CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN

CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN
Episode 57


__ADS_3

Raka Dan Dokter Diana tengah menikmati makan malam bersama, tetapi tanpa Radit anak kedua Dokter Diana. hal tersebut menjadi momen kebersamaan mereka setiap hari, sebab keduanya sama-sama sibuk, jadi mereka selalu memanfaatkan momen tersebut untuk berbincang-bincang perihal kegiatan mereka di siang hari.


Berbeda dengan Radit yang selalu sibuk dengan urusannya sendiri, ia lebih suka bersenang-senang dan menghabiskan waktu bersama teman-temanya, ketimbang berkumpul bersama keluarganya, baginya hal tersebut sangat membosankan, sebab pembicaraan Mami dan juga Kakaknya selalu saja membahas tentang dunia kedokteran dan medis.


Radit sama sekali tidak tertarik dengan dunia kedokteran, ia tidak ingin mengikuti jejak Mami dan juga Kakaknya sebagai Dokter. Dokter Diana pun tidak pernah memaksakan kehendaknya, agar Radit menjadi Dokter seperti dirinya, ia membebaskan anak-anaknya untuk memilih jalan hidup mereka masing-masing, mengikuti kata hati mereka sendiri, sesuai dengan hobi dan cita-cita mereka.


"Mih... Radit belum pulang"Tanya Raka sembari mengambil nasi ke ke piringnya.


"Kamu itu kaya gak tau Ade kamu aja"


"Dia itu lebih sibuk daripada kita"


"Sampai-sampai gak ada waktu buat makan malam bersama"


"Apalagi... sekarang malam Minggu" jawab Dokter Diana.


"Anak itu dari dulu gak pernah berubah"jawab Radit heran.


"Oia Mih... Tadi Raka ke panti asuhan"


"Trus Raka di kenalin sama Maya, yang bekerja di panti asuhan kita"


"Mami kenal Maya di mana" Tanya Raka penasaran.


"Oh... jadi kamu udah ketemu sama Maya"


"Mami lupa belum cerita tentang Maya ke kamu"


"Jadi itu... Mami ketemu Maya di rumah sakit"


"Dia itu habis melahirkan, trus anaknya meninggal"


"Setelah itu ia di tinggalin sama Suaminya"


"Mami gak senagaja denger keributan mereka, perawat-perawat lain juga denger"


"Maya dituduh nyelakain mertunya sendiri"jelas Dokter Diana.


"Masa sih Mih Maya kaya gitu"


"Rasa nya gak mungkin orang seperti Maya tega ngelakuin hal kaya gitu" Jawab Raka tak percaya.


"Justru itu Ka... Mami juga gak percaya"


"Mami merasa kasihan sama Maya"


"Jadi Mami tawarin Maya pekerjaan di panti asuhan kita, dan Alhamdulillah Maya mau"


"Ia Mih... Raka juga bisa lihat kalau Maya orang yang baik, dia sangat telaten mengurus anak-anak, dan tulus menyayangi anak-anak" Ucap Raka mengingat saat di panti asuhan kemarin.


"Oia kamu udah tau belum, kalau Maya itu kakak nya Rara" ucap Dokter Diana lagi.


"Oh ya... pantesan aja wajah mereka mirip tapi Raka gak ngeuh sampai kesitu"


"Ia Rara juga anak yang baik dan rajin, walaupun dia masih muda, tapi dia mau bekerja keras, dia juga gak gengsi kerja jadi ART"


"Rara itu berani banget orangnya, dia langsung pasang badan saat kakaknya di dituduh dan di hina oleh suami dan juga keluarga suaminya itu, Mami benar-benar salut sama Rara" Dokter Diana menceritakan semuanya kepada Raka dengan panjang lebar.


"Setelah mendengar semua cerita Mami, Raka jari makin kagum sama mereka... Maya dan Rara perempuan yang kuat dan juga hebat, tidak semua orang bisa melewati semua ini"


**


"Ibu... mas Raka ini buahnya, udah Rara potong-potongin" ucap Rara memberikan cuci mulut untuk Dokter Diana dan Raka.


"Makasih Ra" ucap Dokter Diana dan juga Raka.


"Ra kamu sudah makan" tanya Raka.


