CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN

CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN
Episode 85


__ADS_3

Malam yang panjang telah berlalu, malam yang begitu melelahkan bagi maya dan alvian, di selimuti dengan gairah dan juga kerinduan yang selama ini mereka pendam, malam itu akan menjadi malam yang tak akan pernah terlupakan.


Karna terlalu lelah, mereka berdua tertidur begitu lelap hingga menjelang siang, pergulatan mereka semalam benar-benar menguras energi. Bahkan saat tertidur pun Alvian tidak melepaskan Maya dari dekapan nya, ia takut jika Maya akan meninggalkannya lagi.


Siang itu Alvian terbangun terlebih dahulu, namun ia tidak mau mengganggu atau membangunkan Maya, ia langsung bergegas meminta para pelayan nya untuk menyiapkan makanan untuk istri tercintanya itu, sebab ia tahu jika bangun nanti Maya pasti akan merasa lapar.


Semalam Alvian juga meminta Asisten pribadinya untuk mencarikan beberapa orang pelayan untuk mengurus rumah, menyiapkan makanan dan melayani kebutuhan Maya, bila perlu dengan Chef nya sekalian, Alvian ingin membuat rumahnya seperti istana dan menjadikan Maya sebagai ratunya.


Setelah makanannya datang, Alvian segera menata makanan tersebut di atas meja yang berada di kamarnya. Ia tidak membiarkan para pelayan nya untuk masuk ke dalam kamarnya, sebab saat itu Maya belum menggunakan pakaian, tubuh indahnya hanya ditutupi dengan sehelai selimut. Setelah semuanya selesai, ia kembali berbaring di sisi Maya sembari menatap wajah cantik istrinya itu, menunggu permaisurinya bangun dari tidurnya.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya sang permaisuri membuka matanya secara perlahan, itupun ia terbangun karna merasa geli, sebab alvian berkali-kali mencium pipi dan bibirnya, alvian tidak kuat untuk tidak melakukan hal itu saat menatap wajah cantik istrinya itu.


"Selamat siang sayang..." ucap Alvian ketika Maya membuka matanya.


"Mas... ini jam berapa" ucap maya dengan suara yang masih serak.


"Baru jam sebelas..."Jawab Alvian dengan senyuman, ia masih belum berhenti menatap istrinya.


"Mas... ini udah siang, Kenapa kamu gak bangunin aku. Aku belum nyiapin sarapan buat kamu" Maya sangat terkejut mendengar ucapan alvian. Sebelumnya ia tidak pernah kesiangan seperti ini.


"Sarapannya udah saye siapin sayang..."


"Pokoknya mulai sekarang kamu gak boleh ngerjain apa-apa, kamu hanya perlu duduk manis saja" jawab Alvian seraya mengelus-elus pipi Maya.


"Mas..." ucap Maya hendak proses.


"Sssstttt " Alvian membenamkan telunjuk nya di bibir Maya.


"Pokoknya kamu gak boleh protes, mulai sekarang saya akan memanjakan kamu dan membahagiakan kamu"


"Ayo sekarang kita makan, kamu pasti laper, tapi sebelum itu kamu pakai baju dulu ya, nanti takutnya saya Khilaf lagi" goda Alvian.

__ADS_1


Alvian dan Maya menikmati makanan dengan begitu lahap. Entah karna makanan nya yang enak atau karna mereka memang sangat lapar.


"Gimana May... apakah makanan nya enak" tanya Alvian saat mereka selesai makan.


"Ia Mas... makanannya enak banget, seperti masakan hotel bintang lima" jawab Maya.


"Kamu mau makan apalagi May..."


"Nanti saya minta buat kan untuk kamu"


"Nggak Mas... aku udah kenyang " tolak May.


"Kamu harus makan yang banyak May... sebab kamu juga perlu tenaga yang banyak untuk bertempur lagi" Goda alvian.


"Apaaan sih mas..."


"Memangnya kamu gak cape ? Semalam kita melakukan nya berkali-kali " gerutu Maya.


