
"Jadi seperti ini kelakuan kamu sebenarnya" tegur Alvian kepada Maya.
"Mas Al..." ucap Maya terkejut melihat kedatangan Alvian. Ia langsung berdiri dari tempat duduknya, begitupun dengan Raka.
"Ia... kenapa ? kamu terkejut bertemu saya di sini"
"Gak mau kalau sifat asli kamu ketahuan sama saya ?" Bentak Alvian.
"Saya benar-benar gak nyangka ya May sama kamu"
"Padahal kita belum benar-benar resmi bercerai tapi kamu udah berduaan dengan laki-laki lain di sini" Alvian mengeluarkan semua kekesalannya.
"Mungkin dia lagi cari mangsa baru Al buat jadi target selanjutnya" Bella ikut-ikutan mencela Maya.
"Kamu salah paham Mas..."
"Ini Dokter Raka, dia..."Belum selesai Maya menjelaskan kepada Alvian tapi Alvian sudah lebih dulu memotong pembicaraan Maya.
"Cukup gak perlu di lanjutkan lagi"
"kamu mau pamer kalau pacar kamu itu Dokter"
"Atau kamu mau manfaatin laki-laki ini biar kamu bisa menjadi dokter dengan cara yang instan" Tuduh Alvian.
"Tunggu-tunggu... Anda salah paham"
"Saya dan Maya tidak ada hubungan apa-apa"
"Saya dan Maya..." Raka hendak membantu Maya meluruskan kesalahpahaman ini.
"Apa... ? Kamu mau bilang kalau kamu dan Maya cuma temenan"
"Basi... semua itu cuma bullshit, gak ada istilahnya wanita dan laki-laki temenan" lagi-lagi Alvian memotong pembicaraan Raka, ia sama sekali tidak mau mendengarkan ucapan orang lain, hatinya sudah di selimuti oleh amarah.
"Maaf... bukan nya saya mau ikut campu dengan urusan kalian, tapi setidaknya kamu dengarkan dulu penjelasan istri anda" ucap Raka lagi.
"Buat apa ? buat mendengarkan semua sandiwara nya lagi ?"
"Agar saya merasa kasihan sama dia, ia ?"
"Saya sudah muak dengan semua itu"
"Berkali-kali saya tertipu dengan keluguannya"
"Dan saya tidak ingin tertipu untuk yang ke sekian kalinya"
"mulai sekarang Saya sudah tidak mau tau apa-apa lagi tentang dia"
"saya udah gak peduli sama dia" ucapan Alvian semakin melebar kemana-mana. Keributan tersebut menjadi tontonan pengunjung lain.
"Kalau kamu memang gak peduli sama Maya, kenapa anda marah-marah seperti melihat Maya dengan saya"
"Anda cemburu ?"
"Atau Anda gak rela ngelepasin Maya"
"Kalau memang Anda tidak mau melepaskan Maya, Kenapa anda membuang Maya begitu saja" Ucapan Raka membuat Alvian terdiam beberapa saat, tampak tidak berkutik, Alvian seperti tersentil oleh semua kata-kata itu.
"Saya_ saya hanya tidak terima di hianati seperti ini"
"saya yakin kalian pasti sudah berhubungan sejak lama"
"Saya juga ingin mengingatkan Anda, agar berhati-hati dengan perempuan ini, jangan tertipu dengan wajah lugu nya" ucap Alvian seraya menatap mata Maya, dan kemudian ia pergi dari sana.
Ucapan Alvian benar-benar sangat menyakiti hati Maya, tapi Maya tidak pernah marah, ia selalu saja memakluminya.
"Mas tunggu mas... ini semua salah paham" ucap Maya hendak mengejar Alvian, namun di cegah oleh Raka.
"Cukup May.. jangan di kejar, kamu gak boleh menjatuhkan harga diri kamu sendiri"
"untuk apa kamu mengemis-ngemis meminta dia percaya sama kamu"
"semua itu percuma May"
__ADS_1
"Sekeras apapun kamu mencoba memberikan penjelasan kepadanya, semakin keras juga rasa tidak percaya nya sama kamu"
"Karna baginya kamu hanya ingin menutup-nutupi semua kesalahan kamu"
"Jadi jangan pernah kamu mengemis-ngemis belas kasihan dari laki-laki, sekalipun dia suami kamu sendiri"
"Karna semakin kamu kejar, dia akan semakin angkuh dan besar kepala " Raka benar-benar tidak suka melihat sikap Alvian. Ia mencoba mengingatkan Maya agar menjadi wanita yang mempunyai pendirian, tidak perlu memohon-mohon agar orang lain percaya padanya.
"Ayo May... aku antar kamu pulang" Ajak Raka yang melihat Maya Tampak sedih.
Di sepanjang perjalanan pun, wajah Maya masih tampak murung, ia tidak berbicara sepatah katapun, padahal saat di restoran tadi Maya sudah tampak ceria dan bersemangat berdiskusi seputar ilmu kedokteran.
"Mas Raka... makasih ya udah nganterin saya"
"Saya minta maaf karna mas Raka jadi terbawa-bawa dengan masalah saya" ucap Maya ketika sudah sampai di panti asuhan.
"Tidak apa-apa May, tidak usah di pikirkan"
"Kalau begitu saya pulang dulu ya May" Pamit Raka.
***
Ketika Rara baru saja masuk ke dalam rumah, di saat yang bersamaan Radit juga baru saja pulang dari rumah temannya.
