
Setelah selesai mengurus pemakaman Mami nya, Alvian pulang ke rumah bersama Bella. Wajah nya masih tampak terlihat sedih dan terpukul, bahkan di sepanjang jalan ia tidak berbicara sepatah katapun, tatapannya tampak kosong, pikirannya melayang kemana-mana. Bagaimana tidak, wanita yang telah melahirkannya, telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya, dengan cara yang sangat tragis, dan hal itu di sebabkan oleh istrinya sendiri, orang yang selama ini sangat ia percaya.
Setibanya Alvian di rumah, Maya segera menghampirinya, sejak tadi ia menunggu di depan pintu dengan gelisah, ia ingin menjelaskan kesalahpahaman ini, bahwa dirinya tidak bersalah.
"Mas... akhirnya kamu pulang juga, tolong dengarkan penjelasan aku mas, aku benar-benar tidak bersalah"
"Cukup..."Aku sudah tidak mau mendengarkan omong kosong kamu lagi, sebaiknya kamu menjauh dari hadapan aku, karna setiap aku melihat kamu, semakin aku mengingat Mami, mengingat perbuatan kami terhadap Mami"Jawab Alvian tanpa melihat wajah Maya.
"Bener-bener gak tau malu ya kamu May... kamu masih berani tinggal di sini setelah apa yang kamu lakukan sama Mami" timpal Bella.
"Mas... aku mohon, tolong percaya sama aku, aku gak mungkin ngelakuin hal seperti itu" "kamu juga udah janji sama aku, kalo kamu akan selalu percaya sama aku" Ucap Maya memohon-mohon.
"Justru sekarang aku sangat menyesal karna sudah pernah percaya sama kamu, wanita yang pura-pura lugu, tapi ternyata hatinya busuk. sampai-sampai aku menentang orang tuaku sendiri, itu adalah kebodohan terbesar dalam hidup ku" ucap Alvian semakin emosi
"Mas... aku mohon mas... tolong dengarkan kata-kata aku" ucap Ayu seraya menggenggam tangan Alvian.
"Aku bilang cukup" bentak Alvian seraya menghempaskan tangan Maya hingga Maya terjatuh ke lantai, Padahal saat itu ia sedang hamil besar, usia kandungan sudah menginjak 8 bulan.
"Aw.... sakit...."ucap Maya merintih kesakitan. Dan kemudian Maya melihat ada darah di kakinya.
"Mas... tolong aku mas, perut aku sakit" rintih Maya. Alvian pun tampak terkejut saat melihat Maya terjatuh, apalagi saat melihat darah di kaki Maya, ia benar-benar tidak sengaja mendorong Maya.
"May... kamu kenapa May, maaf aku gak bermaksud mendorong kamu" ucap Alvian panik, sambil berlutut di depan Maya.
"perut aku sakit Mas... sepertinya aku mau melahirkan" Rintih Maya lagi.
"Kamu sabar Ya, aku akan segera bawa kamu ke Rumah sakit"
"Bel.. kamu jangan diam saja, ayo bantu aku bawa Maya ke mobil" bentak Alvian.
"Ia Al... ini juga aku mau bantuin" Gerutu Bella.
"Ngerepotin amat sih jadi orang, semoga aja bayi nya gak selamat, biar gak ada lagi alasan buat mereka bersatu" gumam Bella dalam hati.
Di sepanjang perjalanan, Maya terus merintih kesakitan, merasakan sakit yang amat hebat, wajah dan lehernya pun sudah dipenuhi dengan keringat.
Alvian mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat, menyalib kendaraan-kendaraan yang ada di depannya, sambil sesekali menoleh ke arah Maya, ia tidak tega melihat Maya kesakitan seperti itu, ia juga merasa sangat bersalah karna telah berbuat kasar kepada Maya.
"May... kamu bertahan ya May, sebentar lagi kita sampai" ucap Alvian tidak tega.
sedangkan Bella tampak acuh dengan keadaan Maya, ia malah asik dengan ponselnya di kursi belakang.
Sesampainya di Rumah sakit, Alvian langsung meminta pertolongan perawat untuk menangani istrinya, para perawat tersebut segera membawa Maya ke ruang persalinan, Maya di tangani oleh Dokter dan juga suster yang berjaga saat itu.
Alvian tampak cemas dan mondar-mandir di depan ruang persalinan, ia sangat takut jika terjadi apa-apa kepada Maya dan bayi nya.
Beberapa saat kemudian suster pun keluar untuk memberikan kabar kepada Alvian.
__ADS_1
"Sus... bagaimana keadaan istri dan anak saya" tanya Alvian cepat.
