
Dengan lancangnya, Farel me*umat bibir Rara secara tiba-tiba, seraya menghimpit tubuh nya dan menahan tengkuk leher Rara hingga Rara tidak bisa berbuat apa-apa meskipun ia telah memukul-mukul dada bidang farel, namun hal tersebut tidak mempan sama sekali, farel tetap saja melanjutkan aksinya.
Namun Rara tak kehabisan akal, Sejurus kemudian, Rara menendang pusaka Farel hingga farel mengaduh kesakitan.
"Awwww" pekik Farel seraya memegangi bagian bawah perutnya.
"Rasain Lo, Lo bener-bener Berengsek El..."
"Gue benci sama Lo" Ucap Rara marah seraya mengusap-usap bibirnya yang basah akibat perbuatan farel, kemudian ia segera pergi meninggalkan toilet.
Ternyata dugaan Farel salah, Rara memang sudah berubah, bukan Rara yang dulu pernah bucin terhadap dirinya, yang rela melakukan apapun untuk dirinya sampai-sampai rela menyerahkan kehormatannya.
Tapi bukan farel namanya jika ia menyerah sampai di situ saja. melihat sikap Rara seperti itu, ia semakin tertantang untuk mendapatkan Rara kembali, apalagi ia dan Rara sedang terikat kontrak kerja, ia merasa mendapatkan peluang besar untuk memiliki Rara kembali.
"Bu... ibu kenapa" Tanya Desi ketika melihat Rara tampak ketakutan.
"Nggak... saya gak apa-apa Des..."
"Ayo kita kembali ke kantor sekarang"
Setibanya di kantor Rara langsung masuk ke ruangannya, ia mengatakan kepada Desi bahwa dirinya sedang tidak mau di ganggu, tidak ada yang boleh masuk ke ruangannya.
Namun beberapa saat kemudian terdengar suara seseorang membuka pintu.
"Des... saya kan sudah bilang kalau saya sedang tidak mau di ganggu" Bentak Rara.
"Hey hey hey ini gua, kenapa lo marah-marah seperti itu Bu direktur" Ternyata yang masuk keruangan nya bukan Desi, melainkan Radit
"Eh elo Dit... gua kira Desi" Jawab Rara ketika melihat Radit.
"Emangnya kenapa Lo uring-uringan kaya gitu, hmmm" Tanya Radit seraya mendaratkan tubuhnya di sebuah sofa yang berada di ruangan tersebut
"Gue lagi kesel banget Dit... ternyata Client yang gue temuin tadi adalah mantan cowok gue" ucap Raya seraya mengambil dua kaleng minuman dingin dari dalam kulkas mini yang berada di ruangan nya, kemudian ia memberikan salah satu minuman tersebut kepada Adit dan duduk di sebelah nya.
"Ya bagus dong... berarti lo ada kesempatan buat CLBK sama mantan lo itu"
"Bisa kerja sambil pacaran" ucap Radit seraya membuka penutup kaleng minuman nya.
"Bagus apa nya?" jawab Rara kesal.
"Siapa juga yang mau CLBK sama orang kaya gitu"
"Memangnya gue barang, yang bisa di buang dan di pungut kapan aja" gerutu Rara.
__ADS_1
"Ya kirain Lo masih ada hati sama mantan lo itu" ledek Radit
"Sorry ya gua udah buang jauh-jauh perasaan gue buat dia" Membayangkannya saja Rara tidak mau.
"Yau udah mending Lo pindah aja ke perusahaan gue"
"Biar Lo gak usah ketemu lagi sama mantan lo itu"
"Lagian dari dulu gua tawarin kerja di tempat gue, Lo malah nolak Mulu" ajak Radit.
"Nggak ah gue udah betah kerja di tempat ini"
"Jabatan gue juga udah tinggi, masa gue tinggalin gitu aja" tolak Rara.
"Lo tenang aja Ra... Lo boleh milih jabatan apa aja yang Lo mau, gue bakal gaji Lo dengan bayaran tinggi" Tawar Radit lagi.
"Harus berapa kali gue jelasin sama lo, gue gak mau jadi bahan omongan orang, nanti gue di anggap manfaatin kekuasaan Lo dan mendapatkan sesuatu dengan cara yang instan, gue pengen sukses dengan hasil jerih payah gue sendiri" jelas Rara.
