
Akhirnya Maya dan Alvian sudah resmi menjadi sepasang suami istri, mereka menikah secara agama, hanya si saksikan oleh penghulu, ustadz dan dua saksi, yaitu Bagas asisten pribadi Alvian dan Riko salah satu staf kepercayaan Alvian.
Tidak ada satupun keluarga mereka yang menghadiri pernikahan tersebut, terutama Mami dan Papi Alvian yang menentang keras pernikahan putranya dengan pembantunya sendiri.
Maya Merasa sangat sedih dengan pernikahan nya itu, ia benar-benar tidak menyangka jika ia akan menikah dengan cara seperti itu, apalagi tanpa di saksikan oleh ibu dan adik-adiknya.
Setiap wanita pasti mempunyai impiannya sendiri untuk pernikahannya nanti, menikah dengan pria yang ia cinta, dan di saksikan oleh keluarga, kerabat dan juga sahabat yang memberikan doa restunya.
Meskipun begitu Maya tetap menerima semua ini dengan ikhlas, ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini sudah menjadi suratan takdir yang harus di jalaninya.
"May... sekarang kita sudah sah menjadi suami istri, saya akan berusaha memenuhi kewajiban saya sebagai seorang suami"
"Saya tau May...kamu pasti sedih dan tertekan dengan semua ini, saya benar-benar minta maaf karna sudah membawa kamu kedalam situasi seperti ini, dan menghancurkan hidup kamu dalam sekejap, pasti sulit untuk kamu menjalani semua ini" Alvian tidak berhenti menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang menimpa Maya.
"Saya sudah ikhlas Tuan menerima semua ini, mungkin ini sudah menjadi jalan hidup saya, saya tidak mungkin bisa melawan takdir, sejauh apapun saya berlari, takdir itu pasti akan menghampiri saya. Sekarang saya hanya ingin fokus dengan anak yang ada di dalam kandungan saya, saya akan bertahan demi anak ini, hanya anak ini yang memberikan saya kekuatan dan semangat untuk terus menjalankan kehidupan ini, mungkin anak ini yang akan mengobati kesedihan saya nanti" ucap Maya seraya mengusap perutnya yang masih tampak rata.
"Kamu gak Sendiri May... ada saya yang akan mendampingi kamu merawat anak yang ada di dalam kandungan kamu ini, kita akan membesarkannya sama-sama" ucap Alvian lagi.
"Terimakasih tuan... terimakasih karna tuan sudah mau mengakui dan menerima anak yang ada di dalam kandungan saya ini, tuan tidak meminta saya untuk menggugurkan kandungan ini"
"Kamu tidak perlu berterima kasih May, itu semua sudah menjadi tanggung jawab saya, karna anak ini adalah darah daging saya, saya tidak mungkin membuang darah daging saya sendiri"
"Dan satu hal lagi May... mulai sekarang kamu jangan memanggil saya dengan sebutan Tuan lagi, saya bukan majikan kamu lagi sekarang, saya sudah menjadi suami kamu, kamu bisa memanggil saya dengan sebutan lain" Alvian mulai merasa tidak nyaman dengan sebutan itu.
"Tapi... tapi saya harus panggil tuan dengan sebutan apa" ucap Maya bingung.
"Ya... apa aja terserah kamu, kamu bisa panggil saya Mas, aa, Abang, akang juga boleh" Alvian berusaha mencair kan suasana.
"Aku... aku panggil Mas aja kalo gitu, gak apa-apa kan" Maya terlihat canggung.
"Tentu saja... sepertinya lebih enak di dengar, daripada panggilan tuan, kayanya saya keliatan udah tua banget. Jadi mulai sekarang jangan panggil tuan lagi ya" ucap Alvian sambil tersenyum.
"Ia tuan...eh Mas" Maya masih belum terbiasa dengan sebutan itu.
"Tuh kan kamu masih panggil saya seperti itu" ledek Alvian.
"Maaf Tu_ eh mas , saya masih belum terbiasa" Sepertinya lidah Maya masih tampak kaku.
