CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
72. Satu Kamar


__ADS_3

Pesta resepsi pernikahan telah usai, Monaliza hanya menurut saat dirinya dibawa oleh Dirga menyusuri lorong hotel dan berhenti tepat didepan pintu.


"Kita menginap disini?" tanya Monaliza memberanikan diri menatap wajah Dirga yang sudah menjadi suaminya. Debaran jantung yang telah melanda dirinya semenjak pemberkatan nikah digereja tadi siang masih terasa hingga kini, bahkan makin menjadi-jadi.


"Iya, kenapa?" tanya Dirga datar.


"T-tidak apa-apa Pak, saya pikir kita akan menginap dikamar yang terpisah," sahut Monaliza jujur, mengatakan apa yang ada didalam kepalanya dengan perasaan gugup.


"Aku tidak punya budget lebih untuk membuka satu kamar lagi," kata Dirga seraya memasukan tangan kirinya kedalam saku jasnya mencari sesuatu. Monaliza terdiam, ia hanya memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Dirga.


"Lagi pula, kita sudah sah menjadi suami isteri, untuk apa kamar yang terpisah?" ujar Dirga lagi, ia segera membuka pintu dengan akses masuk yang telah ia temukan dalam saku jasnya.


"Ayo masuk, ini sudah larut malam," ajak Dirga saat melihat Monaliza masih berdiri mematung menatap pintu yang terbuka.


"I-iya," Monaliza lalu mengekor dibelakang Dirga dengan hati-hati sambil menaikan gaun pengantinnya hingga setengah kaki jenjangnya terlihat, agar gaunnya itu tidak terinjak oleh sepatunya.


"Agghhh!" pekik Monaliza tertahan, tatkala yang ia takutkan tetap terjadi juga, kaki kirinya tersandung keset didepan pintu hingga tubuhnya limbung dan menabrak punggung Dirga yang berjalan didepannya.


Sepasang tangan Monaliza repleks memeluk tubuh Dirga dihadapanya dengan sangat erat, ia tidak mau mengambil resiko sampai terjatuh kelantai dengan gaun beratnya itu.


Wangi tubuh Dirga langsung menyeruak masuk kerongga dadanya, membuat jantung Monaliza kian berdegup kencang, dan tanpa sengaja jari-jemarinya menekan kotak-kotak pada dada dan perut Dirga yang terasa keras dan kencang dibalik jas pengantinnya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" Dirga yang tengah melangkah masuk langsung menghentikan langkahnya. Ia merasa kaget saat sepasang tangan Monaliza secara tiba-tiba melingkar diperutnya. Dirga memegang kedua tangan isterinya itu, dan merasakan dua benda kenyal menimpa dan menekan punggungnya secara intens.


Mendengar suara Dirga yang bertanya padanya, menyadarkan Monaliza bila dirinya sedang memeluk pria yang telah menjadi suaminya itu.


"Maafkan saya Pak, saya tidak sengaja tersandung keset didepan pintu itu dan hampir terjatuh," sahut Monaliza. Ia melonggarkan dekapannya, berusaha berdiri tegak untuk menyeimbangkan tubuhnya. Ia khawatir, Dirga tidak menyukai tubuh mereka yang saling bersentuhan, saat ini ia masih berfikir bila bos-nya itu menikahinya karena hanya ingin bertanggung jawab pada bayi yang tengah dikandungnya.


"Agghh!" Pekikan tertahan Monaliza kembali terdengar saat dirinya tidak mampu berdiri pada kedua kakinya.


Dirga segera berbalik dan dengan sigap menangkap tubuh Monaliza masuk kedalam gendongannya, "sepertinya kakimu terkilir," kata Dirga sambil membawanya keranjang pengantin mereka.


Monaliza yang kaget mendapat perlakuan Dirga padanya sedikit meronta, namun ia langsung terdiam saat melihat tatapan lekat suaminya seolah sanggup menembus hingga kejantungnya.


Dup! Dup! Dup!


"Kakimu yang mana terasa sakit?" tanya Dirga, setelah ia baru saja mendudukan tubuh Monaliza ditepi tempat tidur, ia berjongkok lalu menyingkap gaun pangantin yang menjuntai panjang menutupi kedua kaki Monaliza.


"Pergelangan kaki kiriku, agghh," sahut Monaliza sambil meringis kesakitan, saat tangan Dirga menyentuh pergelangan kaki kirinya.


Dirga melepas sepasang sepatu high heels dari kaki Monaliza dengan hati-hati. "Apa ini sakit?" tanya Dirga, ia menekan-nekan lagi dengan pelan pergelangan kaki kiri Monaliza sambil menengadahkan wajahnya keatas melihat respon wajah Monaliza yang menunjukan rasa sakit saat tangannya menekannya.


"Iya itu sangat sakit," kata Monaliza membenarkan.

__ADS_1


"Bersiaplah, aku akan membuat kakimu kembali merasa nyaman," kata Dirga seraya memijit-mijit pelan lalu mulai memutar pergelangan kaki Monaliza kekiri dan kekanan.


Seperti biasa, Monaliza hanya menurut, tidak banyak membantah. Memori ingatannya kembali melayang saat dirinya terkikir dirumah sakit beberapa bulan yang lalu, dan saat itu, Dirga pula yang memijit dan membenarkan urat kakinya yang salah. Mungkinkah itu suatu kebetulan yang hanya kebetulan saja, batinnya.


Praaff! Praaff! Praff!


Dirga mulai melakukan aksinya.


"Aggghhh!" pekik Monaliza kencang hingga air matanya tidak terasa keluar tanpa bisa ia tahan, merasakan rasa sakit yang luar biasa akibat pergerakan tiba-tiba yang dilakukan oleh Dirga pada pergelangan kaki kirinya, setelah pria itu memijat pelan dan menekan kakinnya hati-hati.


"Sekarang, gerakan pergelangan kaki kirimu," perintah Dirga, setelah membuat Monaliza berteriak kencang karena kesakitan. Wanita itu kembali menurut tanpa protes.


"Bagaimana?" tanya Dirga, setelah dilihatnya kaki Monaliza kembali bergerak bebas.


"Ini ajaib, terima kasih," sahut Monaliza senang, pergelangan kaki kirinya yang terasa sakit luar biasa, kini sudah bisa ia gerak-gerakan dengan bebas. Dirga hanya tersenyum ringan, senyum yang sangat jarang ia tunjukan pada siapapun selain orang-orang terdekatnya.


Tok! Tok! Tok!


Monaliza dan Dirga sama-sana menoleh kearah pintu.


"Kau tidak boleh berjalan sendiri dulu sementara waktu untuk malam ini. Katakan saja apa yang kau inginkan, aku akan membantumu untuk mengambilnya." kata Dirga mengingatkan seraya berdiri dari jongkoknya dan melangkah menuju pintu untuk melihat siapa yang bertamu dimalam selarut ini, bertepatan dengan malam pengantinnya.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2