
Karna Rara menolak untuk di bawa ke rumah sakit, jadi Farel hanya mengobati luka-luka Rara dengan betadin yang ia beli di warung yang ada di dekat sana, kemudian ia menutup luka Rara menggunakan plester.
Sebagai permintaan maaf nya, Farel mengantarkan Rara ke sekolahnya dengan motor tersebut, walaupun awalnya Rara sempat menolak, tapi Farel berhasil membujuknya, hingga akhirnya mereka berboncengan menggunakan motor Sport tersebut.
Farel juga meminjamkan jaketnya kepada Rara karena seragam sekolah Rara tampak kotor dan juga terkena noda darah yang menetes dari luka di sikunya . Beruntung luka di tubuh Rara tidak terlalu parah, hanya di bagian lutut saja yang terlihat dalam, karena saat itu Rara mengenakan rok span abu-abu di atas lutut.
"Makasih ya... lo udah nganterin gue ke sekolah" ucap Rara saat turun dari motor Farel.
"Sama-sama, gue juga minta maaf udah nyerempet Lo"
"Gak Apa-apa, gue juga salah kok tadi, nyebrang nya terburu-buru"
"Oia... ini jaket Lo" ucap Rara hendak mengembalikan jaket Farel.
"Gak usah... Lo pake aja dulu, baju Lo kotor soalnya"tolak Farel.
"Kalo gitu makasih ya, nanti gue balikin" ucap Rara sambil memakai kembali jaket tersebut.
"Ia santai aja, kalo gitu gue pergi dulu"
"Kalo luka Lo makin parah, Lo hubungin gue aja ke nomor ini" ucap Farel memberikan sebuah kartu nama kepada Rara sebelum ia melajukan motor Sport nya.
#
#
Saat ini Alvian mempunyai kegiatan baru setiap pagi, sebelum pergi ke kantornya, Alvian harus mengantarkan Maya ke kampusnya terlebih dahulu.
Pagi ini, Bella tidak ikut bersama mereka, sebab tadi pagi Alvian dan Bella sempat berdebat. Bella mempermasalahkn Soal Alvian yang pergi bersama Maya semalaman tanpa memberitahu nya terlebih dahulu, dan bahkan sampai tidur di kamar Maya.
Seperti biasa, Bella terus menerus menyalahkan Maya atas berubahnya sikap Alvian, ia juga tidak pernah puas untuk menghina Maya.
__ADS_1
Karna kesal mendengarkan semua ocehan Bella, Alvian mengajak Maya untuk pergi dan meninggalkan Bella begitu saja, hingga mereka tidak sempat sarapan terlebih dahulu.
Sebelum pergi ke kampus, Alvian juga mengajak Maya untuk sarapan di luar, Alvian tidak ingin membuat Maya melewatkan sarapannya seperti waktu itu, ia ingin memastikan bahwa Maya benar-benar sarapan.
Selalu mendapatkan pembelaan dan perhatian dari Alvian, tak lantas membuat Maya merasa senang atau pun bangga karna berhasil mengalahkan Bella, justru ia semakin merasa bersalah terhadap Bella, ia benar-benar tidak tahan melihat Bella dan Alvian yang selalu bertengkar setiap hari.
Semua hal itu membuat beban pikirannya semakin bertambah, hal itu sangat berpengaruh pada kesehatannya, kepalanya selalu terasa pusing dan juga terasa berat saat ia terlalu banyak pikiran.
Namun Maya berusaha menyembunyikan semua itu dari Alvian, ia selalu bersikap seolah-olah dia baik-baik saja, ia tidak ingin membuat suaminya cemas.
Alvian selalu memintanya untuk tidak memikirkan semua ucapan Bella, tidak perlu di hiraukan dan tidak perlu di ambil hati, ia juga meminta Maya untuk tidak merasa bersalah atas kacaunya hubungan Alvian dan Bella , karna pada dasarnya hubungan mereka memang sudah retak sebelum Maya datang di tengah-tengah mereka.
Saat kelas tengah berlangsung, Maya tampak tidak pokus sama sekali, kepalnya sangat pusing, ditambah lagi dengan perutnya yang terasa mual, itu semua membuat Maya semakin tidak nyaman.