"Ya sudah gak apa-apa lama-lama juga kamu akan terbiasa".
__ADS_1
"Sebaiknya sekarang kamu istirahat"
"Oia mulai sekarang kamu pindah ke kamar tamu aja ya, yang ada di sebelah kamar saya, kamarnya lebih luas dan nyaman, dari pada kamar yang di bawah"
"Untuk sementara kita tidur di kamar terpisah dulu aja ya, karna saya yakin kamu juga belum siap untuk satu kamar dengan saya, saya akan memberikan kamu waktu, untuk saling mengenal satu sama lain, saya tidak akan menuntut apapun dari kamu, yang terpenting kamu merasa nyaman tinggal di sini" Alvian sudah memikirkan semuanya dengan matang, agar bisa memberikan yang terbaik untuk Maya.
"Makasih banyak Mm...mas atas pengertiannya, makasih juga karna mas sudah mau memahami keadaan dan keinginan saya" Maya benar-benar bersyukur karna Alvian benar-benar mengerti dengan kondisinya saat ini, ia masih perlu waktu untuk memenangkan dirinya dan menyesuaikan semuanya.
"Sama-sama May..."
"Oh ia, satu hal lagi, saya juga akan mencari pembantu baru untuk menggantikan kamu, agar kamu tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah lagi" ucap Alvian lagi.
"Tidak usah Mas... saya masih bisa mengerjakan pekerjaan saya, gak perlu cari pembantu lagi"tolak Maya.
"Tidak... saya tidak akan membiarkan kamu mengerjakan pekerjaan rumah, apalagi sekarang kamu sedang hamil, saya tidak mau kalau terjadi apa-apa dengan kandungannya kamu" ucap Alvian tidak setuju
"Tapi Tuan... saya baik-baik aja kok" Maya mencoba meyakinkan Alvian
"Sudah May... kamu jangan keras kepala, mulai sekarang kamu gak boleh egois, kamu harus memikirkan kesehatan kandungan kamu juga" tegas Alvian, Maya tidak berani membantah nya lagi.
"Ya sudah, ayo sekarang saya antar ke kamar kamu, kamu harus banyak istirahat" ajak Alvian, tapi saat mereka hendak pergi ke atas , tiba-tiba bel rumah mereka berbunyi.
Ketika pintu terbuka, Maya di buat terkejut saat melihat seseorang di balik pintu tersebut.
"Siapa May..." Tanya Alvian seraya menghampiri Maya, Alvian pun di buat terkejut saat melihat seseorang itu.
"Bella..." ucap Alvian yang tidak menyangka dengan kedatangan istrinya yang secara tiba-tiba.
"Kenapa... kalian kaget melihat aku pulang kesini" ucap Bella menatap Alvian dan Maya dengan wajah sinisnya, kemudian ia masuk kedalam rumah dengan gaya angkuhnya.
"Jadi gini ya... kelakuan kalian selama aku gak ada di rumah, kalian berbuat hal senonoh di rumah ini, sampai wanita ini hamil" ucap Bella seraya menunjuk Wajah Maya, Maya hanya bisa menunduk tanpa melakukan pembelaan.
"Bel... jaga bicara kamu, ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan" bentak Alvian
"Lalu Vidio itu apa Al... jelas-jelas wanita ini hamil anak kamu, kalian selingkuh di belakang aku" teriak Bella lagi.
"Bel... Aku gak pernah selingkuh sama Maya, aku memang menghamili Maya, tapi aku gak pernah selingkuh" jawab Alvian tidak terima.
" Oh... jadi bener tentang berita itu, kalo perempuan ini yang sudah menjebak kamu"
__ADS_1
"Dasar perempuan murahan" Ucap Bella menampar pipi Maya dengan sangat keras, seketika Maya tersentak dan langsung memegangi pipinya yang tampak merah.
"Bella cukup... apa yang kamu lakukan" Alvian langsung menarik tangan Bella dan menahan tangannya.
