CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN

CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN
Episode 40


__ADS_3

Saat Farel masih tertidur pulas, Rara sudah menyibukkan dirinya di dapur membuatkan sarapan untuk farel, ia memanfaatkan bahan-bahan yang ada di kulkas untuk membuat makanan.


"Kamu sedang apa" ucap Farel seraya memeluk Rara dari belakang secara tiba-tiba, hal itu membuat Rara terkejut.


"El... kamu ngagetin aku aja" pekik Rara.


"Aku lagi bikin sarapan untuk kita berdua"


"Aku pikir kamu udah pulang duluan" Farel merasa cemas saat tidak menemukan Rara di sampingnya ketika ia terbangun.


"Padahal kamu gak perlu repot-repot bikin sarapan, kita bisa pesen makanan dari luar"


"Mana mungkin aku pulang begitu saja tanpa pamit sama kamu"


"Udah sekarang kamu tunggu dulu di meja makan, sebentar lagi sarapannya selesai" ucap Rara seraya melepaskan tangan Farel.


"Baiklah kalau gitu" ucap Farel seraya mencium pipi Rara sekilas. Hubungan mereka tampak seperti pasangan kekasih pada umumnya, namun sampai saat ini belum ada kejelasan atas hubungan tersebut. Baik Rara atau farel tidak ada yang mengungkapkan perasaan mereka masing-masing, keduanya membiarkan hubungan tersebut berjalan dengan apa adanya.


"Sarapannya sudah siap...." ucap Rara seraya meletakan makanan tersebut di atas meja.


"Hmmmmm wangi banget, keliatannya enak" Farel tampak tidak sabar untuk mencicipi masakan Rara.


"Ya sudah ayo kita makan" Rara mengambilkan makanan ke piring Farel.


"Makasih..."jawab Farel dengan senyuman tipis di bibirnya. Farel langsung mencicipi masakan yang dia buat Rara, namun saat suapan pertama, ekspresi wajah Farel tiba-tiba berubah, ia mengunyah makanan tersebut dengan perlahan. Rasa makanan tersebut benar-benar sama persis dengan masakan yang di buat Maya. Walaupun sebenarnya ia baru satu kali mencicipi masakan Maya, itupun pada saat ia ikut sarapan di rumah kakaknya waktu itu, tapi ia masih hafal betul rasa masakan Maya. Dan hal itu membuat farel kembali teringat kepada Maya.


"El... kamu kenapa, makanannya gak enak ya" Tanya Rara bingung saat melihat perubahan raut wajah Farel yang mendadak murung.


"Ng_nggak... masakan kamu enak kok" Ucapan Rara membuyarkan lamunan Farel.


"Serius ?? kok keliatannya kamu kaya gak suka gitu sama masakan aku" Rara masih tak percaya dengan Ucapan farel.


"Suka kok suka, aku cuman tiba-tiba sakit perut aja" Bohong Farel.


"Aku ke toilet dulu ya, kamu lanjutin aja sarapannya." Farel beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Rara. Rara merasa sangat heran melihat perubahan sikap Farel yang secara tiba-tiba, padahal tadi ia kelihatan baik-baik saja.


"Kenapa sih... gue gak bisa lupain Lo may... kenapa..." ucap Farel frustasi.

__ADS_1


"Kapan Lo akan pergi dari pikiran gue" ucap Farel sambil berdiri di depan cermin kamar mandi dengan wajah yamg masih basah, karna ia barusaja membasuh mukanya berkali-kali agar dapat menghilangkan bayangan Maya dari pikirannya.


****


Seperti biasa, setiap sore Alvian selalu meluangkan waktu untuk menjemput Maya di kampus, ia menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari biasanya, berbeda dengan sebelum ia menikah dengan Maya, ia selalu menghabiskan waktunya di kantor hingga ia selalu pulang terlambat.


"Mas... kita mau kemana, kok ini bukan arah ke rumah kita" Tanya Maya bingung.


"Kita mau pulang ke rumah kamu" Maya sangat terkejut mendengar ucapan Alvian


"Tapi kan mas... Ibu masih marah sama aku" jawab Maya sedih.


"May... walaupun ibu marah sama kamu, tapi saya yakin jauh di lubuk hatinya yang paling dalam beliau pasti sangat merindukan kamu" jelas Alvian seraya menggenggam tangan sang istri, ia ingin berusaha membuat hubungan Maya dan Ibunya kembali membaik, ia merasa bersalah jika membiarkan hubungan antara ibu dan anak itu jadi berantakan karna ulahnya sendiri.


"Semoga saja Mas" jawab Maya lirih dan penuh harap.


