CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN

CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN
Episode 63


__ADS_3

Alvian dan Farel masih belum menyerah untuk menemukan Maya dan Rara, mereka sampai rela mendatangi beberapa kampus untuk mencari keberadaan Dua wanita itu, tetapi hasilnya nihil.


"Bang... kita harus cari mereka kemana lagi"


"Udah hampir sepuluh kampus yang kita datangi, tapi gak ada satupun yang mengenal mereka" ucap Farel putus asa, mereka berdua tampak lelah dan bingung.


"Entah lah, Kaka juga bingung" Jawab Alvian yang tak kalah putus asa.


"Ini semua gara-gara elo bang, coba aja kalo lo bisa bersikap adil sama kedua istri Lo, mungkin Bella gak akan sampai memfitnah Maya, dan berbuat jahat sama Mami"


"Bella Ngelakuin itu karna dia benci sama Maya, karna Lo lebih sayang sama Maya daripada dia, istri pertama Lo" ucap Farel kesal.


"Kok kamu malah nyalahin kakak"


"Kakak itu gak pernah berlaku tidak adil sama mereka" bantah Alvian.


"Lalu gue harus nyalahin siapa, sudah jelas-jelas akar permasalahan ini dari Lo"


"Lo yang udah menghancurkan rumah tangga Lo sendiri"


"Karna Lo gak bisa percaya sama istri Lo sendiri"


"Kalo aja Lo bisa lebih peka dengan karakter Maya, mungkin semua ini gak akan pernah terjadi"


"Dan hubungan gue sama Rara gak akan ikut kena imbasnya" jawab Farel.


"Kamu sendiri kenapa gak percaya sama ucapan Rara"


"Dan sok-sokan menghakimi Maya seperti itu"


"kalo kamu gak ngomong kasar sama Maya, Rara juga pasti gak akan marah sama kamu, dia gak akan ninggalin kamu" Akhirnya Alvian dan Radit saling menyalahkan satu sama lain, dan mencari kambing hitam, sebagai luapan penyesalan mereka dan keputusasaan mereka karna tidak berhasil menemukan Maya dan Rara.


"Ada apa ini, kenapa kalian jadi ribut seperti ini " Ucap Papi yang baru saja keluar dari kamar, karena mendengar keributan kedua putranya.


"Untuk apa kalian ribut cuma gara-gara dua perempuan itu"


"Sebaiknya kalian fokus dengan urusan kalian"


"Dari pada membuang-buang waktu untuk mencari mereka"


"Memangnya apa sih hebatnya perempuan-perempuan itu"


"Terutama kamu El... papi perhatikan beberapa hari ini kamu udah jarang pergi ke kampus, Papi sampai dapet surat panggilan dari kampus kamu"


"Dan kamu juga Al... udah lah relain aja perempuan itu, masih banyak perempuan di luar sana yang lebih cantik dari dia"


"Sebaiknya kamu fokus dengan perusahaan kita"


"Apalagi besok kamu harus berangkat ke luar negri untuk menemui klien penting"


"Jadi sebaiknya kamu siap-siap sekarang" Papi Alvian sama sekali tidak pernah menyesali perbuatannya, ia masih tetep angkuh dan merendahkan Maya.


"Al bener-bener gak habis pikir sama Papi"


"Bisa-bisanya Papi berbicara seperti itu tentang Maya"

__ADS_1


"Setelah apa yang telah Papi lakukan kepada Maya selama ini"


"Papi udah ngehina Maya dan menuduh dia tanpa bukti"


"Dan apa Papi lupa ? Dulu Maya sudah menyelamatkan nama baik keluarga kita"


"Dengan menutupi aib aku"


"Sampai-sampai dia di hina dan rendahkan oleh semua orang"


"Bahkan dia sampai di benci oleh ibunya sendiri"


"Padahal semua itu adalah kesalahan Al"


"Al yang udah melecehkan Maya, dan menghancurkan masa depannya"


"Tapi Papi gak pernah sekalipun bersikap baik kepada Maya atas semua pengorbanannya"


"Di mana hati nurani Papi" Alvian sudah tidak tahan lagi dengan sikap Papinya.


"Tunggu-tunggu, ada apa ini sebenarnya" Secara tidak langsung Alvian sudah membeberkan sebuah rahasia besar yang selama ini mereka simpan.


"Jadi selama ini kalian merahasiakan sesuatu dari gua"


"Jadi elo bang uang udah melecehkan Maya"


"Trus Kalian mengorbankan Maya untuk menutupi kebusukan Lo Bang" tidak ada seorangpun yang menjawab pertanyaan Farel, terutama Alvian yang memang menyadari bahwa dirinya memang bersalah.


