
Walaupun ia masih sangat kesal kepada Radit, tapi Rara berusaha bersikap baik kepada Radit di depan Angga dan juga ibunya.
Mereka bertiga makan malam bersama sambil berbincang-bincang dengan penuh kehangatan, selayaknya sebuah keluarga seutuhnya.
setelah selesai menikmati makan malam, mereka semua masuk ke dalam kamar mereka masing-masing termasuk Rara dan Radit.
Suasana yang semula sangat harmonis tiba-tiba berubah menjadi tegang di kamar tersebut, Rara sudah tidak memperhatikan keramahan nya lagi kepada Radit, melihat wajahnya saja rasanya malas, apalagi saat mengingat ucapan Radit semalam, yang telah merendahkan nya dan mengatakan bahwa dia adalah seorang pe*ac*ur, hal itu teramat sangat menyakitinya.
"Ra tolong beritahu aku, bagaimana caranya untuk meminta maaf sama kamu, dan apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku" Ucap Adit memulai pembicaraan.
"Aku tau Ra aku tidak pantas mendapatkan Maaf dari kamu, aku juga malu karena aku sudah terlalu sering menyakiti hati kamu, mungkin kata maaf saja tidak akan cukup mengobati luka hati kamu"
" kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau agar kamu puas, agar kamu bisa memaafkan aku, kamu boleh tampar aku, pukul aku dan maki aku sesuka hati kamu Ra, asal kamu mau maafin aku" ucap Adit lagi.
"Cukup Dit, kamu gak perlu melakukan semua itu, yang perlu kamu lakukan hanyalah diam dan berusaha sebisa mungkin untuk jauh-jauh dari aku, dan janganpernah campuri urusan aku sesuai perjanjian yang kamu buat" Jawab Rara sinis.
"Tapi Ra"
"Cukup Dit aku udah males berdebat lagi, lebih baik sekarang kamu tidur"Bentak Rara.
"Di kamar ini ada sofa seperti di rumah mewah kamu, jadi malam ini kamu tidur di lantai, tapi kalau kamu keberatan kamu boleh pulang ke rumah mewah kamu sekarang kuga, biar kamu bisa tidur nyaman" Rara menyuruh Radit tidur di lantai yang hanya beralaskan sebuah tikar. Ia yakin jika Radit tidak akan mau melakukannya, karna selama ini Radit selalu hidup dengan kemewahan.
"Ia Ra gak masalah" Demi Rara ia rela melakukan apapun, meskipun ia harus tidur di luar, baginya semua ini belum seberapa di bandingkan dengan Rasa sakit yang telah ia goreskan kepada Rara.
Kini keadaan telah berbalik, jika kemarin Rara yang berusaha sabar menghadapi dan memaklumi sikap Adit, sekarang giliran Adit yang sedang mengumpulkan kesabaran nya untuk menghadapi sikap sinis Rara dan berusaha mendapatkan maaf dari istrinya itu.
"Sepanjang malam Adit tidak bisa memejamkan matanya, ia merasa kedinginan dan tidak nyaman tidur di lantai, badannya terasa sakit, berbeda jauh dengan tempat tidur nya yang sangat empuk dan nyaman, selain itu Adit juga tidak tahan dengan gigitan nyamuk yang terus mengganggu nya. Berkali-kali Adit merubah posisi tidurnya dari mulai tengkurap, telentang, miring ke kiri dan ke kanan untuk mencari posisi yang nyaman, tapi tetap saja ia tidak bisa tidur, hingga ia memutuskan untuk duduk.
Ia lebih memilih untuk mengusir nyamuk-nyamuk yang sangat meresahkan, sekaligus untuk menjaga istrinya agar tidak mendapatkan gigitan dari nyamuk tersebut, agar istrinya bisa tidur dengan nyenyak.
Pagi-pagi sekali Ibu Sari sudah sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka semua, Rara juga ikut membantu ibunya di dapur.
Setelah selesai memasak, ibu meminta Rara untuk memanggil Angga dan Radit untuk sarapan bersama.
Setelah memanggil Angga di kamarnya, Rara bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk membangunkan Adit yang masih tidur walaupun sebenarnya ia malas melakukannya.
__ADS_1
" Dit bangun Dit... Ibu menyuruh kamu sarapan bersama " ucap Rara malas.
"Kalian sarapan aja duluan, aku gak enak badan" ucap Adit dengan mata yang masih terpejam.
"Udah lah Dit kamu gak usah pura-pura, pasti cuma akal-akalan kamu aja kan biar aku kasian sama kamu" jawab Rara tak percaya.
Adit tak menghiraukan ucapan Rara, ia kembali tertidur karena semalam ia tidak tidur sama sekali.
Karna merasa penasaran akhirnya Rara memberanikan diri untuk menempelkan punggung tangannya di dahi Adit, karna ia juga melihat wajah Adit tampak sedikit pucat dan tubuhnya menggigil.
"Ya ampun badan nya panas banget" ucap Rara khawatir.
"Dit... Dit..." Ucap Rara menggoyangkan lengan Adit.
"Ada apa Ra" ucap Adit sedikit lemas seraya berusaha membuka matanya.
"Kamu pindah ke atas dulu ya tidurnya!" pinta Rara
"Gak usah Ra aku di sini aja" tolak Adit.
