CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
90. Urusan Penting


__ADS_3

"Leon!" panggil nyonya Gamsonrich panik, saat mendapatkan putranya terkulai dilantai apartemenya. Sudah hampir tiga pekan dirinya tidak bertemu putranya karena sibuk membantu suaminya meng-handle pekerjaan yang ditinggalkan Leon begitu saja.


"Leon, bangun Leon," panggil nyonya Gamsonrich lagi, ia berjongkok disebelah putranya yang tidak sadarkan diri. Tidak ada jawaban dari Leon.


Ia mencium aroma alkohol dari mulut putranya itu, penampilannya-pun terlihat kusut, tidak terurus dengan baik seperti dulu, sangat menyedihkan.


"Huuekkk!" nyonya Gamsonrich seketika merasa mual, saat memperhatikan muntahan Leon ada dimana-mana menimbulkan bau amis yang menyengat. Ia segera bangkit dan buru-buru berlari menuju toilet dan ikut muntah disana.


"Nyonya, anda baik-baik saja?" tanya seorang pria besar dengan wajah sangarnya pada sang majikan didepan pintu toilet.


"Urus putraku!" perintah nyonya Gamsonrich pada bodyguard-nya itu.


"Baik Nyonya," Pria itu segera berlalu dan membawa dua orang temannya membopong tubuh Leon masuk kedalam kamarnya.


Sementara itu, nyonya Gamsonrich meraih ponsel dari dalam tasnya, dan segera menghubungi seseorang. Setelah beberapa kali berusaha menelpon berulang-ulang, akhirnya telepon bisa tersambung juga.


"Hallo tante," terdengar sahutan santai dari seberang sambungan telepon.


"Kau dimana? Kenapa lama sekali mengangkat telepon Mama," tanya nyonya Gamsonrich pada menantunya.


"Saya sedang ada urusan penting tante." sahut Nadya masih terdengar santai.


"Nadya, ini sudah larut malam, pulanglah, Leon ada diapartemenya," ucap nyonya Gamsonrich memberitahu.


"Maaf, saya tidak bisa pulang sekarang tante. Seperti yang saya katakan tadi, saya masih ada urusan penting," setelah berkata demikian, sambungan telepon langsung dimatikan secara sepihak oleh Nadya.


Nyonya Gamsonrich memandang geram pada ponsel ditangannya yang sudah diputus sepihak oleh menantunya, rasanya ingin sekali dirinya menghempaskannya kedinding toilet bila saja ia tidak ingat ada banyak data penting didalamnya yang harus ia lindungi. Dirinya sangat tidak menyangka bila menantunya sudah seberani itu memperlakukannya tidak sopan.


"Permisi Nyonya," seorang perempuan paruh baya datang menghampiri nyonya Gamsonrich yang masih ada didalam toilet.


"Syukurlah kau sudah datang bibi An," Nyonya Gamsonrich menatap perempuan paruh baya itu.


"Tolong bersihkan kekacauan yang dilakukan Leon. Aku ingin pulang sekarang, tidak sanggup dengan situasi apartemen yang berantakan.seperti ini," ucap nyonya Gamsonrich lagi sambil menenteng tasnya.


"Baik Nyonya," sahut asisten rumah tangganya sambil membungkuk hormat.


"Jangan lupa kabari saya tentang keadaan Leon ya Bi," sambung nyonya Gamsonrich sambil berlalu dari toilet.


"Baik Nyonya," sahut Bibi An sambil menepi dan memberi ruang bagi sang majikan untuk berlalu.


Drrtt. Drrtt. Drrtt.

__ADS_1


"Iya, ada apa Ken?" tanya nyonya Gamsonrich tidak bersemangat, sesaat setelah ia melihat nama putra pertamanya dilayar ponselnya. Mobil yang dikemudikan oleh supirnya baru saja meninggalkan area apartemen milik Leon.


"Ma, ke apartemenku sekarang," pinta Keny tanpa basa-basi.


"Ken, Mama lelah. Mama sedang menuju jalan pulang dari apartemen Leon," desah nyonya Gamsonrich.


"*Kalau tidak penting, Keny tidak mungkin meminta Mama kem***ari**," ucap Keny dengan nada memaksa.


"Baiklah," dengan terpaksa nyonya Gamsonrich mengiyakan lalu menutup telepon dari putranya.


"Pak Gandra, kita ke apartemen Keny," perintah nyonya Gamsonrich.


"Baik Nyonya," sahut sang sopir patuh, ia memelankan laju mobil yang ia kemudikan. Setelah dibelokan depan, ia lalu berbalik arah menuju persimpangan kearah kiri, arah apartemen Keny.


...***...


Dilobby lantai dasar, Kenny sudah menunggu didepan lift. Begitu dilihatnya sang ibu muncul didepan pintu lobby seorang diri, Keny bergegas menemuinya.


"Untuk apa kau menyuruh Mama kemari, ini sudah hampir pagi Keny," omel nyonya Gamsonrich pada putra sulungnya itu.


