
PENYESALAN Sebuah kata yang menggambarkan perasaan Alvian dan Farel saat ini, atas apa yang telah mereka perbuat kepada Rara dan Maya. Namun penyesalan hanyalah tinggal penyesalan, yang tidak dapat di perbaiki semudah membalikkan telapak tangan.
Farel dan Maya sudah mencoba mendatangi kediaman Bu sari, ibu kandung Maya dan Rara, namun ternyata mereka semua sudah pindah, dan tidak ada seorangpun yang tau rumah mereka yang baru.
Alvian dan Farel juga sudah mencoba menanyakan pihak kampus tentang alamat rumah Maya, dan kampus Maya yang baru, namun mereka tidak dapat mendapatkan informasi tersebut, sebab Maya tidak meninggalkan catatan apapun kepada pihak kampus, tidak ada jejak sama sekali tentang Maya.
Alvian dan Farel benar-benar putus asa, mereka tak mendapatkan sedikitpun informasi yang berarti mengenai keberadaan Maya dan Rara, mereka berdua menghilang tanpa jejak, bagaikan di telan bumi, padahal Alvian sudah mengutus orang kepercayaannya untuk mencari Maya, tapi hasilnya nol
Semua itu bukan karna kebetulan, melainkan sudah di rancang sedemikian rupa oleh Dokter Diana dan Raka, mereka berdua memang sengaja memindahkan Maya ke kampus yang baru agar Maya bisa fokus menyelesaikan kuliahnya, tanpa di bayang-bayangi oleh masalalunya, apalagi di sana ada farel yang selalu berbicara kasar kepadanya. Mereka ingin jika Maya bisa memulihkan hatinya dengan cepat, sebab jika Maya terus menerus bertemu dengan mereka, hal itu hanya akan menambah luka di hati Maya.
Selain itu Dokter dia juga membelikan sebuah rumah baru untuk Bu sari dan Angga, agar menghapus jejak Maya dari Alvian, sebab ia tau hal seperti ini memang akan terjadi, selain itu, rumah orang tua Maya memang sudah tidak layak untuk di huni, banyak atap yang bocor dan kayu yang sudah rapuh.
Dokter Diana juga meminta kepada Maya agar mengatakan kepada ibunya bahwa rumah tersebut adalah pemberian dari Alvian Suaminya, agar ibunya itu tidak curiga, karna sampai sekarang pun Maya dan Rara belum memberitahu ibu nya perihal perceraian Maya dan masalah yang di hadapinya, dengan alasan kesehatan ibunya. Bu sari tidak boleh memikirkan hal yang berat ataupun kecemasan yang berlebihan, hal itu akan sangat berpengaruh untuk kesehatan Bu sari, Maya dan Rara benar-benar menjaga betul-betul kesehatan ibunya, mereka rutin membawa Ibunya ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatan nya.
Alvian benar-benar menepati ucapan nya untuk menghancurkan Bella, ia menyebarkan bukti rekaman perselingkuhan dan pembunuhan yang di lakukan Bella ke seluruh Media, hingga karir Bella hancur, hingga semua orang menghujatnya dan membencinya, bahkan banyak perusahaan yang membatalkan sepihak kontrak kerjasama mereka dengan Bella.
Alvian dan keluarga juga sudah melaporkan Bella ke pihak kepolisian dengan memberikan barang bukti yang ada. Bella sudah di tetapkan menjadi tersangka dan di tahan oleh pihak yang berwajib.
Meskipun Bella sudah memohon-mohon dan bersimpuh di kaki Alvian agar Alvian mau mencabut laporannya, tapi Alvian sama sekali tidak menggubris ucapan Bella sedikitpun, ia benar-benar sudah murka terhadap Bella.
Ia juga sudah menggugat cerai Bella, ia sudah tidak ingin terikat lagi dengan wanita yang sudah menghancurkannya.
****
"May... apa yang kamu lakukan setelah melihat ini" Tanya Dokter Diana ketika berita tentang Bella sudah tersebar ke mana-mana.
"Apa kamu mau memaafkan Alvian ?" sambung nya lagi.
"Jauh sebelum Alvian minta maaf pun, Maya sudah memaafkannya, termasuk memaafkan Farel dan juga Papinya" Jawab Maya tulus.
"Sebab Maya tau, mereka cuman salah paham, mereka semua hanya termakan oleh jebakan yang di buat Bella"
"Lalu apa kamu masih mau kembali lagi bersama Alvin, jika dia meminta rujuk"
__ADS_1
"Saat ini Alvian pasti sedang mencari keberadaan kamu" Tanya Dokter Diana penasaran.