"Lepasin Al... aku mau kasih pelajaran sama wanita ja*ang ini, dia sudah berani menjebak kamu" Bella berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Alvian, tapi Alvian tidak mau melepaskannya.
"Bel... dia bukan wanita seperti itu, Maya adalah wanita baik-baik, dia tidak pernah berbuat seperti itu sama saya" Alvian berusaha menenangkan istrinya.
"Al... kenapa sih kamu ngebelain perempuan itu terus, jelas-jelas perempuan ja*Lang ini sudah berani menggoda kamu, dia yang sudah membuat kekacauan ini" Bella masih berusaha untuk menyerang Maya lagi.
"Cukup bel... aku bilang cukup, kamu gak pantes bicara seperti itu sama Maya, justru kamu yang sudah menyebabkan semua kekacauan ini" teriak Alvian dengan penuh emosi.
"Aku... kok kamu malah nyalahin aku sih Al" ucap Bella heran.
"Ia kamu.... semua ini terjadi gara-gara kamu, andai saja waktu itu kamu gak pergi dari rumah ini, semua ini pasti gak akan pernah terjadi, dan Maya gak kan pernah jadi korban" Alvian menjelaskan semuanya kepada Bella, bahwa ia melakukan hal itu karna di pengaruhi minuman keras, dan semua itu gara-gara Bella.
Walaupun Alvian sudah menjelaskan semuanya kepada Bella, tapi Bella masih tidak terima Alvian menyalahkan dirinya, ia masih menganggap Maya sebagai sumber permasalahan ini.
"Pokoknya aku gak mau tau Al... kamu harus usir perempuan ini sekarang juga dari rumah ini, aku gak mau ada perempuan lain di rumah ini" Maya terus menerus menunjuk wajah Bella
"Gak bisa bel... aku gak akan membiarkan Maya pergi dari rumah ini, Maya sedang hamil, lagipula kita sudah menikah" jelas Alvian lagi
"Apa.. menikah" Bella membelalakkan matanya.
"Nggak Al... aku gak akan terima semua ini, aku gak mau di poligami, apalagi sama pembantu ini, pokok nya aku gak mau tau, kamu harus ceraikan dia sekarang juga, dan usir dia dari rumah ini"Teriak Bella, ia semakin emosi mendengar hal itu.
"Sampai kapanpun aku gak akan pernah menceraikan Maya, aku akan bertanggung jawab sama Maya dan juga anak yang ada di dalam kandungannya" Tegas Alvian.
"Aku gak mau Al... aku gak mau ada orang ke tiga di dalam pernikahan kita, aku gak mau di madu"
"Kalau kamu tetap mempertahankan perempuan ini, aku yang akan pergi dari rumah ini" ancam Bella, ia yakin Alvian akan lebih memilih dirinya, karna Alvian sangat mencintainya.
"Silahkan kalau kamu mau pergi dari rumah ini lagi, saya gak akan pernah melarang-larang kamu lagi, kamu bebas memilih kehidupan kamu sendiri dan melakukan apapun yang kamu mau, lagi pula saya sudah terbiasa hidup tanpa kamu" Bella benar-benar terkejut dengan jawaban Alvian, benar-benar tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan.
Bella pikir Alvian akan mencegah dan memohon-mohon kepada nya untuk tidak pergi meninggalkan nya, seperti yang biasa Alvian lakukan sebelumnya, tapi kali ini Alvian tampak tidak peduli sama sekali.
"Sekarang kamu sudah benar-benar berubah Al... kamu udah gak peduli lagi sama aku"
"Ternyata perempuan itu sudah berhasil meracuni otak kamu" Bella menunjuk Maya dengan penuh kebencian.
__ADS_1
Sejak tadi Maya hanya bisa diam dan menangis mendengarkan semua hinaan Bella yang di tuduhkan kepada nya, ia juga merasa bersalah melihat Alvian dan Bella bertengkar hebat seperti itu, menjadi orang ke tiga di antara Alvian dan Bella, membuat hubungan mereka retak.