"Udah Mas... tadi Rara sarapan di dapur"

__ADS_1


"Besok-besok kamu sarapan di sini aja bareng sama kami Ucap Raka lagi.


"Nggak Mas... Rara gak enak" jawab Rara merasa sungkan.


"Gak apa-apa Ra... lagian kita cuman makan berdua di sini".bujuk Raka.


"Ia Ra... kamu gak perlu sungkan, anggap aja kami sebagai keluarga kamu" sambung Dokter Diana.


"Tapi Mas..." Belum selesai Rara berbicara, tiba-tiba Bel pintu rumah Dokter Diana berbunyi , ada seseorang yang datang bertamu ke rumah tersebut di pagi hari.


"Biar saya aja Ra yang buka pintunya" ucap Raka ketika Rara hendak membuka pintu, saat itu Rara tengah membereskan meja makan.


"Maya" ucap Raka ketika membuka pintu.


"Assalamualaikum mas Raka" ucap Maya dengan senyum tipis di bibirnya.


"Waalaikumsalam salam"


"Ayo Masuk May"


"Kamu pasti mau ketemu Mami ya"


"Bentar saya panggilkan Mami dulu" Raka hendak pergi memanggil Dokter Diana, tapi Maya mencegahnya.


"Bukan Mas... saya kesini untuk menjemput Rara, kami mau pulang dulu ke rumah Ibu"


"Kami juga sudah ijin kepada Dokter Diana"


"Dokter Diana mengijinkan kami libur setiap hari minggu"jelas Maya.


"Oh gitu... "


"Ya sudah kamu masuk dulu saja"


"Sepertinya Rara masih di dapur"


"Kamu duduk dulu aja di dalam" Ajak Raka.


"Eh ada Maya..." ucap Dokter Diana menghampiri Maya.


"Kalian jadi... pulang kerumah ibu kalian sekarang ?"


"Ia Dok..."


"Maaf ya Dok... Maya mengganggu pagi-pagi seperti ini" ucap Maya merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa May... sekarang kan memang waktunya kalian libur"


"Pokoknya jadwal kerja kalian cuman dari hari Senin Sampai Sabtu, hari Minggu kalian boleh libur"


"Kalau kalian mau keluar malam mingguan juga boleh, kalian kan masih muda" jelas Dokter Diana, ia memperlakukan Maya dan Rara seperti putri mereka sendiri, karna sebenarnya ia meminta Rara dan Maya bekerja itu hanya sebagai formalitas saja, agar mereka tidak menolak bantuan darinya. sebab ia tau Maya dan Rata tidak akan mau menerima bantuan nya secara cuma-cuma seperti yang pernah ia tawarkan kepada mereka waktu itu.


"Makasih banyak Dok..."


"Libur satu hari saja, udah lebih dari cukup buat kami"


"Kami hanya ingin melihat keadaan ibu saja"


"sorenya kami akan langsung kembali lagi kesini" jawab Maya yang merasa tidak enak hati karena Dokter Diana terlalu baik.


"Kamu tidak usah terburu-buru May... kalian nikmati aja liburannya, menghabiskan waktu bersama ibu kalian"


"Ia kan Ka..." ucap Dokter Diana kepada Raka yang sejak tadi hanya diam menatap Maya.


"Ka... kok kamu malah bengong" Dokter Diana menepuk bahu Raka.


"I_ia Mih..."


"Maaf tadi Raja lagi mikirin kerjaan" Ucap Rakq gugup.

__ADS_1


Tak lama kemudian Rara pun datang dengan pakaian yang sudah rapi, ia sudah siap untuk berangkat, setelah itu mereka berpamitan kepada Dokter Diana dan juga Raka.


Raka juga sempat menawarkan diri untuk mengantarkan mereka, tapi tentu saja mereka menolak, dan tentu saja alasannya karena mereka tidak enak.


Rara dan juga Maya tidak lupa untuk membeli makanan kesukaan ibu dan adiknya terlebih dahulu, untuk di makan bersama-sama, agar ibunya itu tidak perlu repot-repot memasak untuk mereka.


"Assalamualaikum..." ucap Rara dan Maya ketika tiba di rumah mereka.


"Waalaikumsalam" jawab Ibu dari dalam rumah.


