
Alvian benar-benar memenuhi janjinya kepada Maya untuk mengadopsi anak, mereka mengadopsi seorang anak perempuan dari panti asuhan, usia anak tersebut seumuran dengan Alma, mereka berharap jika alma kembali nanti, Alma akan mempunyai teman bermain di rumahnya, bukan bermaksud untuk menggantikan posisi Alma di rumah tersebut. Alma akan selalu berada dalam hati mereka.
Niat Maya dan Alvian untuk mengadopsi anak menuai pro dan kontra di keluarga mereka, ada yang mendukung dan ada pula yang tidak setuju, contohnya Papi Alvian, ia tidak setuju jika mereka mengadopsinya anak, ia tidak mau ada orang asing yang masuk dalam keluarganya, orang yang tidak jelas asal usul nya, ia juga takut jika harta kekayaannya akan di wariskan kepada orang yang bukan darah dagingnya.
Tapi ia tidak bisa berbuat banyak untuk melarang niatan anak dan menantunya itu, karena keputusan ada di tangan mereka.
**
Selama ini setiap bulan Maya selalu melakukan kegiatan amal dengan mengunjungi desa-desa terpencil untuk mengadakan pemeriksaan kesehatan gratis bagi orang-orang yang kurang mampu.
Kali ini ia mengunjungi sebuah desa yang letaknya cukup jauh dari kota . kebetulan desa tersebut merupakan tempat tinggal Alma saat ini. Maya dan petugas medis lainnya mendatangi tempat tersebut dengan membawa obat-obatan, vitamin dan susu untuk anak-anak.
Kedatangan mereka di sambut baik oleh warga desa tersebut, mereka semua berbondong-bondong untuk mendatangi pos kesehatan yang di buat oleh panitia.
Mereka semua sangat senang dan merasa terbantu dengan adanya acara tersebut, karena mereka semua bisa memeriksa kesehatan mereka dan mengobati penyakit mereka tanpa harus pergi ke kota dan mengeluarkan biaya.
Kini tibalah giliran pak Joko yang berkesempatan untuk di periksa kesehatan nya oleh Dokter, selama ini ia memang selalu merasa dadanya sesak dan juga pusing.
Pak Joko tampak terkejut saat melihat Maya, orang yang pernah menolongnya waktu itu, begitu pun dengan Bu Marni yang belum lama ini bertemu dengan Maya di toko peralatan sekolah.
"Dok... Kalau gak salah dokter ini kan yang menolong bapak waktu itu" Ucap Pak Joko kepada Maya, tapi Maya tampak belum mengingat nya.
"Dokter ingat gak waktu itu bapak hampir tertabrak,terus Dokter sama suami Dokter mengantarkan bapak pulang ,dan membelikan obat dan juga uang untuk anak bapak yang sedang sakit" jelas Pak Joko
"Oh ia saya ingat... Ini pak Joko ya"Jawab Maya
"Ia Dok... Kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini" ucap Joko lagi.
"Pak... Dokter cantik ini juga yang membayar belanjaan ibu waktu kita membeli peralatan sekolah putri" Jelas Bu Marni yang kebetulan ikut mengantar suaminya.
"Oalaaaah kok bisa kebetulan terus ya" jawab Pak Joko.
__ADS_1
"Bu Dokter masih ingat kan sama ibu" tanya Bu Marni.
"Ia Bu Saya ingat... Maaf ya waktu itu saya pulang duluan soalnya ada urusan mendadak" jawab Maya.
"Tidak apa-apa Dok... Justru ibu berterima kasih banyak atas kebaikan dokter" ucap Bu Marni lagi.
"Sama-sama Bu..." jawab Maya tulus.
"Ia Dok... Pemberian Dokter sangat bermanfaat untuk anak kami, entah kenapa setiap kami membutuhkan sesuatu untuk kami, dokter tiba-tiba datang untuk menolong" ucap pak Joko
"Mungkin itu hanya kebetulan saja Pak... Bagaimana kabar anak bapak sekarang" Tanya Maya.. walaupun ia belum mengenal dan belum pernah bertemu dengan anak itu tapi ia merasa dekat.
"Alhamdulillah sehat Dok, sekarang dia sedang sekolah"
"kalau Dokter berkenan, nanti mampir dulu ya ke rumah kami, nanti saya kenalkan kepada putri kami" jawab pak Joko.
"Insyaallah pak... Nanti kalau masih ada waktu, saya akan mampir ke rumah Bapak"
"Sekarang saya periksa dulu ya kesehatan bapak" jawab Maya kemudian.