Tanpa berbasa-basi alvian kembali menggendong Maya ke atas ranjang untuk melanjutkan kegiatan mereka semalam. Bahkan saat Maya mandi pun alvian mengikutinya, dengan alasan ingin mandi bersama dan meminta Maya untuk menggosok punggung nya agar lebih bersih, tapi ternyata semua itu hanya alasan saja, dan ujung-ujungnya mereka kembali melakukannya lagi di kamar mandi. Mereka berdua seperti pasangan pengantin baru yang sedang di mabuk cinta.


Hari itu Alvian tidak membiarkan Maya keluar sedikitpun dari kamar, mereka berdua menghabiskan waktu seharian di kamar tersebut.


****


"Dit gue masih gak nyangka kalo pernikahan kak Raka sama kak Maya tiba-tiba batal, padahal mereka berdua cocok banget" Ucap Rara kepada Radit. Mereka berdua sedang menonton TV bersama di ruang tengah setelah selesai makan malam bersama. Saat ini mereka hanya berdua di rumah


Tadi sore Adit menjemput Rara ke kantor nya untuk pulang bersama.


"Ia Ra gue juga gak nyangka kalo bang Raka bakal ngelakuin hal itu" Jawab Radit.


"Gue salut banget sama Kak Raka, hatinya bener-bener tulus banget, gak semua cowok bisa ngelakuin itu, kak Raka bener-bener cowok idaman" Puji Rara.

__ADS_1


"Coba kalo gue yang dilamar ka Raka, gue pasti gak bakalan nolak" Ucap Rara berandai-andai sembari menyandarkan kepalanya ke bahu Radit.


Mendengar Rara memuji kakaknya membuat Radit merasa kesal dan cemburu.


"Apaan sih dia muji-muji bang Raka sampai segitunya. pake bilang pengen di lamar segala, kapan sih dia bakalan sadar dengan perasaan gue" gumam Radit dalam hati, sampai saat ini dia belum berani untuk mengungkapkan perasaannya.


"Udah minggir ah, gue mau ke kamar" Radit bermaksud untuk beranjak dari tempat duduk , tapi saat dia menoleh kepada Rara, ternyata Rara sudah tertidur.


"Ni anak cepet banget tidurnya" Ucap Radit bingung padahal baru saja Rara selesai bicara.


"Ra bangun Ra, pindah gih ke kamar" Radit mencoba membangunkan Rara, tapi Rara tidak bergeming sedikitpun.


"Ni anak susah banget si di bangunin nya"


"Apa gue tinggal aja ya di sini sendirian, tapi kasian juga, mungkin dia lelah seharian kerja"gumam Radit


Akhirnya Radit memutuskan untuk menggendong Rara ke kamarnya, kebetulan kamar Rara berada di lantai bawah, jadi Radit tidak akan terlalu sulit untuk membawa nya.


"Ternyata Lo berat juga" gerutu Radit, ia tampak susah payah menggendong Rara ke kamarnya dengan keadaan tidur.


Ketika Radit hendak membaringkan Rara ke tempat tidur tiba-tiba radit kehilangan keseimbangannya hingga ia tersungkur tepat di atas tubuh Rara, tapi lagi-lagi Rara tidak bergeming sedikitpun.


Bukannya segera beranjak, Radit justru malah menatap wajah Rara.


"Ternyata kalo lagi tidur gini lo keliatan cantik banget" ucap Radit seraya menyelipkan rambut Rara ke belakang telinga nya agar tidak menghalangi wajahnya.


"Kalau aja Lo tau Ra, gue bener-bener sayang sama Lo, gue cinta sama lo" ucap Radit lagi.


Namun ketika Radit melihat bibir ranum Rara, tiba-tiba saja Radit mengingat saat mereka berci*uman waktu itu di depan farel. Sampai saat ini ia belum bisa melupakan kejadian itu. Ia juga tidak bisa melupakan manisnya bibir Rara.


Rasanya ia ingin melakukannya lagi, ******* bibir nya yang begitu menggoda, yang pasti akan terasa manis.

__ADS_1


"Nggak Dit gak boleh, lo gak boleh ngelakuin itu. Kalau Rara tau di akan marah dan membenci lo" Radit berusaha menyadarkan pikirannya, ia segera beranjak dari tempat tidur dan meninggalkan Rara.


__ADS_2