap wanita paruh baya itu.
Nyonya Gamsonrich terpana menatap Firans beberapa saat lamanya, lalu beralih pada Leon putranya dengan mulut yang setengah terbuka.
"Leon," suara nyonya Gamsonrich terdengar bergetar. Leon masih terpaku ditempatnya berdiri. Kegugupan laki-laki muda itu sangat terlihat saat ibunya menatap dirinya dengan sorot mata tajam.
"Apakah kau masih berhubungan dengan gadis miskin itu lagi tanpa sepengatahuan mama Leon?" tanya nyonya Gamsonrich berusaha menekan emosinya.
Firans hampir saja tersedak saat mendengar perkataan nyonya Gamsonrich pada Leon putranya, ia langsung tersadar, bila dirinya sudah salah bicara dihadapan ibu dan anak itu. Tapi apa boleh buat, hal itu dilakukan tanpa sengaja karena ketidak tahuannya.
"Ma-," Leon yang menerima tatapan nyonya Gamsonrich berusaha menenangkan ibunya itu dengan mengusap punggung sang ibu lembut.
"Jawab Leon?!" nada suara nyonya Gamsonrich langsung meninggi.
"Iya ma, Leon mencintai Monaliza," sahut Leon berterus terang.
"Sekarang juga, putuskan hubunganmu dengan perempuan itu Leon!" perintah ibu Leon.
"Mama tidak akan pernah merestui hubungan kalian Leon!" lanjut ibu Leon dengan nada suaranya masih meninggi.
"Maafkan Leon ma, Leon tidak bisa," sahut Leon membantah, namun ia tidak berani membalas tatapan ibunya yang sedang matah.
"Kau-," nyonya Gamsonrich tiba-tiba memegang dadanya yang terasa sakit, wajahnya terlihat menahan rasa sakit yang luar biasa didalam dadanya sehingga tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
"Mama?!" wajah Leon terlihat panik sambil memegang tubuh ibunya.
"Mama baik-baik saja?" tanya Leon memeriksa keadaan ibunya yang seketika terlihat pucat, lemah dan tak berdaya.
"Apa yang terjadi Leon?" tanya Firans, ia ikut panik melihat keadaan nyonya Gamsonrich yang langsung drop saat beradu mulut dengan Leon putranya.
__ADS_1
"Sepertinya jantung mama kambuh lagi, aku harus segera membawa mama bertemu dokter pak Firans," ucap Leon. Ia segera mendorong kursi roda ibunya dan melarikannya untuk segera mendapatkan penanganan dokter.
Firans yang melihat hal itu merasa bersalah. Ia tidak tahu bila hubungan Leon dan Monaliza ternyata tidak direstui orang tuanya. Jadi tanpa sengaja, ia telah menyebabkan ibu Leon jadi seperti itu karena mendengar ucapannya tentang hubungan putranya.
Ia menatap Leon yang membawa ibunya setengah berlari menyusuri lorong rumah sakit.
Firans lalu melangkah meninggalkan taman itu menuju ruang informasi, yang lumayan jauh jaraknya.
"Selamat sore suster," ucap Firans, saat dirinya sudah tiba didepan meja ruang informasi.
"Selamat sore Pak, ada yang bisa kami bantu?" tanya suster jaga itu ramah.
"Suster, untuk pasien yang bernama Monaliza, ruang xxx, apa sudah bisa ditemui? Karena terakhir saya kemari tadi siang, dia belum bisa menemui sembarang orang," jelas Firans.
"Bapak siapanya pasien?" tanya suster jaga itu.
"Nama saya Firans, saya teman kerja pasien yang bernama Monaliza, ibunya menitipkan ini, pakaian ganti Monaliza," ucap Firans sambil menunjukan tas jingjing berwarna merah pada suster jaga.
"Baik pak Firans, mohon ditunggu sebentar ya? Saya akan menghubungi dokter yang menangani pasien yang bernama nona Monaliza," sahut suster jaga itu dengan senyum ramahnya. Ia lalu menekan nomor yang akan ia tuju pada telepon yang terletak diatas meja informasi untuk menghubungi dokter yang menangani Monaliza.
Beberapa detik kemudian, terlihat ia sedang berkomunikasi serius ditelepon yang sudah tersambung.
"Pak Firans," panggil suster jaga yang baru saja meletakkan gagang telepon ditempatnya.
"Iya sus," sahut Firans, ia langsung berdiri dari duduknya yang ada dihadapan ruang informasi.
"Pasien atas nama nona Monaliza masih belum bisa ditemui. Jadi pak Firans bisa menitipkan barang pasien disini saja, nanti suster petugas saja yang mengantarkannya pada nona Monaliza," terang suster jaga itu.
"Baiklah suster, saya titip disini saja kalau begitu," sahut Firans, ia lalu menyerahkan tas merah yang ia bawa pada suster jaga itu.
"Terima kasih suster, saya pamit dulu," ucap Firans sambil mengulas senyumnya.
"Sama-sama Pak," sahut suster jaga itu masih tersenyum ramah.
__ADS_1
Firans lalu meninggalkan ruang informasi menuju parkiran dimana mobilnya berada.
...***...