"Ra mana suami kamu" Tanya Ibu ketika Rara datang sendiri dari kamarnya.
"Adit sakit Bu, badan' panas banget"jawab Rara.
"Sejak kapan... Padahal waktu makan malam keliatan masih baik-baik aja" Ucap Ibu khawatir
"Rara juga gak tau bu" jawab Rara.
"Masa kamu sebagai istrinya gak tau sih, kan gak mungkin suami kamu tiba-tiba panas gitu aja, pasti ada gejala-gejalanya dulu, kamu itu harus lebih memperhatikan suami kamu Ra" omel ibu.
"Ya sudah, ini kamu bawa aja sarapan nya ke kamar, trus kasih obat demam, jangan lupa di kompres juga Ra, biar cepet turun demamnya " ucap ibu lagi seraya menyiapkan makanan untuk di bawa ke kamar.
Sesampainya di kamar Rara kembali membangun kan Radit.
"Dit makan dulu nih abis itu minum obat"
__ADS_1
"Nggak Ra... Mulut aku rasanya pahit" Tolak Radit.
"Paksain dulu dit, biar kamu bisa minum obat, ayo duduk dulu bentar" paksa Rara.
Akhirnya Radit memaksakan diri untuk duduk walaupun kepala nya terasa pusing, Radit mencicipi makanan yang Rara bawa, tapi semuanya terasa pahit, ia benar-benar gak nafsu makan.
"Udah ah Ra.." ucap Radit seraya memberikan piringnya kepada Rara.
"Baru juga satu suap Dit..." Omel Rara.
"Tapi Rasanya bener-bener gak enak Ra" jawab Radit lagi.
"Ya udah aku suapin ya" ucap Rara dengan terpaksa, agar Adit mau makan, ia juga merasa bersalah karna ia membiarkan Adit tidur di lantai dan menyebabkan nya sakit. Rara juga ingat jika kemarin malam Radit menjemputnya ke kantor sehingga semua badannya basah kuyup, mungkin saja karna hal itu juga yang menyebabkan Radit sakit.
Tentu saja Adit sangat bersenang hati ketika Rara menyuapinya, sepahit apapun makanan yang ia makan, ia akan berusaha menelannya, Radit tidak akan pernah melewatkan momen tersebut.
Setelah selesai sarapan, Rara memberikan Radit obat Radit benar-benar bahagia karena Rara masih mau memperhatikan nya, rasanya ia tidak ingin cepat sembuh, tidak masalah jika ia harus sakit lebih lama lagi, asalkan Rara memperhatikannya nya.
Setelah Meminum obat, Radit kembali tertidur. Rara segera mengambil Air dan juga kain untuk mengompres Adit. Saat itu Adit sudah tertidur pulas karena pengaruh dari obat yang Rara berikan. Rara menempelkan sebuah kain basah di atas dahi Adit, ketika itu ia melihat wajah Adit yang tampak polos dan juga tenang, ia memandang wajah suaminya cukup lama, entah kenapa ia menjadi kasihan dan juga merasa bersalah karna sudah bersikap kasar kepada suaminya, tapi ia masih belum bisa memaafkan ucapan suaminya itu semalam.
Saat menjelang jam makan siang Rara pun kembali melakukan hal yang sama dengan membawakan makanan dan juga obat untuk Adit begitupun seterusnya sampai menjelang malam, bahkan Rara seharian berada di kamar untuk menemani Adit sambil memeriksa keadaannya.
"Ra makasih ya kamu udah mau ngerawat aku seharian ini, maaf aku jadi merepotkan kamu" ucap Adit merasa bersalah karena kedatangannya kemari malah merepotkan Istrinya.
"Gak perlu berterimakasih sama aku, terimakasih aja ibu, karna ibu yang nyuruh aku jagain kamu, ibu juga yang nyiapin makanan untuk kamu, kalau bukan karena ibu, aku males ngurusin kamu" Gerutu Rara, tapi Adit hanya menjawabnya dengan senyuman, apapun alasannya ia tetap bahagia karna Rara masih mau memperhatikan nya.
"Ra... Sekarang kamu istirahat ya udah malem, biar aku tidur di bawah lagi" ucap Radit seraya beranjak dari tempat tidurnya.
"Gak usah, kamu tidur di atas aja malam ini, biar aku yang tidur Di bawah, nanti yang ada kamu makin parah sakitnya" ucap Rara seraya mengambil Bantal dan juga selimut untuk dirinya.
"Nggak Ra aku gak akan membiarkan kamu tidur di bawah" ucap Radit seraya menggenggam tangan Rara yang tengah mengambil bantal
"Aku aja yang tidur di bawah" Adit mengambil bantal yang Rara pegang kemudian ia membaringkan tubuhnya di lantai. Rara menatap nya dengan rasa iba, rasanya ia tidak tega melihatnya seperti itu, apalagi dia sedang sakit.
Sebenarnya ia juga tau bahwa semalam Adit terjaga sepanjang malam, ia melihat Adit mengusir nyamuk-nyamuk yang hendak menggigit nya, melindungi nya agar ia tetap tidur nyenyak. Bahkan dalam keadaan seperti ini pun Adit masih rela berkorban untuk nya.
__ADS_1