
Karena merasa tidak tega melihat Adit yang sedang tidur di lantai, akhirnya Rara memperbolehkan Adit untuk tidur bersamanya di satu tempat tidur.
Tapi Rara memberikan peringatan kepada Adit agar dia tidak boleh melakukan hal yang aneh-aneh, bahkan ia juga memberikan batas di tempat tidurnya menggunakan sebuah guling.
Untuk pertama kalinya mereka berdua tidur bersama di satu ranjang, meskipun masih ada jarak di antara mereka, Adit merasa bersyukur karna ada hikmah di balik sakitnya itu, ia berharap semoga ini menjadi awal yang baik untuk hubungan mereka.
Dalam hitungan menit, Rara sudah terlelap terlebih dahulu ke dalam mimpi, mungkin karena ia merasa lelah seharian ini mengurusi Adit, berbeda dengan Adit yang justru masih terjaga, ia tengah menatap istrinya yang sedang tidur memunggunginya.
Tiba-tiba saja secara tidak sadar Rara berbalik menghadap ke arah Adit yang tengah memandanginya, hingga akhirnya Adit bisa menatap wajah cantik istrinya dengan jarak yang begitu dekat, wajah yang terlihat manis dan lembut, tak tampak lagi raut wajah yang galak dan nyebelin seperti biasanya.
Bisa memandang wajah istrinya seperti ini pun rasanya sudah lebih dari cukup.
Rasanya Adit tidak ingin malam ini cepat berlalu, Ia ingin malam ini berjalan lebih lambat dari biasanya, ia ingin terus memandang wajah istrinya seperti ini, yang tidak bisa ia lakukan saat Rara sudah terbangun, karna Rara selalu membuang muka darinya.
Perlahan Radit membelai wajah istrinya dengan lembut dan menyingkirkan rambut yang menghalangi wajahnyaz menyelipkan rambut tersebut ke belakang telinga. "Maafkan aku Ra, aku belum bisa jadi suami yang baik untuk kamu, aku belum bisa bahagiain kamu, mulai sekarang aku janji aku gak akan pernah membuat kamu menangis lagi, aku akan membuat kamu menjadi wanita paling bahagia di dunia ini" Ucap Radit tulus hingga akhirnya ia pun ikut terlelap.
Malam telah berlalu, dan matahari pun mulai menampakkan sinarnya. Entah kenapa Malam ini Rara merasa tidur nya begitu nyenyak dan hangat, rasanya ia enggan untuk membuka mata, tapi ia tetap harus melawan rasa malasnya itu, untuk membantu ibunya di dapur, yang pasti sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk anak dan menantunya.
"Ketika Rara membuka matanya, ia langsung di suguhkan dengan pemandangan yang indah, yaitu wajah tampan suaminya yang begitu rupawan, selain itu ia juga melihat tangan Adit tengah melingkar di atas pinggang nya, pantas saja tidurnya semalam begitu hangat, ternyata karna pelukan suaminya itu.
Bukan nya marah atau berteriak, Rara justru terdiam beberapa saat untuk memandang wajah suaminya itu, sama persis dengan apa yang di lakukan Radit semalam. Andai saja semua masalah ini tidak terjadi, mungkin ia akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini karna memiliki suami setampan Radit.
Setelah puas memandangi wajah tampan suaminya, Rara segera turun dari tempat tidur dan menyingkirkan tangan suaminya dengan perlahan.
**
Saat ini keadaan Radit sudah mulai membaik, ia sudah bisa ikut sarapan bersama lagi, semua itu berkat perhatian dari Rara yang sudah merawat nya dengan baik. Ibu juga memperlakukan Radit seperti anak nya sendiri, ia juga ikut andil dalam merawat Adit.
"Ra hari ini kakak kamu dan suaminya mau kesini" ucap Ibu memberitahu Rara.
