CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN

CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN
Episode 48


__ADS_3

Maya baru saja pulang dari kampus, hari ini ia pulang terlambat karna harus mengerjakan tugas dari dosennya, namun ketika ia masuk ke dalam rumah, ia mendapati Ibu mertuanya tergeletak di atas lantai dan berlumuran darah, Maya benar-benar terkejut ia langsung berlari menghampiri mertuanya untuk melihat keadaannya.


"Mih... Bangun Mih... mami kenapa bisa seperti ini" ucap Maya panik.


"Mih... Mami bertahan Ya..."


"Maya telepon ambulan dulu"ucap Maya lagi.


Ketika Maya hendak mengambil ponsel, di saat bersamaan Alvian dan Bella pun datang, Tadi Bella sengaja menemui Alvian di kantor nya untuk mengajak pulang bersama, ia sengaja melakukan hal itu agar tidak ada yang mencurigainya.


"Mami..." Alvian tak kalah terkejutnya seperti Maya saat melihat keadaan Maminya. Ia langsung berlari menghampiri Maminya. Bella pun pura-pura terkejut saat melihat semua itu.


"Mih... bangun Mi... siapa yang melakukan ini sama Mami" ucap Bella pura-pura menangis.


"May... Mami kenapa May... Kenapa Mami bisa seperti ini" Tanya Alvian panik.


"Aku juga gak tau Mas... pas Aku datang tiba-tiba Mami sudah seperti ini" jawab Maya tampak bingung.


"Gak mungkin Mami bisa tiba-tiba seperti ini"


"pasti kamu kan yang mencelakai Mami" ucap Bella melempar kan tuduhan kepada Maya.


"Aku gak bohong Bak... Aku bener-bener gak tau apa-apa" jawab Maya lagi.


"Sekarang bukan waktunya untuk berdebat, sebaiknya kita bawa Mami ke rumah sakit secepatnya" Bentak Alvian melerai perdebatan mereka berdua. Saat ini yang ada di pikirannya adalah menyelamatkan nyawa Maminya.


Sesampainya di rumah sakit, Mami langsung di tangani oleh Dokter yang tengah bertugas di sana, Alvian juga sudah menghubungi Papi dan juga Farel, saat ini mereka berdua masih berada di perjalanan.


Beberapa saat kemudian Papi dan Farel pun tiba di rumah sakit, mereka berdua sangat shock saat mendengar kabar tersebut.


"Al... sebenarnya apa yang terjadi dengan Mami kamu, gimana kejadiannya" tanya papi meminta penjelasan putranya.


"Al juga gak tau Pih kejadiannya seperti apa" "Maya yang pertama kali menemukan Mami, dan Maya juga gak tau kenapa Mami bisa seperti itu"jawab Alvian.


"Waktu itu di rumah lagi gak ada siapa-siapa pih... saat aku dan Al pulang, cuma ada Maya dan juga Mami" Ucapan Bella secara tidak langsung menyudutkan Maya.


"Nggak... ini semua gak masuk akal, gak mungkin Mami bisa tiba-tiba seperti itu"


"Pasti ada seseorang yang sudah mencelakai Mami" ucap Papi curiga, kedua matanya menatap ke arah Maya.


"Jangan-jangan kamu yang sudah mencelakai istri saya" ucap papi kepada Maya.


"Nggak Pih... Maya gak tau apa-apa Pih... bukan Maya yang mencelakai Mami" jawab Maya yang sudah hampir menangis.


"Pih... tolong jangan asal tuduh seperti, apalagi kalau Papi gak punya bukti" ucap Alvian

__ADS_1


"Ia Pih... bang Al bener" sambung Farel.


"Tapi__" ucapan Papi terhenti saat melihat Dokter keluar dari ruang pemeriksaan.


"Gimana keadaan istri saya Dok" tanya Papi cemas.


"Saat ini istri bapak mengalami koma, itu semua akibat benturan yang cukup keras di kepalanya, hingga menyebabkan pendaran di otak" jelas Dokter, semua orang benar-benar terkejut mendengar semua itu.


"Dok saya mohon dok... Tolong sembuhkan istri saya, lakukan cara apapun agar istri saya bisa sadar, saya akan bayar berapapun biayanya, asalkan istri saya bisa sembuh lagi" ucap Papi tampak terpukul dan frustasi melihat keadaan istrinya.


"Kami sudah melakukan yang terbaik Pak... Sekarang kita hanya tinggal menunggu perkembangan nya, tapi saya tidak bisa menjanjikan apapun untuk kesembuhan istri bapak, karna kemungkinan untuk sembuh sangatlah tipis"


"Saya harap bapak dan keluarga bisa tabah menghadapi semua ini" ucap Dokter seraya menepuk bahu Papi, kemudian ia pergi dari sana.


"Nggak... gak mungkin... mami pasti baik-baik saja, dia pasti sembuh, tadi pagi Mami kalian masih baik-baik aja" Ucap Papi histeris sambil memeluk Farel dan juga Alvian, ia menangis di pelukan kedua putranya itu.


