
Monaliza terpaku ditempat duduknya menatap kosong kedepan, tangannya masih memegang ponselnya yang menempel didaun telinganya. Dirinya yakin, Leon kecelakaan karena mendengar keputusannya semalam menerima Dirga.
"Bolehkah aku menjenguknya kerumah sakit kak Keny?" tanya Monaliza pelan.
"Kau Boleh Menengok Leon pada jam besuk siang, mama tidak akan ada disana karena sedang berada dikantor," sahut Keny memberitahu.
"Baiklah, nanti aku akan kesana kak," setelah berkata demikian Monaliza menutup teleponnya dan menyimpan benda pipih itu dalam tas kerjanya.
"Leon kenapa Mona?" tanya Rullina sesaat setelah melihat sahabatnya itu menyimpan ponselnya.
"Leon, dia kecelakaan setelah pulang dari rumahku semalam," sahut Monaliza dengan wajah sedihnya.
"Kasihan sekali dia," gumam Rullina turut bersedih.
"Lalu bagaimana keadaannya? Apakah Leon baik-baik saja," tanya Rullina lagi.
"Entahlah Ru, sampai sekarang Leon masih belum sadarkan diri kata kak Keny," terang Monaliza. Setelah berkata demikian ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena menerima telepon dari Keny.
Walaupun sangat sulit berkonsentrasi pada pekerjaannya karena masih memikirkan kondisi Leon, Monaliza tetap berusaha melakukannya sebagai bentuk profesional kerja.
Rullina tidak melanjutkan pertanyaannya sekalipun masih banyak yang ingin dirinya ketahui. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya sama seperti Monaliza.
Setelah beberapa waktu berlalu, Monaliza membereskan buku-buku catatannya yang telah pindahkan data-data pentingnya kedalam komputer.
"Aku ijin keluar dulu ya Ru, mau menengok Leon dirumah sakit," kata Monaliza, ia meraih tas kerjanya yang ia simpan dalam laci meja paling bawah.
"Apakah kau tidak makan siang dulu, Mona? Ingat, ada satu nyawa lagi dalam tubuhmu, dan kau tidak boleh terlambat makan siang supaya dirimu tidak sakit dan janinmu juga dapat tumbuh dengan sehat," ujar Rullina dengan gaya menasehati membuat Monaliza sedikit menyunggingkan senyum dibibirnya.
"Sekali-kali tidak masalah Rullina, aku buru-buru, takut jam besuknya keburu habis dalam perjalanan," sahut Monaliza segera berdiri dari duduknya.
"Kau tidak boleh kemana-mana sebelum memakan habis makan siangmu ini." tunjuk Dirga pada kotak-kotak makanan yang ia bawa.
__ADS_1
Monaliza yang masih setengah berdiri merasa kaget pada kehadiran Dirga yang tiba-tiba muncul didepan meja resepsionis, begitu pula Rullina ikut mendongakan kepalanya menatap pada CEO yang berwajah datar seperti biasanya.
"Tapi saya buru-buru Pak. Nanti jam besuknya habis," Monaliza memberi alasan.
"Aku tidak mengijinkanmu pergi sebelum kau memakan makan siangmu," tegas Dirga datar.
"Lagi pula, kau sudah tidak berkewajiban membesuk pria itu. Kau sudah bukan siapa-siapnya lagi setelah kau dan keluargamu menerima lamaranku semalam," kata Dirga mengingatkan. Sebelumnya ia memang mendengar percakapan kedua pegawainya itu.
Rullina membekap mulutnya sendiri karena kaget mendengar percakapan antara Dirga dan Monaliza, ia takut suara emasnya keluar tanpa etika mendengar pernyataan Dirga yang mengejutkan pendengarannya.
Monaliza menatap wajah datar Dirga yang memandang kearahnya," saya tidak mau makan, biarkan saja saya dan bayi ini lapar," ketus Monaliza, ia tidak suka mendengar larangan Dirga padanya. Tidak biasanya ia sekesal dan seberani itu pada CEO-nya itu.
Mendengar perkataan Monaliza, hampir saja Dirga langsung menunjukan sikap sebagai seorang atasan pada bawahannya, namun ia segera mengurungkan niatnya mengingat ucapan Firans yang sering menasehati untuk bisa mengambil perhatian sang calon ibu dari anaknya.
Ia tidak akan membiarkan perjuangannya yang baru maju satu langkah bersama kedua orang tuanya semalam akan berakhir sia-sia karena tidak bisa menguasai diri untuk tetap sabar dalam menghadapi wanita didepannya ini.