"Benarkah ? Kok kakak gak ngabarin aku"
"Ia... Semalam Ibu mengabari Kakak kamu kalau kamu ada di sini sama Suami kamu, jadi kakak kamu juga ingin datang kesini, biar bisa kumpul sama-sama di sini, sekalian untuk memperkenalkan anak angkatnya itu, kalau gak salah namanya ce_ce... apa ya" Ibu tampak mengingat ingat.
"Oh ia Celine" Ucap ibu lagi.
__ADS_1
"Ia aku juga belum sempet ketemu sama anak angkatnya kakak"jawab Rara
"Ibu sebenarnya kurang setuju kalau kakak kamu mengadopsi anak, tapi kalau itu membuat kakak kamu bahagia ibu akan selalu mendukungnya" jelas Ibu.
"Ia Bu... Yang penting kakak bisa bahagia, karna selama ini kakak sudah terlalu banyak menderita, semoga Alma bisa secepatnya ketemu." saut Rara.
Ya sudah sekarang kita belanja yuk ke pasar, soalnya kita harus masak yang banyak hari ini, untuk menyambut keponakan kamu yang baru.
Ibu tampak bersemangat untuk pergi ke pasar, hari ini ia belanja begitu banyak, ia akan memasak makanan kesukaan anak-anak dan menantunya untuk makan malam nanti, ia sudah membayangkan rumahnya akan Ramai dengan kehadiran mereka semua, semua itu merupakan momen yang selalu ia tunggu-tunggu selama ini, karena selama ini anak dan menantunya selalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, jadi sangat sulit untuk mengumpulkan mereka di waktu yang bersamaan.
Ketika Ibu dan Rara tengah menunggu angkutan umum untuk pulang, tiba-tiba saja berhenti sebuah mobil mewah di hadapan mereka, yang ternyata adalah Maya dan Alvian, ternyata Maya dan Alvian datang lebih cepat dari perkiraan ibu. Akhirnya mereka semua pulang bersama dengan mobil tersebut.
Setelah sampai di depan rumah, ibu dan Maya mengajak Celine masuk ke dalam rumah terlebih dahulu, sedangkan Rara memutuskan untuk membantu Alvian mengambil oleh-oleh dari dalam bagasi, tapi Alvian mengajak Rara untuk berbicara empat mata.
"Ra... Gimana hubungan kamu dengan Adit sekarang ? Kemarin kakak sudah membawa Farel menemui Adit untuk menjelaskan semuanya kepada Adit dan juga meminta maaf, agar Adit tidak salah paham lagi sama kamu, dan kakak harap setelah ini hubungan kalian akan kembali membaik" Alvian memulai pembicaraan di antara mereka.
"Entahlah kak... Aku udah terlanjur kecewa sama dia, karna dia tidak mau mempercayai aku, dia gak mau dengerin penjelasan aku sama sekali, dia benar-benar egois" jawab Rara bingung.
"Jangan begitu Ra... Dia gak salah, dia juga korban, karna yang salah itu Farel. siapapun yang mengalami hal seperti itu pasti akan melakukan hal yang sama seperti Adit, atau mungkin lebih parah lagi. Ketia kakak menceritakan semua kebenaran nya kepada Adit, Kakak bisa melihat begitu menyesal nya Adit melakukan hal itu sama kamu, kakak juga bisa melihat begitu besar nya cinta Adit sama kamu, jadi Kakak harap kamu bisa memberikan kesempatan kepada Adit" Alvian berusaha memberikan pengertian kepada Rara atas sikap Adit.
"Dit kamu mau kemana" tanya Rara penasaran.
"Hari ini aku mau pulang Ra, aku gak mau membuat kamu risih dengan kehadiran aku di sini, aku mau kamu enjoy bersama keluarga kamu" jelas Radit yang kini sudah lebih segar.
"Makasih ya Ra kamu udah ngerawat aku kemarin, maaf aku jadi merepotkan kamu"
"Oia kamu boleh menginap di sini sampai kapanpun yang kamu mau, tapi kalau kamu mau pulang, jangan lupa kabarin aku dulu ya, biar nanti aku menyuruh supir untuk menjemput kamu ke sini, aku gak mau kalau kamu pulang sendiri" Ucap Radit lagi.