"Gue bener-bener gak nyangka sama kalian"


"Terutama Lo Bang"


"Kakak gak sengaja melakukan hal itu sama Maya"


"Semua itu kecelakaan, karna pada saat itu kakak lagi mabuk"


"Jadi Kaka gak sadar dengan apa yang kakak lakukan"


"Dan semua sandiwara ini bukan kemauan kakak, tapi permintaan Mami sama Papi" Akhirnya Alvian angkat suara.


"Apapun alasannya Lo tetep salah bang"


"Dimana harga diri Lo sebagai laki-laki"


"Lo yang udah bikin salah tapi Lo malah cuci tangan, dan melemparkannya kepada Maya"


"Padahal lo tau kan bang, Maya itu cewek gue, waktu itu gue cinta banget sama Maya"


"Tapi hubungan gue hancur gara-gara perbuatan keji Lo"


"Sampai-sampai gue menghina Maya dengan kata-kata yang sangat menyakitkan, dan menganggap dia itu cewek murahan"


"Karna gue pikir Maya itu cewek penggoda yang gila dengan harta"


"Padahal dia itu cuman korban" farel meluapkan emosinya kepada Alvian.

__ADS_1


"Gua benar-benar kecewa sama Lo bang"


"Terutama Papi"


"El malu punya orang tua seperti kalian"


"Kalian gak punya hati" ucap Farel lagi, setelah itu ia pergi meninggalkan Alvian dan Papi nya.


***


Hari ini Dokter Diana menepati janjinya untuk mengajak anak-anaknya liburan ke Paris, termasuk Rara dan juga Maya yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.


Saat ini mereka semua sudah berada dalam pesawat, hal ini merupakan pengalaman pertama untuk Rara, sebab ia tidak pernah naik pesawat sebelumnya, berbeda dengan Maya yang sudah pernah di ajak Alvian liburan menggunakan pesawat.


Wajah Rara terlihat pucat, tangannya pun sangat dingin, sebab Rara merasa takut jika terjadi sesuatu dengan pesawat ya g ia tumpangi, seperti yang pernah ia lihat di televisi.


Semua orang berusaha menenangkan Rara dengan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Berbeda dengan Radit yang malah meledek Rara dan mentertawakan nya.


"Hahaha muka Lo tegang banget Ra"


"Kaya orang yang mau naik rollercoaster"


"Malu-maluin aja Lo" ledek Radit.


"Diem Lo, orang lagi takut malah di ledekin" bentak Rara.


"Dit kamu gak boleh gitu"


"Namanya juga baru pertama kali naik pesawat, jadi wajar aja Rara tegang" Timpal Raka.


"Ia Dit... waktu dulu kamu juga gitu"


"Malah kamu sampai muntah di pesawat" sambung Dokter Diana, hingga semua orang tertawa.


"Apaan sih Mih... malah bongkar-bongkar aib Adit"ucap Adit kesal sekaligus malu.


"Hahaha ternyata Lo lebih parah dari gue"


"Jangan-jangan dulu Lo ngompol di celana" kini Rara balik meledek Radit, hal itu membuat Radit tidak bisa bicara apa-apa.


Beberapa saat kemudian datang seorang pria yang tampak tergesa-gesa, karna hampir ketinggalan pesawat, pria tersebut duduk di belakang kursi Rara dan Maya hanya terhalang oleh satu kursi saja, yang merupakan tempat duduk Raka dan Radit.


"Ra kamu gak usah tegang ya... insya Allah semuanya akan baik-baik aja, kita semua akan sampai dengan selamat" ucap Maya berusaha menenangkan adiknya dengan menggenggam tangannya.


"Ia kak..." jawab Rara yang sudah mulai tenang.


"Ya Allah kenapa aku seperti mendengar suara Maya"


"Tapi gak mungkin Maya berada di pesawat ini"


"Ini kan pesawat tujuan ke Paris"


"Untuk apa Maya pergi ke sana"

__ADS_1


"Ini pasti cuman halusinasi ku saja, mungkin karna aku sangat merindukan Maya" Gumam seseorang dalam hati. Ya dia adalah Alvian, pria yang tadi hampir tertinggal pesawat karna ia terlambat datang, karna ia terlalu sibuk mencari Maya.


Alvian hendak pergi ke Paris untuk urusan bisnis, untuk menemui Client penting yang akan bekerja sama dengan perusahaannya.


__ADS_2