"Ini semua ada kaitannya dengan Leon Ma, ayo cepat!" Keny menarik tangan ibunya memasuki lift.


"Aku tidak ingin mengatakan apapun, aku ingin Mama melihatnya sendiri," ujar Keny dengan wajah suramnya.


Nyonya Gamsonrich tidak berkata apa-apa lagi, ia menatap angka lantai yang dituju oleh dirinya dan Keny, itu berada dua lantai lagi diatas unit apartemen milik putra sulungnya.


Ting! Tong!


Begitu pintu lift terbuka, Keny bergegas keluar diikuti oleh ibunya.


"Nadine?" gumam nyonya Gamsonrich saat melihat menantu pertamanya berdiri didepan pintu salah satu unit apartemen.


"Kenapa jam segini Nadine belum tidur?" tanya nyonya Gamsonrich pada Keny yang sedang melangkah disampingnya.


"Menjaga penghuni apartemen itu supaya tidak kabur begitu saja," sahut Keny datar masih dengan wajah suramnya.


Hati Nyonya Gamsonrich berdebar, ia mulai mengkhawatirkan sesuatu yang ia takutkan. Perasaannya semakin tidak enak saat dirinya dan Keny semakin mendekati pintu apartemen yang sedang dijaga oleh Nadine.


"Mom," sapa Nadine pelan, takut suaranya terdengar oleh sang penghuni apartemen dimana dirinya sedari tadi terpaksa jadi security dadakan diminta oleh suaminya.


"Kenapa kau belum tidur Nadine? Lihat, perutmu sudah sebesar itu masih saja keluyuran hingga subuh begini," omel nyonya Gamsonrich pada menantunya itu.

__ADS_1


"Iya, maaf Mom," ucap Nadine kembali memelankan suaranya, seraya melirik Keny suaminya.


"Ma, begitu pintu ini terbuka, Mama harus segera masuk menemui Nadya, biar aku mengurus pria brengsek itu," ucap Keny seraya menekan bel berulang-ulang.


"Apa? Nadya didalam?" seketika wajah nyonya Gamsonrich terlihat geram, apa yang sedang ia takutkan sebelumnya, kenapa harus benar-benar nyata.


Pintu masih belum terbuka walau bel sudah ditekan berkali-kali. Keny mengambil ponselnya didalam saku lalu menelpon seseorang.


Dari sambungan telepon, terdengar Keny tengah bertengkar dengan seseorang diujung telepon. Sementara nyonya Gamsonrich yang memperhatikannya hanya diam ditempatnya berdiri, begitu pula dengan Nadine.


Selesai menelpon, Keny kembali menelpon orang-orangnya supaya datang menemuinya.


Setelah sepuluh menit berlalu, pihak manajemen apartemen akhirnya datang menemui Keny bersama dua orang security.


"Apakah tuan Keny yakin dengan permintaan anda ini tuan?" tanya pria berperawakan tinggi itu memandang kearah Keny.


"Saya yakin, saya akan bertanggung jawab pada apa yang saya lakukan," ucap Keny.


Pria itu berfikir sejenak, pandangannya mengarah pada nyonya Gamsonrich yang sangat dikenalnya, keluarga terpandang, yang perkataannya tidak mudah dibantah.


"Nyonya, mohon maafkan saya. Apartemen ini sangat menghargai dan melindungi privacy masing-masing penghuninya," ungkapnya dengan hati-hati takut menyinggung lawan bicaranya.


"Bila Tuan masih tidak mau membuka pintunya, sekarang juga saya terpaksa mengundang media kemari. Agar semua orang tahu bahwa gedung apartemen ini sengaja menyembunyikan pasangan mesum disini," ancam Keny yang sudah tidak sabar menghadapi segala alasan pria yang mewakili pihak manajemen apartemen.


"Tapi tuan Keny, sama halnya Anda mempermalukan keluarga tuan Wirelles Nongka dengan mempublikasikan aib putrinya. Dan bila itu sampai terjadi, mereka pasti menuntut anda Tuan," kata pria itu lagi mengingatkan.


"Bila Tuan tidak mau itu terjadi, sekarang saya minta buka pintunya, biarkan kami mengurusnya dengan cara kekeluargaan kami," kata Keny memaksa.


"Baiklah," pria itu akhirnya terpaksa setuju. Ia mengisyaratkan salah satu security untuk membuka pintu dengan access card yang sudah ia siapkan.


Biarkan saya saja yang masuk bersama ibu dan dua orang saya ini," ucap Leon pada pria tinggi perwakilan dari pihak manajemen apartemen.


"Baik tuan Keny," sahutnya mengangguk setuju.


"Sayang, pulanglah ke apartemen kita sekarang. Biar aku dan Mama yang menyelesaikan urusan ini," kata Keny pada isterinya.


"Baiklah, aku mohon, berhati-hatilah," ucap Nadine cemas.


"Tentu saja." sahut Keny. Setelah mendengar perkataan Keny, Nadine lalu pergi meninggalkan tempat itu menuju apartemen mereka yang berada pada dua lantai dibawahnya.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2