Rara tidak mengatakan apapun kepada Radit, ia hanya bisa berdiri tertegun dengan kebingungan nya.
"Aku pamit ya Ra" ucap Adit hendak keluar dari kamar.
"Tunggu Dit" Ucap Rara tiba-tiba.
"Ada apa Ra" tanya Radit.
__ADS_1
"Aku mau kamu tetap di sini" ucap nya lagi. Adit tampak terkejut dengan ucapan Rara.
"Tapi Ra bukannya kamu yang minta aku untuk menjaga jarak dari kamu" jawab Adit.
"Ia Dit kemaren aku memang mengatakan itu sama kamu, tapi sekarang aku ingin kamu tetap di ini bersama aku, aku sudah memaafkan kamu Dit" sepertinya ucap Alvian berhasil meyakinkan Rara.
"Kamu serius Ra..." Jawab Adit tak percaya.
"Ia Dit aku sudah memaafkan kamu"
"Makasih Ra... Makasih. Aku janji aku gak aku gak akan pernah mengulanginya lagi" Adit sangat gembira mendengar hal itu.
Malam itu Bu Sari bersama anak cucu dan menantunya makan malam bersama dengan penuh keakraban dan ke hangatkan, sambil bercerita dan tertawa bersama dengan raut wajah yang gembira. Hal itu merupakan momen yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya. kini tidak ada lagi sandiwara di antara Rara dan Radit, keakraban mereka saat ini bukan lah kepura-puraan.
Saking asiknya mengobrol, mereka sampai tidak sadar jika malam sudah larut. Akhirnya Ibu meminta mereka semua untuk membubarkan diri dan kembali ke kamar mereka masing-masing, termasuk Rara dan Radit.
Malam ini Rara dan Radit kembali tidur bersama di kasur yang sama, namun rasa canggung masih menyelimuti perasaan mereka, sampai-sampai tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka, hingga akhirnya mereka berdua lebih memilih untuk berbaring dengan saling membelakangi.
Tapi beberapa saat kemudian mereka berdua berbalik badan secara bersamaan, tentu saja hal itu membuat keduanya terkejut, hingga secara tidak sengaja keduanya saling menatap satu sama lain dengan begitu dekat hingga cukup lama.
"Ra... Aku sangat merindukan kamu, aku sangat tersiksa dengan semua ini, aku gak bisa jauh dari kamu" ucap Radit seraya membelai pipi Rara.
"Ia Dit aku juga" Jawab Rara lirih.
Perlahan Radit mulai mendekatkan bibirnya dengan bibir Rara, secara spontan Rara pun memejamkan matanya. Ia ******* bibir istrinya dengan sangat lembut dan Rara pun membalasnya.
Semakin lama keduanya sama-sama memanas dan semakin agresif, menuntut sesuatu yang lebih.
Radit hendak membuka kancing pakaian Rara tapi Radit tiba-tiba berhenti sejenak menunggu persetujuan Rara, dan Rara menjawabnya dengan sebuah anggukan.
Tanpa basa-basi Radit langsung membuka seluruh pakaian Rara, seraya menelusuri semua bagian tubuh Rara dengan hasrat yang membara.
Namun ketika Radit hendak menyatukan kedua tubuh mereka, tiba-tiba saja Rara meminta Radit untuk berhenti, ia merasa malu karena dirinya sudah tidak Virgin, bukan gadis seutuhnya seperti yang Radit harapkan, tapi Radit mengatakan bahwa ia mau menerima Rara apa adanya, menerima kelebihan dan kekurangannya.
Akhirnya malam itu mereka berdua melanjutkan kegiatan suami istri yang sebenar-benarnya, hingga keduanya terkulai lemas setelah mencapai puncak kenikmatan di Sertai dengan cucuran keringat di tubuh mereka. Namun ada satu hal yang menjadi kendala, yaitu mereka harus sedikit meredam suara mereka agar tidak terdengar oleh anggota keluarga yang lain, sebab rumah tersebut tidak terlalu besar.
__ADS_1