"Pih... Papih harus tenang, Kita harus yakin kalau mami pasti baik-baik saja" ucap Alvian berusaha menenangkan Papi nya walaupun sebenarnya ia pun sangat terpukul.


"Ia Pih... Kita harus yakin kalo mami bisa bertahan" tambah Farel.


"Semua ini gara-gara kamu" ucap Papi kepada Maya, saat ini ia sedang tersulut emosi.


"Gara-gara kamu istri saya jadi seperti ini, padahal tadi pagi dia baik-baik saja"


"Nggak Pih... Maya bener-bener gak tau apa-apa, Maya gak pernah punya niatan sedikitpun untuk untuk mencelakai Mami" Jawab Maya sambil menangis.


"Trus kalo bukan kamu siapa... Jelas-jelas di rumah itu cuman ada kamu sami istri saya" Papi tetap bersikeras menyalahkan Maya.


"Pih... Sabar Pih, Papi harus tenang" ucap Alvian.


"Ia Pih... Belum tentu Maya yang melakukannya" sambung Farel.


"Kalian gak perlu membela perempuan ini lagi"


"Pasti dia yang sudah mencelakai Mami"


"Papi akan melaporkan nya ke polisi" jawab Papi lagi.


"Jangan Pih... Tolong jangan bawa-bawa polisi"


"kita bisa selesaikan semua ini baik-baik"


"Lebih baik sekarang Papi tenangin diri papi dulu, biar Al yang urus masalah ini"


"Biar Al yang bicara dengan Maya" cegah Alvian.

__ADS_1


"Baiklah Al... Tapi kamu harus janji Al... Kamu harus Bersikap tegas kepada perempuan ini, kamu tidak boleh percaya begitu saja sama dia, kamu jangan mau termakan dengan ucapannya"


"Kalau kamu tidak bisa bersikap tegas kepada perempuan ini, Papi Sendiri yang akan menyeretnya ke dalam penjara" ucap Papi sebelum masuk untuk menemui istrinya.


Bella terlihat puas melihat semua drama ini.


Saat ini hanya tinggal Maya dan Alvian di sana.


"May... Sekarang kamu jawab pertanyaan saya dengan jujur, apa benar kamu yang sudah mencelakai Mami" Alvian meminta penjelasan dari Maya.


"Mas aku bener-bener gak tau apa-apa mas tentang apa yang menimpa Mami"


"Pas aku pulang Mami sudah tergeletak di lantai"


"Tolong kamu percaya sama aku mas... Aku gak mungkin mencelakai Mami" Maya benar-benar tidak tau lagi bagaimana caranya membuat semua orang percaya.


"Tapi saat itu hanya ada kalian berdua di rumah, gak mungkin Mami tiba-tiba seperti itu tanpa sebab" ucap Alvian bingung.


"Jadi... Mas juga gak percaya sama aku ?"


"Aku bener-bener gak bohong mas... Aku mengatakan yang sejujurnya" Ucap Maya putus asa, karna suaminya pun mencurigainya.


"Bukan gitu May... aku sangat percaya sama kamu, tapi masalahnya semua bukti mengarah sama kamu, apalagi selama ini hubungan kamu dan Mami sangat tidak baik"


"Jadi bukan gak mungkin kalo kamu dendam sama Mami dan tidak sengaja melakukan hal itu" ucap Alvian lagi


"Aku benar-benar gak nyangka Mas, Kalo kamu punya pikiran seperti itu sama aku"


"Aku kira kamu sudah sangat mengenal aku"


"Bahkan kamu sudah pernah janji kalau kamu akan selalu percaya sama aku" ucap Maya kecewa.


"Saat ini aku bener-bener bingung May... Aku gak tau harus percaya sama siapa, di satu sisi aku ingin mempercayai semua ucapan kamu, tapi di sisi lain apa yang di katakan Papi juga ada benarnya"


"Aku gak bisa membela kamu tanpa bukti May... Apalagi masalah ini menyangkut dengan nyawa Mami"


"lalu aku harus bagaimana Mas... Supaya kamu bisa percaya sama aku"


"Kamu harus bisa membuktikan ke semua orang kalau kamu tidak bersalah May..."


"Aku minta maaf May... Aku terpaksa harus melakukan semua ini sama kamu May... Aku harus bersikap tegas sama kamu May... " Sebenarnya Alvian tidak tega mengatakan hal seperti itu kepada Maya, ia tau Maya pasti Sangat kecewa, tapi hal itu ia lakukan untuk melindungi Maya, ia tidak ingin Papinya berpikir kalo ia lebih membela Maya daripada Maminya sendiri, apalagi ia belum mempunyai bukti untuk membela Maya.


Alvian melakukan semua itu untuk melindungi Maya, ia tidak mau jika Papinya melaporkan Maya ke polisi.


Untuk sementara waktu ia harus menjaga jarak dengan Maya, sampai ia bisa membuktikan bahwa Maya tidak bersalah.

__ADS_1


__ADS_2