Selama ini Radit memang sering mengajak Rara untuk bekerja di perusahaan nya, tapi Rara selalu menolak karna alasan tersebut. Saat ini Rara bekerja di sebuah perusahaan besar milik sahabat Radit, Rara memang masuk ke perusahaan tersebut atas campur tangan Radit, diam-diam ia meminta sahabatnya untuk mempekerjakan Rara. Dan seiring berjalannya waktu cara kinerja Rara semakin bagus, ia sering memenangkan tender besar, hingga akhirnya ia di angkat menjadi direktur, bahkan sahabat Adit itu sempat mengucapkan terimakasih kepada Adit karna telah mengirim Rara ke perusahaannya.
"Oia Dit... ngomong-ngomong lo ngapain dateng ke sini" Tanya Rara.
"Gua abis ketemu Bagas, trus gua mampir dulu deh kesini" Bagas Adalah sahabat Radit, dan pemilik perusahaan tempat Rara bekerja.
"Mobil gue Kempes, gue pulang nebeng mobil lu ya"
"Tapi tlaktir gua makan ya Bu Direktur" jawab Radit.
"Masa seorang CEO minta di tlaktir sama rakyat jelata kaya gue" sindir Rara
"Rakyat jelata dari mananya... ? "
"Orang gaji Lo gede banget sekarang"
"Belom lagi bonus" protes Radit
"Yaudah yaudah... nanti kita mampir ke restoran dulu, Lo boleh makan apapun yang Lo mau, Sekalian gua mau beli buat ibu sama kak Raka, soalnya gue males masak"
bila perlu gue beli sama restorannya sekalian" tantang Rara.
"Anjayyy gua suka gaya Lo"
Hari ini Alvian menepati ucapannya untuk mampir ke panti asuhan. Entah kenapa setelah pertemuannya dengan Alma waktu itu, ia selalu teringat dengan anak cantik itu, dan rasanya ia sangat rindu ingin bertemu dengannya.
__ADS_1
Ketika Alvian datang, ternyata Alma tengah duduk melamun di bangku taman Sendirian, tidak ada seorangpun yang mengajaknya bermain.
"Assalamualaikum cantik..." ucap Alvian dengan membawa beberapa kantong makanan dan juga mainan.
"Om baik ??" Alma tampak terkejut dan juga senang melihat kedatangan Alvian.
"Waalaikumsalam om baik"
"Alma lagi apa sendirian di sini"
"kenapa gak main sama temen-temen Alma" tanya Alvian penasaran.
"Alma... Alma lagi gak pengen main om" jawab Alma bohong.
"Tapi kalo main sama om mau gak, tadi om sengaja beli mainan dulu buat Alma, om juga beliin buat temen-temen Alma" ucap Alvian seraya mengeluarkan mainan-mainan tersebut dari kantong belanjaan nya.
"Mau om mau..." jawab Alma senang karna akhirnya ia mempunyai teman untuk bermain.
"Nah semua mainan ini buat Alma, Alma suka gak" Alvian memperlihatkan semua mainan yang ia beli.
"Ia Om... Alma suka"
"Makasih ya om..." ucap Alma tampak bahagia.
Hari itu Alvian menghabiskan waktu seharian untuk bermain bersama Alma, terlihat jelas pancaran kebahagiaan di raut wajah mereka.
Terutama Alma, ia seperti mendapatkan seorang teman baru sekaligus sosok seorang ayah yang selama ini selalu ia idam-idamkan.
Setelah puas bermain dengan Alma, Alvian memutuskan untuk pulang, karna hari sudah mulai sore, ia harus menemani Papinya di rumah sakit.
Namun ketika Alvian tengah berpamitan kepada Alma dan juga Bu Ambar, datang Maya yang baru saja pulang dari rumah sakit, keduanya sama-sama terlihat terlihat heran bertemu di panti asuhan tersebut.
"Maya"
"Mas Al" ucap Alvian dan Maya secara bersamaan.
"Kalian saling kenal" tanya Bu Ambar.
"Dia mantan istri saya"
"Dia mantan suami saya" jawab Maya dan Alvian lagi.
"Ternyata kalian mantan suami istri" jawab Bu Ambar tampak tak percaya.
__ADS_1