
"Apa itu?" tanya Dirga, saat Monaliza mengeluarkan buku tipis dari dalam kotak kado.
Monaliza tidak langsung menjawab, ia membuka lembaran demi lembaran buku tipis lebar itu. Sementara Dirga terus mengawasi raut wajah Monaliza yang tidak nampak terkejut, bahkan terlihat teralu biasa saja dan terkesan tanpa ekspresi membuat Dirga penasasaran.
"Buku apa itu?" tanya Dirga lagi.
"Ini, surat kepemilikan satu unit penthouse," setelah berkata demikian, Monaliza mengembalikan buku yang dipegangnya kedalam amplop merah menyala berbingkai gold.
"Atas nama siapa?" tanya Dirga pura-pura tidak tahu.
"Leon," sahut Monaliza singkat. Dirga yang mendengarnya, mengerutkan keningnya. Pasalnya, dirinya sudah tahu bila surat kepemilikan itu adalah atas nama isterinya, bukan Leon, karena dengan jelas ia telah melihatnya sendiri saat kotak itu pertama kali dibuka olehnya.
"Leon?" gumam Dirga menyelidik wajah Monaliza yang masih menatap buku tipis ditangannya. "Kira-kira apa tujuan mantan kekasihmu itu memberikan hadiah itu padamu?" tanya Dirga kemudian.
"Saya-, tidak tahu," sahut Monaliza tidak ingin banyak bicara. Ia enggan untuk membahas tentang Leon lagi bersama suaminya itu.
"Lihatlah, masih ada kotak kecil didalam kotak hadiah itu," tunjuk Dirga.
Sepasang mata Monaliza memandang sejenak kearah yang ditunjuk Dirga, tidak lama setelahnya, wanita itu meraih kotak itu, mengeluarkannya dari dalam kotak hadiah dan meletakannya diatas meja sambil melihat tulisan yang tergantung digagang kotak itu.
"Kenapa belum dibuka?" tanya Dirga saat Monaliza akhirnya melepaskan tangannya dari kotak berwarna merah menyala berbingkai gold sekelilingnya.
"Saya rasa, saya tidak perlu membukanya," sahut Monaliza dengan suara rendahnya.
"Apakah pak Dirga tidak jadi mandi?" Monaliza berusaha mengalihkan pembicaraan. Pembahasan tentang Leon membuat semua sarafnya menegang sedari tadi.
"Tentu saja jadi. Tidak mungkin aku membiarkan tubuh lengketku ini tidak dibersihkan," kata Dirga seraya berdiri, ia berniat mandi karena merasa gerah sejak tadi.
"Tunggu Pak," Monaliza segera beranjak dari duduknya dan mengejar Dirga.
Spontan Dirga berhenti disisi tempat tidur lalu berbalik menghadap Monaliza yang sudah berdiri berhadapan dengannya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Dirga menatap Monaliza.
"Apa boleh saya membantu membuka pakaian kerja Anda Pak?" kata Monaliza mengulang pertanyaannya sebelumnya.
"Boleh, sekalian sampai boxer-ku? Jangan sampai ada sehelai benangpun tersisa ditubuhku," ucap Dirga menantang.
"B-boxer juga," wajah Monaliza seketika terlihat gugup membuat Dirga tersenyum didalam hati.
"Kenapa? Tidak sanggup?" tanya Dirga datar.
"Sa-saya-," Monaliza merasa bingung antara melanjutkan dan tidak, ia sudah terlanjur menawarkan diri untuk melayani suami, berusaha belajar menjadi isteri yang baik sesuai wejangan ibu mertuanya juga mama Han.
"Tidak perlu. Wajahmu saja sudah terlihat pucat saat mendengar perkataanku. Apa lagi sampai melihat semua aset tubuhku," ujar Dirga sembari berbalik meninggalkan Monaliza yang masih berdiri ditempatnya.
"Apa yang kau lakukan didalam kamar mandi tadi saat aku datang?" tanya Dirga menghentikan langkahnya tepat ddepan pintu kamar mandi sejenak.
"Menyiapkan air hangat untuk pak Dirga mandi," sahut Monaliza.
"Baiklah, terima kasih," ucap Dirga menyunggingkan senyum tipis dibibirnya pada Monaliza, lalu segera masuk ke kamar mandi.