"Hey dari mana Lo" ucap Radit ketika masuk ke dalam rumah, dan hal itu membuat Rara terlonjat kaget. bagaimana tidak, ketika itu.. rumah tersebut sudah sepi dan gelap, karna sebagian lampu susah di matikan.
"Ih... apaan si loh ngagetin gue aja"ucap Rara seraya mengelus dadanya"
"Kenapa ? Lo kaget ketauan baru pulang jam segini"
"Gue bilangin Mami ya... kalau Lo suka kelayaban malem-malem" ancam Radit.
"Sembarang aja Lo kalo ngomong"
"Silahkan aja kalo Lo mau aduin gue ke ibu"
"Gue gak takut" Tantang Rara.
"Nanti kalo Lo di pecat sama mami baru tau rasa Loh" ucap Radit lagi.
"Ayo laporin aja sekarang"
"Palingan elo yang di omelin sama ibu gara-gara dua hari gak pulang"
"Trus abis itu di blokir deh kartu kredit Lo" Rara mengancam balik Radit.
"Eh... malah balik ngancem gue lagi"
"Gak ada sopan-sopan nya ya Lo sama gue"
"Mentang-mentang suka di belain terus sama nyokap gue" gerutu Radit.
"Ngapain juga gue harus sopan sama orang tengil kaya Lo"
"Lagian yang gaji gue itu ibu, bukan Lo"
"Ibu juga bilang kalau gue gak usah dengerin omongan Lo"
"udah ah gue cape berdebat terus sama Lo" Ucap Rara hendak pergi ke kamarnya.
"Eh eh mau kemana lo, maen pergi-pergi aja" cegah Radit.
"Ada apalagi sih" gerutu Rara kesal.
"Gue laper, siapin makanan di meja makan gih" Radit memberi perintah.
"Hari ini gue libur, jadi gue gak masak" Jawab Rara singkat.
"Ya udah berarti bikinin gue makanan sekarang"
"Bikin aja sendiri, sekarang udah malem, gue mau istirahat cape" tolak Rara.
"Lo itu niat kerja gak sih sebenarnya"
__ADS_1
"Walaupun Lo gak pernah ramah sama gue, setidaknya Lo layananin gue dong"
"Gini-gini kan gue ini anak majikan Lo" gerutu Radit lagi. Ucapan Radit membuat Rara tidak berkutik.
"Yaudah - yaudah gue bikinin makan buat Lo"Akhirnya Rara mengalah, karna ucapan Radit memang ada benarnya juga, ia harus tetap melayani semua kebutuhan penghuni rumah ini, termasuk Radit. karna walau bagaimanapun Radit merupakan majikannya juga.
"Nah gitu dong" ucap Radit tersenyum puas.
Ketika Rara hendak pergi ke dapur, tiba-tiba bel pintu rumah berbunyi.
"Bentar gue buka pintu dulu, itu pasti mas Raka" Rara buru-buru pergi untuk membuka pintu.
"Mas Raka udah pulang" ucap Rara ketika membuka pintu.
"Maaf ya Ra... saya jadi merepotkan kamu malam-malam, gini"
"Saya lupa gak bawa kunci cadangan" ucap Alvian seraya melangkahkan kakinya ke dalam rumah.
"Gak apa-apa mas... Rara juga belum tidur kok" jawab Rara sembari menutup pintu kembali.
"kak lo abis dari mana, tumben jam segini baru pulang" tanya Radit menghampiri Raka dan Rara.
"Kakak abis nganterin Maya pulang" jawab Raka.
"Maya ? siapa Maya? "tanya Radit bingung
"Memangnya kakak udah punya pacar" setahu Radit kakaknya itu tidak pernah terlihat dekat dengan wanita.
"Bukan... dia kakaknya Rara" jelas Raka.
Nanti juga pasti kenal"
"Oh ia Ra... kamu udah makan belum, tadi saya beliin kamu makan"
"Belum mas... ini Rara baru mau bikin makanan buat Radit"
"Buat gua mana kak, masa kakak cuma beliin Rara doang" protes Radit.
"Nggak, kakak juga beliin buat kamu kok"
"Ini Ra makanan nya, sama punya Radit juga, kamu pindahin ke piring ya"
"Kamu jangan sampai telat makan nanti kamu sakit" ucap Raka seraya mengusap-usap pucuk kepala Rara, setelah itu ia pergi ke kamarnya.
"Ia mas..." Hati Rara terenyuh saat Raka mengusap kepalanya.
"Mas Raka orang nya baik banget..."
"Udah ganteng... Dewasa... ramah lagi"
"Dia juga perhatian banget sama gue, sampai beliin makanan segala" Gumam Rara dalam hati, seraya menatap kepergian Raka.
"Woy... malah bengong lagi" Ucap Radit seraya menepuk bahu Rara. Dan membuyarkan lamunan Rara.
"Lo naksir ya sama kakak gue"
"Apaan si loh... "
"Suka sembarangan aja kalau ngomong"
"Gak enak kalau kedengeran mas Raka" ucap Rata kesal.
"Lo itu ya... kalo ke Kaka gua aja sopan banget"
"Nah kalo sama gua... galak nya minta ampun" gerutu Radit.
"Soalnya Mas Raka itu orang nya baik"
"Gak songong kaya Lo"
"Udah ah gua mau mindahin dulu makanan nya"
"Lo laper kan" Rara meninggalkan Radit ke dapur untuk mengambil piring.
__ADS_1