"Alhamdulillah ibu dan Bayinya selamat, tapi bayinya harus mendapatkan penanganan lebih lanjut, sebab usia kandungannya belum memasuki usia sembilan bulan" jelas suster.
"Apa sekarang saya boleh menemui istri saya" tanya Alvian lagi.
"Tentu saja boleh, sekarang ibu dan bapak sudah boleh masuk ke dalam, tapi keadaan Bu Maya masih lemah, ia harus banyak istirahat" jawab suster ramah
"Terimakasih sus..."
"Sama-sama pak, kalo gitu saya permisi dulu" Jawab suster lagi.
"Ayo Bel... kita masuk" ajak Alvian.
"Kamu duluan aja deh Al, aku mau ke toilet dulu" Ucap Bela yang tampak buru-buru pergi.
"Sus .. tunggu sus..." Teriak Bella mengejar suster yang menangani Maya tadi.
"Ada apa bu... ada yang perlu saya bantu" ucap suster seraya menghentikan langkahnya.
"Saya boleh minta tolong gak"
"Minta tolong apa Bu"tanya suster penasaran.
"Sini saya bisikin" Bella meminta suster tersebut untuk mendekat. Dan kemudian Bella pun membisikan sesuatu kepada suster tersebut.
"Maaf Bu, saya tidak bisa, semua itu melanggar hukum" Jawab suster.
"Saya akan bayar kamu dengan sepuluh kali lipat gaji kamu" bujuk Bella
"Dan saya janji, masalah ini tidak akan sampai ketahuan, karna saya sudah mempersiapkan rencana yang sangat bagus"
"Gimana kamu mau gak"
"Tapi... kalo ketahuan gimana, saya gak mau kalo saya sampai di pecat" ucap Suster tampak ragu, tali sepertinya ia tergiur dengan uang uang di janjikan Bella.
"Saya jamin, rahasia ini akan aman"
Gimana kamu mau kan" bujuk Bella lagi.
"Baiklah kalo begitu... saya mau Bu"
"Nah... gitu dong... "
"kamu tinggal lakuin aja apa yang saya suruh, ok" ucap Bella tersenyum licik.
****
__ADS_1
"El... aku turut berduka cita ya atas kematian Mami kamu, kamu harus sabar ya El" ucap Rara menemui Farel di rumahnya.
"Makasih Ra..." jawab Farel yang masih sangat terpukul.
"Semua ini gara-gara Maya, dia yang udah bunuh Mami"
"Aku bener-bener gk nyangka kalau dia sejahat itu"
"Nggak El... kak Maya gk mungkin tega ngelakuin hal seperti itu" Jawab Rara tidak terima dengan tuduhan Farel.
"Awalnya aku juga gak percaya, tapi bang Al Sendiri yang melihat langsung kejadiannya"
"Mana mungkin bang Al bohong"
"Itu semua pasti gak bener El, kakak kamu pasti salah paham" bantah Rara lagi
"Udah lah Ra.. jangan mentang-mentang dia kakak kamu, jadi kamu terus belain dia, udah jelas-jelas dia yang udah ngebunuh Mami"
"Aku bukan bermaksud belain kakak aku, tapi Kak Maya bukan orang seperti itu, dia gak mungkin berani ngelakuin hal kejam seperti itu"
"Percaya deh El sama aku" Rara berusaha meyakinkan Farel.
"Kok kamu jadi malah belain Maya sih Ra"
"Sebenarnya kamu itu datang kesini untuk apa"
"Jangan-jangan kamu kesini di suruh Maya ya"
"Untuk membersihkan nama dia, supaya dia kelihatan gak bersalah"
"Atau jangan-jangan kalian berdua memang udah sekongkol untuk nyelekain Mami" tuduh Farel.
"Cukup El, ucapan kamu udah bener-bener keterlaluan El... bisa-bisanya ya kamu ngomong seperti itu"
"aku bener-bener gak nyangka ya kamu bisa berpikiran serendah itu tentang aku"
"Aku tau kamu sedang terpukul atas kepergian Mami kamu, tapi gak sepantasnya kamu ngomong seperti itu sama aku"
"Aku bener-bener kecewa sama" Rara benar-benar tidak terima dengan Ucapan farel.
"Ya udah kalo kamu memang gak terima dengan ucapan aku, sebaiknya kita putus aja"
"Aku gak mau pacaran sama wanita yang kakaknya udah membunuh Mami aku" Ucap Farel tanpa berpikir terlebih dulu. saat ini hati dan pikirannya tengah di selimuti dengan emosi.
"Ok... mulai sekarang kita putus"
"suatu saat nanti kamu pasti akan menyesal atas ucapan kamu ini" ucap Rara yang langsung pergi meninggalkan Farel.
__ADS_1