"Maya... Rara..." Wajah ibu tampak sumringah melihat kedatangan kedua putrinya itu. ia langsung memeluk Maya dan juga Rara secara bergantian.


"Kabar ibu gimana sehat" tanya Maya setelah memeluk sang ibu.


"Alhamdulillah sehat... "


"Kalian kenapa gak bilang dulu kalau mau kesini, ibu kan bisa masakin makanan kesukaan kalian"


"Justru itu kami sengaja gak ngasih tau ibu, biar ibu gak cape"


"Kita udah bawain makanan kesukaan ibu sama Angga" ucap Maya seraya menunjukkan beberapa kantong makanan.


"Oia Angga mana"tanya nya lagi


"Angga lagi latihan futsal sama temen-temennya"


"May gimana keadaan kamu sekarang, ibu minta maaf karena ibu gak bisa nemenin Maya di rumah sakit, waktu itu penyakit ibu sedang kumat" tanya Ibu prihatin dengan apa yang di alami Maya yang harus kehilangan anaknya.


"Alhamdulillah sekarang Maya sudah sehat Bu"Jawab Maya lirih, ia jadi teringat kembali kepada anaknya.


"Syukurlah kalau kamu sudah sehat"


"Oh ia May... suami kamu mana, tumben dia gak ikut" Tanya ibu heran, karna tidak biasanya Maya datang ke rumahnya tanpa Alvian.


"Mas Alvian... mas Alvian lagi Meeting sama Client nya" ucap Maya bohong.


"Meeting ? masa hari Minggu begini masih kerja" Ucap Ibu seraya mengerutkan Dahi nya.


"Ia Bu... soalnya ini Client penting" Maya terpaksa harus berbohong lagi.


"Oh... gitu"


"Tapi pernikahan kalian baik-baik aja kan" entah kenapa tiba-tiba saja ibu bertanya seperti itu.


"I_ia Bu.. pernikahan kami baik-baik aja" jawab Maya gugup.


"Syukurlah kalau begitu, ibu seneng dengernya"


"Beberapa hari ini perasaan ibu sangat tidak enak, ibu kepikiran sama kalian terus"


"Ibu takut terjadi apa-apa dengan kalian" Ikatan batin ibu dan memang sangat kuat.


"Kami baik-baik aja Bu.."


"Ibu jangan terlalu banyak pikiran"


"Maya gak mau kalau ibu sampai sakit lagi" Maya berusaha meyakinkan ibunya.


"Maafin Maya ya Bu.. Maya terpaksa bohong sama ibu, Maya gak mau ibu jadi kepikiran dan terjadi apa-apa sama Ibu" Gumam Maya dalam hati


"Udah-udah ah melow-melow nya, lebih baik sekarang kita makan"


"Rara udah siapin makanan di meja makan"


"Rara udah laper banget nih" ucap Rara yang kembali dari dapur, ia berusaha untuk mencarikan suasana.


Hari itu, Maya dan Rara menghabiskan waktu bersama sang ibu, hal yang sudah lama tidak bisa mereka lakukan, bercengkrama dan tertawa, menceritakan kejadian lucu, sambil memijat Ibunya, apalagi setelah Angga datang, suasananya semakin ramai.


Hari itu Maya Rara dan Angga benar-benar memanjakan wanita ya telah melahirkan mereka, menjadikan nya ratu sehari, melarang ibunya mengerjakan apapun, namun kebersamaan itu tidak bisa berlangsung lama, mereka harus terpisah karna keadaan. Meskipun berat, tapi mereka tetap harus kembali ke tempat kerja mereka masing-masing, namun sebelum pulang, Maya tidak lupa memberikan sejumlah uang untuk ibunya, uang tabungannya saat masih menjadi istri Alvian, ia selalu menyimpan uang pemberian dari suaminya itu, ia tidak pernah memakai uang tersebut untuk hal yang tidak terlalu penting, karna semua kebutuhannya sudah di penuhi oleh Alvian.

__ADS_1


Maya memberikan uang tersebut kepada ibunya untuk biaya sehari-hari dan biaya sekolah Angga, agar ibunya tidak perlu capek-capek lagi berjualan kue.


__ADS_2