"Baiklah, kau boleh membesuk 'temanmu' itu," kata Dirga akhirnya masih dengan suara datarnya dengan menekankan kata teman pada nama Leon.
"Rullina, bisakah kau meninggalkan kami disini berdua? Pergilah istirahat makan siang," kata Leon menatap Rullina yang masih setia duduk dikursinya.
"B-baik Pak, saya akan pergi sekarang," Rullina segera membuka laci mejanya untuk meraih tas kerjanya yang ada didalam sana.
"Pak, biarkan Rullina disini saja bersama saya," pinta Monaliza, ia merasa sungkan dan deg-deg'an bila hanya berdua bersama CEO-nya itu.
"Rullina juga lapar, dia perlu makan siang. Bukankah begitu Rullina?" sahut Dirga sambil meminta dukungan Rullina.
"Iya Pak," sahut Rullina cepat.
"Sekarang pergilah, dan jangan lupa cepat kembali, karena saya akan menemani Monaliza kerumah sakit setelah selesai makan siang,' kata Dirga lagi.
"Baik Pak," Rullina yang sudah mulai terbiasa beberapa hari belakangan dengan gaya pengusiran pimpinan perusahaan tempatnya berkerja itu tidak banyak bicara, hanya patuh dan segera meninggalkan Monaliza yang semakin merasa tidak nyaman dengan aura kehadiran Dirga disetiap jam makan siang.
__ADS_1
Ditambah lagi para pegawai lainnya yang sering memperhatikan dirinya dan Dirga secara diam-diam saat mereka melewati meja resepsionis.
Dirga mulai membuka kotak-kotak makanan yang dibawanya dan meletakan beberapa didepan Monaliza," makanlah."
"Kau harus banyak makan ikan," Dirga mendekatkan lagi satu kotak makanan berwarna pink berisi ikan salmon dihadapan Monaliza.
"Kanduangan protein, Vitamin-D, kalium, yodium, dan omega tiga pada ikan sangat baik untuk perkembangan bayi, juga ibunya," imbuh Dirga yang memang banyak belajar tentang kandungan gizi untuk ibu hamil dan bayinya.
"Pak Dirga, bisakah tidak menatap saya terus, atau pak Dirga menjauh dari sini, saya.tidak akan bisa makan kalau seperti ini," kata Monaliza jujur.
"Saya memang seharusnya ada disini untuk memastikan kau menghabiskan semua makan siangmu ini. Saya tidak ingin asupan gizi untukmu dan calon anakku kurang," sahut Dirga memberi alasan keberadaan dirinya disana.
"Dan mulai sekarang kau harus membiasakan dirimu untuk terbiasa ada didekatku, karena kita akan menikah." ungkap Dirga menatap Monaliza yang selalu merasa canggung ada didekatnya.
Degg. Degg. Degg.
Degup jantung Monaliza langsung bertalu-talu. Walau ia tahu lamaran Dirga semalam pasti akan bermuara pada pernikahan, tapi tetap saja membuat jantungnya selalu berdegup kencang setiap kali mendengarnya.
Mungkin bila Leon yang mengatakannya, Monaliza akan langsung tersenyum dan merasa nyaman. Tapi sekarang yang mengatakan itu adalah Dirga, seorang CEO sekaligus pemilik perusahan ditempat dirinya berkerja. Pria yang selalu menunjukan pesona kharisma seorang pemimpin, kaku, dingin, dan datar.
Berada didekatnya selalu membuat Monaliza tegang, bergidik ngeri, dan deg-deg'an tidak karuan, dunia serasa sangat lambat berputar.
Mungkinkah dirinya bisa menikah dan bertahan bersama pria seperti Dirga. Berada didekatnya saja membuat Monaliza merasakan aura yang sangat tidak nyaman.
"Jangan lupa minum jus-mu sampai habis," kata Dirga menguak keheningan yang sempat tercifta diantara mereka berdua.
"Hm," Monaliza hanya bergumam saja menjawab perkataan Dirga padanya.
Ia melirik Dirga yang sedang memakan makan siangnya, pria itu hanya memakan nasi seporsi anak TK, sepotong daging kecil yang dilumuri pasta tomat dan keju, sepotong ikan salmon bumbu, dan sekotak penuh sayuran hijau setengah matang, juga beberapa macam buah yang sudah dipotong rapi dalam kotak makanannya.
...***...
__ADS_1