Benar saja, disana sudah tersedia air hangat didalam bathtup. Dirga melepaskan pakaiannya satu-persatu, sebenarnya ia deg-deg'an juga bila sampai Monaliza berani membuka pakaiannya tadi.
Walau sebelumnya, mereka pernah tidur bersama hingga isterinya itu hamil sebelum menikah akibat satu kesalahan tidak disengaja, saat dirinya dibawah pengaruh alkohol dan isterinya dibawah pengaruh obat rangsangan.
Namun kini, ia berusaha memperbaiki semuanya, membangun hubungan rumah tangga yang sehat dengan cinta yang menjadi pondasinya. Sulit memang, karena baginya tidak mudah membuat Monaliza jatuh cinta padanya dengan kekakuan dirinya, hanya anak yang ada dalam kandungan Monaliza-lah yang membuat mereka bisa bersama saat ini.
...***...
"Puas jalan-jalannya?" tanya ibu Bianka pada anak-anaknya yang terlihat bahagia. Di tangan kanan dan kiri mereka masih memegang ice cream sambil duduk selonjor dilantai teras rumah.
"Puas Bu, apa lagi ice cream-nya," ucap Mimaya sambil melanjutkan memakan ice cream-nya, begitu pula dengan dua adik perempuannya, Alina dan Rachelia.
__ADS_1
Sementara Rony membawa masuk tentengan tas plastik yang ia bawa sejak tadi dari taman tempat mereka bermain-ria kedalam kulkas yang ada didapur, lalu kembali keluar dan bergabung duduk diteras rumah. Leon memang sengaja membelikan ice cream dengan jumlah cukup banyak.
"Terima kasih ya nak Leon, sudah mengajak anak-anak jalan-jalan ditaman sore ini. Mereka pasti sangat merepotkan," ucap ibu Bianka beralih pada Leon yang sedang membersihkan noda ice cream yang bertebaran diwajah mungil Rachelia menggunakan tissue.
"Mereka tidak merepotkan Bu. Setidaknya, bersama mereka, saya bisa melupakan kesedihan saya sejenak," ucap Leon tersenyum hambar, tangannya masih sibuk mengusap wajah Rachelia yang dengan rakus melahap ice cream ditangannya.
Ibu Bianka terdiam, ia tahu penyebab kesedihan pria muda itu, itu sebabnya ia tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Hanya terdengar suara cecapan-cecapan para balita itu saja yang sedang berlomba menghabiskan ice cream-nya masing-masing lalu menjilati jari-jari mereka yang tertumpah makanan manis itu, membuat Leon tersenyum gemas melihat tingkah ketiganya
"Bu, Leon pamit dulu ya," pamit Leon lalu berdiri setelah puas menatap para balita itu dan mengusap kepala mereka dan juga Rony yang ada didekatnya.
"Kak Yeon mau puyang? Tidul di-tini aja." kata Alina dengan lidah cadelnya.
"Tidak bisa Alina sayang, kak Leon harus kerja lagi besok. Kapan-kapan kita jalan-jalan lagi dan makan banyak ice cream lagi. Kak Leon janji," ucap Leon sambil mengulurkan jari kelingkingnya pada Alina.
"Jan-ji ya kak," katanya ikut mengilurkan kelingkingnya pada Leon.
"Jan-ji," sahut Leon seraya mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking kecil balita itu. Ia tersenyum saat Alina yang hampir-hampir tidak bisa melengkungkan jari kecilnya pada jari Leon yang jauh lebih besar.
"Ingat, kalau mau makan ice cream lagi harus ijin dulu sama Ibu, tidak boleh sesuka hati, supaya tidak batuk-batuk dan pilek ya," kata Leon mengingatkan ketiga balita itu.
"iya kak," sahut mereka bersamaan.
"Nak Leon, ini ada kue untuk dibawa pulang," ibu Bianka menyodorkan kotak kue yang sudah dimasukan didalam plastik.
"Tidak perlu repot-repot Bu, Leon hanya sendiri, nanti tidak ada yang makan," tolak Leon.
"Ini sekedar untuk camilan, teman minum teh dipagi hari atau malam hari," ujar ibu Bianka memaksa dan tetap menyodorkan kue buatannya pada Leon.
"Baiklah, terima kasih banyak Bu," Leon akhirnya terpaksa menerima. Setelah berpamitan ulang pada ibu Bianka dan anak-anaknya, ia segera meninggalkan tempat itu.
Bersambung...👉
__ADS_1