"Entahlah, Maya tidak ingin memikirkan hal sejauh itu, saat ini Maya hanya ingin Fokus dengan kuliah" Jawab Maya lagi.
"Apapun keputusan kamu, saya akan selalu mendukung kamu May" ucap Dokter Diana seraya mengusap bahu Maya.
"Makasih Dok... makasih atas semua bantuan Dokter selama ini, Maya gak tau bagaimana jadinya jika Dokter tidak menolong kami"
"Dokter adalah malaikat penolong yang di turunkan oleh tuhan untuk kami" walaupun Maya sudah berulangkali berterima kasih kepada Dokter Dian, tapi rasanya semua itu belum cukup.
"Kamu terlalu berlebihan May... mungkin kita memang di takdir kan untuk bertemu" Dokter Diana memang orang baik, ia mempunyai jiwa sosial yang tinggi. Semua itu bisa terlihat ketika ia menderita panti asuhan untuk merawat anak-anak yang tidak memiliki orang tua.
****
"Mampus Lo nenek lampir... akhirnya kebusukan Lo terungkap juga" umpat Rara ketika dia tengah menonton televisi yang memberitakan tentang Bella.
"Ada apa sih berisik banget, suara lo sampai kedengeran ke kamar gue" tanya Radit menghampiri Rara.
"Ini nih nenek lampir yang udah memfitnah kakak gue waktu itu"
"Kalau sampai gue ketemu sama dia, bakalan gue Jambak rambutnya sampai botak"
"Gedek banget gue sama nenek lampir ini" ucap Rara emosi.
"Gue seneng banget... akhirnya nama baik Kaka gue bisa kembali lagi"
"Sekarang Alvian sama keluarga nya pasti nyesel banget udah nuduh Kaka gue yang nggak-nggak, dia juga pasti Nyesel udah nyia-nyiain kakak gue"
"Makan tuh jebakan si nenek lampir" Ucap Rara puas.
"Udah ah jangan ngedumel terus, nanti Lo cepet tua, mending Lo bikinin gue makanan, gue laper banget" Ucap Radit seraya mengusap perutnya yang keroncongan.
"Lo ini gimana sih, gak boleh banget liat gue nyantai dikit"
__ADS_1
"Kali-kali kek Lo bikinin makanan buat gue"
"Sebagai bentuk penghargaan buat ART yang rajin kaya gue, baik hati tidak sombong dan rajin menabung"
"Yah yah yah" bujuk Rara seraya menggelayuti Lengan Radit.
"Gue kan gak bisa masak, gue cuma bisa rebus air sama bikin mie rebus doang"
"Ya udah mie rebus juga gak apa-apa, cocok ujan-ujan kaya gini" ucap Rara lagi, tapi mata nya masih fokus melihat televisi.
"Bener-bener ngelunjak ya lu, baru kali ini gue nemu ART model kaya lu"
"Kalo aja Lo bukan kesayangan Mami, udah gue tendang lo dari sini" Gerutu Radit sebelum ia pergi ke dapur.
"Kalian lagi ngeributin apa sih, kerjaannya ribut terus kalau deket, kaya ayam jago" Raka menghampiri Rara dan Radit di ruang TV.
"Ini kak anak kesayangan Mami, masa dia minta di bikinin makanan sama gua"
"Kan aneh..."
"Mana ada ART yang nyuruh-nyuruh majikan nya" Radit mengadu kepada Kakak nya.
"Gak apa-apa Dit... sekali-kali kamu nurutin kemauan Rara, kasian dia udah cape ngerjain pekerjaan rumah dan ngurusin semua keperluan kita" ucap Raka seraya mendaratkan tubuhnya di samping Rara.
"Nah .. dengerin tuh" Rara merasa menang karna ada yang membela nya.
"Kok kakak malah belain dia sih"
"Sebenernya adek Lo itu siapa, gua apa Rara"
"Kakak sebelas dua belas Sama Mami, belain di terus" protes Radit.
"Udah-udah jangan marah-marah terus, mending sekrang cepetan pergi ke dapur, sekalian bikinin buat kakak" Raka memang senang membuat Adiknya itu kesal.
__ADS_1
"Baik tuan... nyonya..." ucap Radit kesal.
Rara dan Raka tersenyum melihat tingkah Radit.