**
Pagi-pagi sekali Rara menyempatkan waktu untuk memasak dan menyiapkan sarapan, kemudian ia bergegas ke kamar Radit untuk membangunkan nya, tapi ketika Rara masuk ke dalam kamar Radit, ternyata ia sudah bangun dan sedang berada di kamar mandi, Rara segera mengambil pakaian kerja Radit dari dalam lemari.
Tak lama kemudian Radit pun keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada, hanya memakai handuk di pinggang nya saja, Radit tampak terkejut melihat Rara berada di kamarnya.
"Sedang apa kamu di sini" tanya Radit sinis.
"Aku sedang menyiapkan pakaian kerja kamu, tadinya aku mau bangunin kamu, karena aku pikir kamu belum bangun" Jawab Rara yang masih sibuk mencari dasi yang cocok dengan kemeja nya. Ia berusaha bersikap seperti biasanya walaupun Radit masih bersikap dingin.
"Aku bantu keringkan dulu rambut kamu ya" Rara menghampiri Radit dengan membawa handuk, kemudian ia menggosok-gosok rambut Radit yang masih basah dengan handuk, kemudian ia juga mengeringkan dada bidang Radit dengan handuk tersebut, walaupun sebenarnya Jantung Rara berdebar-debar saat melakukan hal itu, sampai-sampai ia menelan salivanya saat melihat tubuh kekar Radit, tapi Rara berusaha bersikap normal.
__ADS_1
Entah kenapa Radit pun tidak protes sama sekali, ia hanya berdiri mematung saat Rara menyentuh tubuhnya, dan jarak tubuh mereka begitu sangat dekat, Bakan Radit bisa merasakan aroma tubuh Rara yang begitu wangi, yang memang sangat ia sukai selama ini, Radit seperti terhipnotis.
"Aku pakein kemejanya Ya" Rara mengambil kemeja yang berada di atas kasur, kemudian ia hendak memakaikan kemeja tersebut kepada Radit.
"Cukup. aku bisa pake sendiri" Bentak Radit seraya merebut kemejanya dari Rara, sepertinya ia baru tersadar dari lamunannya.
"Lain kali kamu tidak perlu melakukan hal seperti ini lagi, aku masih bisa mengurus diriku sendiri, sebaiknya kamu keluar dari kamarku sekarang juga" usir Radit.
"Ya sudah kalau begitu aku tunggu di bawah ya, kita sarapan sama-sama" Ucap Rara sambil tersenyum, ia berusaha sabar untuk mengahadapi sikap Radit.
Beberapa saat kemudian Radit pun turun dari Kamarnya, dengan berpakaian Rapi dan membawa tas kerja nya.
"Dit sarapan dulu ya, aku udah masakin makanan kesukaan kamu" ucap Rara yang sudah menunggu Radit di meja makan sejak tadi.
"Aku belum lapar, kamu makan aja sendiri" lagi-lagi Radit bersikap sinis.
"Ya udah kalau gitu aku bekal kan aja ya, biar nanti kamu bisa makan di kantor" Dan lagi-lagi Rara pun berusaha bersikap tenang.
"Memangnya kamu pikir aku ini Anak TK apa ?" Ucap Radit kesal, kemudian ia pergi ke garasi untuk memanaskan mobil nya .
Tanpa pantang menyerah, Rara segera mengambil kotak makanan dan memasukkan makanan nya ke dalam kotak tersebut, Kemudian ia buru-buru mengejar Radit ke garasi.
"Dit ini aku udah siapin bekalnya, nanti kamu makan Ya" ucap Rara yang baru saja masuk ke dalam mobil.
"Mau ngapain kamu duduk di situ" tanya Radit saat Rara duduk di sebelahnya.
"Mau berangkat bareng sama kamu " jawab Rara polos.
"Nggak. Aku buru-buru, kamu berangkat sendiri aja" jawab Radit lagi.
"Ya udah kalau gitu aku naik Taxi aja, soalnya kan mobil aku belum di bawa kesini, tapi nanti sore kamu jemput aku kan ?" tanya Rara yang masih bisa bersikap tenang menghadapi sikap Radit.
__ADS_1
"Gak bisa, aku sibuk" Jawab Radit tanpa basa-basi.
"Oh ya udah gapapa, kamu hati-hati ya, jangan lupa bekal nya di makam" ucap Rara seraya menyimpan kotak makan tersebut, kemudian ia turun dari mobil Radit.