"Mit... Del... aku ke toilet dulu ya" ucap Maya saat Kelas baru saja selesai
"Mau aku anter gak May" Tanya Mita yang tangan memasukan buku-bukunya ke dalam tas.
"Kamu sakit? " tanya Della khawatir.
"Enggak aku baik-baik aja kok, aku cuman mual doang"
"Oia kalian langsung pulang aja ya duluan, gak usah nungguin aku dulu" Ucap Maya buru-buru pergi ke toilet.
Sesampainya di toilet, Maya langsung memuntahkan semua isi perutnya yang sejak tadi terasa mengganjal di tenggorokannya, perutnya benar-benar terasa di aduk-aduk, namun rasa pusing di kepalanya sama sekali tidak berkurang sedikitpun.
Maya mencoba membasuh wajahnya dengan air, berharap rasa pusingnya dapat berkurang, dan kemudian ia mengeringkan wajahnya dengan tisu.
Maya memutuskan untuk segera pulang kerumah dan mengistirahatkan tubuhnya itu, ia berjalan keluar toilet dengan kaki yang terasa mengambang, hingga saat ia di depan toilet, tubuhnya hampir terhuyung belakang, karna kakinya terasa sangat lemas.
Untung saja ada seorang pria yang menyangga nya dari belakang.
__ADS_1
"Kamu gak apa-apa" tanya pria tersebut
"Farel..." ucap Maya saat melihat wajah pria tersebut.
"Ayo duduk dulu" Farel memapah Maya untuk duduk di sebuah bangku yang berada di sekitar sana.
"Ini minum dulu" Farel memberikan sebuah botol air mineral kepada Maya, tapi wajahnya tampak dingin, bahkan ia sama sekali tidak menatap Mata Maya
"Maksih El..." ucap Maya setelah meneguk air tersebut, tapi Farel sama sekali tidak menjawab nya.
"Kalo kamu sudah merasa baikan, aku akan mengantar kamu untuk naik Taxi" Farel masih bersikap dingin.
Farel memapah tubuh Maya yang masih tampak lemas untuk mencari taxi di depan kampus, keduanya sama-sama diam, tidak saling berbicara satu sama lain, seolah-olah mereka tidak pernah saling mengenal satu sama lain, seperti layaknya orang asing, terutama dengan Farel yang terlihat sangat dingin.
sesampainya di depan kampus, ternyata Alvian tengah berdiri sambil bersandar ke mobilnya, tampaknya ia sedang menunggu Maya untuk menjemput nya pulang.
Mereka semua saling memperhatikan satu sama lain dari jauh, Alvian memperhatikan Farel tengah berjalan bersama istrinya sambil merangkul istrinya itu.
Farel melihat wajah Kakak nya dengan tatapan kebencian, orang yang sudah merebut wanita yang sangat ia cintai. Ini adalah kali pertama mereka bertemu kembali setelah kejadian perkelahian waktu itu, hubungan mereka benar-benar semakin memburuk.
Sedangkan Maya Menatap Wajah suaminya dari kejauhan dengan perasaan tidak enak, ia takut jika Alvian berpikir yang tidak-tidak terhadap dirinya dan Farel.
"May kamu kenapa, wajah kamu pucat sekali" Tanya Alvian khawatir, ia mengambil alih merangkul tubuh Maya
"Aku gak apa-apa Mas... aku hanya sedikit pusing, untung ada Farel yang nolongin aku"jelas Maya.
"El makasih banyak Ya..." ucap Maya Dengan senyum tipis, tapi Farel tidak menjawabnya.
"Lain kali tolong jaga baik-baik istri Anda, jangan sampai merepotkan orang lain" ucap Farel sinis, dan kemudian ia pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua.
Farel berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan Maya dan Alvian, ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan mereka, ia menutupi kesedihannya dengan sebuah kebencian.
__ADS_1
Sesungguhnya hati Farel benar-benar rapuh saat melihat mereka bersama seperti tadi, apalagi saat Maya memanggil Alvian dengan sebutan Mas, hal itu membuat hatinya sakit, terutama saat Alvian terlihat sangat perhatian dan khawatir terhadap Maya, mereka benar-benar tampak seperti suami istri yang saling mencintai.