Beberapa saat kemudian mobil yang kendarai Alvian akhirnya sampai di sebuah tempat yang tidak jauh dari rumah Maya, yang biasa di gunakan untuk memarkirkan mobil. Tapi Maya tampak ragu untuk keluar dari mobil tersebut.


"Ayo May... kita turun" Ucapan Alvian membuyarkan lamun Maya.


"I_ia mas" jawab Maya gugup Kemudian Alvian membukakan sabuk pengaman Maya, setelah itu keduanya segera turun dari dalam mobil. kemudian Alvian menggenggam tangan istrinya untuk berjalan menuju rumah ibunya.


"Assalamualaikum..." ucap Alvian seraya mengetuk pintu rumah Maya.


"Waalaikumsalam..." tak lama Kemudian pintu tersebut pun terbuka, dan ternyata Angga yang membukakan pintu untuk mereka.


"Kakak" pekik Angga tampak bahagia melihat kedatangan kakaknya.


"Angga" Jawab Maya langsung memeluk adiknya itu.


"Angga kangen banget sama kakak" Ucap Angga dalam pelukan kakaknya.


"Kakak juga kangen dek..." jawab Maya. Alvian merasa bahagia melihat Maya bisa bertemu dengan keluarganya dan melihat istrinya itu tersenyum.


"Siapa yang datang nak..." tiba-tiba saja ibu keluar menyusul Angga, beliau benar-benar terkejut saat melihat kedatangan putri sulungnya itu.


"Ibu...." Maya langsung menghampiri ibunya, meraih tangannya dan mencium punggung tangan ibunya itu. Begitupun dengan Alvian.

__ADS_1


Air Maya ibu tiba-tiba menggenang saat anak dan menantunya mencium punggung tangannya, di dalam lubuk hatinya ia merasa bahagia atas kedatangan anak dan menantunya itu. walaupun begitu ibu tetap menyembunyikan perasaannya itu, ia buru-buru mengusap matanya agar sebelum air matanya benar-benar keluar.


"Ada keperluan apa kalian kesini" Ibu bersikap seolah-olah tidak menginginkan keberadaan mereka.


"A-aku__" jawab Maya bingung.


"Saya sengaja mengajak Maya kesini, karna Maya sangat merindukan ibu"Akhirnya Alvian yang menjawab pertanyaan ibu mertuanya itu.


"Bukannya saya sudah pernah bilang agar kalian tidak perlu datang kesini lagi, kenapa kalian tidak mendengarkan ucapan saya, apa ucapan saya waktu itu kurang jelas"


"Bu tolong jangan bersikap seperti ini, kasian Maya, dia__" Ucap Alvian berusaha memberikan penjelasan kepada ibu mertuanya itu bahwa Maya tidak bersalah.


"Mas sudah mas..."Maya memotong pembicaraan suaminya itu.


"Sebaiknya kita pulang saja"


"Aku gak mau membuat keributan di sini dan membuat ibu sakit gara-gara kedatangan kita" Ajak Maya.


"Kalau begitu kita pamit dulu ya Bu.."


"Maaf kalau kedatangan kami mengganggu ibu dan membuat ibu tidak nyaman" ucap Maya sopan, hal itu membuat hati ibu sangat sakit. Sebenarnya bukan ini yang ia harapkan, ia sangat ingin memeluk putri sulungnya itu dan mengatakan bahwa ia sangat merindukan nya.


Namun baru saja Maya berjalan beberapa langkah tiba-tiba saja Maya merasa pusing dan langsung pingsan, untung saja Alvian dengan sigap menyangga tubuh Maya, semua orang langsung panik termasuk dengan ibu, ia meminta Alvian untuk membawa Maya ke kamarnya.


Ibu sangat histeris melihat keadaan putrinya, ia bergegas mencari minyak angin untuk Maya, wajah ibu tampak pucat dan tubuhnya tampak gemetar melihat keadaan putrinya. ia mengoleskan minyak angin tersebut di dahi, hidung dan leher Maya, ia juga memanggil-manggil nama putrinya itu sambil mengusap-usap tangannya, berharap Maya segera siuman.


Ibu menatap wajah Putrinya dengan rasa bersalah karna merasa terlalu keras kepada putrinya itu.


"May... bangun May..."


"Maafkan ibu yang sudah bersikap keras sama kamu"


"Ucapan ibu pasti melukai hati kamu"


"Sebenarnya ibu berbohong sama kamu"


"Sebenarnya ibu juga sangat merindukan kamu nak..."

__ADS_1


"Ibu sangat bahagia melihat kedatangan kamu" Air mata ibu tak terbendung lagi, ia benar-benar menyesal memperlakukan Maya seperti itu.


__ADS_2